Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Sebelum memutuskan beragama Islam, aku adalah seorang agnostik. Percaya adanya Tuhan, tapi aku tidak mengetahui keberadaan-Nya ataupun mengenal-Nya.
Namaku Linda Susilowati, lahir di Bima tahun 1972. Ketertarikanku pada Islam bermula dari kakak-kakakku yang lebih dulu jadi muallaf. Hijrahku menuju Islam bukan sekadar ikut-ikutan, namun aku lebih dulu mempelajari dan banyak cari tahu. Bahkan aku membandingkan, membuktikan secara langsung, dan menentukan lewat proses berpikir, hingga akhirnya meyakini bahwa Islam adalah jalan terbaik, menuju kebenaran. Maklum, aku dulunya orang yang skeptis dan kritis terhadap agama.
Aku mengagumi kecerdasan kakak-kakakku yang semuanya perempuan. Dari merekalah aku mengenal Islam. Bahkan adik laki-lakiku yang dulunya raja dugem, karena suka pergi ke diskotik, mendadak berubah total menjadi religius setelah mendalami ajaran Islam dari kakakku. Setelah adikku, barulah aku menjadi muallaf pada 2003. Sebagai anak ke lima dari tujuh bersaudara, aku urutan ke enam yang masuk Islam. Jika ditarik mundur ke belakang, bukan lewat seorang ustad atau kyai, kakakku berkenalan dengan Islam, melainkan melalui kuli panggul yang bekerja pada papaku dulu. Kakakku sering berdiskusi dengannya, yang pengetahuan Islamnya cukup baik, hingga bisa membuat kakakku tertarik masuk Islam.
Orangtuaku membebaskan anak-anaknya untuk mempelajari banyak hal. Apalagi mama, yang begitu membebaskan anaknya membaca buku apa saja. Mama menginginkan anak-anaknya sekolah tinggi agar menjadi orang pintar. Kalau papaku dulunya seorang guru di sekolah Tionghoa, yang kini lenyap terkena penghapusan. Papaku jadi banting setir menjadi seorang pedagang, dan sejak saat itu yang dipikirkan papaku hanya mencari uang.
Papaku bisa dibilang dulunya seorang Komunis, karena tidak percaya pada hal-hal yang tidak terlihat. Bagi papa, agama bisa diganti-ganti di KTP, hanya untuk memperlancar urusan administrasi, akupun dulunya juga begitu, di KTP agamaku bisa berganti-ganti sesuak hati. Namun Alhamdulillah, di ujung usianya sebelum meninggal, papaku telah bersyahadat. Begitu juga aku, yang akhirnya bisa ikut bersyahadat.
Banyak pertentangan kudapati dari sahabat-sahabatku yang non-muslim. Mereka bahkan ada yang tidak lagi mau bersahabat denganku karena aku masuk Islam. Ada juga yang bilang bahwa aku akan sulit mendapat jodoh, karena aku Tionghoa muslim adalah kalangan minoritas. Aku tidak begitu saja mengiyakan pernyataan itu, karena aku melihat kenyataan, bahwa agama tidak menjadi penyebab susahnya orang menemukan jodoh.
Aku yang masih single banyak didekati pria non-muslim, dan menolaknya karena jelas aku mencari yang seiman. menemukan yang seiman pun perilakunya kurang baik. Aku anggap itu semua sebuah ujian. Aku tak terlalu mengkhawatirkan usiaku yang sudah tidak lagi muda namun belum menikah. Aku meyakini bahwa semua akan terjadi tepat pada waktunya.

Aku hanya kembali pada tujuan awal hidupku, yakni mencari jalanku kembali ke Tuhan. Setelah aku menemukan Islam, akupun tidak lagi memikirkan dunia, tetapi lebih fokus untuk akhirat. Jangan sampai keimanan terkalahkan dengan duniawi. Materi bukanlah tujuan utamaku. Bukan pria kaya yang menjadikanku nyonya besar dan bergelimang harta yang aku  ari. Aku hanya menantikan imam yang mampu menuntunku menghadap Allah SwT, mempertanggung jawabkan segala amal perbuatan di dunia. Aku berharap, tidak lagi ada perbedaan. Jika sudah Islam, tanggalkan suku atau rasmu, fokuskan hanya Islam, tanpa memandang laar belakang adat budaya. [islamaktual/alfalah/lindasusilowati]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top