Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Mengapa kita harus mencintai Rasulullah saw? Bukankah cinta itu masalah feeling (rasa) yang sulit dipaksakan?
Memang benar demikian, akan tetapi sulit itu bukan tidak bisa, atau tidak mungkin. Filosofi Jawa mengajarkan witing trisno jalaran soko kulino (bermulanya rasa cinta adalah karena pembiasaan). Artinya cinta dapat tumbuh subur dengan mengkondisikan pembiasaan, lebih-lebih di dalam mencintai rasulullah. Kita perlu dan harus berupaya mencintai Rasulullah saw, karena cinta seseorang padanya mengindikasikan keimanan.
Ada perbedaan mendasar antara cinta Rasul dengan cinta kepada anak atau keluarga. Setiap orang secara naluri (fitrah) pasti mencintai keluarganya. Cinta antar keluarga disebut alhubbul fitri. Adapun cinta kita kepada Rasululah saw adalah cinta yang tumbuh karena iman dan disebut alhubbul imani. Semakin besar cinta seseorang kepada Nabi Muhammad saw berarti semakin tinggi kualitas imannya. Begitu juga sebaliknya.
Pernah terjadi dialog menarik Rasulullah saw dengan sahabat Umar ibn Khattab ra. Kata Umar secara terus terang, wahai rasulullah: Saya cinta kepadamu jauh melebihi cinta saya kepada anak, istri dan harta saya, kecuali cinta saya kepada diri saya sendiri. Rasulullah kemudian secara tangkas menjawab: Umar, belum bisa seseorang dikatakan beriman benar, sebelum mencintai diriku melebihi cintanya kepada diri sendiri.
Mendengar sabda demikian, Umar serta merta secara tegas di hadapan Rasulullah saw: Demi yang mengutus engkau untuk mengajarkan kebenaran (haq), sekarang saya proklamasikan bahwa saya mencintaimu (Ya Rasulullah) lebih dari diriku sendiri. Nabi kemudian menjawab: al aana yaa Umar, al aana ya Umar (sekarang wahai Umar, sekarang wahai Umar). Artinya: Sekarang engkau benar-benar beriman atau sempurna imanmu.
Dalam keseharian serta setiap hela nafas, kita perlu menyisihkan waktu untuk belajar tentang akhlaq Rasulullah saw secara lebih intensif, agar semakin kenal beliau. Akibatnya meniru beliau dalam kehidupan sehari-hari menjadi mudah dan menyenangkan.
Meniru Rasulullah saw bernilai sangat tinggi di sisi Allah SwT, karena berarti berperilaku Qurani dan Imani. Aisyah ra, ketika ditanya tentang akhlaq suaminya, beliau secara lugas dan singkat menjawab: kaana khuluquhul Quran (akhlaq Rasulullah itu al-Qur’an). Tutur kata, tindakan, pemikiran bahkan perasaan maupun sekedar isyarat dari Rasulullah saw, semuanya bersumber dari al-Qur’an. Begitu lekatnya kehidupan Rasulullah saw dengan al-Qur’an sampai beliau disebut: Qur’anun Yamsyi Bainannas (al-Qur’an yang berjalan di tengah masyarakat).
Ramadhan adalah bulan al-Qur’an, tentu sangat baik dan tepat dimanfaatkan untuk menumbuh-suburkan cinta kita kepada Rasulullah, yakni melalui pendalaman kitab suci. Marilah al-Qur’an tidak hanya kita baca, tetapi juga dikaji dan dipahami untuk diterapkan dalam kehidupan. Semakin banyak dan sering kita berperilaku Qurani, berarti semakin sesuai akhlaq Rasulullah. Implikasinya cinta kita kepada beliau semakin besar, sekaligus membuat iman pada Allah SwT berkualitas lebih baik.
Insya Allah, dengan cara demikian kita akan tergolong mereka yang mendapat ‘kunci’ untuk memasuki surga Allah. Dan semua itu adalah berkat pendidikan dan keteladanan Nabi Muhammad saw.
Betapa kita harus bersyukur kepada Allah karena diberi pemimpin dan panutan seperti beliau, manusia terbaik yang sangat besar perhatian dan cintanya kepada kita.

Maka sudah seharusnyalah rasa syukur diungkapkan selalu, dengan perilaku mematuhi beliau dan banyak bershalawat untuknya, sebagai tanda terima kasih kita. Semoga cinta kita kepada Rasulullah saw semakin besar dan tumbuh subur. Amin. [islamaktual/alfalah/muh.taufiqab]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top