Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Kata “Ihsan” merupakan bentuk mashdar (infinitive) yang berarti berbuat baik secara aktif. Orang yang berbuat baik disebut muhsin. Menurut fitrahnya, manusia lebih cenderung berbuat baik daripada berbuat jahat karena memiliki hati nurani dan multi kecerdasan. Namun, tidak sedikit manusia kehilangan nilai fitrah ihsan, sehingga berubah menjadi penjahat, peneror, pembunuh, koruptor, dan sebagainya. Kriminalitas dan dekadensi moral menjadi seolah lumrah dan tanpa rasa salah. Korupsi menjadi budaya para pejabat dan petinggi negara dengan dalih aji mumpung dan mahalnya biaya demokrasi “materialistik”.
Hilangannya nilai ihsan ini antara lain, disebabkan oleh buruknya “cermin” hati nurani, kuatnya pengaruh hawa nafsu, bujuk rayu setan, dan tingginya orientasi kehidupan duniawi yang materalistik. Dampak dari orientasi pendidikan agama yang masih cenderung kognitif, dan tidak menyentuh dimensi spiritualitas dan moralitas, memperparah rapuhnya integritas para pemimpin dan generasi muda bangsa. Oleh karena itu, Islam mendidik umatnya untuk mengaktualisasikan nilai-nilai ihsan demi tegaknya visi Islam sebagai rahmat bagi semua.
Setidaknya, ihsan memiliki lima dimensi yang sangat relevan diaktualisasikan dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa dewasa ini. Pertama, dimensi teologis dan spiritual. Muslim yang muhsin tidak hanya memurnikan tauhid dalam beribadah kepada Allah SwT, tetapi juga menampilkan amal ibadah yang dilandasi oleh niat ikhlas, kesadaran hati, dan kesadaran hati akan kehadiran serta selalu merasa diawasi Allah. Dimensi teologis ini digambarkan oleh Nabi saw ketika menjawab pertanyaan Jibril as: “Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Dan jika engkau tidak dapat melihat-Nya, yakinlah bahwa Allah pasti melihatmu.” (HR Al-Bukhari dan Muslim). Jika selalu merasa dilihat Allah, niscaya kita akan selalu beribadah yang terbaik. Jadi, ber-ihsan mendorong kita untuk selalu berbuat yang terbaik di mata Allah, karena kita selalu merasa dimonitor dan dievaluasi oleh-Nya.
Kedua, dimensi moral. Islam mewajibkan anak berbuat baik (berbakti) kepada orangtua. Kewajiban ini bukan sebagai “balas jasa”, karena “jasa baik” orangtua sungguh tak terbatas dan tak pernah bisa dibalas-tuntas. Akan tetapi, secara moral, anak sudah semestinya berbuat baik, bahkan yang terbaik, bagi kedua orang tuanya. Allah berfirman: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan beribadah selain kepada-Nya, dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya...” (Al-Isra’ [17]: 23). Salah satu bentuk ihsan kepada orangtua ada bertutur kata yang baik dan tidak menyakiti hatinya.
Ketiga, dimensi sosial. Menurut Ibn Taimiyah, aktualisasi nilai-nilai ihsan secara sosial merupakan sendi tegaknya kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Jika sistem sosial tidak lagi diwarnai nilai-nilai ihsan seperti: senyum, keramah-tamahan, tolong-menolong, solidaritas dan kesetiakawanan sosial, bersahabat, shadaqah, gotong royong, toleransi, dan sebagainya, niscaya masyarakat itu akan mengalami ”kemiskinan sosial”, mudah terjadi konflik dan pertikaian. Karena itu, Allah menyuruh kita untuk berbuat baik kepada kerabat, anak yatim, tetangga dekat dan jauh, fakir miskin, teman, ibn sabil, dan sebagainya (An-Nisa’ [4]: 36).
Sedemikian pentingnya dimensi sosial ihsan itu ditegakkan, khalifah Umar bin Abdul Aziz merasa perlu memelopori pentradisian pembacaan ayat 90 surat An-Nahl pada akhir khutbah kedua Jum’at: “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan melarang berbuat keji, kemunkaran, dan permusuhan...” Pembacaan ayat ini oleh khatib Jum’at mengisyaratkan bahwa umat Islam harus senantiasa mengaktualisasikan nilai-nilai ihsan dalam kehidupan sosial politik dan budaya.
Keempat, dimensi individual. Bukan hanya kepada Allah SwT. dan sesama, kepada diri sendiri kita juga berlaku ihsan. Berlaku ihsan kepada diri sendiri, antara lain diwujudkan dalam bentuk memberi hak-hak tubuh secara proporsional, seperti: hak untuk memperoleh nutrisi yang halal, baik dan bergizi (thayyib), hak untuk berolahraga, istirahat, tidur, membaca, dan seterusnya. Memelihara kebersihan dan kesehatan diri dan lingkungan juga merupakan bentuk ihsan yang dapat membentuk pola hidup bersih dan sehat.
Kelima, dimensi biologis, psikologis, dan ekologis. Dalam konteks ini, kita juga diharuskan ber-ihsan kepada makhluk selain manusia, baik tumbuh-tumbuhan maupun binatang. Ketika menyembelih binatang, kita dilarang menggunakan pisau tumpul agar tidak menyakitinya. Kita juga dilarang menebang pohon yang menjadi tempat kebanyakan orang berteduh di bawahnya. Nabi saw. bersabda: “Allah telah menetapkan/mewajibkan berlaku ihsan terhadap segala sesuatu. Jika engkau membunuh atau menyembelih (binatang), ber-ihsan-lah dalam penyembelihannya. Hendaklah engkau tajamkan pisaumu dan perlakukan binatang yang disembelih itu dengan sebaik-baiknya” (HR Muslim).

Aktualisasi nilai-nilai ihsan tersebut sudah saatnya dikembangkan dalam segala aspek kehidupan kita, sehingga kita memiliki budaya ihsan (berbuat, berkarya, berperilaku, dan berdedikasi yang terbaik) bagi orang lain, bukan budaya “mengambil atau meminta” dari orang lain. Sifat ihsan seharusnya diwujudkan oleh pemerintah dengan memberi pelayanan publik yang baik, memuaskan dan menyejahterakan. Karena itu, “... dan berbuatlah yang terbaik, karena Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (Al-Baqarah [2]: 195). [islamaktual/sm/muhbibabdulwahab]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top