Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download

Ketua IMM : Pendakwah Jangan Sekedar Hiburan dan Guyonan


Pernyataan Ustadz Maulana di sebuah stasiun televisi mengenai hal kepemimpinan tidak harus berbicara tentang agama mendapat kritikan dari berbagai pihak. Bukan hanya dari kalangan pegiatdakwah, akan tetapi juga dari gerakan Mahasiswa Muslim, salah satunya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM).
Menurut Ketua DPP IMM Beni Pramula, pendakwah seharusnya memilah kosa kata, mana yang pantas disampaikan dan mana yang tidak. Terlebih jika dirinya sebagai public figure.
Guyonan sebagai selingan agar dakwah tidak monoton, boleh-boleh saja, tapi jangan buat umat salah memahami Islam. Pendakwah yang hanya menghibur dan mengajak jamaahnya tertawa, lebih layak dengan titel pelawak.
“Seorang ulama seharusnya memberi pencerahan kepada umat dengan keilmuannnya. Bukan seperti selebritis, sekedar entertain atau hiburan, yang lebih banyak guyonnya daripada muatan dakwahnya,” kata Beny dikutip islampos.com Jumat (13/11) lalu.
Beni juga mengajak Ustadz Maulana agar belajar lagi tentang kepemimpinan dalam Islam.
“Penceramah ini juga harus menyatakan permintaan maafnya melalui televisi dimana ia tampil. Jika tidak mau minta maaf, IMM bersama aktivis Islam lainnya akan menyampaikan mosi tidak percaya pada Ustadz Maulana dan stasiun TV tersebut.”
Dikatakan Beny, memilih pemimpin muslim itu wajib. Karena itu, umat Islam hendaknya tidak memilih pemimpin yang non muslim. Tentu pemimpin yang dipilih, bukan semata muslim, tapi juga yang amanah, adil, dan mengedepankan kepentingan umat.
Seperti diketahui sebelumnya ustad kelahiran Makassar, 41 tahun yang lalu  ini menyatakan, bahwa ketika menjelaskan tentang kepemimpinan tidak diharuskan berbicara tentang agama.

Sebelumnya Nur Maulana juga pernah mendapatkan kritikan lantaran menaiki mimbar saat memberikan ceramah. Hal itu membuat beberapa netizen mengungkapkan kritikannya pada Ustad Maulana. [islamaktual]

Din Syamsuddin Kecam Aksi Teror Di Paris


Aksi teror di Perancis, Jumat (13/11) kemarin mengundang keprihatinan banyak pihak. Tak terkecuali dari para tokoh di Indonesia. Salah satunya adalah Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia, Din Syamsuddin. Din mengecam aksi teror yang menewaskan ratusan orang di Paris, Prancis, Jumat (13/11) waktu setempat.
"Kita semua mengecam sekeras-kerasnya aksi kekerasan tersebut," kata mantan Ketua Umum Muhammadiyah lewat pesan singkatnya yang diterima di Jakarta, seperti dikutip republika.co.id Sabtu (14/11) kemarin.
Apapun motifnya dan siapa pun pelakunya, menurut Din, tindak kekerasan yang mengambil bentuk pembunuhan tidak dapat dibenarkan. "Sangat menyedihkan bahwa tindak kekerasan ekstrim yang menghilangkan nyawa orang-orang tak bersalah terjadi kembali," katanya.
Dia berharap agar semua pihak tidak berspekulasi tentang jati diri pelaku dan motifnya, apalagi sampai menuduh pihak tertentu yang boleh jadi akan memunculkan aksi-reaksi yang tidak perlu.
Ia berharap pemerintah Prancis dapat mengatasi keadaan dan menciptakan suasana kondusif sehingga perhelatan akbar dunia COP 21 dapat terlaksana. "Jelas aksi tersebut akan membawa implikasi psikologis terhadap Conference of Parties (COP 21) yang akan digelar di Paris mulai dua minggu lagi," katanya.
Seperti diberitakan sebelumnya, pertandingan sepak bola persahabatan antara tuan rumah Prancis dan Jerman tetap berlanjut hingga selesai meski terjadi serangan teroris di dekat stadion di Paris, Jumat malam waktu Paris atau Sabtu waktu Indonesia. Prancis menang 2-0 pada pertandingan itu. Dua kali suara ledakan di luar terdengar dari dalam stadion pada babak pertama.

Presiden Prancis Francois Hollande yang menyaksikan pertandingan itu kemudian dievakuasi dari stadion setelah terdengar suara ledakan. [islamaktual]

INFEKSI TREMATODA BAWAAN MAKANAN


Infeksi trematoda bawaan makanan atau trematodiases bawaan makanan adalah sekelompok infeksi yang disebabkan parasit trematoda (cacing pipih atau “cacing”) yang diperoleh melalui konsumsi makanan yang terkontaminasi larva parasit.
Transmisi ini terkait dengan pola perilaku manusia yang berhubungan dengan metode produksi, mengolah, dan menyiapkan makanan. Secara khusus, hidangan yang mengandung ikan mentah, krustasea, dan tanaman merupakan tradisi diet mapan banyak penduduk yang tinggal di negara-negara di mana penyakit ini endemik. Trematodiases bawaan makanan adalah zoonosis, yaitu infeksi secara alami yang ditularkan dari hewan vertebrata ke manusia dan sebaliknya. Transmisi langsung sepertinya tidak mungkin, karena parasit penyebab yang relevan menjadi infektif hanya setelah menyelesaikan siklus hidup yang kompleks, biasanya melibatkan tahapan menengah, sebagai host bukan manusia. Sebagai perantara pertama dalam semua kasus adalah siput air tawar, sedangkan host kedua berbeda: pada clonorchiasis dan opisthorchiasis adalah ikan air tawar, pada paragonimiasis adalah krustacea, sementara fascioliasis tidak memerlukan hospes perantara kedua. Tuan rumah akhir selalu mamalia .
Orang menjadi terinfeksi ketika mereka menelan hospes perantara kedua yang terinfeksi dengan bentuk larva parasit . Dalam kasus fascioliasis, orang terinfeksi ketika larva tersebut tertelan bersama dengan sayuran air.
Epidemiologi
Pada 2005, lebih dari 56 juta orang di seluruh dunia terinfeksi trematoda bawaan makanan dan lebih dari 7.000 orang meninggal dunia. Kasus trematodiases bawaan makanan dilaporkan terjadi di lebih dari dari 70 negara di seluruh dunia, namun Asia Tenggara dan Amerika Selatan adalah daerah yang paling terkena dampak.
Dalam negara, transmisi sering terbatas pada daerah tertentu dan mencerminkan pola perilaku dan ekologi, seperti kebiasaan masyarakat berkenaan dengan makanan, metode produksi makanan dan persiapan, serta distribusi dari host perantara. Informasi tentang status epidemiologi infeksi trematoda bawaan makanan di Afrika sebagian besar hilang.
Dampak ekonomi dari trematodiases bawaan makanan adalah penting, dan terutama terkait dengan kerugian di industri perikanan, karena pembatasan ekspor dan penurunan permintaan konsumen.
Gejala
Beban kesehatan masyarakat disebabkan trematodiases bawaan makanan ini terutama disebabkan morbiditas daripada mortalitas. Infeksi awal sering berlalu tanpa diketahui, karena mereka tidak menunjukkan gejala. Sebaliknya, jika beban cacing yang tinggi, malaise (rasa tidak enak) secara umum adalah nyeri berat, terutama di daerah perut dan yang paling sering terjadi dalam kasus fascioliasis.
Infeksi kronis selalu dikaitkan dengan morbiditas berat. Gejala terutama organ-spesifik dan mencerminkan lokasi akhir dari cacing dewasa dalam tubuh.
Dalam clonorchiasis dan opisthorchiasis, cacing dewasa menempati saluran empedu kecil dari hati. Menyebabkan peradangan dan fibrosis dari jaringan yang berdekatan. Akhirnya cholangiocarcinoma, bentuk parah dan fatal dari kanker empedu. Kedua C. sinensis dan O. viverrini, bukan O. felineus, diklasifikasikan sebagai agen karsinogenik (yang menyebabkan kanker).
Dalam fascioliasis, cacing dewasa menempati di saluran empedu besar dan kandung empedu, yang menyebabkan peradangan, fibrosis, penyumbatan, nyeri kolik, dan penyakit kuning. Fibrosis hati dan anemia juga sering terjadi.
Dalam paragonimiasis, lokasi akhir dari cacing di jaringan paru-paru. Mereka menyebabkan gejala yang dapat dikacaukan dengan TBC: batuk kronis dengan dahak bernoda darah, nyeri dada, dispnea (sesak napas), dan demam. Migrasi cacing adalah mungkin: lokasi otak yang paling parah.
Pencegahan dan Pengendalian
Pengendalian trematodiases bawaan makanan bertujuan untuk mengurangi risiko infeksi dan pada mengendalikan morbiditas terkait. Tindakan kesehatan masyarakat dan praktik keamanan pangan dianjurkan untuk mengurangi risiko infeksi, sedangkan untuk mengontrol morbiditas, WHO merekomendasikan peningkatan akses terhadap pengobatan menggunakan obatobatan obat cacing yang aman dan efektif (obat yang mengusir cacing).

Pengobatan dapat ditawarkan melalui kemoterapi atau kasus individu — manajemen pencegahan. Kemoterapi preventif melibatkan pendekatan berbasis populasi. Setiap orang di suatu wilayah tertentu atau daerah diberikan obat-obatan, terlepas dari status infeksi mereka, dianjurkan di daerah dengan sejumlah besar individu yang terinfeksi. Manajemen kasus individu melibatkan perawatan orang dengan dikonfirmasi atau diduga infeksi. [islamaktual/sm/ham]

Bertauhid Cinta Sesama


Tauhid adalah ajaran paling fundamental dalam Islam. Pintu masuk Islam bahkan dimulai dari syahadat, antara lain kesaksian bahwa tiada Tuhan kecuali Allah. Laa ilaaha illa Allah. Tugas utama para Nabi esensinya mengajak orang bertauhid, yakni beriman hanya kepada Allah Yang Maha Esa dan tidak menyekutukan pada apapun.
Maka, sungguh ironis manakala diksi tauhid dipakai untuk hal-hal yang berlawanan dengan ajaran tauhid sendiri. Katanya demi dan untuk menghadiri acara bertajuk tauhid, tetapi bawa sepeda motor bergerombolan dengan ugal-ugalan sampai meresahkan masyarakat. Pesan-pesan agama penuh nuansa keras dan menyesatkan sesama Muslim. Adakah spirit tauhid mengajarkan demikian?
Ibrahim alaihissalam dikisahkan mencari Tuhan. Dia lihat matahari yang bersinar terang terbit di waktu fajar, betapa dahsyatnya sang surya itu, lalu dianggapnya Tuhan. Tapi matahari tenggelam, luruhlah kepercayaan Ibrahim. Ia beralih pada bulan, inilah Tuhan. Namun sinar bulan yang terang pun tenggelam di pagi hari, berarti bukan Tuhan. Akhirnya, dengan hidayah Allah ia menemukan Tuhan yang sejati, Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Yang Maha Segalanya, tiada sekutu apapun atas-Nya.
Karena bertauhid itulah, Ibrahim bersama istrinya Siti Hajar dan putra tercintanya Ismail rela berkorban. Sungguh tak ada manusia di muka bumi yang demikian berani mengorbankan jiwa melebihi ketiga hamba yang dikasihi Allah itu. Sumber keutamaannya terletak pada jiwa bertauhid yang murni. Tidak ada kepentingan apapun yang bersifat duniawi kecuali taat dan mengabdi kepada Allah Yang Maha Esa.
Nabi Muhammad dengan ajaran tauhid membebaskan bangsa Arab yang jahiliyah menjadi berkeadaban mulia. Mereka semula menyembah Latta, Uzza, dan segala berhala yang dibikinnya sendiri. Kemudian mereka menjadi bertuhan hanya kepada Allah dan beribadah kepada-Nya tanpa sekutu. Mereka semula merendahkan martabat perempuan lantas menjadi bangsa yang menghormati perempuan di tempat mulia.
Nabi akhir zaman itu bahkan dengan tauhid membangun peradaban umat manusia yang cerah dan mencerahkan dalam simbol Yastrib menjadi Al-Madinah Al-Munawwarah, sebuah Kota Peradaban nan cerah-mencerahkan. Dari rahim Madinah itu kemudian lahir peradaban Islam yang jaya dan menjadi era keemasan islam selama berabad-abad.
Maka, bagaimana mungkin diksi tauhid dibawa ke dunia yang begitu sempit. Menjadi acara yang serba eksklusif serta kehilangan kedalaman dan keluasan Islam yang berfondasi tauhid yang cerah-mencerahkan sebagaimana teladan risalah Ibrahim, Ismail, dan Muhammad yang berakhlak agung. Ruh ajaran tauhid menjadi dikerangkeng ke paham agama yang dangkal.
Perlu pemaknaan, pemahaman, dan penghayatan yang hakiki atas pesan ajaran tauhid. Laa ilaaha illa Allah, tiada tuhan kecuali Allah. Bagaimana mungkin mengaku bertauhid tetapi meminjam baju keangkuhan Allah untuk sesama, sehingga yang lahir sifat tazakku alias merasa diri paling suci. Engkau mudah sekali menyesat-nyesatkan sesama saudara seiman karena berbeda paham. Padahal Allah mengingatkan, yang artinya, “Dan jangan sekali-kali kalian merasa diri paling suci sedangkan kalian mengetahui”.
Laa ilaaha illa Allah, tiada tuhan kecuali Allah. menurut Ahmad Amin, jika engkau ucapkan kalimat Laa ilaaha illa Allah, janganlah sewenang-wenang terhadap sesama, karena Allah tidak suka pada orang-orang yang dzalim. Dengan kalimat tauhid, bebaskanlah orang-orang miskin dan dhu’afa dari segala penindasan. Allah sungguh berada di pihak orang-orang yang suka membela sesamanya, demikian Nabi Muhammad bersabda.

Laa ilaaha illa Allah, tiada Tuhan kecuali Allah. Dengan bertauhid yang benar, cintailah sesama. Tebarkanlah kasih sayang kepada siapapun, meski kepada orang-orang yang memusuhimu. Sabda Nabi, yang artinya: “Tidak disebut beriman seseorang hingga dia mencintai sesama seperti mengasihi dirinya” (HR Bukhari-Muslim). Tauhid mengajarkan welas asih terhadap sesama dan segala makhluk ciptaan Tuhan di alam semesta. [islamaktual/sm/a.nuha]

Nabi Ayyub AS (2)


Dikisahkan oleh para mufassir dan sejarawan, bahwa pada mulanya Ayyub adalah seorang yang kaya raya; punya banyak tanah perkebunan dan pertanian, punya ribuan ternak unta, kambing, dan domba. Semuanya diurus oleh para pekerja yang dibayarnya dengan teratur. Ayyub punya keluarga, isteri dan anak-anak. Dalam Perjanjian Lama kitab Ayyub ayat 2 disebutkan anak-anaknya berjumlah sepuluh orang, tujuh laki-laki dan tiga perempuan.
Tidak hanya kaya, Ayyub juga dermawan tiada tara. Tidak hanya mensejahterakan para karyawannya, tetapi juga sangat senang membantu fakir miskin, anak-anak yatim, para janda dan rakyat kecil lainnya. Sebagai seorang Nabi dan utusan Allah SwT, tentu saja Ayyub juga merupapakan seorang hamba yang shalih dan selalu taat dan rajinberibadah kepada Allah SwT.
Dalam at-Tafsir al-Kabir, Ar-razi --mengutip riwayat dari Wahab ibn Munabih-- menceritakan bahwa Allah SwT membanggakan Ayyub kepada Jibril sebagai hamba-Nya yang bersyukur dan selalu taat kepada-Nya pagi sore siang malam. Oleh Jibril pujian Allah SwT itu diteruskan kepada para malaikat lainnya dan segenap penghuni langit. Berita itu sampailah kepada Iblis. Iblis menyatakan pantaslah Ayyub bersyukur dan selalu taat karena Allah memberikan segala kenikmatan kepadanya. Keluarga dan harta kekayaan yang melimpah serta badan yang sehat wal’afiat. Coba kalau semua kenikmatan itu dicabut, tentu Ayyub akan berbalik mengutuk Allah. Lalu Allah SwT memberikan kuasa kepada Iblis untuk menghancurkan harta kekayaannya.
Setelah kebun-kebun dan semua isinya terbakar serta ternak-ternaknya mati, Ayyub tidak berubah sedikitpun. Dia tetap saja beribadah dan bersyukur kepada Allah SwT. Harta benda habis tetapi dia masih memiliki keluarga yang utuh, isteri, dan anak-anak. Iblis tidak puas dan minta izin kepada Allah untuk menghancurkan semua anak-anaknya. Allah mengabulkan permohonan Iblis sehingga musuh umat manusia itu diberi kuasa menghancurkan semua putera-puteri Ayyub. Tetapi Ayyub tetap tidak berubah sedikitpun. Cobaan beruntun tersebut tidak melemahkan imannya kepada Allah dan tidak mengurangi syukurnya.
Tentu saja Iblis tidak puas, dia menyatakan kepada Allah, Ayyub tetap taat kepada Engkau karena dia masih memiliki tubuh yang sehat. Coba Engkau ambil kesehatannya itu, pasti dia akan mengutuk-Mu. Lalu Allah memberi kuasa kepada Iblis untuk mendatangkan penyakit yang paling hebat dan menimbulkan penderitaan berkepanjangan bagi Ayyub, hamba dan utusan Allah yang sangat shalih dan penyabar tersebut. Lalu Iblis mendatangkan penyakit kulit yang luar biasa kepada Ayyub tetapi Ayyub tidak berubah sedikitpun. Dia tetap saja menyembah Allah dengan khusyuk, berdzikir pagi sore siang malam. Sedikitpun dia tidak mengeluhkan penyakitnya. Akhirnya Iblis mengakui kekuatan iman Ayyub.
Begitulah penulis ringkaskan kisah panjang yang dikutip oleh ar-Razy bersumber dari Wahab ibn Minabbih. Sepertinya kisah ini bagian dari kisah-kisah Israiliyat. Kisah yang sama, bahkan lebih detail lagi masih dapat kita baca dalam Al-Kitab. Menyikapi kisah yang bersumber dari Ahlul Kitab ini kita kembali kepada pedoman yang diberikan Rasulullah saw: Jangan benarkan Ahlul Kitab dan jangan pula mendustakannya (la tushaddiqu ahlal kitab wa la tukadzdzibuhum). Al-Qur’an lah yang menjadi muhaimin atau batu ujiannya. Yang dibenarkan oleh Al-Qur’an kita benarkan, yang didustakan oleh Al-Qur’an kita dustakan.Yang didiamkan oleh Al-Qur’an kita anggap sebagai informasi tambahan yang belum ada verifikasinya.
Dalam hal kisah Nabi Ayyub as ini Al-Qur’an sama sekali tidak menyebutkan kenapa Allah SwT menguji beliau dengan ujian beruntun yang sangat berat. Nabi Muhammad saw tidak menceritakannya. Kalau begitu kita kembalikan saja kepada norma standar dalam ajaran Islam, sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah saw bahwa para Nabi lah yang paling berat dapat ujian dari Allah SwT untuk jadi pelajaran bagi umat manusia.
Kembali kepada Ayyub as, Allah menguji keimanan dan kesabaran Ayyub dengan mengambil semua kekayaannya satu demi satu sampai habis. Ayyub tetap taat dan senantiasa beribadah kepada Allah SwT tanpa ada keluhan sedikitpun. Ayyub berkata:”Saya datang ke bumi ini tidak membawa apa-apa, dan akan kembali kepada-Nya nanti juga tidak membawa apa-apa kecuali amal yang shalih.” Begitulah prinsip Ayyub. Cobaan kehilangan harta itu tidak mengurangi sedikitpun ibadah dan ketaatannya kepada Allah SwT.
Allah SwT mengujinya lagi dengan mengambil semua anak-anaknya. Sehingga tinggal dia berdua dengan istrinya yang setia. Ayyub tetap tidak berubah sedikitpun, dia betul-betul memahami makna Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un (sungguh semua kita adalah milik Allah dan semua kita akan kembali kepada-Nya). Ayyub tetap taat beribadah kepada Allah, semua cobaan yang berat itu tidak melemahkan imannya sedikitpun.
Untuk selanjutnya dia diberi cobaan yang langsung menyentuh tubuhnya. Ayyub diserang penyakit kulit di sekujur tubuhnya yang menyebabkan tubuhnya mengeluarkan bau busuk. Masyarakat akhirnya mengasingkan Ayyub ke daerah pinggiran, ditemani oleh isterinya yang setia. Istrinyalah sekarang yang berusaha mencari nafkah ke kota dengan menjual jasanya mengerjakan apa saja yang halal asal dapat membawa makanan untuk suami dan dirinya sendiri.
Memang ada yang memberinya pekerjaan, tetapi tatkala tahu bahwa dia adalah isteri Ayyub, sang majikan langsung mengusirnya takut tertular penyakit kulit Ayyub. Begitulah isteri Ayyub tidak lagi bisa mendapatkan pekerjaan menjual jasanya. Untuk mendapatkan makanan, bahkan dia memotong rambutnya yang panjang dan menjualnya.
Isterinya sudah pernah meminta Ayyub sebagai Nabi Allah untuk meminta pertolongan kepada Allah. Tidak sekali dua kali dia meminta bahkan mendesak suaminya berdo’a meminta kesembuhan kepada Allah, tapi Ayyub tidak mau. Dia bertanya kepada isterinya: “Sudah berapa tahun aku diberi kesehatan oleh Allah?” “Kalau aku sakit selama aku sehat, barulah aku akan meminta tolong kepada-Nya. Kalau tidak, aku malu meminta sembuh kepada-Nya.” Waktu itu umur Ayyub sudah 70 tahun. Berarti dia harus menunggu sakit selama 70 tahun dulu baru akan meminta kesembuhan kepada Allah SwT.
Isterinya tidak tahu lagi bagaimana cara meyakinkan Ayyub untuk mohon kesembuhan kepada Allah SwT. Tiba-tiba dia dapat ide, dan idenya ini berhasil membuat Ayyub mau memohon pertolongan Allah. Apa yang dilakukan isterinya? Isterinya menyatakan: “Ayyub, jika engkau tetap saja tidak mau memohon kesembuhan kepada Allah, sementara masyarakat sudah membuangmu dan sangat jijik melihat tubuhmu seperti ini, aku khawatir orang-orang yang tadinya sudah percaya engkau itu adalah utusan Allah, nanti tidak akan lagi percaya kepadamu”.
Akhirnya luluh juga hati Ayyub. Lalu dia bermohon dengan hati-hati dan sangat halus:  ‘Dan (ingatlah kisah) Ayyub, ketika ia menyeru Tuhannya: “(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang diantara semua penyayang” (QS. al-Anbiya’ [21]:83).
Perhatikan doa Ayyub as yang sangat hati-hati khawatir kalau dalam doanya terkandung keluhan yang menunjukkan ketidaksabaran. Membaca doa Ayyub ini kita jadi malu apabila hanya diberi sakit sedikit, sakit ringan, kita mengeluh luar biasa dan lupa dengan kesehatan yang sudah diberikan Allah berpuluh tahun lamanya. Kita malu dengan Ayyub yang sekalipun dalam kepapaan dan ketidakberdayaan tidak pernah mengeluh, apalagi menyalahkan Allah SwT. Betapa banyak di antara kita yang sama sekali tidak sabar tatkala ditimpa musibah bahkan memprotes Allah SwT. Tanpa malu berkata: “Kenapa harus saya ya Allah yang menanggung semua ini? Kurang apa taatnya saya kepada-Mu.”
Allah SwT mengabulkan doa Ayyub as. Allah SwT berfirman: “Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan kami lipatgandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah.” (QS. al-Anbiya’ [21]:84)
“Dan ingatlah akan hamba Kami Ayyub ketika ia menyeru Tuhannya: “Sesungguhnya aku diganggu syaitan dengan kepayahan dan siksaan.”
“(Allah berfirman): ‘Hantamkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum.’”
“Dan Kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan (Kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai fikiran.”
“Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar, dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhan-nya)” (QS. Shad [38]:41-44).
Demikianlah, dengan firman Allah SwT keluarlah air dari hentakan kaki Ayyub dan air itu terkumpul menjadi kolam kecil, lalu Ayyub mandi dengan air itu, serta merta tubuhnya kembali sehat. Kehidupan Ayyub kembali normal, sedikit demi sedikit harta kekayaannya didapat kembali bahkan menjadi dua kali lipat lebih banyak dari semula. Dia juga kembali dianugerahi putra-putri yang jumlahnya juga dua kali lipat dari putra-putri yang sudah meninggal dunia.

Demikianlah, contoh teladan kesabaran dari Nabi Ayyub as. [islamaktual/sm/yunaharilyas]

Respons Lokal Terhadap Pembaruan Islam


Pada awal abad XIX, setelah para cendekiawan Muslim yang menuntut ilmu di Eropa pulang ke negara asalnya yang kebanyakan dari Timur Tengah, mereka membentuk sebuah komunitas yang mengkaji Islam lebih dalam dan mencerahkan bagi umat Islam ketika itu.
Fenomena ini ternyata mendapat sambutan positif dari para cendekiawan Islam dari Indonesia yang ketika itu sedang belajar di sejumlah negara Timur Tengah ataupun juga menunaikan ibadah haji. Para cendekiawan Islam Indonesia tersebut kemudian memahami pengetahuan barunya itu dan mengajarkannya ketika telah pulang ke Indonesia. Pemikiran yang terhitung baru tersebut tidak serta-merta direspons secara positif oleh masyarakat Indonesia, namun sempat mendapat sejumlah hambatan. Para pendukung pemikiran baru ini di kemudian hari bertambah sedikit demi sedikit hingga akhirnya dapat dikatakan cukup besar di Indonesia dewasa ini.
Bibit dari pembaruan Indonesia diawali dengan lahirnya gerakan Padri di Minangkabau, Sumatera Barat. Gerakan ini didirikan oleh Malim Basa di sebuah kota kecil yang bernama Bonjol. Di kemudian hari, orang ini dikenal dengan nama Tuanku Imam Bonjol. Ketika pulang dari menunaikan ibadah haji sekaligus menuntut ilmu di Makkah, ia melakukan pemurnian ajaran Islam sebagaimana diinspirasi oleh Gerakan Wahabi di Tanah Suci. Gerakan ini ditentang dan sempat mendapatkan berbagai kecaman dari golongan orang yang masih berpaham tradisional. Golongan penentang ini kebanyakan masih mengikuti adat istiadat kebiasaan yang berlaku di masyarakat sejak turun temurun. Ketegangan antara golongan pembaru dengan konservatif sudah mengarah kepada konflik horizontal. Puncak dari konflik tersebut adalah terjadinya Perang Padri yang kebanyakan melibatkan antara golongan muda melawan kelompok tua. Perang ini berlangsung dari tahun 1803 hingga 1837.
Menurut Karim (2007: 57 – 58), di Pulau Jawa sendiri kehidupan beragama Islam mulai mendapat ancaman dari pemerintah Hindia Belanda. Ancaman dari pihak penjajah ini tidak terlalu terlihat namun pelan-pelan. Salah satu contohnya adalah penyisihan pesantren-pesantren ke luar kota ataupun juga menempatkan masjid desa di daerah pinggiran, bahkan kebanyakan berdekatan dengan makam. Penempatan masjid di pinggiran desa yang cenderung bersebelahan dengan makam ini juga upaya Belanda dalam menghilangkan spirit ke-Islaman penduduk pribumi. Karena beberapa dari masyarakat Indonesia ketika itu juga takut dengan hal-hal yang berbau misteri, dalam hal ini kuburan. Islam seakan-akan hanya berkutat pada bidang akidah dan ibadah saja. Bahkan pemikiran tasawuf dijadikan alat untuk menggiring umat Islam untuk berpikir tentang akhirat an sich, bukan urusan dunia, apalagi politik yang dapat mengganggu eksistensi pemerintahan kolonial Belanda.
Situasi ini sedikit mereda ketika sejumlah pemikiran Islam modern lahir di Indonesia. Pemikiran baru ini dibawa oleh para pelajar ataupun kaum cendekiawan yang baru saja menuntut ilmu di Timur Tengah. Para cendekiawan tersebut banyak mengenal pemikiran Islam yang bersifat pembaruan karena banyak bergaul dengan pemikir-pemikir yang dipengaruhi oleh beberapa ulama seperti Ibnu Taimiyah, Rasyid Ridla, dan lain sebagainya.
Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat pun bereaksi terhadap pemikiran Islam pembaru ini. Ceritanya diawali ketika Muhammad Adnan dipersiapkan untuk menjadi Kepala Penghulu di istana. Pada waktu itu, Sunan Paku Buwono X bermaksud untuk melakukan fit and proper test terhadap Adnan. Sang Raja mengajukan sebuah pertanyaan singkat, yaitu pengertian Islam sebagaimana yang dipahami oleh Muhammad Adnan. Setelah mendengar penjelasan Adnan, Paku Buwono X kecewa dengan pria yang di kemudian hari merupakan pendiri dari Universitas Islam Indonesia itu. Hal tersebut dikarenakan Muhammad Adnan menjelaskan pengertian Islam dari kacamata pembaruan sebagaimana diajarkan oleh gurunya ketika masih sekolah di Timur Tengah. Paku Buwono X kecewa karena Islam yang dia pahami adalah agama yang masih bersifat perenungan. Bukan seperti yang diterangkan oleh ayah dari Adi Sasono, mantan Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (Prihadiyoko, 2004: 156). Pria yang kemudian menjabat sebagai rektor Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri Yogyakarta ini menjelaskan Islam sebagai agama yang berwawasan ke depan dan berkemajuan ataupun juga purifikasi sebagaimana yang dipelajari di Timur Tengah. Konflik ini dimanfaatkan Belanda untuk memantapkan posisinya di tanah Surakarta. Hal ini dikarenakan dua orang yang cukup berpengaruh baik dalam pemerintahan maupun agama masih bertentangan paham.
Jika Kraton Kasunanan Surakarta cenderung bereaksi negatif terhadap masuknya pemikiran pembaruan, beda cerita dengan yang terjadi di Kraton Kasultanan Yogyakarta. Sultan Hamengku Buwono VII cenderung permisif dengan keberadaan pemikiran yang terhitung baru dalam kancah peribadatan di Indonesia ataupun Jawa pada khususnya. Bentuk reaksi positif dari Sultan Hamengku Buwono VII adalah dengan memberi restu kepada KH Ahmad Dahlan untuk mendirikan organisasi Muhammadiyah.
Gerakan pembaruan ini mempunyai tujuan mengembalikan ajaran Agama Islam kepada sumber yang asli, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah. Pemikirannya antara lain menghilangkan pertentangan mazhab, khurafat, bid’ah, takhayul, dan klenik. Gerakan ini sangat terbuka dengan pintu ijtihad dan menolak semua bentuk ketundukan yang membabi-buta atau istilah lainnya taklid. Pemikiran pembaruan berkeinginan untuk merombak total pemikiran umat Islam karena telah keluar dari rel ajaran agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad ini. Perombakan ini menyeluruh dari sisi luar maupun dalam. Jiwa ke-Islaman dikembalikan dan diselaraskan dengan perkembangan zaman.
Organisasi Jami’at Khair yang ada di Pulau Jawa merupakan pionir Gerakan Islam Baru. Pada tahun 1905 pemikiran Jami’at Khair yang sangat dipengaruhi oleh gagasan-gagasan pembaharuan telah sampai ke Yogyakarta. KH Ahmad Dahlan adalah orang yang dapat membaca gejala-gejala pemikiran reformis ini. Berdirinya Muhammadiyah pada tanggal 18 Nopember 1912 direspons secara positif oleh gerakan serupa. Misalnya al-Islam wa al-Irsyad (1914 di Jakarta), Persatuan Islam (1923 di Bandung), serta Persatuan Umat Islam. Semua perkumpulan ini dipengaruhi oleh ajaran-ajaran reformasi.
Di antara keempat organisasi reformis ini, Muhammadiyah adalah yang paling banyak pengikutnya, memiliki sistem yang teratur, serta giat dalam berjuang. Berdirinya Muhammadiyah merupakan bentuk implementasi pemikiran-pemikiran pembaruan yang dimiliki oleh KH Ahmad Dahlan dan tentunya didapat dari Makkah ketika menunaikan ibadah haji serta menuntut ilmu. Muhammadiyah adalah gerakan pembaruan pertama yang diizinkan oleh pemerintahan Hindia Belanda dengan berbadan hukum. Beberapa kelompok yang beraliran pembaruan di kemudian hari merespons positif keberadaan Muhammadiyah dengan bergabung menjadi satu bersama organisasi yang didirikan oleh KH Ahmad Dahlan tersebut. Kelompok tersebut antara lain al-Munir, Shirat al-Mustaqim (keduanya dari Makasar), Nur al-Islam (Pekalongan), alHidayah (Garut), dan Sidiq-Amanah-Tabligh-Fathanah (Surakarta).

Respons terhadap gerakan atau pemikiran Islam pembaru tidak selamanya bernada positif. Berbagai tanggapan negatif sempat diterima oleh para cendekiawan Islam yang terinspirasi pemikiran-pemikiran reformis tersebut. Salah satu contohnya adalah hal yang pernah menimpa KH Ahmad Dahlan. Pemikiran pembaru dalam peribadatan yang dimiliki oleh KH Ahmad Dahlan ternyata tidak sepenuhnya diterima dengan baik oleh sebagian kalangan. [islamaktual/sm/shubhimahmashonyharimurti]

Menjaga Kelestarian Lingkungan


Faktor utama kerusakan lingkungan adalah perilaku manusia yang memandang sumber daya alam sebagai objek yang dapat dieksploitasi semaunya untuk memenuhi kebutuhannya. Kerusakan terhadap sumber daya alam berdampak kurangnya pasokan sumber energi, karena sebagian besar sumber energi diperoleh dari pengolahan sumber daya alam. Jauh-jauh hari, Rasulullah saw telah berpesan untuk memanfaatkan sumber daya alam secara bijak dan proporsional agar tidak cepat habis. Hal ini terekam dalam sabda Rasulullah saw mengenai anjuran mematikan lampu:
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah, ‘Amr al-Naqd, Zuhair bin Harb, mereka mengatakan telah menceritakan kepada kami Sufyan bin Uyainah dari Zuhriy dari Salim dari Ayahnya dari Nabi Saw bersabda: “Janganlah kalian tinggalkan api (lampu) di rumah kalian ketika tidur” (HR. Muslim, Juz. 6/ 107, no. 5376, Bab al-Amr Bitaghtiyah alIna’i)
Hadits ini juga diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Shahih Bukhari kitab Bad’u al-Wahyi, 4/80, no. 6293. Abu Dawud dalam kitabnya Sunan Abu Dawud 4/ 533, no. 5248, at-Tirmidzi dalam Sunan at-Tirmidzi bab takhmir al-Ina’i wa ithfa’ al-Saraji wa an-Nar, no. 1813. Dalam kitabnya, Abu Isa menyatakan bahwa Hadits ini hasan shahih, begitu juga al-Bani men-shahih-kan Hadits ini. Hadits ini juga direkam oleh Abu Ya’la dalam musnad Abi Ya’la 9/398, Ibnu Majah juga merekam Hadits ini dalam kitabnya, Sunan Ibn Majah, bab Ithfa’ an-Nar ‘Inda al-Mabit, 2/1239, no, 3769. Menurut Husain Salim Asad, sebagaimana diungkapkan oleh at-Turmudzi, Hadits ini sanadnya shahih.
Mengenai hemat energi ini, Rasulullah juga memperingatkan untuk waspada terhadap pemakaian energi: Telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Amr al-Asy’aniy, Abu Bakr bin Abi Syaibah, Muhammad bin Abdullah bin Numair, Abu Amir a-Asy’ari dan Abu Kuraib —lafadnya dari Abu ‘Amr— mereka mengatakan telah menceritakan kepada kami Abu Usamah dari Buraid dari Abi Burdah dari Abi Musa berkata: “Sebuah rumah di Madinah telah terbakar pada suatu malam, maka ketika hal tersebut diceritakan kepada Rasululah saw, beliau bersabda: “Ini adalah api. Sesungguhnya, dia adalah musuh kalian, maka jika kalian tidur, matikanlah api tersebut” (HR. Bukhari, 8/81. No. 6294).
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunan Ibn Majah, Kitab al-Adab, 4/694, no. 3770, Shahih Muslim, 6/107, no. 5377, Shahih Ibn Hibban, Bab Adab an-Naum, 12/328, no. 652, Musnad Ahmad, 32/342, no. 1957.
Historisitas (asbab al-wurud) Hadits ini karena kekhawatiran Rasulullah saw akan terjadinya kebakaran rumah. Sebagaimana diketahui bahwa lampu yang digunakan pada masa itu adalah lampu dengan bahan bakar minyak, sehingga rentan terjadi kebakaran apabila lampu itu terjatuh dan menimpa sesuatu yang mudah terbakar di bawahnya. Oleh karena itu, Rasulullah Saw meminta umatnya untuk mematikan lampu ketika hendak tidur (Ibnu Hajr al-Asqalani, Fath al-Bari Syarh Bukhari, 11/87).
Sumber daya alam (SDA) sebagai suplai utama sumber energi bagi manusia tidak hanya berbentuk api saja tetapi juga berbentuk tumbuh-tumbuhan dan air. Sebagaimana sabda Rasulullah saw: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Sa’id, telah menceritkan Abdullah bin Khirasy bin Hausyib as-Syaibani, dari al-Awwami bin Hausyib, dari Mujahid, dari Ibn ‘Abbas berkata: Rasulullah saw bersabda: “Umat Islam berserikat dalam tiga hal, yaitu padang rumput, (tumbuhan), dan api” (HR. Ibnu Majah, 3/528, no. 2472).
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Abi Dawud dalam kitabnya Sunan Abi Dawud, bab Fi Man’i al-Ma’i 3/295, no, 3479, Ahmad bin Hambal juga merekam Hadits ini dalam kitab Musnad Ahmad 5/364, no. 23132. Menurut Syuaib al-Arnauth, Hadits ini shahih. Al-Baihaqy juga merekam Hadits ini dalam Sunan al-Kubra 6/150 dan Sunan al-Sughra 5/447, no. 2165.
Mengenai pemanfaatan sumber daya air, Rasulullah saw juga menganjurkan untuk berhemat dalam pengelolaan dan pemakaian air: Telah menceritakan kepada kami Abu Nu’aim berkata telah menceritakan kepada kami Mis’ar berkata telah menceritakan kepadaku Ibn Jabr berkata aku mendengar Anas ia berkata: Adalah Nabi saw mandi dengan air satu sha’ hingga lima mud, dan berwudhu’ dengan satu mud” (HR. Bukhari, bab al-Wudlu bi Mud, 1/ 339, no. 194).
Hadits ini menunjukkan tentang efisiensi penggunaan air. Sebagai contohnya, Nabi saw menggunakan air sesuai dengan kebutuhannya, yaitu air yang digunakan untuk mandi atau berwudlu tidak melebihi fungsi utamanya untuk membersihkan hadas dan kotoran.
Dalam penggunaan air, Rasulullah saw sangat ketat, terutama masalah air bersih. Karena air bersih adalah sumber kehidupan manusia: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya dan Muhammad bin Rumh, mereka berdua berkata telah menceritakan kepada kami Laits dan telah menceritakan kepada kami Qutaibah dari Jabir dari Rasulullah Saw. bahwa beliau melarang kencing di air yang menggenang (HR. Muslim, bab Naha an al-Bauli ar-Rakidi, 1/162, no. 681).
Hadits ini juga terekam dalam Musnad Ahmad bin Hambal 2/532, no. 10905 dan Al-Baihaqy dalam Sunan al-Kubra 1/ 97, no. 477, Sunan al-Sughra, 1/37.
Dalam Hadits lain disebutkan kecaman dan ancaman keras Rasulullah saw terhadap perilaku pencemaran terhadap air. Nabi saw bersabda: Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Suwaid al-Ramli dan Umar bin Khattab bahwa Sa’id bin Hakam berkata telah mengkhabarkan kepada kami Naafi’ bin Yazid telah menceritakan kepada kami Haiwah bin Syuraij bahwa Abu Sa’id al-Himyari bercerita dari Muadz bin Jabbal berkata Rasulullah saw bersabda: “Takutilah tiga perkara yang menimbulkan laknat; buang air besar di saluran air (sumber air), di tengah jalan, dan di tempat teduh” (HR. Abu Dawud).
Al-Baihaqy juga merekam Hadits ini dalam kitabnya, Sunan al-Kubra bab an-Nahyi an al-Bauli fi Thariq an-Nas, 1/97, no. 594. Ahmad bin Hambal juga merekam Hadits ini dalam kitabnya, Musnad Ahmad 4/449.
Kepedulian Rasulullah Saw terhadap lingkungan tidak cukup hanya sampai di situ. Beliau juga memberikan pesan agar menanam, merawat, dan menjaga tumbuh-tumbuhan dengan baik agar dapat dimanfaatkan oleh orang banyak: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya dan Qutaibah bin Sa’id dan Muhammad bin Ubaid al-Ubariy berkata Yahya berkata telah menceritakan kepada kami Abu Awanah dari Qatadah dari Anas berkata, Rasulullah saw bersabda: “Tidaklah seorang Muslim menanam tanaman, kemudian tanaman itu dimakan oleh burung, manusia, ataupun hewan, kecuali baginya dengan tanaman itu adalah sadaqah” (HR. Bukhari, 3/135, no. 2320).
Hadits ini diriwayatkan juga oleh Muslim dalam kitabnya, Shahih Muslim, bab Fadhl Ghurus Wa Zar’i, 5/28. no. 4055, dan at-Turmudzi dalam Sunan at-Turmudzi dalam bab Fadhl al-Ghurus 3/666, no. 1328.
Hadits di atas menunjukkan betapa pentingnya menanam dan memelihara tanaman. Karena selain bermanfaat bagi orang yang menanam juga bermanfaat bagi makhluk yang lain.

Berdasarkan uraian di atas, maka disimpulkan bahwa masalah pelestarian lingkungan hidup terungkap dalam beberapa Hadits sebagai perintah bagi manusia agar menjaga dan atau memelihara lingkungan mereka dengan baik (ihsân). Dalam beberapa Hadits juga disebutkan bahwa masalah pemeliharaan keseimbangan ekologi (lingkungan hidup) ini sangat urgen (penting) bagi kelangsungan hidup manusia. Karena pasokan energi terbesar yang dinikmati oleh manusia berasal dari lingkungan itu sendiri, baik itu berupa air, api, tumbuh-tumbuhan dan sebagainya. Oleh karena itu, agar pasokan energi yang dibutuhkan oleh manusia tidak cepat habis, manusia harus bisa menggunakannya secara proporsional dan bijak tanpa mengesampingkan perawatan terhadap lingkungan hidup yang merupakan sumber dari penghasil energi itu sendiri. Wallahu ‘alam bi ash-shawab! [islamaktual/sm/sukaharahmadsyafi’i]

Visit Us


Top