Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Pahlawan, adalah istilah yang biasa disematkan kepada seseorang yang telah berjasa besar di bidangnya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Pahlawan adalah orang yang dihormati karena keberaniannya, pribadi yang mulia dan sebagainya. Di film-film klasik sering kita jumpai seorang pahlawan biasanya digambarkan berjuang dari awal sampai akhir dalam melawan seluruh bentuk kezaliman, namun akhirnya harus gugur/ tertangkap secara tragis tapi terhormat.
Dalam cerita, film, maupun sejarah, semuanya sama. Pahlawan adalah orang-orang yang berjuang secara ikhlas namun dia sendiri tidak sempat menikmati buah perjuangannya. Buah perjuangannya itu akan dinikmati oleh generasi penerus. Namun, semangat perjuangannya itu akan abadi sebagai cerita yang melegenda.
Dalam alam kemerdekaan, bangsa dan umat ini juga masih sangat memerlukan pahlawan-pahlawan baru. Bangsa dan umat ini masih sangat memerlukan manusia-manusia muhlisin yang rela berjuang dalam lapangan jihadnya masing-masing.
Sudah barang tentu, cerita dan lapangan serta gaya kepahlawanan dalam masa sekarang harus disajikan dengan semangat dan gaya yang sama sekali baru dan berbeda. Sosok pahlawan Islam masa awal yang penuh pergolakan tentu sangat berbeda dengan sosok pahlawan yang diperlukan umat pada masa sekarang. Pada masa pergolakan, mayoritas manusia mempergunakan bahasa pedang dan peperangan, maka umat memerlukan sosok-sosok pahlawan yang berani mati dalam mengayunkan pedang dan melemparkan tombak dalam peperangan.
Slogan hidup mulia atau mati syahid, merupakan slogan yang terlihat sangat gagah dan heroik. Tidak salah apabila slogan itu biasa dibuat menjadi stiker dan ditempel di rumah-rumah umat Islam, atau dijadikan tulisan di kaos dan jaket-jaket anak muda yang penuh semangat. Semua orang Islam pasti bercita-cita bisa mati syahid, Khalid bin Walid, panglima besar umat Islam era sahabat bahkan pernah merasa sedih ketika dia harus menghadapi malaikat maut justru ketika dia berada di tempat tidur karena sakit, bukan gugur di medan perang kena tombak atau pedang musuh.
Namun, pada peradaban damai seperti sekarang, bahasa diplomatik lebih diutamakan dalam menyelesaikan setiap permasalahan daripada dengan kekuatan, yang dibutuhkan umat adalah senjata perundingan.
Hanya saja, di sebagian belahan bumi ini masih ada beberapa manusia yang pola pikir tentang kepahlawanannya masih terilhami oleh kisah-kisah kepahlawanan era pergolakan. Masih ada sekelompok orang –apapun agama dan kepercayaannya– yang bercita-cita masuk surga dengan jalan pintas, yakni gugur di peperangan sehingga dikenang sebagai pahlawan. Dikenang sebagai syuhada, yang akan masuk surga tanpa hisab.
Tentu saja, cita-cita ini tidak bisa disalahkan begitu saja, namun terasa kurang tepat karena zaman dan peradaban sekarang sudah tidak lagi memerlukan kisah pahlawan yang seperti itu, apalagi kalau yang ingin menjadi pahlawan itu memaksa orang lain untuk ikut mati bersama dengan melancarkan serangan kepada pihak yang tidak bersalah dan tidak ingin berperang.
Mengenai cita-cita untuk mati ini, ada cerita yang cukup populer yang dikaitkan dengan ajaran KHA Dahlan. Konon pada awal perintisan Muhammadiyah, ada salah seorang murid Kiai Dahlan yang sangat berani. Dia bahkan berjanji pada Kiai Dahlan kalau dia sanggup menyerahkan nyawanya untuk suksesnya dakwah untuk kejayaan Islam. Namun, saat itu Kiai Dahlan hanya tertawa, dan menjawab, “Islam saat ini tidak lagi membutuhkan jiwa dan nyawamu. Islam hanya membutuhkan sebagian tenaga dan waktumu, Islam juga sangat membutuhkan sebagian, tidak seluruh hartamu.”
Kita tentu juga masih ingat polemik awal masa reformasi, saat ada sekelompok orang membentuk lasykar berani mati yang akan membela presiden yang diturunkan MPR. Saat itu ada tokoh umat Islam yang berseloroh mirip dengan cerita tentang Kiai Dahlan. Bangsa ini tidak membutuhkan laskar berani mati, yang dibutuhkan bangsa ini adalah laskar yang berani hidup. Berani hidup itu jauh lebih mulia daripada berani mati. Berani hidup adalah berani menghadapi, menerima, dan ikut memperbaiki seluruh kenyataan yang ada di hadapannya.
Tanpa memanggul senjata dan membunuh satu orang pun, bangsa Indonesia ini pasti akan merasa sangat merasakan jasa dan kepahlawanan Kiyai Dahlan, Muhammad Hatta, Ki Bagus Hadikusuma, Kasman Singadimedja, Muhammad Roem, Hamka dan lain sebagainya. Dalam sudut pandang yang lain bangsa ini juga pasti akan mengakui kepahlawanan Muhammad Amien Rais, BJ Habibie, maupun Ahmad Syafii Maarif. Karena pada dasarnya mereka adalah pahlawan dalam bidang dan masa mereka masing-masing.

Sampai pada masa sekarang ini, umat selalu membutuhkan hadirnya sosok pahlawan yang pantas diteladani. Siapapun di antara kita pasti akan bisa menjadi pahlawan. Lapangan untuk menjadi pahlawan itu masih sangat terbuka yaitu dengan berbuat sebaik mungkin di ladang-ladang amal yang saat ini masih sangat luas terbentang. Untuk mati syahid dan menjadi pahlawan tidak harus dengan menenteng senjata ke mana-mana. Apalagi memaksa orang lain yang tidak berdosa ikut mati bersama-sama. Pahlawan adalah orang yang berani hidup, berani mengubah keadaan, dan berani menyuarakan kebenaran. [islamaktual/sm/isngadimarwah]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top