Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Seseorang datang dan menemui Usman bin Affan. Dia berkata kepada Usman, “Wahai orang kaya, kalian telah mengerjakan kebaikan, kalian telah bersedekah, kalian telah memerdekakan budak, kalian telah berhaji, dan kalian telah memberikan nafkah.” Maksudnya, sahabat yang satu ini seolah “protes” atau menunjukkan semacam kecemburuan kepada Usman dan orang-orang kaya, yang dapat berbuat apa saja. Sedangkan dirinya yang kurang berpunya, tidak banyak melakukan hal-hal yang diinginkannya dalam hidup, harta untuk beramal kebajikan sekalipun.
Apa jawaban Usman? “Kalian ini jauh lebih baik dariku dan aku ingin sekali seperti kalian. Demi Allah, satu dirham yang diinfakkan seseorang di jalan Allah melalui usaha mati-matian itu lebih baik dari pada seratus ribu dirham tetapi hanya setitik dari begitu banyak melimpahnya uang,” ujar Usman dengan bijak. Jawaban Usman itu sejalan dengan Hadits Nabi ketika ditanya tentang sedekah apa yang paling utama? Nabi bersabda, “Sedekah orang miskin yang berusaha mati-matian untuk bersedekah,” (HR Abu Dawud dari Abu Hurairah).
Kisah di atas mengisyaratkan dengan jelas, siapa pun sebenarnya tak ada halangan untuk bersyukur dengan menerima karunia Allah dan melakukan amal kebaikan atas nikmat yang diterimanya itu. Tidak peduli apakah dia kaya atau miskin, orang berpangkat atau masyarakat biasa. Dalam keadaan apa pun rasa syukur atas nikmat Allah itu harus ditunaikan sebagai wujud berterima kasih kepada-Nya. Tidak terlalu penting apakah dalam keadaan terbatas atau berlebih, yang diutamakan seberapa jauh ketulusan yang hadir dalam jiwa dan seberapa mampu yang dapat dilakukan untuk membuktikan kesyukuran itu dalam beramal kebaikan meskipun hanya sebesar zarrah.
Syukur, menurut kutipan Ibn Qayyim dari kitab Al-Shahhah, ialah “pujian kepada orang yang berbuat baik karena kebaikannya”. Ketika orang mengatakan “syukran”, artinya dia berterima kasih atas kebaikan orang kepadanya. Syukur kepada Allah ialah berterima kasih kepada-Nya atas segala karunia atau nikmat yang dilimpahkan, baik banyak maupun dirasakan sedikit. Syukur hamba kepada Allah menurut Qayyim, berkisar pada tiga hal, yakni mengakui nikmat Allah, pujian kepada Allah atas nikmat itu, dan menggunakan nikmat Allah itu untuk mencapai ridla-Nya.
Menurut Asy-Shiddieqy, syukur akan nikmat Allah ialah menggunakan nikmat itu sebaik-baiknya, pada tempatnya, dan menurut cara-cara yang dikehendaki Allah. Nikmat itu ialah tiap-tiap kebajikan, kelezatan, kebahagiaan, dan tiap-tiap perolehan yang dicari, dan disukai. Nikmat yang sebenar-benarnya ialah yang membawa pada kebahagiaan lahir dan batin, dunia dan akhirat. Nikmat itu ada empat macam. Pertama, yang memberi kenikmatan di dunia dan akhirat, misalnya pengetahuan dan budi luhur. Kedua, yang memelaratkan di dunia dan akhirat, misalnya kebodohan dan tidak berbudi. Ketiga, yang membawa kenikmatan di dunia tetapi membawa kecelakaan di akhirat, misalnya mengumbar hawa nafsu. Keempat, yang memelaratkan di dunia tetapi menjadi nikmat di akhirat, misalnya mengendalikan hawa nafsu.
Manusia sering lupa bersyukur karena hawa nafsu melebihi takaran. Ketika diberi rizki dan kenikmatan yang sedikit dengan mudah mengeluh. Tatkala diberi cukup, ingin banyak. Manakala diberi banyak ingin lebih banyak lagi. Akhirnya, diri tidak pernah merasa puas, selalu merasa kekurangan nikmat. Pendek kata, selalu ada alasan untuk tidak bersyukur atas apa yang diraih dan dimiliki. Padahal Allah mengingatkan kepada orang-orang beriman, “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rizki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah,” (Qs Al-Baqarah: 172).

Ada kisah teladan yang menarik. Seorang laki-laki bertemu dengan Sahal bin ‘Abdullah, yang dikenal sebagai ulama ahli ikhlas yang hidup pada masa 200- 283 Hijriyah. Orang itu berkata kepada Sahal, “Ada pencuri yang masuk ke rumahku dan mengambil hartaku.” Sahal menjawab dan memberi komentar, “Aku bersyukur kepada Allah. Kalau saja ada pencuri yang masuk ke dalam hatimu (setan) dan merusak tauhidmu, apa yang akan kamu lakukan?” Dialog tersebut mengisyaratkan agar orang belajar bersyukur atas apa yang dialami dan dirasakan sebagai musibah atau hal yang tidak menyenangkan, bukan saja ketika memperoleh nikmat. Di situlah, rasa syukur bersatu dengan sabar ketika menghadapi musibah. Bersyukur tatkala memperoleh nikmat dari Allah tentu sesuatu yang lumrah. Tetapi, bersyukur plus sabar ketika diberi musibah sungguh merupakan pencapaian ruhani yang tinggi dan mulia. [islamaktual/sm/a.nuha]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top