Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Membela Kebenaran & Keadilan
Salah satu penyakit manusia adalah cenderung meletakkan kebenaran dan keadilan pada siapa-siapanya. Bukan pada substansi kebenaran dan keadilannya itu sendiri. Dan ini sangat berbahaya karena di sinilah kemudian rentang terjadi "salah atau benar" dia teman dan berhak untuk dibela. Atau sebaliknya, dia adalah lawan maka "benar atau salah"tetap harus dilawan dan disalahkan.
Akibatnya ukuran kebenaran dan keadilan menjadi remang-remang dan tidak lagi terukur oleh logika kebenaran. Tapi dengan batas-batas emosi pertemanan atau sebaliknya, permusuhan. Substansi kebenaran dan keadilan kemudian menjadi kabur.
Islam meletakkan kebenaran dan keadilan itu pada posisi substansi. Bahwa kebenaran dan keadilan itu tidak dibatasi oleh "siapa". Melainkan oleh "apa". Artinya kebenaran dan keadilan itu sangat bersifat universal dan lintas batas. Tidak mengenal teman atau lawan. Tapi menitik beratkan pada "universal substance" (substansi universalnya).
Al-Qur'an sendiri begitu memegang erat sikap "fairness" dalam menyikapi kebenaran dan keadilan ini. Di antara sekian kelompok manusia yang paling sering dikritisi oleh Al-qur'an adalah Bani Israel. Terkadang dikeritik dengan ungkapan yang sangat tajam. Bagaikan kera atau babi adalah kritikan yang, menurut ukuran logika manusia, sangat kasar. Tapi itulah cara Allah mengingatkan hamba-hamba-Nya agar mengingat.
Tapi di satu sisi Allah juga menyebutkan beberapa kelebihannya. Di antaranya bahwa Bani Israel adalah kaum yang pernah diutamakan melebihi manusia yang lain (faddholnaakum alal alamin). Sebuah pujian yang sangat tinggi. Minimal Al-Quran mengingatkan kebesaran sejarah mereka di masa lalu.
Demikian juga dengan teman-teman Kristiani kita. Mereka dikritik oleh Al-qur'an secara tajam perihal keyakinan sebagian mereka tentang Yesus Kristus. Sebab dalam keyakinan Islam Yesus Kristus adalah hamba Tuhan, terlahir secara Mukjizat dari seorang gadis bernama Maryam. Kemudian dia diangkat menjadi rasul dan diberikan Al-Kitab (Injil). Sementara sebagian teman-teman Kristiani mengimaninya sebagai anak Tuhan atau Tuhan ingkarnasi. Oleh Al-Qur'an keyakinan dikritik secara tajam.
Tapi di sisi lain Al-Quran mengakui kalau di kalangan umat Kristiani itu ada yang menghambakan diri kepada Allah. Mereka adalah "Rahbaniyyin" (para rahib atau pendeta) yang dekat hatinya kepada Tuhan. Bahkan Al-Qur'an menyatakan bagaimana Kristiani adalah umat yang paling dekat dalam persahabatan dengan umat Islam.
Di balik kenyataan di atas, Al-Qur'an juha menyatakan bahwa kedua kelompok manusia itu akan ada rasa ketidak relaan kepada kamu (lan tardho).
Apa arti semua itu? Jawabannya karena Al-Qur'an membenarkan yang benar dengan penuh keadilan. Dan menyalahkan yang salah juga sengan menjunjung tinggi keadilan (fairness).
Demikian juga Rasulullah SAW. Menempatkan kebenaran pada porsi yang sesuai. Ketika Persia dan Roma, dua superpower masa itu, saling berperang Rasulullah SAW dan umatnya cenderung membela Roma. Padahal sejatinya secara keakidahan sama saja. Sama-sama melakukan penyelewengan Tauhid yang diyakini Islam.
Tapi kenapa Rasulullah cenderung berpihak kepada Roma? Karena mereka Kristiani yang masih percaya Kitab Suci samawi, cinta kepada Yesus, dst.
Di situlah proporsionalitas dalam meletakkan kebenaran dan keadilan. Bahwa kebenaran dan keadilan tidak ditentukan oleh "siap" (kawan atau lawan). Kebenaran dan keadilan adalah universal dan berada di pihak manapun harus dijunjung tinggi.
Al-Qur'an mengingatkan dengan tegas: "dan jangan karena kebencian kamu kepada suatu suatu kaum menjadikan kamu tidak adil. Adillah! Karena itu dekat kepada ketakwaan".
Di sinilah salah satu letak kelemahan umat dalam menyikapi kebenaran dan keadilan. Sikap sektarianisme menjadikan kebenaran dan keadilan universal itu terabaikan. Kalau teman,benar atau salah tetap dibenarkan. Jika dianggap lawan, benarpun pasti disalahkan.
Tumbuhnya prilaku nepotisme di berbagai negara Islam, termasuk Indonesia, karena terabaikannya sunnah besar ini. Kita diingatkan bagaimana seorang hakim memenangkan seorang Yahudi dalam sebuah perkara melawan Ali, sang Khalifah ketika itu. Karena secara kebenaran dan keadilan sang hakim tidak menemukan bukti-bukti kuat untuk memenangkan sang penguasa.

Inilah salah satu sunnah yang terlupakan (the forgotten sunnah). Semoga bisa diraih kembali. Amin. [islamaktual/imamshamsiali]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top