Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


oleh : Shubhi Mahmashony H.
Sejak masa Nabi Muhammad saw, Islam masuk ke India dengan cara penetration pacifique, yaitu relasi dagang yang terjalin di sepanjang pantai barat dan selatan. Situasi politik dan sosial di Asia Selatan ketika itu sangat penuh dengan konflik. Hal tersebut ditandai dengan sering terjadi peristiwa penindasan yang dilakukan oleh Kaum Brahmana terhadap masyarakat yang strata sosialnya lebih rendah dan para penganut Agama Budha. Kondisi kerajaan-kerajaan Hindu juga senantiasa diliputi konflik perebutan kekuasaan. Relasi politik antara India dengan Arab juga tidak berlangsung dengan baik. Hal tersebut diatasi oleh pasukan Islam yang dipimpin oleh Muhammad ibn Qasim yang sanggup membatu para golongan tertindas sekaligus memberikan harapan baru. Para penduduk asli India kemudian bersedia menganut Agama Islam. Periodisasi Islam di India dapat dibedakan sebagai berikut. Pertama, zaman Muhammad saw hingga Dinasti Ghuri. Kedua, zaman Kesultanan Delhi (1206 – 1526). Ketiga, zaman Dinasti Mughal (1526 – 1857). Keempat, zaman kolonialisme (Karim 2012, 255 – 256).
Proses islamisasi India dapat dibagi menjadi empat bagian, yaitu masa Nabi saw, periode al-Khulafa al-Rasyidun beserta Dinasti Umayah, Dinasti Ghazni, dan Dinasti Ghuri. Bangsa India sudah banyak yang bertempat tinggal di tanah Arab sejak zaman Nabi saw. Beberapa di antaranya sanggup menjadi tabib bagi ‘Aisyah ra yang kemudian menjadi khadimah-nya. Perhatian Nabi Muhammad terhadap India dibuktikan melalui Sabdanya, “Ada dua golongan umatku yang selamat dari api neraka. Salah satunya yang berjihad ke Hindia.” Nabi akhir zaman tersebut juga mengucapkan doa bagi India dan salah satu istrinya yang bernama Hind. Doa tersebut berbunyi, “Semoga Allah memberkati Hind ini dan negara yang mempunyai nama sama dengannya”. Penguasa Kadangalur, Pantai Malabar, yang bernama Cheraman Perumal, juga sempat menemui Nabi Muhammad setelah dia masuk Agama Islam. Belum ditemukan angka tahun yang menyebutkan peristiwa bersejarah tersebut. Beberapa ahli berpendapat bahwa kemungkinan hal itu terjadi pada sekitar tahun 630 – 631. Hal tersebut dianalogikan bahwa pada masa-masa itu Nabi yang juga Rasul ini telah berkomunikasi dengan luar negeri ditandai dengan keberadaan sejumlah kurir yang datang dan pergi.
Pada saat al-Khulafa al-Rasyidun memimpin sempat dilakukan invasi ke India, namun gagal karena sering terjadi peristiwa kapal tenggelam. Hal tersebut disebabkan bangsa Arab kurang menguasai ilmu kemaritiman. Khalifah kedua, yaitu Umar ibn Khattab, kemudian tidak mengizinkan pengiriman armada laut. Tentara Arab pada tahun 643 – 644 sukses menaklukkan Sizistan, Kirman, dan Mekran. Keberhasilan tersebut selanjutnya tidak ditindaklanjuti. Tentara Islam pada saat kepemimpinan Mu’awiyah bin Abi Sofyan sukses menguasai Kabul, Afghanistan. Peristiwa perompakan terhadap umat Islam sempat terjadi pada masa Walid ibn Abdul Malik di daerah otoritas Raja Dahir (Karim 2012, 256 – 257).
Ibnu Qasim diutus untuk menaklukkan Sind ketika dia masih berusia belia, yaitu 17 tahun. Pada awal tahun 700, Islam telah memasuki India dan berkembang pesat. Muslim India di kemudian hari dipimpin oleh Yazid ibn Abu Kabshah al-Suksuki, meskipun dia hanya mampu menjalankan amanat tersebut selama 18 hari disebabkan terjadi sejumlah Chaos. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh Karim (2012, 257 – 260) bahwa penyebaran Agama Islam lebih ditingkatkan daripada mengangkat penguasa baru.
Pada saat Dinasti Abbasiah mulai runtuh abad X, usaha penaklukan India selanjutnya dilakukan oleh Dinasti Ghazni tahun 977 – 1186. Sultan Mahmud, penguasa Ghazni, melaksanakan penaklukan dengan beberapa tujuan, yaitu politik, agama, dan ekonomi. Dia berkeinginan untuk mendirikan imperium Asia Tengah. Mahmud telah sukses melakukan akulturasi budaya antara Islam dan Hindu dan membuka pintu kemajuan Agama Allah di tanah India. Dinasti Ghuri selesai ceritanya setelah menaklukkan kawasan Punjab.
Muhammad ibn Qasim sukses membentuk komunitas yang aman dan tentram. Dia menyamaratakan antara orang Arab dan non-Arab meskipun status penduduk asli Sind menjadi minoritas dikarenakan Islam telah berkuasa. Invasi Ibn Qasim di India yang meliputi Multan dan Sind ternyata telah membuka pintu bagi masyarakat Arab untuk melakukan kontak dagang dan bermukim di Asia Selatan. Pemerintahan Islam di India sangat menerapkan asas toleransi dengan baik. Terbukti, sejumlah tempat ibadah yang sudah tidak utuh lagi semasa kontak senjata kembali diperbaiki dengan dana sepenuhnya dari penguasa kala itu. Saling pengaruh antara Arab dengan Asia Selatan juga meliputi bidang astronomi, astrologi, bahasa, kedokteran, filsafat, dan seni.
Kesultanan Islam di India dimulai pada tahun 1206 – 1596. Pada tahun 1206 – 1526 berdiri Kesultanan Delhi. Kesultanan Deccan berlangsung pada tahun 1490 – 1596. Agama Islam yang berasal dari Jazirah Arab mulai masuk ke wilayah India pada millenium pertama Masehi. Jasa orang India terhadap bangsa Arab juga besar. Salah satunya adalah ketika Monka, seorang tabib dari Asia Selatan, telah sukses menghilangkan penyakit yang diderita oleh Khalifah Harun al-Rasyid. Qutub alDin Aybek sukses mengaplikasikan Syariat Islam maskipun Umat Islam merupakan golongan yang sedikit jumlahnya (10%). Dikarenakan sikap konsisten dan gagasan kerukunan antar umat bergama yang dicetuskannya, maka Hasan Nizami, seorang penyair, ketika itu mengabadikannya dalam sebuah tulisan berjudul Taj al-Ma’athir. Para pelaku dagang, kaum mubaligh, penganut sufi, dan ilmuwan Islam yang bermigrasi ke India telah mampu mengembangkan khazanah peradaban dan pemikiran terutama di bidang tasawuf. Kebudayaan Sati Daho yang tidak sesuai dengan ajaran Islam tidak diperkenankan untuk diterapkan juga berkat usaha Umat Islam kala itu. Pelarangan ini sudah diusahakan sejak masa Ibn Qasim sampai periode kepemimpinan Mahmud, bahkan hingga ke zaman Kesultanan Delhi dan pemimpin Mughal, yaitu Aurangzeb. Peniadaan adat bakar diri yang dilakukan oleh istri ketika suaminya meninggal itu secara resmi dilakukan olehWilliam Bentick, seorang pemimpin Inggris. Al-Biruni menyatakan bahwa sistem peradilan Hindu masa lalu sangat tidak adil dari kaca mata manapun.
Bukti kontak budaya Arab dengan India dapat dilihat dari keberadaan beberapa hal. Antara lain adalah tentang Sultan Tipu yang hidup semasa dengan penjajahan Inggris dan sempat melakukan perlawanan terhadap bangsa Eropa. Bahasa Urdu juga bentuk akulturasi lain, yaitu terdapat beberapa persamaan dengan bahasa ataupun tulisan Arab. Prosesi perayaan Bulan Muharam juga dilakukan oleh masyarakat Muslim India. Mereka melakukannya bersama dengan pemeluk Hindu di Distrik Sangli, Maharashtra. Umat Muslim tampak begitu akrab dan menunjukkan kesan perdamaian meskipun beberapa waktu sebelumnya sempat marak peredaran lukisan Nabi Muhammad dan menyebabkan sejumlah ketegangan kecil.
Berbagai aspek budaya India juga telah terpengaruh oleh kebudayaan Arab, misalnya kerajinan, arsitektur, musik, tari, administrasi, seni lukis, tekstil, pakaian, masakan, dan perkotaan. Arsitektur Islam yang dikenalkan oleh para penguasa Muslim kala itu adalah meliputi benteng, istana kerajaan, tugu orang besar, dan masjid. Gaya utama arsitektur India yang terpengaruh oleh budaya Arab terdapat tiga jenis, yaitu Delhi/Imperial, Moghul, dan Provinsial. Beberapa dinasti telah menyumbangkan kekayaan budaya berupa arsitektural Islam, seperti Dinasti Khalji, Dinasti Tughlag, Dinasti Sayyid, dan Dinasti Lodi.
Salah satu peninggalan kebudayaan Dinasti Moghul adalah Makam Humayun di Delhi. Makam ini menyerupai masjid dengan keberadaan tiga buah kubah (dua kubah kecil dan satu kubah besar di tengah). Terdapat satu buah lengkungan (arch) besar di tengah, dua buah lengkungan sedang di sisi kanan dan kiri, serta beberapa lengkungan kecil pada bagian bawah. Makam ini mempunyai halaman yang sangat luas di depannya dipadu dengan sebuah kolam yang menjadikannya tampak semakin indah (Sektiadi. Disampaikan dalam matakuliah Arkeologi Asia Selatan Jurusan Arkeologi FIB UGM, 28 Mei 2008).
Tinggalan bersejarah dari Dinasti Suri adalah Makam Ser Shah Sur di Sasaram. Makam ini seperti halnya beberapa tempat peristirahatan terakhir di India berbentuk menyerupai masjid dengan keberadaan kubah baik yang besar maupu kecil di sekitarnya. Bangunan bersejarah ini terletak persis di pinggir sebuah sungai sehingga memperlihatkan pemandangan yang sangat elok. Makam tersebut terbuat dari bahan batuan andesit.
Pada masa Akbar yang paling terkenal dan menonjol adalah Jahangiri Mahal, Benteng Merah yang berada di Kota Agra. Benteng ini seperti namanya sudah pasti diketahui bahwa didominasi oleh warna merah bata. Arsitektural klasik khas India sangat kental pada bangunan ini. Bangunan klasik India kemungkinan hampir semua dihiasi dengan keberadaan kolam begitu juga di Benteng Merah. Pada bagian dalam dapat dijumpai tiang penyangga yang mirip dengan tumpang sari khas rumah joglo di Jawa.
Pada masa Shah Jahan Arsitektur Islam di Asia Selatan mencapai era keemasannya. Mayoritas bangunan terbuat dari bahan marmer. Pada bagian kubah berbentuk menyerupai bawang. Puncak kubah terdapat bentuk bunga teratai. Salah satu contoh peninggalan pada masa Shah Jahan adalah Shalimar Bagh di Lahore. Bangunan ini berbentuk gazebo dengan dikelilingi oleh kolam seperti halnya dengan material culture dari zaman Islam lainnya di Asia Selatan. Shalimar Bagh lebih tepat disebut sebagai kompleks taman. Bangunan monumental yang berasal dari masa pemerintahan Shah Jahan adalah Taj Mahal di Kota Agra. Sebuah kompleks makam yang dipersembahkan oleh Shah Jahan kepada istrinya sebaagai bentuk rasa cinta. Taj Mahal adalah salah satu dari 7 keajaiban dunia kategori warisan budaya.
Masa Aurangzib meninggalkan kekayaan budaya yang mendapat pengaruh Islam (Arab), yaitu keberadaan Bibi ka maqbara di Aurangabad. Kompleks ini sangat mirip dengan Taj Mahal. Apabila tidak cermat mengamati, maka orang akan mengiranya sebagai bangunan yang terletak di Kota Agra tersebut. Dilihat dari namanya, maka dapat diketahui juga bahwa Bibi ka maqbara merupakan sebuah kompleks makam.

Arsitektur Islam India yang bergaya provinsial adalah Hawa Mahall di Jaipur Rajashtan. Bangunan ini mirip dengan Colosseum di Kota Roma Italia. Hawa Mahall berbentuk seakan tersusun dari beberapa menara yang digabungkan. Bangunan ini berdiri menjulang dengan warna dominan coklat khas dari bangsa Mediteran. Pada setiap kolom hampir semua terdapat jendela kecuali pada bagian sisi kiri dan kanan bawah bangunan Hawa Mahall. [islamaktual/sm]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top