Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Tanda pagar # selama sejarah keyboard hampir tidak pernah dipakai dalam pengetikan hingga dipakainya oleh operator-operator telepon sebagai kode untuk mengecek layanan informasi tertentu seperti mengecek pulsa.
Seiring dengan berkembangnya cara berkomunikasi melalui media sosial seperti Facebook dan Twitter, dicari cara baru untuk saling menghubungkan antara pengguna dengan topik. Maka digunakanlah tanda @ untuk menandai akun dan tanda # untuk menandai topik atau konten. Simbol # disebut hashtag atau bahasa Indonesianya disebut “tagar” sebagai singkatan dari tanda pagar, kadang disingkat hanya dengan istilah “tag”.
Keunikan hashtag ini adalah tatkala dituliskan di belakangnya kata tertentu, maka akan menjadi link yang menghubungkannya dengan pengguna-pengguna lain yang menggunakan topik yang sama. Dengan dikelompokkannya konten tersebut, orang-orang yang ingin mengetahui tentang sebuah topik dapat mengetahui perkembangan topik secara lebih luas dan mendalam. Misalnya, dulu pernah marak hashtag #SalamGigitJari yang menembus peringkat dunia, sebagai sindiran atas kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak populer.
SalamGigitJari2.jpg
Sebenarnya fitur hashtag ini bisa berguna bagi dunia usaha untuk mempromosikan diri lalu mengukur seberapa jauh kontennya akan menular di masyarakat. Sebuah website yang kemudian berkecimpung dalam layanan tersebut bisa membantu menganalisis perkembangan sebuah topik hashtag, yakni di https://www.hashtags.org/analytics/.
Namun belakangan ini, trending topics dimanfaatkan para pebisnis dengan “mencuri” perhatian pada momen yang sedang melejit. Produk-produk apa saja dipublikasikan dengan menyebutkan topik yang sedang naik daun, supaya pembaca yang sengaja mencari informasi mengenai topik tersebut disengaja akan melihat produk tersebut. Misalnya pada topik yang trending awal oktober 2015 ini:
trendingtwitter.png
Sebuah produk mencomot hashtag-nya dan mempromosikan diri:
Hashtag.jpg
Mengumpulkan Simpati dan Dukungan
Di dunia politik dan perang ideologi, hashtag lebih menjadi alat propaganda untuk mengumpulkan dukungan dan menggulirkan bola salju, mulai sekedar mengemukakan pendapat hingga merevolusi. Insiden #JeSuisCharlie tahun 2014 lalu menjadikan dunia bersimpati pada sebuah koran yang kerap menerbitkan kartun yang melecehkan agama.
Mendorong Aksi
Orang mungkin mengira bahwa bercuap-cuap di twitter atau update status di facebook tidak akan banyak membawa perubahan. Hal itu benar bila hanya dilakukan segelintir orang secara acak, namun bila menggelora akan bisa berujung kepada revolusi sebagaimana yang terjadi pada #ArabSpring tahun 2011.
Kritik online melalui media sosial banyak bersumber dari daerah-daerah dengan akses internet dan  tingkat pendidikan masyarakat yang tinggi. Media sosial sangat berperan dalam meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai apa yang terjadi di belahan lain dunia dan apa yang seharusnya dilakukan untuk membantunya.

Tentu saja segala kelebihan ini juga disertai dengan kekurangan, dan kita masih harus belajar banyak untuk menyikapinya dengan bijak. [islamaktual/giligpradhana]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top