Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


oleh : H. Ayat Dimyati
Berdasarkan kronologis turunnya wahyu (Al-Qur’an) secara tadarruj (berangsur-angsur— red.) tiada lain adalah berjalannya hidayah dan ilmu atau sebaliknya secara bersamaan, maka diperoleh penjelasan bahwa Al-Qur’an itu diterima Nabi saw. sangat merapat dengan permasalahan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat saat itu. Bahkan ditegaskan, setiap ayat Al-Qur’an yang turun itu merupakan isyarat dan petunjuk bagi kehidupan umat manusia secara keseluruhan, dengan tanpa batas ruang dan waktu.
Dalam konteks sebagaimana gambaran di atas, langkah nyata dari para pihak akademisi untuk bekerja serius dan optimal adalah dengan melirik kembali paradigma keilmuan yang ditekuninya. Sikap ini penting untuk senantiasa dikembalikan pada tuntutan realitas kehidupan yang sangat membutuhkan panduan bagi tercapainya kehidupan berkeseimbangan. Baik dalam rencana awal dan capaian akhir, lahir dan batin, individu dan kolektif. Serta ilmu amaliah dan amal ilmiah yang disertai bingkaian etika selama proses berjalannya di antara pasangan-pasangan itu.
Karakteristik Ilmu dan Hidayah
Akan lebih jelas lagi dalam gambaran umum secara metodologis, persamaan dan perbedaan di antara keduanya (hidâyah dan ‘ilmu) dalam hubungannya dengan kehidupan sebagaimana penjelasan berikut ini. Pola wahyu/hidayah yang diterima Nabi Muhammad saw jika dikembalikan pada instrumen-instrumen cara berpikir, maka akan terlihat ada kesamaan di antara keduanya, yaitu deduktif-induktif atau induktif-deduktif. Bila memperhatikan setiap rumusan ayat-ayat Al-Qur’an, maka akan tampak cara berpikir yang satu sebagai kelanjutan dari cara berfikir lainnya. Bahkan sistem kewahyuan menjangkau ke luar batas empiris, dari rekayasa sosial hingga cita-cita dan tujuan akhir hakikat kehidupan ini.
Perbedaannya juga ada, yakni dalam sistem kewahyuan/hidayah di antara kedua cara berpikir tersebut berada dalam keseimbangan penuh. Di antara keduanya terdapat hubungan simbiosis, cara berpikir yang satu tidak bisa dipisahkan dari cara berpikir yang WAWASAN ISLAM Relasi Ilmu dan Hidayah (2) lainnya dalam bidang apa pun yang menjadi objek berpikirnya. Karakter berpikir kewahyuan yang seperti ini akan menjamin diperolehnya kehidupan utama, baik yang dicapai individu maupun kelompok.
Sayangnya, dalam dunia ilmu pengetahuan, sekalipun memiliki karakter tadi dan areanyapun tersedia namun tidak dimanfaatkan. Sehingga gerakan ilmu pengetahuan kurang memiliki daya kontrol terhadap berjalannya kehidupan berkeseimbangan yang sangat diperlukan. Padahal, dalam setiap bangunan kehidupan itu diperlukan dua hukum tetap. Yaitu hukum berpasangan yang harmonis (azwâj) dan hukum berkeseimbangan (tawâzun).
Kedua hukum tersebut tetap ada dalam kehidupan ini. Tetapi dalam dunia ilmu pengetahuan keduanya tidak bergerak secara simultan, bahkan pada realitasnya memunculkan kehidupan yang semakin kontradiktif. Hal ini terjadi sebagai konsekuensi logis dari tugas ilmu pengetahuan yang sebatas eksplanasi (menerangkan) terhadap perkara-perkara global. Karena itu, pesan-pesan kehidupan dalam Al-Qur’an yang bersifat global (ijmâliy) memerlukan penafsiran/ penjelasan yang detail sebagai penjabarannya oleh ilmu pengetahuan.
Ahmad Musthafa al-Maraghi dalam tafsirnya menjelaskan Q.s. Al-Fatihah: 5 tentang adanya lima tingkatan hidayah, dan ilmu termasuk bagian dari makna hidayah itu pada aspek intrumentalnya: mulai dari instink (gharizah), indra, akal, agama dan taufik. Fungsi dari masing-masing kelima potensi hidayah itu merupakan sesuatu given dari Allah kepada makhluk-Nya, disamping potensi lainnya terutama akal, agama dan taufik yang hanya diberikan kepada manusia.
Posisi ilmu yang terbangun dari potensi-potensi itu dengan berbagai karakteristiknya yang sangat spesifik itu berhadapan dengan tuntutan realitas lingkungan kehidupan yang membutuhkan penyelesaian masalah secara komprehensif dan menyeluruh. Sementara ilmu tidak memiliki kapasitas untuk hal itu. Bagian terakhir inilah yang mendesak untuk direkonstruksi, agar konsep keilmuan yang dikembangkan dan dipelajari sekarang ini serta nilai manfaat dari ilmu pengetahuan itu, benarbenar dapat dirasakan oleh pribadi yang berilmu dan oleh orang banyak sebagai pemakai ilmu pengetahuan tersebut. Dengan demikian, nilai dan martabat kemanusiaan dan peradaban umat manusia secara menyeluruh akan bermartabat pula ke depannya.
Berorientasi Solutif
Bagaimana arah pengembangan ilmu yang memiliki orientasi solutif bagi berbagai persoalan kehidupan itu ke depan? Sesuatu yang ditawarkan adalah menemukan kembali pasangannya, yaitu hidayah. Masalah mendasar tentang hidayah ini dalam pandangan keagamaan sampai saat ini adalah di satu sisi termasuk bagian dari hak mutlak Allah SwT. Sedangkan di sisi yang lainnya adalah adanya kebebasan manusia untuk memilih. Beberapa ayat AlQur’an mengisyaratkan tentang masalah ini, seperti: Q.s. Al-Qashash: 56; Al- Insaan: 3; dan Al- Balad: 10.
Jika hidayah solutif tersebut hanya sampai pada Nabi Muhammad saw saja, maka bagaimana penyelesaian terhadap permasalahan kehidupan sekarang ini. Sekalipun terdapat riwayat dari Nabi Muhammad saw bahwa risalah itu sudah terhenti bersamaan dengan berakhirnya kenabian, namun masih ada yang tersisa yaitu almubasysyirât, penglihatan seorang Muslim berupa ru’yah shâdiqah atau prediksi yang benar. (lihat: Al-Muwaththa, Juz VI/: 28; Shahih Bukhari, Juz XXI: 341; Sunan al-Turmudzi, Juz VIII: 229-230; Sunan Ibn Majah, XI: 370; dan Musnad Ahmad, XXVII: 369, XLVIII: 314, L: 485, dan LV:117).
Sedangkan ikhtiar umat dalam mencapai potensi ini melalui pengembangan keilmuan menjadi terabaikan. Secara individual kualitas ru’yah shâdiqah ini dimungkinkan bisa dicapainya, tetapi ia tidak mungkin bisa memberikan jalan keluar terhadap permasalahan publik karena hidayah belum menjadi pandangan dunia keseluruhannya sebagai bahan studi dan belum direspons sebagaimana terhadap ilmu pengetahuan.
Konsep hidayah ini bisa lebih diturunkan pada level bangunan-bangunan empiris atau semi empiris melalui pemanfaatan fungsi-fungsi Potensi Dasar Insani (PDI) atau Inner Capasity (IC) sebagai jalan penumbuhan rasa kebersamaan. Jika terdapat sesuatu yang baru dapat dipahami bersama, diyakini bersama, diperjuangkan bersama, diwujudkan bersama, dan bagi kepentingan bersama pula untuk masa sekarang ini dan yang akan datang. Maka permasalahan akan bisa diminimalisir sebagaimana pada masa nubuwah. Hal ini bukan sesuatu khayalan tanpa realitas, tetapi lebih pada pemanfaatan potensi diri yang belum tergali secara optimal.
Jalan bagi bangunan keilmuan seperti itu sekarang sudah bermunculan sebagai informasi akademik seperti ditemukannya empat hasil penelitian berupa: IQ (Intellectual Quotient), EQ (Emotional Quotient), SQ (Spiritual Quotient) pada tahun 2001. Kemudian hasil penelitian paling akhir menghasilkan SC (Spiritual Capital) pada tahun 2005, karya suami istri Danah Johar & Ian Marshal.

Fase ini baru sampai pada tingkat pembangunan wacana, konsep dan teori, melalui pendekatan komprehensif dalam memaknai berbagai realitas yang terjadi, terutama dalam bidang ekonomi. [islamaktual/sm]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top