Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


oleh : H. Ayat Dimyati
Agama Islam yang dibawa Nabi Muhammad saw merupakan penyempurna agama-agama samawi sebelumnya. Bukti nyata kesempurnaan ajaran agama yang dibawa Nabi Muhammad saw ini terekam dalam kedua sumbernya. Yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah/Al-Hadits. Al-Qur’an telah menyebutkan bahwa fungsi keberadaan keduanya adalah sebagai Hudan li al-Nâs wa Bayyinâtin min al-Hudâ wa al-Furqân (Q.s. Al-Baqarah: 185).
Dalam ayat lainnya, sebagaimana dinyatakan Q.s. Al-Baqarah: 129; Al-Jum’ah: 2; dan Ali ‘Imran: 164, ada tiga komponen untuk mencapai hudan dan bayyinât yang berujung pada al-furqân sebagaimana Nabi saw melakukannya. Pertama, tilâwah (bacaan yang membuahkan sikap mengikuti pesan yang ada di baliknya). Kedua, tazkiyah (bersih diri dan senantiasa menjunjung tinggi akhlak karimah). Ketiga, ta’lim (pembelajaran tentang al-Kitab dan al-Hikmah).
Al-Qur’an Sebagai Bayan
Imam Syafi’i (al-Risalah : I/ 26-53) memaknai al-Kitab dengan Al-Qur’an, sedangkan al-Hikmah dimaknainya dengan as-Sunnah. Ia membagi al-bayân ini pada lima jenis: 1) al-bayan, dimaksudkan sebagai tambahan penjelasan, seperti berpuasa tiga hari pada musim haji di Makkah, dan 7 hari setelah pulang dan sampai di Tanah Air nya; 2) al-bayan, dimaksudkan untuk menjelaskan bagian-bagian wasail dalam beribadat, seperti bersuci, atau pembagian warits; 3) al-bayan dimaksudkan sebagai penjelasan terhadap pelaksanaan kewajiban ibadat, seperti rakaat salat dan kaifiyah lainnya; 4) al-bayan bermakna al-Hikmah atau Al-Sunnah; dan 5) al-bayan, bermakna maksud jiwa atau hati; seperti perintah menghadap kiblat ketika salat.
Istilah lain dari al- bayan itu adalah at-tafsir. Fungsi at-tafsir, meliputi : a) Al-Qur’an ditafsirkan dengan AlQur’an ( =1 dan 2 ); b) Al-Qur’an ditafsirkan dengan as-Sunnah (= 3 dan 4); dan c) Al-Qur’an ditafsirkan dengan ilmu pengetahuan. Bagian kelima itu atau (c) yang dimaksudkan dengan tafsir bi al-‘ilmiy. Dikatakan demikian, karena fungsi hati (qalb) dalam Al-Qur’an berhubungan dengan pemahaman, perasaan dan penetapan nilai baik dan buruk. Bahkan pada sisi yang lain, al-qalb itu dikatakan juga ‘aql asy-syawwab ( akal yang bercampur/akal berstandar/nilai ganda ).
Dengan akal ini manusia mengembangkan kehidupannya melalui aktivitas yang didasarkan pada ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan merupakan satu bagian yang sangat fundamental bagi kemajuan hidup umat manusia, dan diakuinya bahwa agama Islam sangat menghargai potensi akal manusia itu. Sebagai wujud penghargaan itu, Al-Qur’an merekam fungsi akal itu serta keutamaan ilmu sebagai produknya sebagaimana tersebar dalam berbagai surah melalui ungkapan: yatafakkarûn, ya’qilûn, ya ulil albâb, uli al-nuha, uli al-abshar, dsb.
Bahkan, sejak awal Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, satu bagiannya mengandung pesan alqalam (pena / alat tulis / pembelajaran) yang mengandung maksud: a) Apa yang diajarkan; b) bagaimana pembelajaran itu berlangsung; c) alat apa yang dipergunakan sebagai kelengkapan pembelajaran; dan d) apa pula maksud dan harapan dari pembelajaran itu ( Q.s. Al-‘Alaq : 4-5; dan Q.s. Al-Qalam: 1-4). Jika keempat komponen pembelajaran itu terpenuhi dengan baik dan benar, maka akan baik dan benar pula hasil yang diharapkannya.
Satu hal yang lebih mempertegas lagi, adalah isyarat dalam sabda Nabi saw riwayat Mutttafaq ‘alaih dari Abi Musa al-Asy’ariy, yaitu dua hal yang sangat mendasar yang berhubungan dengan perutusan Nabi saw. Yaitu : Hidayah dan ‘Ilmu. Keduanya, merupakan alat kenabian (nubuwwah) dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi Nabi saw guna mengantarkan umat manusia menuju kehidupan yang utama dan mulia, sesuai dengan asal penciptaannya (karâmah al- insan dan ahsan al-taqwim ).
Hidayah dan Ilmu
Namun, pada perjalanan berikutnya, sikap manusia diumpamakan sebagaimana sebidang tanah yang terkena air hujan, terbagi pada tiga kelompok: Pertama, tanah subur yang terhujani atau terairi dan menjadikan berbagai pepohonan, tanaman dan rerumputan tumbuh dengan baik. Bagian ini misal seseorang penerima kebenaran dan bertanggung jawab atasnya. Maka ia termasuk orang yang memperoleh hidayah karena ilmu tentang kebenaran yang diperolehnya itu, dipahami, diamalkan, dan diajarkan kepada yang lainnya.
Kedua, tanah tandus terhujani atau terairi hanya sebagai tempat penampungan air. Seperti sebuah sumur; air di dalamnya dimanfaatkan oleh yang lainnya, tanpa ia sendiri memanfaatkannya. Bagian ini, merupakan mitsal seseorang yang mengetahui kebenaran tidak dilaksanakannya.
Ketiga, tanah keras bagaikan batu licin yang tidak bisa menyerap dan menyimpan sama sekali air hujan yang datang kepadanya. Bagian ini, merupakan mitsal seseorang yang menolak kebenaran. Kelompok tanah kedua dan ketiga itu, adalah mitsal mereka yang jauh dari perolehan hidayah, sebagaimana diungkap di akhir Hadits.
Berdasarkan Hadits tersebut bisa diambil kesimpulan bahwa Nabi saw dalam membangun kehidupan itu memakai asas: dari Hidayah ke ‘Ilmu. Sedangkan, selain Nabi saw memakai asas sebaliknya: dari ‘Ilmu ke Hidayah (dalam prediksi).
Jika kedua hal mendasar ini (ilmu dan hidayah) berjalan secara bersamaan dan dijadikan standar bagi keberagamaan umat, maka apa yang menjadi masalah pelik dalam kehidupan ini setelah dipertimbangkan secara komprehenshif dan dikomitmeni secara seksama dengan serius oleh para ahlinya akan dapat diselesaikan dengan sebaik-baiknya.
Pendekatan tadi berbeda dengan penyelesaian masalah melalui pendekatan ilmu pengetahuan sepihak—sebagaimana yang dilakukan sekarang-sekarang ini—baik dalam penyelesaian masalah individu maupun masalah kehidupan kolektif seperti kehidupan berbangsa dan bernegara. Bila permasalahan kehidupan terjadi lebih cepat daripada solusi yang ditawarkan ilmu pengetahuan, maka bukan permasalahan yang semakin hilang tetapi akan semakin berkembang dan kompleks. Hal ini karena ilmu pengetahuan tidak memiliki kapasitas secara total untuk itu, atau wilayah tersebut bukan kompetensinya.
Apa yang terjadi sekarang ini sangat ironis. Semestinya kemajuan sains dan teknologi, di dalamnya menyangkut ilmu syari’ah, berhubungan erat dengan realitas kehidupan; dan berposisi sebagai pemberi solusi secara komprehensif karena ilmu memiliki karakter prediktif. Namun realitasnya tidak demikian, bahkan terjadi sebaliknya. Kadang-kadang, ilmu merupakan bagian dari masalah itu sendiri. Ilmu pengetahuan yang ada sekarang tidak berdampingan sebagai pasangan bagi perkembangan kehidupan masyarakat yang di dalamnya mengandung berbagai persoalan yang sangat pelik dan kompleks.
Sering terjadi dalam penyelesaian masalah kehidupan melalui ilmu pengetahuan ini menimbulkan masalah baru, sebelum masalah yang mendahuluinya selesai atau kalau tidak dikatakan gagal. Implikasinya, persoalan kehidupan semakin terus berkembang dan menumpuk, tidak sebanding dengan perkembangan ilmu itu.

Demikian pula yang dialami ilmu syari’at. Jika kondisinya berlanjut seperti ini dan tidak ada ikhtiar lain berupa tawaran baru bangunan ilmu pengetahuan yang berposisi sebagai problems solver (solusi terhadap berbagai masalah). Maka, peninjauan ulang terhadap konsep dan makna ‘ilmu nafi’ bagi kehidupan ini sudah terasa kurang relevan lagi, terutama bila dihadapkan dengan masalah-masalah kehidupan publik.[islamaktual/sm/bersambung]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top