Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Topik ilham mendapat perhatian serius dari ulama ahli akidah (mutakallimin) karena erat kaitannya dengan hakekat agama, ketuhanan, kenabian, dan hari akhir (al-ma’ad). Begitu pula, kalangan filosuf, fuqaha dan mutashawwif (ahli tasawuf). Dalam Al-Qur’an banyak disebut kata ilham, baik dalam bentuk kata kerja masa lalu (fi’il madli), masa sekarang (fi’il mudlari’), dan dalam bentuk infinitif (masdar).
Dalam surat Asy-Syams ayat 7- 8, Allah berfirman:
91_7.png
91_8.png
Dan demi jiwa serta penyempurnaannya (ciptaan-Nya), maka Allah mengilhami kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaan”.
Dalam kamus Mu’jam Al-Qur- ’an, mengartikan kata ilham: “Allah memberikan perasaan kepada seseorang, sehingga dapat membedakan antara kesesatan dan petunjuk. Boleh jadi itulah yang disebut pada era kita sekarang ini dengan “suara hati” atau “hati nurani”.
Ilham
Pengarang kamus al-Muhith mengatakan, “Allah mengilhamkan kepada kebaikan maksudnya ‘menuntunnya’ kepada kebaikan”. Imam Zubaid, pensyarah kitab itu, berkata dalam Tajul ‘Arus, “ilham berarti sesuatu yang diucapkan kepada hati dan berasal dari Allah.” Dalam kamus Lisanu al-‘Arab dikatakan, “ilham adalah menancapkan sesuatu ke dalam hati yang dapat menenangkan jiwa, yang dikhususkan Allah kepada hamba yang dikehendaki-Nya, dan ia bahagian dari wahyu”. Begitu juga dalam kitab At-Ta’rifat karangan al-Jurjany, “ilham adalah sesuatu yang ditancapkan kepada hati dengan jalan anugerah”.
Tetapi ada pula yang mengatakan, ilham sesuatu yang berupa ilmu, yang mendorong untuk berbuat dengan tanpa dalil dari ayat Al-Qur’an dan tanpa melihat kepada argumentasi. Jadi, ilham lebih khusus dari i’lam (pemberitahuan), karena i’lam (pemberitahuan) bisa berasal dari usaha seseorang atau melalui peringatan (tanbih). Sedangkan, ilham didapatkan tanpa melalui usaha, semata-mata anugerah Allah.
Dalam kitab an-Nihayah, karangan Ibnul Atsir, di dalam uraian tentang Hadits Nabi, “Ya Allah aku meminta rahmat dari-Mu yang dapat memberi ilham (mengantarkan kepada petunjuk).” Disebutkan ilham adalah sesuatu yang dilimpahkan Allah ke dalam jiwa berupa sesuatu yang dapat menggerakkan seseorang untuk berbuat atau meninggalkan suatu hal. Ilham bagian dari wahyu yang diperuntukkan Allah bagi hamba yang Dia kehendaki (an-Nihayah IV: 282).
Ada yang berpendapat, ilham adalah sejenis makrifat ruh secara langsung yang diperkenalkan beberapa sekolah filsafat kuno dan modern, yaitu makrifat melalui penglihatan mata hati, yang dalam filsafat klasik disebut dengan ghanushiyah (genostik). Mungkin timbul pertanyaan, Apa beda antara ilham dan tahdits (bisikan). Dalam sebuah Hadits sahih, Nabi bersabda: “Pada setiap masa sebelum kamu terdapat orang yang muhaddatsun (orang yang diberikan bisikan suara hati), jika dalam umatku terdapat orang itu, ia adalah Umar Ibnul Khaththab”.
Ibnul Qayyim al-Jauziyah, dalam kitab Madarijus Salikin, berpendapat, “tahdits” itu lebih khusus. Dengan lain perkataan setiap “tahdits” adalah ilham dan tidak setiap ilham itu “tahdits”. Beliau menolak pendapat al-Harawi yang tidak membedakan antara “ilham” dan “tahdits”.
Sehubungan dengan sabda Nabi seperti tersebut di atas, Ibnu Taimiyah berkomentar, memang dalam Hadits itu Rasulullah menegaskan bahwa “muhaddatsun” terdapat pada umat terdahulu, juga di kalangan umat Muhammad dengan mempergunakan perkataan “insyartiah” (jika ada). Padahal umat Muhammad adalah umat yang paling utama dan sudah memiliki risalah yang sempurna, karena itu, menurut Ibnu Taimiyah, setelah Muhammad saw, Allah tidak memerlukan lagi adanya “muhaddatsun”.
Memang banyak dikatakan para pengkhayal atau orang tidak berilmu, hati saya berbisik berdasarkan dari Tuhan saya. Betul di dalam hatinya terdapat bisikan tetapi datang dari mana? Apakah dari Tuhan atau dari setan? Jika ia berkata bisikan itu datang dari Tuhan, itu berarti sumbernya yang berbicara tidak jelas dan hal itu adalah suatu kedustaan, demikian kata al-Ghazali.
Bagaimana sikap ulama terhadap ilham? Sikap ulama dalam masalah ini pada garis besarnya dapat dibagi kepada tiga golongan: pertama, sikap yang menolak ilham; kedua, sikap yang menetapkan ilham sebagai dalil; dan ketiga, sikap moderat antara dua golongan di atas.
Sebenarnya, tidak ada ulama yang menolak ilham. Penolakan mereka ketika ilham dijadikan sebagai dalil sebagai dasar hukum yang mandiri atau independen, baik dalam bidang ibadah atau bidang muamalat. Imam an-Nasafi yang terkenal di kalangan al-Asy’ariyah dan Maturidiyah berpendapat bahwa ulama membatasi sarana yang menyebabkan sesuatu menjadi pasti kepada tiga macam: pancaindera yang lurus, berita yang benar, dan akal fikiran.
Yang dimaksud dengan panca indera yang lurus yaitu panca indera dari lima anggota tubuh yang sudah kita ketahui bersama. Berita yang benar ada yang bersifat pasti (mutawatir) dan berita dari utusan Allah yang diperkuat dengan mukjizat. Adapun yang melalui akal pikiran ada yang diterima akal karena kepastiannya (aksiomatis) dan ada yang berupa teori atau analisis.
Imam an-Nasafi berkata: “Menurut pendapat yang benar, ilham bukanlah sarana untuk mengetahui kebenaran sesuatu.” Imam asy-Syaukani meriwayatkan dari Qaffal yang berkata: “Jika ilmu ditentukan melalui ilham, maka teori-teori tiada berguna, karenanya kita bertanya tentang dalil orang yang menentukan ilmu dengan ilham. Ia harus berdalil dengan eksistensi ilham itu sendiri. Jika ia berdalil dengan menggunakan hal di luar ilham, berarti ia menentang ucapannya sendiri. Bahkan, Imam Taftazani berkomentar terhadap ucapan an-Nasafi, “Hal itu menunjukkan bahwa ilham tidak dapat dijadikan sarana untuk mengetahui kebenaran dan tidak bisa dijadikan dasar untuk menetapkan sesuatu” (al-Aqa’id an Nasafiyah hal 41).
Di dalam kitab Musallamut Tsubut diriwayatkan oleh beberapa ulama senior mazhab Hanafi dan termasuk di antaranya Kamal bin Hammam mengatakan; “Ilham tidak dapat dijadikan dasar hukum secara mutlak.”
Ilham Bukan Dasar Hukum
Ulama ushul berpendapat bahwa ilham bukan dasar hukum, baik dalam masalah pengetahuan maupun keyakinan atau dalam ruang lingkup ibadah. Hal itu bukan berarti mereka tidak percaya adanya ilham. Mayoritas ulama mengamalkan ilham dengan dua syarat: pertama, tidak didapatkan dalil apapun dalam suatu masalah, baik dalil dari Al-Qur’an, Al-Hadits, Ijma’, Qiyas (analogi) maupun dalil lainnya yang diperselisihkan (mukhtalif); kedua, hal itu terjadi dalam ruang lingkup hukum yang mubah. Adapun dalam ruang lingkup yang wajib dan Sunnah, haram dan makruh, maka dalam hal ini ilham tidak dapat dijadikan sebagai dasar hukum, tetapi harus mempergunakan dalil syara’ yang bisa dipegang.
Imam ad-Dabusi berkata: “Alasan kalangan ahlus sunnah wal jamaah dalam menyatakan ketiadaan dasar hukum bagi ilham adalah ayat-ayat atau nash-nash. Misalnya, firman Allah surat Al-Baqarah ayat 111; surat Al-An’am ayat 143 dan 48.

Sebagai tambahan keterangan bahwa bisikan terkadang datangnya dari Allah, terkadang dari setan dan terkadang dari diri manusia itu sendiri. Segalanya masih bersifat kemungkinan yang tidak pasti (Fathul Bari, juz XVI, hal 44). [islamaktual/sm/ismailthaib]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top