Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Masih ingat lagu anak-anak yang berjudul “Aku Anak Sehat”. Bunyi teksnya seperti ini, Aku anak sehat tubuhku kuat, karena ibuku rajin dan cermat. Selama aku bayi selalu diberi ASI, makanan bergizi dan imunisasi. Berat badanku ditimbang selalu, posyandu menunggu setiap waktu, bila aku diare ibu selalu waspada, pertolongan oralit selalu siap sedia.
Lagu tersebut banyak manfaatnya. Pemberian oralit sebagai pertolongan pertama pada anak diare sudah diketahui sejak dulu. Sayangnya, orangtua sering terlalu panik dan cemas bila anaknya diare sehingga melupakan pesan penting dari lagu tersebut.
Sebaiknya, orangtua bersabar dan lebih tenang menilai kondisi anaknya. Pada dasarnya diare merupakan penyakit yang sembuh sendiri (self limiting disease), karena sebagian besar penyebab diare adalah virus. Yang dikhawatirkan dari diare adalah terjadinya dehidrasi, karena itu orangtua harus tahu tentang pencegahan dehidrasi dan tanda-tanda dehidrasi pada anak yang diare.
Bayi dan balita yang diare memerlukan lebih banyak cairan untuk mengganti cairan tubuh yang hilang melalui tinja dan muntah. Pemberian cairan yang tepat dengan jumlah memadai merupakan modal utama mencegah dehidrasi.
Baca aturan penggunaan oralit dengan baik, berapa jumlah air yang harus disiapkan untuk membuat larutan oralit, sehingga takaran oralit dapat tepat diberikan. Larutan sup maupun air biasa cukup praktis dan efektif sebagai upaya rehidrasi oral untuk mencegah dehidrasi.
Cairan yang biasa disebut sebagai cairan rumah tangga ini harus segera diberikan pada saat anak mulai diare. Berikan cairan dengan sendok, sesendok tiap 1-2 menit. Untuk anak yang lebih besar dapat diminum langsung dari gelas/cangkir dengan tegukan yang sering. Jika terjadi muntah, ibu dapat menghentikan pemberian cairan selama kurang lebih 10 menit, selanjutnya cairan diberikan perlahan-lahan (misalnya 1 sendok setiap 2-3 menit).
Selain pemberian cairan, pemberian ASI maupun makanan pendamping ASI harus tetap dilanjutkan agar anak tidak jatuh dalam keadaan kurang gizi dan pertumbuhannya tidak terganggu. Sebaliknya, larutan-larutan yang hiperosmoler, karena kandungan gulanya tinggi, tidak boleh diberikan, contohnya adalah teh yang sangat manis, soft drink, dan minuman buah komersial yang manis.
Orangtua pun harus tahu tanda-tanda memburuknya diare. Bawa anak ke fasilitas pelayanan kesehatan atau ke dokter jika kondisinya tidak membaik dalam 3 hari atau buang air besar cair bertambah sering, muntah berulang-ulang, makan atau minum sangat sedikit, terdapat demam dan tinja anak berdarah.
Jangan tunggu lebih lama jika anak menunjukkan tanda-tanda dehidrasi, anak bersikap sangat rewel atau justru apatis dan lesu pada dehidrasi yang lanjut. Untuk anakanak yang kurang dari satu tahun, dapat dilihat atau diraba ubun-ubunnya cekung. Pada dehidrasi yang ringan dan sedang, anak tampak sangat kehausan, namun bila dehidrasinya berat, anak justru tidak merasa haus lagi.
Dapat juga diperiksa turgor (kekencangan) kulit pada daerah perut yang akan berkurang kelenturannya jika anak mengalami dehidrasi. Caranya dengan menjepit atau mencubit kulit selama 30-60 detik, kemudian lepaskan. Bila turgor kulit masih baik, kulit akan cepat kembali ke keadaan semula. Bila tidak, kembalinya akan lambat. Selain itu anak yang mengalami dehidrasi matanya akan terlihat cekung, menangis tidak keluar air mata, tidak kencing, mulut dan lidah terlihat kering. Jika terjadi halhal tersebut, maka anak perlu ditangani petugas kesehatan. Antibiotik tidak rutin diberikan, hanya pada kasus-kasus tertentu dokter akan meresepkan antibiotik. Saat ini lebih sering diberikan sejenis probiotik yang dicampurkan dalam cairan atau makanan anak. Tujuan pemberian probiotik adalah memperbanyak “kuman baik” sehingga dapat mempersingkat episode diare.
Penanganan pertama diare pada anak, antara lain:
  • Untuk bayi dan balita yang masih diberi ASI, teruskan minum ASI (Air Susu Ibu). Bagi anak yang sudah tidak minum ASI, makan dan minum seperti biasa untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang;
  • Berikan oralit untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang. Perlu diperhatikan bagi orangtua mengenai cara pemberian oralit yang benar. Caranya adalah minum segelas oralit sedikit demi sedikit, dua sampai tiga teguk, kemudian berhenti selama tiga menit. Hal ini harus diulang terus-menerus sampai satu gelas oralit habis. Minum oralit satu gelas sekaligus dapat memicu muntah dan buang air besar.
  • Segera periksakan anak ke dokter bila diare lebih dari 12 jam atau bila bayi anda tidak mengompol dalam waktu 8 jam, suhu badan lebih dari 39°C, terdapat darah dalam tinjanya, mulutnya kering atau menangis tanpa air mata, dan luar biasa mengantuk atau tidak ada respons.

Sejauh ini, pemberian obat antidiare pada anak dapat berisiko menimbulkan efek samping yang cukup berbahaya. Risiko tersebut dapat berupa mual, muntah bahkan yang cukup berat, timbulnya ileus paralitik (gangguan pada usus) yang dapat berakibat sangat fatal, bahkan tidak jarang membutuhkan pembedahan. Jadi, jangan pernah memberikan obat diare orang dewasa pada anak-anak. [islamaktual/sm/dr.tjaturprijambodo]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top