Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Mina adalah sebuah kawasan perbukitan yang terletak 6 mil di sebelah timur kota Makkah. Kawasan ini pernah menjadi saksi sejarah peristiwa malam pengurbanan seorang remaja berusia belasan tahun bernama Ismail (Ibrani: Isma-El), putera Nabi Ibrahim (Ibrani: Abiram/Abraham) dari istri keduanya, Hajar, sebagai bukti cinta dan ketaatan seorang hamba kepada Tuhannya. Sejarah telah mencatat peristiwa sakral ini terjadi pada akhir millenium ketiga Sebelum Masehi.
Ibrahim dan Ismail
Nabi Ibrahim meninggalkan Hajar, istri keduanya, dan Ismail, putera satu-satunya, di sebuah kawasan tandus di lembah Bakkah. Pasca percekcokan antara Sarah dan Hajar yang disebabkan oleh rasa cemburu yang meluap-luap. Akhirnya Ibrahim memutuskan untuk membawa Hajar dan Ismail ke suatu tempat yang jauh. Dari Hebron (Palestina), Ibrahim mengajak Hajar bersama Ismail berjalan ke arah tenggara, melewati padang tandus dan semi tandus. Menurut Jerald F. Dirks (2006: 127), perjalanan Ibrahim bersama Hajar dan puteranya melewati Rute Wewangian (Incense Route)—jalur purba yang biasa digunakan oleh para kafilah dagang. Disebut Jalur Wewangian karena para pedagang minyak wangi dan dupa sering melewati jalur ini dari Semenanjung Arab ke negara-negara di kawasan Laut Tengah. Setelah perjalanan mencapai 700 mil, Ibrahim dan Hajar sampai di sebuah lembah tandus, letaknya cukup sempit, di sekelilingnya diapit pegunungan (Sirat). Lembah sempit inilah yang dikenal dengan nama Bakkah (Bacca). Jaraknya sekitar 1.200 kilometer dari Palestina.
Secara bahasa, kata “Bakkah” merupakan nama sebuah kawasan yang dinilai terlalu sempit. Selain itu, beberapa sejarawan berpendapat, bahwa kata Bakkah lebih tepat untuk menyebut sebuah lembah yang hanya cocok ditumbuhi pohon balsam. Memang di lembah Bakkah, di samping letaknya sangat sempit, tanahnya hanya cocok ditumbuhi jenis pohon balsam.
Beberapa puncak pegunungan Sirat yang mengelilingi lembah Bakkah dikenal dengan nama: Jabal Ajyad (410 m), Jabal Abu Qubais (375 m), Jabal Qu’ainq’an (431 m), Jabal Hira’ (640 m), dan Jabal Thair (766 m). Pegunungan Sirat memiliki empat jalur menuju lembah Bakkah. Jalur dari timur laut menghubungkan kota Mina, alarafat, dan al-thaif. Dari barat daya menuju arah jalan menuju ke Madinah. Dari selatan menuju ke Yaman. Dari timur menuju ke Laut Merah.
Di lembah Bakkah, Ibrahim dan Hajar menghentikan perjalanan yang sangat melelahkan. Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih dua bulan, Ibrahim memutuskan untuk meninggalkan Hajar dan Ismail di lembah tandus yang cukup panas. Di kawasan ini suhu udara dapat mencapai 45 derajat celcius pada musim panas. Curah hujan di lembah ini juga sangat rendah, hanya sekitar 5 inci sepanjang tahun. Tidak ada kampung atau permukiman penduduk di lembah ini.
Sekalipun sebagai Utusan Tuhan (Rasulullah), Ibrahim juga manusia biasa. Jiwanya sempat diliputi perasaan emosional, antara takut dan cemas bercampur aduk, manakala dia dihadapkan pada keputusan harus meninggalkan Ismail, putra satu-satunya yang masih kecil. Akan tetapi, Ibrahim dapat meneguhkan hatinya seraya berdoa, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rizkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur” (Q.s. Ibrahim [14]: 37).
Mimpi Sebuah Pesan
Sekitar 11 tahun kemudian, lembah Bakkah sudah berubah menjadi pemukiman penduduk yang ramai. Kedatangan kaum Yorhamit (Bani Jurhum) telah meramaikan kawasan ini. Ketika Ibrahim meninggalkan Hajar dan Ismail, kawasan ini masih gersang dan tidak berpenghuni. Setelah Hajar menemukan mata air Zam-zam, kawasan ini banyak didatangi kaum Yorhamit. Mereka adalah bangsa nomaden dari Yaman yang memohon izin kepada Hajar, pemilik mata air Zam-zam, untuk menetap di kawasan ini. Tumbuhlah pemukiman penduduk baru. Mereka mulai bercocok tanam karena mendapat surplus pengairan dari mata air Zam-zam.
Doa Nabi Ibrahim benar-benar terkabul. Sebelumnya, lembah Bakkah merupakan kawasan tandus tidak berpenghuni, hanya semak belukar dan pohon balsam yang dapat tumbuh di lahan sempit ini. Peristiwa penemuan mata air Zam-zam menjadi titik awal lahirnya peradaban di kawasan ini. Setelah Hajar berhasil menemukan mata air ini, kehidupannya tidak lagi sesulit seperti ketika dia baru ditinggalkan Ibrahim. Hajar menguasai mata air ini sampai kemudian melintaslah kafilah-kafilah dagang dari Yaman menempuh Rute Wewangian. Sampai di kawasan pegunungan Sirat, kafilah-kafilah dagang singgah ke tempat Hajar dan Ismail untuk meminta air minum yang diambil dari mata air Zam-zam. Semakin lama berita ditemukannya mata air Zam-zam semakin masyhur di kalangan kafilah-kafilah dagang sehingga beberapa rombongan berminat untuk menetap di kawasan ini.
Sarah yang telah bergabung kembali bersama Ibrahim di Hebron masih juga belum mendapat keturunan. Kurang lebih selama 11 tahun Ibrahim telah meninggalkan Hajar dan Ismail di lembah Bakkah. Kerinduan seorang ayah kepada puteranya tidak dapat tertahan setelah 11 tahun berpisah. Dalam usia 99 tahun, Ibrahim memutuskan untuk berkunjung ke Makkah, menemui Ismail, putra satu-satunya, dan Hajar, istri keduanya yang telah memberikan kebahagian tiada tara.
Akan tetapi, pertemuan yang mengharukan antara sang ayah dengan puteranya tersebut justru dibayang-bayangi kengerian lewat sebuah mimpi. Pada suatu malam, Ibrahim yang baru saja bertemu dengan Ismail, mendapat ujian berat untuk mengurbankan putera satu-satunya. Ismail baru saja berumur sekitar 13 tahun, ketika Ibrahim menyampaikan pesan Tuhan dalam mimpinya. Sang ayah hampir saja tidak percaya mendengar jawaban sang anak yang sangat tunduk pada perintah Tuhan (Q.s. Ash-Shaffat [37]: 102).
Pesan lewat mimpi yang menyeramkan ini betul-betul menjadi ujian terberat yang harus ditanggung Ibrahim, Hajar, dan Ismail. Tetapi, ketiga hamba Tuhan ini adalah manusia-manusia pilihan yang telah teruji kepatuhan dan ketaatan dalam menjalankan perintah. Bahkan, Iblis pun tidak sanggup menggoda ketiganya.
Dalam buku Sejarah Hidup Muhammad, Muhammad Husain Haikal mengisahkan bahwa Iblis telah menjelma menjadi seorang laki-laki Arab menemui Hajar seraya menghasut, “Tahukah engkau kemana Ibrahim membawa anakmu?” Jawab Hajar, “Ia pergi mencari kayu dari lereng bukit itu!,” Iblis menimpali, “Tidak! Ia pergi akan menyembelihnya!,” Hajar kembali menjawab, “Ia mendakwakan bahwa Tuhan yang perintahkan itu!” Iblis pun kalah, tak mampu mempengaruhi keteguhan hati Hajar.
Iblis masih terus berusaha menggagalkan rencana pengurbanan Ismail. Kepada Ismail, Iblis menjelma sebagai seorang laki-laki Arab dan menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang pernah disampaikan kepada Hajar. Namun, pertanyaan-pertanyaan hasutan dari Iblis dijawab oleh Ismail sama seperti jawaban ibunya. Begitu juga kepada Ibrahim, dalam perjalanan menuju bukit Mina, Iblis berusaha menggagalkan rencana pengurbanan tersebut. Tetapi, Ibrahim justru malah mengabaikannya, bahkan ia melaknatinya.
Peristiwa di Bukit Mina
Nabi Ibrahim dan Ismail bergegas menuju bukit Mina untuk menunaikan perintah Tuhan. Menurut Jerald F. Dirks (2006: 151), selama dalam tengah perjalanan menuju bukit, Ibrahim mengumpulkan beberapa potong kayu yang akan digunakan untuk membakar tubuh Ismail setelah disembelih. Sungguh suatu pemandangan yang sangat mengharukan, karena justru Ismail menawarkan diri untuk membantu ayahnya membawa potongan-potongan kayu yang akan digunakan untuk membakar jasadnya. Potongan-potongan kayu diikat lalu dipanggul Ismail di punggungnya. Ismail melakukannya dengan sadar.
Sampai di puncak bukit Mina, Nabi Ibrahim mempersiapkan upacara pengurbanan tersebut. Ismail pun turut membantu sang ayah membuat sebuah altar dan menyalakan api untuk membakar dirinya. Keduanya tetap kokoh pada pendirian bahwa apa yang mereka lakukan adalah perintah Tuhan. Tidak terbersit sedikit pun dalam hati kedua manusia terpilih ini dalam menjalankan perintah Tuhan.
Tibalah saatnya menyembelih Ismail. Nabi Ibrahim menggenggam pisau tajam untuk menyembelih putra kesayangannya. Sambil berbaring, Ismail menempelkan wajah dan dahinya di atas altar. Sampai pada saat pisau diayunkan ke arah tengkuk Ismail, keyakinan Nabi Ibrahim tetap kokoh. Tuhan pun menyatakan bahwa nabi-Nya telah lulus ujian sebagai bukti kepatuhan dan ketaatannya. Sebelum mata pisau menyentuh tengkuk Ismail, tangan Ibrahim terhenti di udara, bersamaan dengan datangnya seruan dari langit, “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu! Sesungguhnya, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya, ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar” (Q.s. Ash-Shaaffaat [37]: 104-107).
Mendengar seruan dari langit, Ibrahim mengamati di sekelilingnya dengan air mata kebahagiaan tiada tara. Dia melihat seekor domba yang tersangkut tanduknya di semak-semak. Setelah melepaskan domba itu, Ibrahim meletakkan di atas altar sebagai kurban. Peristiwa pada malam di bukit Mina ini menjadi sejarah sakral yang diabadikan dalam agama Islam sebagai ritual kurban pada hari raya haji.
Bantahan Untuk Kaum Yahudi
Berdasarkan keterangan Muhammad Husein Haekal, dalam buku Sejarah Hidup Muhammad, para rahib di kalangan kaum Yahudi bersikukuh bahwa putera Nabi Ibrahim yang pertama bukan Ismail, tetapi Ishaq. Dalam keyakinan kaum Yahudi, putera Ibrahim yang dikurbankan adalah Ishaq, dari istrinya yang bernama Sarah. Dengan demikian, menurut keyakinan kaum Yahudi, peristiwa penyembelihan bukan terjadi di Makkah, tetapi di Palestina. Menurut keterangan Ahmad Syalabi, dalam buku Sejarah Yahudi dan Zionisme (2006), Nabi Ibrahim jauh lebih menyayangi Ishaq ketimbang Ismail. Abdul Wahhab An-Najjar, dalam buku Qishash Al-Anbiya, berhasil membantah pendapat para rahib Yahudi berdasarkan argumentasi yang bersumber dari Taurat.
Menurut An-Najjar, dalam Taurat disebutkan bahwa yang disembelih adalah putra Ibrahim satu-satunya. Penelitian Jerald F. Dirks (2006) berhasil mengungkap kesalahan pendapat para rahib Yahudi, bahwa sesungguhnya yang dikurbankan adalah Ismail, bukan Ishaq. Sebab, Ismail adalah putera Ibrahim yang pertama dari istri keduanya yang bernama Hajar. Sarah, istri pertama Ibrahim, belum juga hamil sewaktu Hajar melahirkan Ismail. Justru, Sarah hamil dalam usia sangat tua.

Masih menurut An-Najjar, kisah tentang penyembelihan anak tersebut, sebagaimana versi Taurat, terjadi di atas bukit Jeru-El. Secara bahasa, kata Jeru-El (Ibrani) berarti “Tuhan akan menyediakan.” Jeru-El inilah yang kemudian dikenal dengan bukit Mina. Para sejarawan, baik dari kalangan Yahudi maupun kaum Muslimin, telah sepakat bahwa Jeru-El adalah bukit Mina, yang letaknya sekitar 6 mil di sebelah timur kota Makkah. Dengan demikian, jelaslah bahwa kisah penyembelihan putera Nabi Ibrahim hanya berlaku untuk Ismail. Bukankah Sarah dan Ishaq tidak pernah ke Makkah? Jika para rahib Yahudi masih bersikukuh bahwa Ishaq adalah putera Nabi Ibrahim yang disembelih di bukit Jeru-El, maka itu suatu kebohongan besar. [islamaktual/sm/mu’arif]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top