Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Tujuan diturunkannya syari’ah samawiyah adalah untuk membangun manusia seutuhnya, baik akidah, ibadah maupun muamalahnya. Akidah merupakan keyakinan yang tidak pernah mengalami perubahan. Ketauhidan terhadap Allah SwT, baik uluhiyah maupun rububiyah sejak rasul yang pertama hingga terakhir tetap terus diajarkan. Demikian pula keimanan terhadap Hari Akhir, Malaikat, al-Kitab, dan para Nabi. Dalam al-Qur’an Allah menegaskan:
21_25.png
Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang haq) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.” (QS. al-Anbiya’ [21]:25).
Dalam surat al-Ikhlas Allah berfirman:
Katakanlah: Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada anak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.” (QS. al-Ikhlas [112]:1-4).
Adapun mengenai ibadat dua muamalat, mengikuti asas-asas yang bersifat umum, yang mengarah kepada pendidikan jiwa dan pemeliharaan keselamatan dan kesejahteraan masyarakat yang diikat dengan ikatan tolong menolong dan persaudaraan.
Hanya saja keadaan dan adat kebiasaan setiap umat berbeda dengan umat lainnya, dan kadang-kadang suatu peraturan cocok dengan suatu kaum, tetapi tidak cocok dengan kaum lainnya, dan kadang-kadang cocok dengan suatu waktu, tetapi tidak cocok dengan waktu berikutnya. Tidak diragukan lagi bahwa Allah SwT sebagai Pencipta syari’ah samawiyah itu berhak mewajibkan mengerjakan sesuatu dan berhak mewajibkan mengerjakan sesuatu dan berhak pula membatalkannya. Sebab tujuan penciptaan syari’ah samawiyah adalah sebagai rahmat dan kemaslahatan bagi seluruh umat.
Untuk itulah Allah menurunkan al-Qur’an tidak secara sekaligus, melainkan sedikit demi sedikit, sesuai dengan peristiwa yang terjadi pada waktu itu, dan sesuai dengan kebutuhannya, sehingga syari’at yang diciptakan Allah itu benar-benar dapat diterapkan dengan baik dan teratur, sesuai dengan tujuannya.
Maka, diantara ayat-ayat al-Qur’an ada yang diturunkan lebih awal dan ada pula yang diturunkan lebih akhir, ada yang dinamakan Makkiyah dan ada pula yang dinamakan Madaniyyah. Untuk mempermudah mengetahui mana ayat yang nasikh atau ayat yang mansukh, maka kita harus mengetahui mana ayat Makkiyah dan mana ayat Madaniyyah. Sehingga kita dapat dengan mudah mengetahui ayat yang lebih awal diturunkan dan ayat yang lebih akhir diturunkan.
  1. Pengertian Naskh
Kata “naskh” adalah bentuk masdar, berasal dari kata “nasakha-yansakhu”, yang berarti: membatalkan atau menghapus. Sedang kata “nasikh”, adalah bentuk isim fa’il (yang menunjuk kepada arti pelaku); maka kata “nasikh” berarti “yang menghapus”. Adapun kata “mansukh”, adalah bentuk isim maf’ul (yang menunjuk kepada arti penderita) maka kata “mansukh” berarti “yang dihapus”.
Dalam al-Qur’an, kata tersebut ditemukan pada empat tempat, dalam arti yang berbeda:
Maka Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh syaitan, kemudian Allah menguatkan ayat-ayat-Nya.” (QS. al-Hajj [22]:52).
Pada ayat lainnya Allah SwT berfirman:
Ayat mana saja yang Kami hapuskan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya” (QS. al-Baqarah [2]:106).
Kadang-kadang berarti menukil atau mencatat, seperti disebutkan dalam firman-Nya:
Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan” (QS. al-Jaatsiyah[45]:29).
Pada ayat lainnya Allah berfirman:
Dan dalam catatannya terdapat petunjuk dan rahmat untuk orang-orang yang takut kepada Tuhannya.” (QS. al-A’raf [7]:154). Demikianlah pengertian naskh menurut bahasa.
Menurut istilah syar’iyyah, para ulama berbeda pendapat, tetapi esensinya sama. Pengertian yang diberikan oleh Manna’ al-Qattan, menurut penulis, lebih sederhana dan mudah dipahami, yaitu: “Penghapusan hukum syar’iy dengan khitab (pernyataan) syar’iy” (Manna’ al-Qattan, 1971 : 196).
  1. Macam-macam Naskh
Para ulama membagi an-naskh menjadi 3 (tiga) macam, yaitu:
  1. Naskh as-sunnah bi as-sunnah (penghapusan as-Sunnah dengan as-Sunnah)
Jumhur ulama (sebagian besar ulama) berpendapat boleh, dan telah terjadi. Seperti nikah mut’ah, yaitu nikah yang hanya berlaku dalam waktu tertentu. Misalnya, untuk waktu empat puluh hari, dan sesudah habis waktu yang telah ditentukan itu, maka putuslah pernikahan tersebut. (as-San’aniy, 1960, Subul al-Salam, 111:126).
Nikah mut’ah pernah diperbolehkan tetapi kemudian dilarang, sebagaimana diungkpakna dalam suatu Hadits yang artinya:
Dari Iyas bin Salamah, dari ayahnya, ia berkata: Rasulullah saw memberikan keringanan pada tahun Autas (‘am al-Fath) dalam nikah mut’ah selama tiga hari, kemudian beliau melarangnya.” (Ditakhrijkan oleh Muslim, Kitab an-Nikah, No. 18/1405).
  1. Naskh as-Sunnah bi al-Kitab (penghapusan as-sunnah dengan al-kitab)
Dalam hal ini ulama berbeda pendapat:
  1. Imam asy-Syafi’i berpendapat, bahwa as-Sunnah hanya dapat dihapus dengan as-Sunnah, tidak dapat dihapus dengan al-Kitab, dia menegaskan dalam ar-Risalah sebagai berikut:
Demikianlah Sunnah Rasulullah saw, tidak dapat dihapus kecuali dengan Sunnah itu sendiri” (al-Khudariy, 1933 : 324).
  1. Jumhur ulama berpendapat bahwa as-Sunnah dapat dihapus dengan al-Kitab (al-Qur’an) dengan alasan; al-Qur’an adalah qat’iy. Sedang as-Sunnah adalah dzanniy, dan telah terjadi, misalnya, tentang kiblat shalat, sebelumnya, qiblat shalat adalah Bait al-Maqdis yang ditetapkan dengan as-Sunnah, kemudian ketetapan ini dihapus oleh al-Qur’an, dengan firman Allah SwT yang artinya:
Sesungguhnya Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke qiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah al-Masjid al-Haram.
  1. Naskh al-Kitab bi al-Kitab (penghapusan al-Kitab dengan al-Kitab)
Para ulama telah sepakat bahwa naskh al-Kitab bi al-Kitab (penghapusan al-Kitab dengan al-Kitab) adalah boleh dan telah terjadi, yaitu penghapusan kitab yang terdahulu dengan kitab yang datang kemudian, seperti: penghapusan at-Taurah dengan kitab al-Injil. Penghapusan al-Injil dengan al-Qur’an.
Sebagaimana diketahui, bahwa syari’ah samawiyyah selalu berkembang sesuai dengan perkembangan peradaban manusia. Maka syari’ah yang telah ditetapkan pada masa Nabi Adam, sebagiannya telah diubah oleh Kitab at-Taurah; misalnya, perkawinan antara saudara kandung yang pada masa Nabi Adam diperbolehkan, kemudian diharamkan oleh Kitab at-Taurah.

Demikian pula apa yang diperbolehkan dalam Kitab al-Injil, kemudian diharamkan dalam Kitab al-Qur’an. Sebab syari’ah samawiyyah bukanlah peraturan yang bertujuan untuk memberatkan umat, melainkan sebagai rahmat, kesejahteraan dan kebahagiaan bagi umat. Dalam hal ini, tiada seorangpun diantara para ulama yang mengingkarinya. (al-Khudariy Bek, 1352 H.:312). [islamaktual/sm/saadabdulwahid)

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top