Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Syahdan dalam Qisshash al-Salaf dikisahkan seorang shalih mengajari pegawainya agar jujur dalam menjual barang dagangan. Katakan barang itu cacat, jika memang cacat dan jangan ditutupi. Ketika kafilah datang kafilah membeli, pelayan toko itu melepas barang cacat tanpa memberitahukannya karena si pembeli itu diketahui seorang Yahudi. Si pemilik toko tahu pegawainya bertindak tidak jujur, segera disusullah rombongan Yahudi itu. “Wahai saudaraku, maafkan pegawai kami, Anda telah membeli barang yang cacat, ambillah uang ini dan kembalikan barangnya,” ujar si pemilik toko.
“Apa yang membuat Anda berbuat jujur?”, tanya si Yahudi. Islam, itulah yang menggerakkan jiwa kami, karena Rasulullah pernah bersabda: “Barangsiapa yang curang, maka bukan dari golonganku”. Yahudi itu segera menjawab: “Uang yang aku bayarkan tadi itu palsu, ambillah uang tiga ribu dirham yang asli ini dan aku tambahkan lebih dari itu”. Setelah itu, sang Yahudi masuk Islam, seraya mengucapkan “Aku bersaksi tiada Tuhan yang haq kecuali Allah dan Muhammad adalah Rasulullah”. (Baduwailan, 2006:226).
Islam telah menjadi mutiara yang luar biasa dalam membentuk perilaku Muslim yang utama. Kisah mutiara itu jika dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari di seluruh negeri muslim, sebagaimana uswah hasanah Rasulullah, sungguh akan melahirkan etika kehidupan yang mulia. Akhlak Islami yang autentik menjadi fondasi moral dalam seluruh gerak perilaku Muslim dan membawa rahmat bagi semesta kehidupan di sekelilingnya. Betapa harga sebuah kejujuran begitu tinggi, yang jika dipraktikkan di dunia nyata akan menggerakkan jiwa manusia untuk menikmati indahnya Islam.
Dalam kehidupan publik di negeri ini, bangsa ini memerlukan para elit, pimpinan, dan warga yang jujur. Jujur dalam berpolitik, mengurus negara, berbisnis, berinteraksi sosial, dan dalam keseluruhan hidup sehari-hari. Jangan menyimpan motif-motif tersembunyi yang memperdaya dan memanipulasi nalar publik dan kebenaran. Ingin menghabiskan anggaran dan wisata ke luar negeri dengan dana negara memakai alasan belajar etika, pramuka. Dan berbagai hal lainnya yang sesungguhnya tidak perlu harus jauh-jauh di negeri sendiri pun dapat dipelajari. Bahkan lebih bagus dipraktikkan dan dicontohkan. Sungguh betapa susah untuk jujur pada diri dan bangsa sendiri, yang ada siasat dan muslihat dengan seribu satu dalih yang piawai.
Kalau salah dalam mengambil kebijakan atau melakukan langkah-langkah politik yang tidak semestinya dan menyembunyikan agenda-agenda terselubung, tak perlu malu untuk jujur dan terbuka. Beragam retorika apologi dan pembenaran memang dapat dimunculkan, apalagi umat atau rakyat kita sering kali mudah terpesona, maka semuanya memang dapat dicarikan dalihnya. Tetapi, bertanyalah pada hati nurani sesungguhnya apa yang sedang diperjuangkan? Dalam memperjuangkan segala sesuatu, apalagi dalam perjuangan keumatan, mulailah dengan cara-cara yang jujur dan baik, jauhkan langkah-langkah menghalalkan segala cara dengan sejuta retorika. Sebab, jika dari rahim warga, elit, dan pimpinan umat segala sesuatu dimulai dengan cara penuh siasat, curang, dan menghalalkan segala cara seperti menyembunyikan barang cacat. Maka, kepada siapa bangsa dan khalayak umum mengambil uswah hasanah?
Manusia memang pandai berhela, berdalih dengan mencari celah asalkan tujuan tercapai. Apalagi jika suatu tindakan sudah dilakukan, tidak mau mendengar kata orang. Kritik dan pendapat lain sering dianggap sebagai perlawanan dan sikap negatif. Padahal dalam hidup ini tidak ada manusia yang sempurna, setinggi apapun jabatan dan kekuasaannya. Belajarlah mendengar pendapat banyak orang. Jangan menari-nari di atas panggung dengan selalu membenarkan diri sendiri. Jangan meniru perilaku Fir’aun ketika memegang amanah dan kekuasaan, sehingga dicap Tuhan: inna fir’auna ‘ala fi al-ardli, sesungguhnya Fir’aun itu congkak di muka bumi (QS. al-Qashash : 4). Orang congkak, sabda Nabi, adalah mereka yang bathar al-haqq wa ghamthu al-nas. yakni suka menolak pendapat atau pandangan orang lain dan menyepelekan sesama karena dipandangnya lebih rendah segalanya dari dirinya.
Rakyat atau umat pun harus memulai mempraktikkan hidup jujur dalam berbagai hal dari yang besar-besar hingga hal-hal kecil sehari-hari. Jangan mengurangi timbangan. Kalau uang sobek jangan dibelanjakan dengan sembunyi-sembunyi. Kalau menemukan sesuatu yang bukan haknya kembalikan. Kalau berniaga apa adanya, jangan mencari untuk melampaui takaran, apalagi menyiasati dan menipu harga. Dalam memperjuangkan kepentingan pun termasuk demo jangan anarki dan kekerasan. Sepanas apapun kepala harus tetap dingin.

Perjuangkanlah hal ma’ruf dengan cara yang ma’ruf. Jangan menghalalkan segala cara dengan sejuta alasan demi meraih tujuan. Jauhi kekerasan, fitnah, dan apologi diri. Kalau diajak bersekongkol oleh elit tolaklah dan bersikaplah kritis. “Bekerjasamalah dalam kebaikan dan takwa, jangan bekerjasama (berkonspirasi) dalam dosa dan permusuhan.” (QS. al-Maidah : 2). Jangan nina-bobokan pimpinan dengan segala puja-puji dan perlakuan yang membuat lalai dan lupa amanah. Gelorakan segala hal yang benar, baik, dan pantas dalam hidup. Ingatlah, serapat-rapatnya orang menyembunyikan keburukan, konspirasi, dan siasat menghalalkan segala cara akhirnya akan berujung pada hisab. Jika lepas dari hisab publik di dunia, pasti di akhirat akan berhadapan dengan hisab Allah yang mutlak. [islamaktual/sm/a.nuha]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top