Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Pendahuluan
Tanyalah cita dan doa orang-orang yang menunaikan rukun Islam yang kelima! Dengan yakin dan pasti mereka menjawab: Haji Mabrur! Haji Mabrur sangat sering terucapkan dan tertuliskan tetapi sangat jarang diuraikan. Uraian hadits kali ini coba mengurangi kejarangan itu. Marilah pembelajaran kali ini diawali dari hadits Nabi yang terkait:
Dari Jabri ra dia berkata Rasulullah saw bersabda: hanya surga balasan (kualitas)haji mabrur. Para sahabat bertanya: Wahai Nabi, haji mabrur itu apa? Nabi menjawab (haji mabrur) ialah memberikan makanan dan menyebarkan salam
Dengan terang hadits di atas menjelaskan dua hal. Pertama, balasan orang yang meraih kualitas haji mabrur itu adalah surga. Kedua, ekspresi kemabruran itu dilakukan dengan dua hal, yaitu menebarkan salam dan memberikan makanan.
Menegaskan makna haji mabrur
Kata haji secara leksikal berasal dari hajja-yahujju-hajjan-haajjan yang berarti berkunjung. Dalam tema agama, haji bermakna berkunjung ke Makkah untuk menunaikan rangkaian ibadah (haji) dan umrah berupa thawaf, sa’i, wuquf, mabit di Mina, melempar jumrah yang ditunaikan dalam bulan tertentu. Sedangkan mabrur adalah isim maf’ul dari kata barara (barra) yabirru, birran, baarrun, mabrurun. Kata ini sejatinya bermakna melakukan kebajikan. Salah satu ungkapan yang sering terdengar birr al-walidayn. Itu bermakna melakukan kebaikan kepada kedua orang tua. Kata mabrur dengan demikian bermakna orang yang senantiasa dipenuhi kebaikan. Sedemikian melimpahnya kebaikan yang dilakukannya sampai dia tidak terbersit untuk melakukan kekhilafan. Karena itulah, di lain tempat, kata mabrur dimaknai sebagai khaalishun maqbuul laa khalala fiihi wa lam yukhaalithu syayun bersih (ikhlas hanya untuk Allah) dan diterima (oleh Allah) tidak ada cacat dan tidak bercampur dengan sesuatu yang jelek. Secara singkatnya al-Ashfahani mambrur maknanya diterima sehingga haji mabrur berarti haji yang diterima (maqbul). Memastikan diterimanya haji seseorang tentu saja Allah Huwa A’lam, Allahlah Yang Maha Tahu, namun berdasarkan hadits yang tersyarah pembelajar dituntunkan bahwa kemabruran haji seseorang antara lain ditandai dengan kegemaran alumni haji untuk melakukan kebajikan, antara lain, menebarkan salam dan menyediakan makanan.
Kemabruran dengan “menebarkan salam”
Dari penjelasan di atas dapat ditegaskan bahwa tidak ada kemabruran tanpa kebaikan atau tidak ada al-mabrur tanpa disertai al-birr. Kebaikan pertama yang dilakukan peraih kualitas haji mabrur adalah menebarkan salam. Sederhananya itu dilakukan dengan mengucapkan assalamu’alaikum, keselamatan buat orang-orang di sebelah kanan dan kiri pengucapnya. Lebih dari itu, ucapan tersebut disertai dengan hati yang penuh kedamaian. Sementara perbuatan pengucap salam itu pun mengekspresikan keteduhan, kedamaian, kejernihan. Tidak ada tetangga yang tersakiti oleh perkataannya. Tidak ada teman yang ternistakan oleh perilakunya. Tidak ada makhluk Allah yang teraniaya karena perbuatannya. Orang yang mengenalnya selalu mendapatkan kedamaian dari perilakunya. Kongkritnya, ia tidak akan merokok karena itu membuat kesehatan dirinya dan orang lain di sekelilingnya menjadi tidak salim (tidak sehat). Ia tidak akan memelihara burung meskipun dengan sangkar yang mahal karena itu sama dengan memenjarakannya dan menutup haknya untuk terbang bebas dan leluasa.
Orang semacam ini adalah orang yang ketika diajak berkomunikasi senantiasa menebarkan keteduhan yang menuntaskan. Ia tidak akan merusak tatanan makhluk hidup, tatanan sosial dan tatanan kemanusiaan. Dengan prinsip keselamatan (salam) ia tidak akan melakukan pengrusakan hutan, sebaliknya ia selamatkan hutan dengan penghijauan kembali. Ia takkan pernah menggunduli gunung dengan mengambil kayunya, sebaliknya ia tanami gunung yang gundul itu dengan berbagai pepohonan yang menghijaukan pandangan dan pemandangan. Ia sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Nabi adalah orang yang lisan dan tangannya tidak pernah menciderai orang lain (al-Muslimu man salima al-muslimuuna min yadihi waalisaanih). Ia tidak menyukai perselisihan, pertikaian, dan persengketaan. Ia menjunjung tinggi perdamaian dan harmoni yang dinamis. Ia gandrung terhadap perdamaian dan menciptakan kedamaian dimanapun. Tatkala terjadi persengketaan dia tampil sebagai juru damai yang menyelamatkan.
Termasuk ajaran ifsyaa as-salam pulalah yang menggerakkan para pejuang kemerdekaan bangsa sejak Tuanku Imam Bonjol, Haji Miskin, KH. Ahmad Dahlan, KH. Hasyim Asy’ari, KH. Zaenal Mustafa menebarkan upaya-upaya pembebasan bangsanya dari penjajahan yang merendahkan harkat kemanusiaan. Mereka berkeyakinan penjajahan yang imperialis itu berlawanan dengan prinsip keteduhan, perdamaian yang mempersaudarakan antar manusia.
Sungguh orang yang menebarkan salam ini adalah orang-orang yang menghiasi dirinya dengan pelbagai atribut akhlak mulia dan budi pekerti yang bermartabat adi. Dalam firman-Nya pada surat al-Furqan [25] ayat 63-68, Allah menginformasikan bahwa mereka adalah orang-orang yang biasa melatih dirinya (1) tidak melakukan sedikitpun kesombongan; (2) senantiasa mengisi malam dengan sujud ber-qiyamulail; (3) kebaikannya yang melimpah tidak menghalanginya untuk senantiasa berdoa kepada Allah untuk terhindar dari api neraka yang menyengsarakan; (4) tindakan dan perbuatannya senantiasa terukur sehingga selalu dalam posisi yang moderat; (5) selalu menjaga sikap tauhid kepada Allah; (6) selalu menimbang perbuatannya dengan timbangan Allah; (7) selalu menjauhkan dirinya dari penyakit sosial dan tentu saja (8) masyarakat di sekelilingnya selalu mendapatkan kedamaian darinya. Allah menamai orang-orang sejenis ini dengan sebutan ‘ibaad ar-Rahmaan. Manusia-manusia yang punya keterkaitan dengan Allah. Keterkaitan itu juga sebagai buah hasil kunjungan (haj) mereka ke rumah Allah (baytullah) dan diterima-Nya sebagai dluyuf ar-Rahmaan (tamu-tamu Allah).
Kemabruran dengan “menebarkan makanan”
Bagian kedua dari kemabruran adalah menyediakan makanan. Menyediakan makanan secara harfiyah bermakna upaya seseorang untuk menyediakan makanan bagi setiap orang yang memerlukan. Dengan demikian seseorang dinyatakan meraih kemabruran manakala ia suka dan gemar untuk membuka pintu rumahnya untuk memberikan pelayanan berupa penyediaan makanan buat orang yang kelaparan. Tanpa diminta pun dia selalu menyisihkan untuk keperluan penyediakan konsumsi makanan terbaik bagi orang-orang yang tak beruntung baik bagi yang datang mendekat ke rumahnya atau dia datangi ke kolong-kolong jembatan, rumah-rumah kardus serta tempat-tempat kumuh dan lain sebagainya.
Menebarkan makanan bisa juga dimaknai sebagai upaya seorang haji untuk menyediakan berbagai fasilitas kepada pelbagai orang yang lemah dan dilemahkan sehingga mereka memiliki keahlian tertentu untuk mendapatkan upah, bayaran serta ongkos yang dengannya diperoleh makanan yang layak. Dibukanya berbagai kursus dan pelatihan gratis bagi kaum fakir miskin dan orang-orang terlantar sehingga mereka bisa hidup mandiri. Jika dia memiliki keahlian tertentu ia suka berbagi dan sebarkan ilmunya kepada orang-orang di sekitarnya sehingga turut menikmati buah hasil keahlian itu. Dia yakin betul dengan membagikan ilmunya tidak akan habis sebaliknya Allah akan menambahkannya ilmu-ilmu baru yang sebelumnya tidak diketahuinya. Dan ilmu barunya inipun dia segera sebarkan kepada orang di sekitarnya sehingga kebaikannya terus melimpah ruah sebagaikan diisyaratkan oleh kata mabrur itu. Orang-orang macam ini adalah orang yang tidak akan mampu tidur pulas sebelum memastikan “tetangga dekatnya” tidak kelaparan. Tentu saja seluruhnya dilakukannya tanpa perlu sorotan kamera dan pengkabaran berita dari para kuli tinta karena mereka lakukan hanya karena Allah. Ciri lain orang-orang penuh kebaikan ini adalah sepanjang hidupnya tidak pernah ingkar janji senantiasa memelihara diri dari perbuatan yang dapat menjerumuskannya ke neraka karena itulah di akhirat nanti mereka layak mendapatkan kedamaian berupa kebahagiaan di surga (QS. al-Insan [76] ayat 6-11).
Dari iuraian tersebut di atas teranglah bahwa seorang yang meraih kemabruran haji bukanlah orang yang setelah pulang menunaikan ibadah haji dia hanya rajin memasangkan songkok putih di kepalanya bukan pula yang bersemangat untuk menyandingkan huruf H sebelum namanya, tidak pula orang yang sekedar mengganti namanya setelah pulang dari haji dengan nama-nama arab, bukan pula orang-orang sekedar berkumpul dengan sesama alumni haji serombongan dan sekelompoknya untuk bernostalgia haji. Orang yang meraih kemabruran haji adalah orang yang setelah menunaikan haji sesuai tuntunan Rasulullah saw sehingga dia raih kesalehan individual lalu dia kembali ke kampungnya menjadi manusia baru yang rajin melakukan kesalehan sosial berupa (1) menebarkan salam kedamaian dan berjuang untuk melawan berbagai tindakan yang melucutinya dan (2) “menebarkan makanan” kepada setiap orang yang memerlukan baik berupa makanan langsung ataupun fasilitas dan keahlian yang dapat mengantarkan seseorang untuk meraih makanan. Hadits Nabi riwayat Bukhari dari Abdullah ibn ‘Amr menyebutkan dua kebaikan itu sebagai ekspresi Islam terbaik. Berikut Hadits Nabi yang dimaksud yang artinya:
Seorang pria bertanya kepada Nabi saw. Islam manakah yang terbaik? Nabi saw menjawab: Kamu berikan makanan dan kamu ucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan yang kamu tidak kenal.

Wallahu a’lam bi ash-Shawab! [islamaktual/sm/wawangunawanabdulwahid]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top