Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Pasca Perang Badar sebagian Muslimun, terutama mayoritas kaum munafiqun, berharap-harap dan menyatakan siap berjihad di jalan Allah, dalam hal ini perang melawan kafir Quraisy yang selalu memusuhi Nabi dan umatnya saat itu.Tetapi apa yang terjadi? Ketika perintah Perang Uhud tiba, di antara mereka justru menghindar. Kaum munafiq di bawah kepemimpinan Abdullah bin Ubbay, bahkan secara provokatif meninggalkan pasukan di tengah perjalanan untuk meruntuhkan mental kaum Muslimun. Padahal jumlah pasukan Nabi kala itu masih sekitar seribu orang, yang harus melawan 3.000 pasukan Quraisy dan sekutunya.
Dalam riwayat, atas peristiwa itu maka Allah kemudian menurunkan ayat Al-Qur’an surat Ash-Shaff ayat ke-2 dan ke-3 berikut ini yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan” (Q.s. Ash-Shaff: 2-3).
Ayat tersebut menurut Ibnu Katsir (Tafsir Al-Quran Al-Adhim), memiliki jiwa dan kaitan yang sama dengan ayat dalam surat Al-Baqarah: 246 mengenai sifat Bani Israil yang mengaku siap berperang tetapi mengingkarinya. Dalam keterangan Abdullah Yusuf Ali (The Holy Quran) bahwa pada kasus Perang Uhud banyak orang Islam terutama pasukan panah di atas bukit yang tidak menaati perintah Rasul dan tidak berdisiplin, banyak bicara tetapi tidak melaksanakan, sehingga mengalami kekalahan.
Abu Bakr Jabir Al-Jazairi (Aiysara Tafasir) memberikan keterangan terhadap ayat tersebut, khususnya kata-kata “lima taquluna ma la taf’alun” sebagai berikut: li-ayyi syaiy taquluna kadza wa kadza wa antum lam taf’alu. Yakni, atas sesuatu mereka menyatakan begini dan begini tetapi tidak melaksanakannya. Perkataan mereka tidak diiringi dengan perbuatan sehingga Allah murka dengan sekeras-kerasnya.
Menurut Ibn Katsir (Tafsir Al-Qur’an al-Adhim), bahwa ayat di atas turun berkaitan dengan perintah jihad, kaum Muslim mengharapkan/merindukan perintah jihad, tetapi ketika perintah itu diturunkan (Uhud) sebagian mereka tidak melaksanakannya/ mengingkarinya. Ibn Katsir bahkan mengaitkannya dengan Hadits Nabi tentang sifat-sifat orang munafiiq, yakni: idza hadatsa kadzaba, wa idza wa’ada akhafa, wa idza tumina khana (Apabila berkata dusta, jika berjanji tak menepati, dan manakala diberi amanat berkhianat).
Sementara menurut Quraisy Shihab (Tafsir Al-Mishbah) bahwa melalui ayat tersebut Allah mengecam orang-orang munafiq dan juga kaum Muslimin yang menyatakan akan melaksanakan perintah jihad tetapi tidak melakukannya, baik pada kasus turunnya ayat maupun berlaku umum setelah itu. Dengan mengutip pendapat Thabathaba’i, Quraisy menyimpulkan bahwa kategori tidak melaksanakan dalam ayat tersebut ada dua yakni (1) Mengatakan sesuatu apa yang tidak dia kerjakan, inilah sifat kemunafikan, dan (2) tidak mengerjakan apa yang dikatakan, inilah bentuk dari kelemahan tekad.
Kini penduduk Muslim sudah mencapai satu setengah miliar di seluruh penjuru dunia, di antaranya sekutar 200 juta Muslim Indonesia, termasuk di dalamnya warga Muhammadiyah. Jika jumlah Muslim sebanyak itu mengamalkan perintah Allah, menjauhi larangan-Nya, dan menjalankan petunjuk-petunjuk-Nya disertai meneladani jejak hidup dan perjuangan Nabi Muhammad saw secara konsisten, maka jaya dan majulah umat Islam. Jika umat Islam maju maka akan menjadi kekuatan yang dahsyat sekaligus menularkan rahmat bagi semesta kehidupan. Persoalannya, apakah umat Islam secara kolektif dan Muslim selaku individu-individu konsisten dalam menjalankan hidup sepanjang kemauan ajaran Islam?

Jangan sampai terjadi sebaliknya. Banyak Muslim, termasuk para ulama, kiai, ustadz, dan mubaligh yang di atas kertas bicara fasih tentang Islam dengan segala seluk-beluknya, tetapi pengamalan dan tindakannya tidak seindah perkataannya. Demikian pula, dalam perjuangan mendakwahkan Islam, termasuk dalam gerakan perjuangan Muhammadiyah, banyak yang mau dan sebagian malah mengejar jabatan dan kewenangan, tetapi ketika pelaksanaan jauh panggang dari api. Berorganisasi dan berjuang sebatas minimal sambil mencari yang empuk-empuk. Sementara yang berat-berat dan mengandung banyak resiko dihindari dan dijauhi. Awal memegang jabatan tampak semangat dan gigih, sambil menuntut hak ini dan hak itu, tetapi ketika organisasi membutuhkan pengkhidmatan dan pengorbanan kemudian menghindar sambil melakukan pembenaran. Akibatnya, hal-hal baik berhenti sekadar untaian niat, lisan, dan retorika indah minus perbuatan dan tindakan nyata. Ada benih-benih nifaq atau lemah itikad dan ikhtiar. Semoga Allah menjauhkan kita dari penyakit hati dan perbuatan yang demikian. [islamaktual/sm/a.nuha]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top