Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Sebelum masuk Islam, namaku Akapito Matateu. Setelah resmi menjadi seorang muslim, aku diberi nama Fatkhul Huda. Lahir di Daulturo, sebuah kota di Timor-Timor pada 15 April 1975, aku dibesarkan di keluarga animisme (kepercayaan kepada roh yang mendiami semua benda), dan pada akhirnya memeluk agama Katholik.
Masih ingat betul ketika aku duduk di bangku sekolah dasar, aku selalu membawa salib yang setiap hari kucium sebagai tanda penghormatan. Teman sekolahku mengejekku dan bilang, “Kenapa Tuhan dibawa-bawa. Tidak usah capek-caoek sekolah, minta Tuhanmu sana biar jadi pintar,” begitu katanya sembari tertawa. Perkataan itu membuatku reflek memukulnya hingga berdarah. Temanku itu melapor ke kepala sekolah, lalu kami berdua didamaikan kepala sekolah.
Aku jadi kepikiran setelah peristiwa itu. Karena kesal, aku pernah melempari masjid dengan batu saat terdengar adzan. Aku sendiri sebetulnya juga bertanya-tanya dalam hati. Iya juga ya, kenapa Tuhan yang dalam bentuk salib itu aku bawa kemana-mana dan aku ajak bicara. Disitulah pikiranku mulai goyah.
Rasa penasaranku itu membawaku untuk mengajukan pertanyaan di perkumpulan gereja. Aku bertanya seperti apa yang temanku ucapkan. Tidak menemukan jawaban yang melegakan, aku malah dimaki-maki. Ya sudah, aku urungkan niat untuk bertanya lebih lanjut.
Sekitar tahun 1988-an aku mulai tertarik untuk mengenal Islam, namun karena ada larangan memakan babi dan minum-minuman, aku jadi mengurungkan niat. Bagaimana bisa, sedangkan babi dan anjing merupakan makanan sehari-hariku waktu itu. Minum-minuman keras pun sudah biasa di kampungku. Ditambah lagi ada isu Islamisasi di kampungku, yang karena disogok mi instan. Tapi setelah aku mengetahui, ternyata itu bagian dari zakat. Dan larangan untuk memakan dan minum minuman tadi, ternyata memang tidak baik untuk tubuh.
Tahun 1990-an, aku mulai berkeinginan kuat untuk merantau ke Jawa. Aku punya tekad untuk mandiri. Ada saudaraku yang dekat dengan seorang pastur. Ia akan dikirim ke Jawa untuk misi Kristenisasi. Aku ingin ikut, bukan untuk misi itu, setelah sampai di Jawa aku berniat untuk kabur dari rombongan. Aku melarikan diri dari rumah pukul dua dini hari.
Sampai di Pelabuhan Tanjung Perak, aku bertemu dengan orang dari MUI Timor-Timor dan ditawari untuk sekolah dengan bantuan dana yang diberikan Yayasan Dana Sosial Al-Falah (YDSF). Akhirnya aku dikirim ke Paciran, Jawa Timur, bersama empat teman yang lain. Aku disekolahkan di Madrasah Ibtidaiyah dan akhirnya berikrar menjadi seorang Muslim, pada 15 September 1994.
Aku senang bisa sekolah lagi, walaupun sempat pusing dengan pelajaran agama Islam yang mengharuskanku bisa membaca huruf Arab.
Menjelang ujian akhir kelulusan, aku dipanggil ke ruang guru. Aku dinasehati karena bermasalah dengan ketertinggalanku menyerap pelajaran di kelas. Di situ aku disuruh untuk Puasa Senin-Kamis menjelang ujian oleh guruku, ditambah membaca al-Qur’an dan Hadits lebih intens. Tak lupa berdoa meminta pada Allah SwT agar ujianku dilancarkan.
Kemudian aku luruskan niat belajar karena Allah dan berdoa. Setelah itu aku mulai membaca-baca surat di al-Qur’an, dan Masya Allah, aku menemukan surat yang membawaku menuju pintu hidayah, yaitu Surat at-Tahrim ayat 6.
Alhamdulillah, selain ujian akhirku dapat nilai bagus, aku juga termotivasi untuk mengislamkan kedua orangtuaku ketika pulang ke kampung halaman. Di sinilah perjuanganku dimulai. Tidak mudah untuk mewujudkan harapanku. Butuh proses panjang seperti bayi yang masih dalam rahim, lahir, merangkak hingga bisa berjalan. Alhamdulillah, pada 10 Juli 2002 di Masjid Al-Falah Surabaya, kedua orangtuaku masuk Islam. Aku sungguh bahagia tak terkira, karena berhasil menyelamatkan mereka.

Itulah perjalananku yang perlu liku menuju jalan-Nya. Aku tak menyangka menjadi seperti sekarang. Aku memaknai Islam dengan caraku sendiri. Dan itu akan selalu aku terapkan selama Allah SwT memberiku nafas hidup. I=Ikhlas, S=Semangat,Sabar, L=Lakukan, A=Amanah, M=Muhammad. Itulah Islamku. [islamaktual/alfalah/fatkhulhuda]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top