Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta memberikan dispensasi khusus kepada sekolah untuk meliburkan muridnya jika kegiatan belajar-mengajar tidak mungkin dilaksanakan akibat adanya debu vulkanik Gunung Merapi, pada Sabtu, 30 Oktober 2010 lalu. Keputusan ini semata-mata didasarkan alasan kesehatan untuk siswa, pengajar, dan warga sekolah lainnya. Namun, apabila kegiatan belajar-mengajar masih mungkin dilaksanakan, maka seluruh warga sekolah diharap menggunakan masker untuk mengantisipasi terhirupnya debu vulkanik yang akan menyebabkan gangguan pernapasan dan kesehatan lainnya.
Gunung berapi yang meletus akan mengeluarkan berbagai jenis debu serta gas dari dalam perut bumi. Gas dan debu ini tidak hanya berbahaya bagi jalur transportasi, tetapi juga kesehatan masyarakat yang tinggal di sekitar gunung meletus tersebut. Untuk mengantisipasi dampak letusan, masyarakat yang masih bertahan di pemukiman segera mengungsi ke tempat-tempat yang diprediksi aman dari debu.
Debu Vulkanik
Debu yang keluar dari gunung yang meletus bisa merusakkan bangunan rumah warga di sekitarnya. Gumpalan debu yang menimpa atap-atap rumah ini bisa membahayakan orang-orang yang berada di dalamnya seperti mengalami cidera bahkan kematian, demikian diungkapkan Dr. dr. Umar Zein, pemerhati kesehatan di waspadamedan.com.
Dia menuturkan, bila diameter butiran debu-debu yang bertebaran di udara ukurannya sangat kecil (kurang dari 10 mikron), terhirup manusia dan masuk ke dalam saluran nafas dan paru-paru, dapat menimbulkan gangguan pernafasan.
Debu yang dikeluarkan gunung meletus ini biasanya mengandung mineral kwarsa, kristobalit atau tridimit. Mineral ini adalah kristal silika bebas yang diketahui dapat menyebabkan silicosis (kerusakan saluran nafas kecil di paru-paru sehingga terjadi gangguan pertukaran gas di alveolus paru-paru). Penyakit ini biasanya ditemukan pada pekerja tambang yang terpapar silika bebas dalam jangka panjang.
Beberapa jenis gas yang timbul akibat gunung meletus adalah uap air (H2O), diikuti karbondioksida (CO2) dan belerang dioksida (SO2). Selain itu, ditemukan juga jenis gas-gas lain dalam jumlah kecil, seperti hidrogen sulfida (H2S), hidrogen (H2), karbonmonoksida (CO), hidrogen klorida (HCl), hidrogen fluorida (HF) dan helium (He). Gas-gas ini pada konsentrasi tertentu bisa menyebabkan sakit kepala, pusing, diare, bronchitis (radang saluran nafas) atau bronchopneumonia (radang jaringan paru), iritasi selaput lendir saluran pernafasan, iritasi kulit serta bisa juga mempengaruhi gigi dan tulang (untuk paparan HF).
Gejala Akut
Orang-orang yang terpapar debu vulkanik ini biasanya mengalami keluhan pada mata, hidung, kulit, dan gejala sakit pada tenggorokannya. Gangguan kesehatan ini bisa diakibatkan karena paparan jangka pendek (beberapa hari) ataupun jangka panjang (beberapa minggu sampai beberapa bulan).
Potensi gangguan pernafasan yang mungkin timbul dipengaruhi berbagai faktor, seperti konsentrasi partikel di udara, ukuran partikel tersebut dalam debu, frekuensi dan lamanya paparan, kondisi meteorologi, kondisi kesehatan dari setiap warga, ada atau tidaknya gas-gas vulkanik yang bercampur dengan abu serta penggunaan alat perlindungan pernafasan.
Debu vulkanik dengan berbagai ukuran ini dapat juga mengiritasi selaput lendir mata, sehingga mengganggu penglihatan dan dapat terjadi infeksi sekunder pada mata. Gangguan ini akan lebih mudah timbul pada orang yang menggunakan lensa kontak.
Umumnya, gejala yang timbul adalah merasa seolah-olah ada benda asing di mata, mata terasa nyeri, gatal atau merah, mata terasa lengket, kornea mata lecet atau terdapat goresan, adanya peradangan pada kantung conjuctival yang mengelilingi bola mata. Sehingga mata menjadi merah, terasa seperti terbakar dan sensitif terhadap cahaya.
Iritasi kulit merupakan kondisi yang jarang dilaporkan, biasanya masyarakat mengalami gatal-gatal, kulit memerah dan iritasi akibat debu yang ada di udara dan menempel di kulit. Kondisi ini bisa juga diakibatkan perubahan kualitas air yang sudah tercemar debu vulkanik.
Upaya Antisipasi
masyarakat di sekitar gunung berapi sebaiknya segera mengungsi untuk menghindari dampak yang lebih berbahaya lagi, tetapi jika masih ingin bertahan sebaiknya selalu menggunakan masker wajah untuk mengurangi paparan partikel debu.
Bagi orang yang mengidap penyakit paru-paru kronis, seperti bronkitis kronis, emfisema, dan asma, sebaiknya segera mengambil tindakan pencegahan khusus untuk menghindari kondisi yang lebih parah yang dapat menyebabkan additional cardiopulmonary stress (stres jantung-paru paru berlebih). Karena itu untuk mencegah efek kesehatan yang lebih parah, masyarakat bisa melakukan beberapa hal berikut ini, seperti:
  1. Gunakan pakaian pelindung dan juga masker debu, alat perlindungan ini sebaiknya mudah diakses masyarakat khususnya selama kondisi darurat.
  2. Jika tidak ditemukan masker, warga bisa menggunakan sapu tangan, kain, atau baju untuk melindungi diri dari debu atau gas.
  3. Seseorang yang memiliki bronchitis, emfisema, dan asma disarankan untuk tetap tinggal di rumah atau mengungsi ke daerah lain untuk menghindari paparan debu.
  4. Jika ingin keluar rumah, sebaiknya gunakan masker, pakaian pelindung, dan juga kacamata untuk menghindari iritasi.
  5. Usahakan untuk meminimalkan paparan debu yang berada di dalam rumah.
  6. Untuk anak-anak dan bayi sebaiknya dijauhkan dari paparan debu karena anak dan bayi sangat rentan dibanding orang dewasa. Sebaiknya disediakan masker khusus untuk anak-anak, serta tidak membiarkan anak bermain di luar rumah untuk meminimalkan paparan.

[islamaktual/sm/ham]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top