Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


oleh : KH. Mu’ammal Hamidy, Lc.

Abu Hurairah meriwayatkan, katanya: Rasulullah saw berkhutbah di hadapan kami, yaitu beliau bersabda: “Wahai manusia, sungguh Allah telah mewajibkan kalian haji, maka berhajilah kalian.”Lalu ada seorang bertanya: Apakah setiap tahun, ya Rasulallah? Beliau diam, sampai orang tersebut menanyakannya tiga kali. Lalu Rasulullah saw menjawab: “Seandainya kujawab ya, maka akan menjadi wajib (setiap tahun) sedangkan kalian tidak akan mampu.” Selanjutnya beliau juga bersabda: “Serahkanlah kepadaku apa yang kutinggalkan buat kalian itu, karena sesungguhnya ummat sebelum kalian rusak lantaran banyak mempersoalkan masalah dan banyak menyalahi aturan para nabi mereka. Karena itu, jika aku sudah memerintahkan kalian untuk mengerjakan sesuatu, maka tunaikanlah daripadanya apa yang kalian bisa, dan jika aku melarang kalian tentang sesuatu maka tingalkanlah dia.” (HR. Muslim, Ahmad, Nasai, dan Ibnu Majah).
Syarah Hadits
Hadits ini diriwayatkan oleh beberapa imam hadits, seperti disebutkan di atas, masing-masing membuat judul yang berbeda. Imam Muslim dengan judul “Kewajiban haji sekali seumur hidup” (Fardhul hajji marratan fil ‘umur), Imam Nasai dengan judul “Kewajiban Haji” (Wujubul hajji), Imam Ibnu Majah dengan judul “Mengikuti Sunnah Rasulullah saw” (Ittiba’u Sunnati Rasulillah saw), sementara Imam Ahmad, dalam Musnad, cukup mencantumkan rawi hadits, yaitu Abu Hurairah.
Abu Hurairah dalam kata pengantarnya mengatakan “khathabana” (Rasulullah saw berkhutbah di hadapan kami), dipakai dengan kata “kami” (naa), ini berarti ketika itu di hadapan orang banyak, tidak hanya Abu Hurairah seorang diri. Kata “khutbah” itu sendiri asal artinya berbicara untuk menyampaikan sesuatu. Maka, kata khutbah di sini, bisa dalam arti Khutbah Jum’ah dan bisa jadi berbicara di hadapan orang banyak. Namun, kelihatannya dalam sebuah halaqah, tidak dalam Jum’atan atau ‘Id. Karena di situ ada dialog, yang lazim tidak dijumpai dialog dalam Khutbah Jum’ah maupun ‘Id, kecuali sekali, yaitu Rasulullah saw mengingatkan seorang jama’ah yang belum shalat tahiyyatal masjid.
Dalam khutbahnya itu, Rasulullah saw menegaskan, “Haji Cukup Sekali Seumur Hidup”. Dan ini merupakan rukhshah atau keringanan, sesuai prinsip Islam yang mudah, tidak mempersulit. Karena ibadah yang satu ini ternyata menyita waktu, tenaga dan biaya yang besar. Apalagi kalau dilihat dari segi tempat yang sangat terbatas dengan peminat yang membeludak. Dapat dibayangkan betapa sulitnya orang akan melakukan ibadah haji. Justru itu, kalau dalam hadits di atas dikatakan: “Seandainya kujawab ya, maka haji itu akan menjadi wajib setiap tahun sedangkan kalian tidak akan sanggup melakukannya”, adalah sangat logis sekali. Ini menunjukkan betapa wawasan Rasulullah saw ke depan. Dan sekaligus ini sebagai salah satu bukti kenabian beliau.
Dan dari prediksi itu, lalu Rasulullah saw memberikan bebarapa nasehat penting, bagi ummatnya seputar masalah loyalitas dan pengamalan keberagamaan sebagai berikut:
  1. Serahkan kepadaku apa yang telah kutinggalkan kepada kalian
Yang ditinggalkan oleh Nabi saw buat umat ini ialah hukum. Dalam dunia fiqh dikenal ada hukum-hukum yang berhubungan dengan masalah ritual, yang biasa dikenal dengan ibadah mahdhah; dan ada hukum-hukum yang berkenaan dengan mu’amalah (hal-hal yang berhubungan dengan sesama manusia), yang biasa dikenal dengan ibadah ijtima’iyah. Masalah ibadah mahdhah adalah wewenang Nabi saw sendiri, karena ia ghaira ma’qulil ma’- na (irrasional), seperti shalat, puasa, dan haji. Sedang yang berkenaan dengan ibadah ijtima’iyah, Islam hanya memberikan acuan dasar, yang selanjutnya penjabarannya diserahkan kepada ummatnya. Karena ia adalah rasional, seperti perdagangan, perkawinan, politik kenegaran, perundang-undangan dan sebagainya. Maka, apa yang dimaksud dalam hadits “serahkanlah kepadaku apa yang telah kutinggalkan kepada kalian” itu adalah masalah-masalah yang berhubungan dengan ritual, semisal haji, yang cukup dilakukan sekali seumur hidup. Dengan lebih tegas dikatakan dalam sabdanya yang artinya: Jabir meriwayatkan, katanya: Rasulullah saw meninggalkan Arafah dengan tenang sekali, dan beliau menyuruh jama’ah pun hendaknya dengan tenang juga, dan beliau mempercepat jalannya di Wadi Muhassir (untuk menempatkan barang-barangnya/mabit di Wadi Muhassir/Muzdalifah), serta memerintahkan jama’ah untuk melempar jamrah dengan kerikil sebesar kerikil ketepel, seraya bersabda: “Ambillah dariku cara-cara hajimu, karena barangkali sesudah tahun ini (tahun depan) kalian tidak lagi bertemu aku.” (H.R. Baihaqi)
Tidak saja masalah haji, bahkan semua ibadah mahdhah harus mencontoh Nabi saw, jika tidak maka tidak dianggap sah menurut agama, sebagaiamana penegasan beliau:
Aisyah menceritakan, Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa mengamalkan suatu amalan (ibadah mahdhah) yang padanya tidak ada perintah/contoh dari kami, maka amalan itu tertolak”. (H.R. Ahmad, Bukhari, dan Muslim).
Dalam hal ini, Rasulullah berargumen dengan kasus ummat sebelumnya, yang justru hancur karena banyak komentar masalah ibadah ini dan banyak menyimpang dari ajaran para nabi. Itulah yang dalam fiqh Islam dikenal dengan bid’ah. Bahwa bid’ah merusak agama, yang pada gilirannya agama ini tidak lagi bisa dijadikan pedoman dan aturan hidup, karena tidak diridhai Allah. Contohnya agama Isa, yang kemudian menjadi Nashrani, yang tidak lagi diridhai Allah, karena kebid’ahan yang dilakukan oleh elite agama, pastur, sebagaimana dijelaskan Allah dalam al-Qur’an yang artinya: Kemudian Kami iringi di belakang mereka dengan Rasul-rasul Kami dan Kami iringi (pula) dengan Isa putra Maryam; dan Kami berikan kepadanya Injil dan Kami jadikan dalam hati orang-orang yang mengikutinya rasa santun dan kasih sayang. dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah (kepasturan) Padahal, Kami tidak mewajibkannya kepada mereka tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakan sistem kepasturan itu) untuk mencari keridhaan Allah, lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya. Maka Kami berikan kepada orang-orang yang beriman di antara mereka pahalanya dan banyak di antara mereka orang-orang fasik. (Q.s. Al-Hadid [57]: 27).
Berbeda dengan masalah-masalah duniawiyah yang sifatnya enovatik, selalu dinamik, maka ummat diberi wewenang untuk membuat cara-cara baru yang lebih baik, selama dalam prinsip tidak melanggar aturan. Hal ini ditegaskan oleh Rasulullah saw sendiri dalam sabdanya yang artinya: Jarir bin Abdullah meriwayatkan, katanya: Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa membuat cara baru yang baik dalam Islam, lalu cara baru itu ditiru orang sesudahnya, maka baginya tercatat mendapat pahala sebanyak pahala orang yang menirukannya, dan tidak berkurang barang sedikitpun dari pahala mereka itu. Sebaliknya, barangsiapa membuat cara baru yang tidak baik dalam Islam, lalu ditiru orang lain sesudahnya, maka baginya tercatat mendapat dosa sebanyak dosa orang yang menirukannya itu, dan tidak berkurang barang sedikitpun dari dosa-dosa mereka itu“. (H.R. Muslim)
2. Beramal sesuai kemampuan
Manusia makhluk yang lemah, mungkin karena fisik, karena otak, karena situasi dan sebagainya. Sehingga sangat mungkin amalan-amalan atau perintah-perintah agama itu tidak dapat dilakukan dengan optimal. Justru itu, sesuai prinsip Islam yang mudah dan fleksibel, pengamalan ajaran Islam itu, selalu disesuaikan dengan kondisi, yaitu beramal sesuai kemampuan. Itulah yang ditegaskan Rasulullah saw dalam hadisnya di atas. Hal ini diperkuat juga oleh al-Qur- ’an, seperti tersebut dalam surat al-Baqarah [2] ayat 286 yang artinya: Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupan-nya. ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (mereka berdoa): “Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau hukum Kami jika Kami lupa atau Kami tersalah. Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau bebankan kepada Kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau pikulkan kepada Kami apa yang tak sanggup Kami memikulnya. beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong Kami, Maka tolonglah Kami terhadap kaum yang kafir.” (Q.s. Al-Baqarah [2]: 286).
Dan juga firman Allah yang artinya: Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung (Q.s. At-Taghabun [64]: 16)
Dari sini, kemudian para ulama fiqh membuat kaedah-kaedah fiqhiyah, yang sifatnya meringankan, semisal: “Kesulitan mendatangkan kemudahan.”
Yakni, dalam kondisi yang sulit, kita bisa melakukan apa yang kiranya mudah. Misalnya, shalat dengan duduk, dengan berbaring dan dengan isyarat, dibolehkan ketika dalam suasana sulit. “Keadaan dlarurat membolehkan berbuat yang dilarang.” Yakni, ketika dalam keadaan terpaksa boleh melakukan apa saja yang dilarang. “Kebutuhan itu menempati tempat dlarurat.” Yakin, dalam keadaan sangat memerlukan sesuatu, dapat disamakan dengan dalam keadaan dlarurat, sehingga bisa melakukan sesuatu yang dilarang. Namun, semuanya itu harus dilakukan dengan kecermatan.
3. Larangan Harus Dijauhi

Berbeda dengan perintah yang diharuskan untuk mengerjakan sesuai kemampuan, tetapi masalah larangan ternyata tidak demikian. Tetapi, harus dijauhi sejauh-jauhnya, sekecil apapun dan kapanpun Dalam kaedah fiqhiyah dikatakan, “Larangan itu menunjukkan untuk selamanya” (an-nahyu yadullu ‘ala alabdi). Kecuali dalam riwayat Thabrani dalam al-Mu’jamul Kubra (553), berbunyi sebagai berikut: Dan jika kularang kalian dari sesuatu maka jauhilah ia apa yang kamu bisa. Namun, Hadits ini oleh para ulama dinilai gharib (asing), karena hanya diriwayatkan Hammad dari Ayub dan Ali dari Hammad. [islamaktual/sm]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top