Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Kenapa Fir’aun yang super perkasa ditenggelamkan di Laut Merah? Qarun yang kaya raya kemudian dihinakan Tuhan? Kaum Saba, Madyan, umat Nabi Nuh, dan umat-umat lainnya yang dilanda bencana luar biasa? Kenapa para penguasa dan mereka yang memiliki kekuatan secara duniawi akhirnya berujung pada kejatuhan dan nestapa? Mereka adalah manusia juga, tetapi tabiat dan kelakuannya sewenang-wenang, sesuka hati, dan melampaui batas. Sehebat apap pun kekuasaan, harta, dan apa yang dimiliki manusia super apabila digunakan untuk kemewahan, kesewenang-wenangan, dan kezaliman maka akan berbuah hina dan bencana.
Banyak kisah tentang buah kezaliman yang berujung kehancuran. Pada suatu hari ada seorang nelayan yang mencari ikan untuk keperluan anak dan istrinya yang kelaparan. Ketika mendapatkan ikan besar, tiba-tiba seorang Raja setempat lewat dan merampas ikan si nelayan itu. Dengan maksud membikin kejutan kepada permaisurinya, sang raja menunjukkan ikan besar itu tetapi malang jarinya digigit ikan hingga kesakitan. Raja terus mengalami sakit, hingga tabib menyarankan potong jari karena racun sudah menjalar. Namun, Raja masih kesakitan hingga dipotong tangan dan lengannya.
Raja baru merasa sembuh, tetapi telah kehilangan lengan dan dirinya tidak pernah tenteram. Akhirnya atas saran tabib, sang Raja mencari si nelayan untuk minta maaf. Akhirnya Raja dimaafkan. Raja bertanya kepada si nelayan, apa yang engkau katakan ketika ikanmu kurampas? Si nelayan menjawab, aku tidak mengatakan apa-apa kecuali menengadahkan tangan sambil berdoa: “Ya Allah, sesungguhnya ia telah memperlihatkan kekuatannya kepadaku, maka tunjukkanlah kekuasaan-Mu pada dirinya”. Demikianlah kisah kezaliman seorang Raja terhadap rakyat kecil yang berakibat kebinasaan pada dirinya (Muhammad Amin al-Jundi, 2003:45).
Fir’aun, Qarun, elit Quraisy yang zalim, hingga kisah sang raja yang sewenang-wenang terhadap nelayan kecil merupakan sosok pelaku al-mutrafun. Al-mutrafun diambil dari kata t-r-f (tarifa) adalah isim fail (subjek) yakni mereka yang hidup mewah, yang sesuka hati, yang melampaui batas atau yang sewenang-wenang. Jadi siapapun yang bertindak selaku al-mutrafun baik di masa silam seperti Fir’aun, Qarun, kaum Jahiliyah, maupun yang hidup saat ini selalu melahirkan fasad atau kerusakan di muka bumi. Allah berfirman dalam al-Qur’an yang artinya:
Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (QS. al-Isra‘ [17]:16).
Karenanya, jangan lalai ketika memperoleh kekuasaan, harta, dan kejayaan duniawi. Jika menjadi pejabat, politisi, wakil rakyat, penegak hukum, dan memegang jabatan kekuasaan atau kekuatan duniawi apapun sewajibnya dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kebajikan. Bukan sebaliknya bersikap ajimumpung, khianat, lupa sumpah jabatan, abai terhadap kepentingan rakyat, dan hal-hal yang menjadikan diri lupa daratan. Jangan merasa paling hebat karena memperoleh mandat atau kepercayaan orang banyak, lantas bertindak arogan, tidak mau mendengar kritikan, merasa paling benar sendiri, dan sewenang-wenang. Apalagi bertindak zalim dan menyalahgunakan kekuasaan yang berakibat pada kerusakan (fasad) dalam kehidupan orang banyak dan lingkungan.

Sehebat apa pun dan siapa pun yang memiliki kekuasaan duniawi manakala disalahgunakan dan tidak digunakan untuk kemaslahatan, malah sebaliknya digunakan secara sewenang-wenang, maka akibatnya bukan hanya pada diri sendiri tetapi juga berpengaruh terhadap kehidupan yang luas. Kesewenang-wenangan yang dilakukan orang biasa hanya berakibat terbatas, tetapi jika dilakukan oleh pemimpin atau yang memiliki kekuasaan akan berakibat fatal dalam radius yang sangat luas. Jangan merasa akan bebas manakala bertindak melampaui batas hanya karena memiliki uang, kekuasaan, dan kekuatan duniawi lainnya karena semuanya itu sifatnya fana. Semuanya akan berpulang pada diri sendiri dan radius kehidupan di sekitar. Jangan sampai laknat Tuhan dan bencana datang menimpa hanya karena perilaku para al-mutrafun yang sudah melampaui batas. [islamaktual/sm/a.nuha]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top