Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download

Budak Muslim Afrika Pencetus Peradaban Islam di Brazil


Berbagai negara Eropa lumrah melakukan praktik perdagangan budak yang tidak manusiawi pada kurun waktu 1500 hingga 1800-an. Lebih dari 12 juta orang Afrika dibawa ke Amerika Utara dan Selatan dengan menggunakan kapal untuk dipekerjakan sebagai budak pada periode itu.
Sebagian besar kaum budak itu datang dari Senegambia, sebuah kawasan di pantai barat Afrika, dan sebagian lainnya dari negara-negara di sekitar Teluk Benin seperti Benin, Togo, dan Nigeria. Patut dicatat, hampir seluruh budak dari kawasan itu adalah Muslim.
Pada era 1400-an, orang-orang Wolof dan Mandinke dari Senegambia sepenuhnya Muslim. Mereka sangat terdidik dalam hal agama Islam. Banyak sarjana di antara mereka. Orang-orang Yoruba, Nupe, dan Hausa dari Benin juga sepenuhnya Muslim sejak 1500-an.
Brasil sendiri adalah koloni Portugis sampai tahun 1822, ketika negeri di Amerika Latin itu mendapatkan kemerdekaan. Praktik perdagangan budak bermula ketika muncul permukiman Portugis. Perbudakan ini berlangsung sampai pengujung 1800-an.
Ketika budak-budak Muslim itu bekerja di Brasil, mereka tetap memegang teguh jati diri mereka sebagai Muslim. Mereka bahkan menolak berpindah keyakinan menjadi Katolik seperti tuan mereka, orang Portugis atau Brasil.
Hebatnya, meski hidup sebagai budak, mereka mampu mendirikan sebuah komunitas Islam yang memiliki ulama, masjid, sekolah, dan sejumlah kegiatan keagamaan. Komunitas itu berpusat di Negara Bagian Bahia, Brasil bagian timur. Di Salvador, ibu kota Bahia, terdapat lebih dari 20 masjid yang dibangun oleh budak ataupun orang merdeka.
Pada 1814 hingga 1816, budak Muslim di Bahia merencanakan sebuah pemberontakan melawan orang Portugis. Mereka ingin menggulingkan penegak hukum, membebaskan seluruh budak, dan menyita kapal-kapal agar mereka bisa kembali ke Afrika. Namun, akibat ulah budak yang menjadi mata-mata polisi setempat, pemberontakan itu gagal total bahkan sebelum sempat dilaksanakan. Pemimpin pemberontakan pun dibunuh oleh Portugis.
Pada kurun waktu 20 tahun setelah pemberontakan yang gagal itu, budak Muslim maupun non-Muslim beberapa kali berupaya mengobarkan pemberontakan serupa tetapi selalu menumbuk kegagalan.
Meski sama-sama berasal dari Afrika, para budak di Bahia berasal dari etnis dan wilayah yang berbeda-beda. Mereka berbicara dalam bahasa yang tidak sama antara satu dengan lainnya. Meski demikian, selama di Brasil mereka bisa bersatu di bawah panji Islam.
Budak Muslim di Bahia akan lebih bersahabat dengan teman sesama Muslim dari etnis berbeda daripada dengan non-Muslim meski dari etnis yang sama. Sepanjang sejarah islam, persatuan seperti inilah yang membangkitkan kekuatan dan rasa solidaritas.
Gagalnya pemberontakan pada 1814 dan 1819 memaksa para budak Muslim Bahia bersembunyi. Seluruh kegiatan keislaman ditekan oleh pemerintah. Meski bersembunyi, para pemimpin dan cendekiawan Muslim di wilayah itu giat mengislamkan orang-orang Afrika lainnya, baik penganut Katolik maupun animisme. Hal ini terjadi pada kurun waktu 1820-1830.
Para organisator di balik pemberontakan itu adalah ulama-ulama populer pada masa itu. Mereka sangat terpandang dan dihormati. Salah satu ulama kondang itu adalah Syekh Dandara, orang kaya yang merdeka. Ada pula Syekh Sanim, seorang budak berusia lanjut yang mendirikan sekolah untuk mengajarkan Islam, dan Malam Bubakar Ahuna, cendekiawan Muslim yang terkenal di seluruh Bahia. Malam Bubakar kerap mengorganisasi acara-acara keislaman.

Para cendekiawan Muslim ini menggunakan masjid sebagai basis operasinya. Di sana mereka membahas rencana pemberontakan, menyimpan senjata, dan mendidik penduduk asal Afrika. Di masjid ini pula Malam Bubakar mendeklarasikan seruan jihad. Melalui sebuah dokumen berbahasa Arab, ia menyeru seluruh umat Islam untuk bersatu dan memberontak kepada tuan-tuan mereka. [islamaktual/rol]

TAJDID USHUL FIQH PASCA IMAM SYAFI’I (1)


Fiqh dan Ushul Fiqh adalah dua ilmu yang tidak bisa dipisahkan. Keduanya muncul bersamaan. Namun, Ilmu Fiqh lebih dahulu dikodifikasikan. Jika Ushul Fiqh lebih menitikberatkan pada landasan teoritis yang bersifat umum, maka Fiqh lebih fokus pada tataran praktis. Keduanya juga mempunya kesamaan, yaitu mencari ketentuan hukum syar’i. Para ulama sepakat bahwa Imam Syafi’i peletak disiplin ilmu ini. Mustafa Abdul Raziq (2006: 239) menjuluki Imam Syafi’i sebagai filosof pertama dalam dunia Islam.
Imam Syafi’i
Imam Syafi’i lahir di Asqalan, sebuah desa kecil di Gaza pada 150 H, bertepatan dengan tahun meninggalnya Abu Hanifah. Konon, nasab Imam Syafi’i bertemu Rasulullah Saw. Terlahir dalam keadaan yatim, ibunya tidak mampu membayar guru mengajinya. Akan tetapi, Syafi’i tetap diperkenankan untuk mengikuti pelajaran dari gurunya. Saking miskinnya, dia rela menuliskan hafalanya pada tulang dan pelepah kurma. Kecerdasannya tampak pada usia 7 tahun ketika dia hafal al-Qur’an. Gurunya ketika itu adalah Syaikh Ismail bin Qostantin. Memasuki usia 15 tahun, Syafi’i sudah diperkenankan untuk memberikan fatwa oleh Muslim bin Khalid Zanji. Dia juga banyak belajar dari para ulama di Makkah dalam berbagai disiplin ilmu.
Perjalanan Syafi’i menuntut ilmu di Madinah disambut baik oleh Imam Malik. Semula, Imam Malik menolak karena usianya yang terlalu dini. Akan tetapi, setelah melihat Syafi’i mampu menguasai al-Muwata’ dengan sangat baik, sang Imam pun menerimanya. Selama 16 tahun, Syafi’i mengiringi Imam Malik sampai wafatnya. Ilmu yang diambil dari Imam Malik merupakan modal awal bagi Syafi’i dalam ber-istinbat terhadap nash. Setelah mengenyam pendidikan di Madinah, Imam Syafi’i belajar ilmu di Iraq kepada Muhamad bin Husain al-Saibani yang juga murid Abu Hanifah.
Manhaj istimbat Imam Malik di Madinah yang mengandalkan hadits ketimbang akal dan pemikiran Muhamad bin Husain al-Syaibani yang rasionalis adalah tempat strategis Imam Syafi’i dalam menggabungkan dua metode sekaligus. Inilah salah satu keistimewaan Syafi’i di antara empat imam madzhab. Munculnya kitab al-Risalah bermula ketika Abdurahman bin Mahdi meminta Imam Syafi’i untuk menuliskan kitab yang berisi tentang nasikh mansukh, penerimaan khabar ahad, dan yang berkaitan dengan ilmu al-Qur’an. Imam Syafi’i sendiri tidak pernah menamakan kitab tersebut al-Risalah. Beliau lebih sering mengatakan “kitab”, “kitabku”, dan “kitab kami.” Kitab al-Risalah ditulis Imam Syafi’i selama dua kali, yang pertama kali disusun di Makkah (Risalah Qadimah) atas permintaan Abdurrahman al-Mahdi, salah satu imam ahli hadits di Hijaz, dan Risalah Jadidah yang diperbarui di Mesir. Kitab al-Risalah Jadidah adalah manuskrip terakhir yang sampai ke tangan kita, lataran kitab beliau yang lama telah lenyap dan kemungkinan besar beliau sisipkan materi pembahasanya pada Risalah Jadidah.
Ushul Fiqh Pasca Imam Syafi’i
Setelah Imam Syafi’i meletakkan dasar ilmu Ushul Fiqh, para ulama yang datang kemudian berusaha menyarah kitab Risalah. Tercatat, Ibnu Sirij, Abu Bakar Muhamad bin Abdullah Soirofi, Abi Walid Hasan bin Muhamad Naisaburi, Ibnu Qaththan, Imam bin Muhamad Ali Qaffal. Setelah itu, muncul dua nama besar yang menurut para ulama sangat mempengaruhi kitab-kitab Ushul Fiqh dalam segi kepenulisan, yaitu Qadhi Baqilani al-Asy’ari dan Qadhi Abdul Jabbar Mu’tazili. Al-Baqilani mempunyai peranan yang sangat besar dalam membangun metodologi Mutakallimin, salah satu contohnya adalah menentang Mu’tazilah dalam memasukkan doktrin ilmu kalam, juga perananya menyelisihi dua metode Syafi’i dan Hanafi yang mengkooptasi ilmu kalam sebagai trandmark--nya.
Abad ke-5 Ushul Fiqh sempat mulai marak semenjak Imam Haramain al-Juwaini banyak mengambil faedah dari kitab al-Baqilani yang berjudul at-Taqrib wal Irsyâd. Al-Juwaini sendiri memiliki tiga karya: Al-Waraqât (disyarah Jalal al-Mahali, Talkhis), dan al-Burhân (disyarah oleh al-Mazridalam kitab Fi Kasyfi Idhohil Mahsul min Burhânil Ushûl).
Qadhi Abdul Jabar mempunyai kitab al-Amd yang disyarah oleh muridnya sendiri, Abul Husain al-Basri dan melahirkan karya al-Mu’tamad. Kitab Mu’tamad juga direspon baik oleh Qadhi Abu Ya’la dalam kitabnya, al-’Udah min al-Mu’tamad. Abu al-Hitab dan Abu al-Wafa’ bin Aqil adalah murid dari Abi Ya’la yang masing masing mengarang kitab al-Tamhid dan al-Wadhi fî Ushûl al-Fiqh. Di antara murid Ibnu Aqil yang cukup produktif adalah Ibnu al-Barhan, pengarang kitab al-Wushul ilal Ushul yang juga menginspirasi Syaikul Islam Ibnu Taimiyah untuk mengarang kitab al-Musawadah.
Setelah era Imam Juwaini, muncullah nama seperti Imam Ghazali yang sedikit banyak terpengaruh Qadhi Baqilani, Qadhi Abdul Jabar, Abul Husain al-Basri, dan Imam Juwaini dalam karyanya al-Mustasyfâ. Ibnu Khaldun memuji al-Mustasyfâ sebagai kitab terbaik yang pernah ditulis dalam Ushul Fiqh di samping al-Burhân karya Imam Juwaini. Kitab Mustasyfa sendiri diringkas oleh Abu Walid bin Rusyd (595), cucu dari Ibnu Rusyd, dalam kitabnya, Dharuratu fi Ilmi Ushûl dan Ibnu Rashiq (632) dalam Lubâbul Mahsûl fil Ilmi Ushûl. Di samping kedua ulama ini, Ibnu Qudamah mentashihnya dalam Raudhatunnâdhir dan disyarah oleh Soffiyuddin al-Hanbali dalam Qawâ’idul Ushûl wa Maâqidul Fushûl. Syamsuddin Ba’lidan muridnya, Tufi, lebih istimewa lagi karena mampu merangkumnya selama 10 hari dalam matan Ghayatul Itqân. Matan Gayatul Itqân menjadi bahan rujukan Ala’udin Kanani Asqalani dalam Sawadunnâdhir wa Siqâqu Raudatunnâdhir.Tidak ketinggalan Ibnu Badran dan Amin Syanqiti menyarah karangan Tufi dalam Nujhatu Khatir.
Kitab al-Mustasyfâ karya Ghazali mendapat perhatian besar generasi sesudahnya, seperti Khatib Bagdhadi dalam karyanya, Faqih wal Mutafaqih, meskipun isinya juga banyak mengandung pembahasan hadits, namun kaidah Ushuliyah juga tidak jarang kita jumpai pada kitab ini. Sandaran Bagdhadi dalam Faqih wal Mutafaqih adalah al-Risalah karya Syafi’i dan Tabshîrah karya Syairozi yang menjadi cikal bakal munculnya Allumâ’. Selain Khatib Bagdhadi, generasi ini juga memunculkan nama seperti Sam’ani dalam kitabnya, Qawâtiul Adilah sebagai tandingan terhadap kitab Taqwimul Adilah milik Abu Zaid Dabusi. Attankihât milik Syahrawardi juga muncul pada generasi ini.
Imam Fakhrurazi dan Saifuddin al-Amidi adalah dua nama besar setelah Ghazali, masing-masing mempunyai karya al-Mahsûl yang karakteristiknya adalah istidlal dan mu’aradah dan hampir mempunyai manhaj yang berbeda dengan kitab-kitab sebelumnya. Al-Mahsûl membidani kitab milik Tajuddin Armawi, al-Hâsil minal Mahsûl dan at-Tahsil minal Mahsûl karangan Sirajuddin Armawi. Di antara murid Armawi yang mengambil metode gurunya adalah Abdullah Muhamad bin Abad al-Asfahani, Najmuddin Qaswani, dan Tibrizi. Imam Qarafi al-Maliki juga mempunyai karangan Nafâisul Ushûl, Tankihkul Fushûl fi Ihtisaril Mahsûl. Saifudin al-Amidi mempunyai karya terkenal dalam Ushul Fiqh, di antaranya al-Ihkam fi Usulil Ahkam sebagai telaah dari kitab Mustasyfâ, Mu’tamad, dan Mahsûl.
Setelah Amidi dan Fakhrurazi muncullah Ibnu Hajib dengan kitabnya Muntahasûl wal Amal fi Ilmi Ushûl wa Jadal. Imam Baidhawi yang menyarah al-Hasil dan Mukshtasar kemudian melahirkan kitab Minhajul Ushul yang menjadi diktat di berbagai universitas Islam di dunia. Sedangkan yang menyarah kitab Minhaj milik Baidhawi adalah murid Fakhruddin Jaribridi dalam Siraj al-Wadaj. Imam al-Asnawi dalam Zawâidul Ushûl ‘ala Minhajil Ushûl yang menjadi diktat di fakultas syariah Islam al-Azhar. Tajuddin Subhi menyarah kitab milik Ibnu Hajib yang terbagi dalam dua kitab, Raf’ul Hajib anibni Hajib dan Ibhaj fi Syarhil Minhâj.
Setelah al-Subhi datang Imam Badrudin Zakarsyi dengan bukunya yang sangat komprehensif terhadap berbagai permasalahan yang berkaitan dengan Ushul Fiqh, muridnyalah sendiri yang melanjutkan estafetnya, yaitu Barmawai dalam kitabnya, Nabdhah Alfiyah Ushûlil Fiqh dan kitabnya yang berjudul Tahrir. Imam Syaukani dari San’a, Yaman, melahirkan karya Irsyâdul Fuhul ila Tahqiqil Haq min Ilmi Ushûl (disyarah oleh Sadiq Hasan Khan yang notabene adalah teman sendiri dalam kitab Ikhtisharil Irsyâdul Fukhul fi Khusûlil Ma’mul.
Demikian sedikit sketsa sejarah munculnya ilmu Ushul Fiqh dan kitab-kitab primer aliran Mutakallimin. Karakteristik penulisan metode ini lebih mengedepankan analisa ataupun rumusan-rumusan teoritis tanpa melihat perbedaan maupun persamaan terhadap masalah furu’iyah dan berusaha menghindarkan kefanatikan terhadap madzhab. Juga menjadi catatan bahwa thariqah Mutakallimin mempunyai metodologi kajian induktif terhadap nash. Di antara penganut metode ini Syafi’iyah, Mu’tazilah, dan Malikiyah.
Metode Hanafiyah atau dikenal sebagai metode fuqaha memunculkan nama Isa bin Aban dalam karyanya, Istbatul Qiyas, Khabarul Wakhid, Ijtihad ar-Ra’yu, Ishaq Syasi dalam kitab Ushûl Asyâsi, Abu Manshur al-Maturidi dalam kitabnya, Min Akhdi Syara’i fil Ushûl, Abdullah Karakhi dalam kitab Risalah fi Ushûl. Adapun kitab yang paling masyhur di antaranya adalah: Ushul Karakhi karya Abidillah bin khusain al-Kharahi (340), Ushûl al-Jasas karya Abu Bakar Ahmad bin Ali Rozi. Muncul juga kitab Ushûl Bazdawi dan Kanzul Wushul ila Ma’rifatil Ushul karangan Bazdaw. Abi Zaid Abdullah bin umar al-Dabusi mempunyai karangan fenomenal yaitu Taqwîmul Adillah yang sempat mendapat pujian oleh Ibnu Khaldun sebagai kitab terbaik dalam Ushul Fiqh selain mustasyfâ karangan Ghazali.

Pada abad ketujuh banyak sekali dijumpai sistem penulisan menggunakan metodologi akomodatif. Dinamakan akomodatif lantaran sistem kepenulisan kitab-kitab ini membahas kaidah-kaidah ushuliyah yang ditopang dengan argumentasi logis, kemudian melakukan studi analisis komparatif. Di antara kitab yang ditulis oleh para ulama ini seperti: Badi’unnidham al-Jami’ baina Ushulûl Bazdawi wal Ahkâm karangan Mudfiruddin bin Ali Aaati, Tankhihul Ushûl karangan Abdullah bin Mas’ud al-Hanafi, Jam’ul Jawami’ karangan Tajuddin bin Subkhi, dan Taqrir wa Tahbir karangan Muhamad Amirul Haj Halbi. Datang generasi setelahnya Muhibudin bin Abdussukur dalam kitab Muslim al-Subut, dan ‘Allamah Abdul Ali bin Nidhamuddin dalam kitabnya Fawatihurrahmah bi Syarhil Muslim ats-Tsubût. [islamaktual/sm/royanutsany/bersambung]

Saling Pengaruh Arab-India Dalam Sejarah Islam


oleh : Shubhi Mahmashony H.
Sejak masa Nabi Muhammad saw, Islam masuk ke India dengan cara penetration pacifique, yaitu relasi dagang yang terjalin di sepanjang pantai barat dan selatan. Situasi politik dan sosial di Asia Selatan ketika itu sangat penuh dengan konflik. Hal tersebut ditandai dengan sering terjadi peristiwa penindasan yang dilakukan oleh Kaum Brahmana terhadap masyarakat yang strata sosialnya lebih rendah dan para penganut Agama Budha. Kondisi kerajaan-kerajaan Hindu juga senantiasa diliputi konflik perebutan kekuasaan. Relasi politik antara India dengan Arab juga tidak berlangsung dengan baik. Hal tersebut diatasi oleh pasukan Islam yang dipimpin oleh Muhammad ibn Qasim yang sanggup membatu para golongan tertindas sekaligus memberikan harapan baru. Para penduduk asli India kemudian bersedia menganut Agama Islam. Periodisasi Islam di India dapat dibedakan sebagai berikut. Pertama, zaman Muhammad saw hingga Dinasti Ghuri. Kedua, zaman Kesultanan Delhi (1206 – 1526). Ketiga, zaman Dinasti Mughal (1526 – 1857). Keempat, zaman kolonialisme (Karim 2012, 255 – 256).
Proses islamisasi India dapat dibagi menjadi empat bagian, yaitu masa Nabi saw, periode al-Khulafa al-Rasyidun beserta Dinasti Umayah, Dinasti Ghazni, dan Dinasti Ghuri. Bangsa India sudah banyak yang bertempat tinggal di tanah Arab sejak zaman Nabi saw. Beberapa di antaranya sanggup menjadi tabib bagi ‘Aisyah ra yang kemudian menjadi khadimah-nya. Perhatian Nabi Muhammad terhadap India dibuktikan melalui Sabdanya, “Ada dua golongan umatku yang selamat dari api neraka. Salah satunya yang berjihad ke Hindia.” Nabi akhir zaman tersebut juga mengucapkan doa bagi India dan salah satu istrinya yang bernama Hind. Doa tersebut berbunyi, “Semoga Allah memberkati Hind ini dan negara yang mempunyai nama sama dengannya”. Penguasa Kadangalur, Pantai Malabar, yang bernama Cheraman Perumal, juga sempat menemui Nabi Muhammad setelah dia masuk Agama Islam. Belum ditemukan angka tahun yang menyebutkan peristiwa bersejarah tersebut. Beberapa ahli berpendapat bahwa kemungkinan hal itu terjadi pada sekitar tahun 630 – 631. Hal tersebut dianalogikan bahwa pada masa-masa itu Nabi yang juga Rasul ini telah berkomunikasi dengan luar negeri ditandai dengan keberadaan sejumlah kurir yang datang dan pergi.
Pada saat al-Khulafa al-Rasyidun memimpin sempat dilakukan invasi ke India, namun gagal karena sering terjadi peristiwa kapal tenggelam. Hal tersebut disebabkan bangsa Arab kurang menguasai ilmu kemaritiman. Khalifah kedua, yaitu Umar ibn Khattab, kemudian tidak mengizinkan pengiriman armada laut. Tentara Arab pada tahun 643 – 644 sukses menaklukkan Sizistan, Kirman, dan Mekran. Keberhasilan tersebut selanjutnya tidak ditindaklanjuti. Tentara Islam pada saat kepemimpinan Mu’awiyah bin Abi Sofyan sukses menguasai Kabul, Afghanistan. Peristiwa perompakan terhadap umat Islam sempat terjadi pada masa Walid ibn Abdul Malik di daerah otoritas Raja Dahir (Karim 2012, 256 – 257).
Ibnu Qasim diutus untuk menaklukkan Sind ketika dia masih berusia belia, yaitu 17 tahun. Pada awal tahun 700, Islam telah memasuki India dan berkembang pesat. Muslim India di kemudian hari dipimpin oleh Yazid ibn Abu Kabshah al-Suksuki, meskipun dia hanya mampu menjalankan amanat tersebut selama 18 hari disebabkan terjadi sejumlah Chaos. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh Karim (2012, 257 – 260) bahwa penyebaran Agama Islam lebih ditingkatkan daripada mengangkat penguasa baru.
Pada saat Dinasti Abbasiah mulai runtuh abad X, usaha penaklukan India selanjutnya dilakukan oleh Dinasti Ghazni tahun 977 – 1186. Sultan Mahmud, penguasa Ghazni, melaksanakan penaklukan dengan beberapa tujuan, yaitu politik, agama, dan ekonomi. Dia berkeinginan untuk mendirikan imperium Asia Tengah. Mahmud telah sukses melakukan akulturasi budaya antara Islam dan Hindu dan membuka pintu kemajuan Agama Allah di tanah India. Dinasti Ghuri selesai ceritanya setelah menaklukkan kawasan Punjab.
Muhammad ibn Qasim sukses membentuk komunitas yang aman dan tentram. Dia menyamaratakan antara orang Arab dan non-Arab meskipun status penduduk asli Sind menjadi minoritas dikarenakan Islam telah berkuasa. Invasi Ibn Qasim di India yang meliputi Multan dan Sind ternyata telah membuka pintu bagi masyarakat Arab untuk melakukan kontak dagang dan bermukim di Asia Selatan. Pemerintahan Islam di India sangat menerapkan asas toleransi dengan baik. Terbukti, sejumlah tempat ibadah yang sudah tidak utuh lagi semasa kontak senjata kembali diperbaiki dengan dana sepenuhnya dari penguasa kala itu. Saling pengaruh antara Arab dengan Asia Selatan juga meliputi bidang astronomi, astrologi, bahasa, kedokteran, filsafat, dan seni.
Kesultanan Islam di India dimulai pada tahun 1206 – 1596. Pada tahun 1206 – 1526 berdiri Kesultanan Delhi. Kesultanan Deccan berlangsung pada tahun 1490 – 1596. Agama Islam yang berasal dari Jazirah Arab mulai masuk ke wilayah India pada millenium pertama Masehi. Jasa orang India terhadap bangsa Arab juga besar. Salah satunya adalah ketika Monka, seorang tabib dari Asia Selatan, telah sukses menghilangkan penyakit yang diderita oleh Khalifah Harun al-Rasyid. Qutub alDin Aybek sukses mengaplikasikan Syariat Islam maskipun Umat Islam merupakan golongan yang sedikit jumlahnya (10%). Dikarenakan sikap konsisten dan gagasan kerukunan antar umat bergama yang dicetuskannya, maka Hasan Nizami, seorang penyair, ketika itu mengabadikannya dalam sebuah tulisan berjudul Taj al-Ma’athir. Para pelaku dagang, kaum mubaligh, penganut sufi, dan ilmuwan Islam yang bermigrasi ke India telah mampu mengembangkan khazanah peradaban dan pemikiran terutama di bidang tasawuf. Kebudayaan Sati Daho yang tidak sesuai dengan ajaran Islam tidak diperkenankan untuk diterapkan juga berkat usaha Umat Islam kala itu. Pelarangan ini sudah diusahakan sejak masa Ibn Qasim sampai periode kepemimpinan Mahmud, bahkan hingga ke zaman Kesultanan Delhi dan pemimpin Mughal, yaitu Aurangzeb. Peniadaan adat bakar diri yang dilakukan oleh istri ketika suaminya meninggal itu secara resmi dilakukan olehWilliam Bentick, seorang pemimpin Inggris. Al-Biruni menyatakan bahwa sistem peradilan Hindu masa lalu sangat tidak adil dari kaca mata manapun.
Bukti kontak budaya Arab dengan India dapat dilihat dari keberadaan beberapa hal. Antara lain adalah tentang Sultan Tipu yang hidup semasa dengan penjajahan Inggris dan sempat melakukan perlawanan terhadap bangsa Eropa. Bahasa Urdu juga bentuk akulturasi lain, yaitu terdapat beberapa persamaan dengan bahasa ataupun tulisan Arab. Prosesi perayaan Bulan Muharam juga dilakukan oleh masyarakat Muslim India. Mereka melakukannya bersama dengan pemeluk Hindu di Distrik Sangli, Maharashtra. Umat Muslim tampak begitu akrab dan menunjukkan kesan perdamaian meskipun beberapa waktu sebelumnya sempat marak peredaran lukisan Nabi Muhammad dan menyebabkan sejumlah ketegangan kecil.
Berbagai aspek budaya India juga telah terpengaruh oleh kebudayaan Arab, misalnya kerajinan, arsitektur, musik, tari, administrasi, seni lukis, tekstil, pakaian, masakan, dan perkotaan. Arsitektur Islam yang dikenalkan oleh para penguasa Muslim kala itu adalah meliputi benteng, istana kerajaan, tugu orang besar, dan masjid. Gaya utama arsitektur India yang terpengaruh oleh budaya Arab terdapat tiga jenis, yaitu Delhi/Imperial, Moghul, dan Provinsial. Beberapa dinasti telah menyumbangkan kekayaan budaya berupa arsitektural Islam, seperti Dinasti Khalji, Dinasti Tughlag, Dinasti Sayyid, dan Dinasti Lodi.
Salah satu peninggalan kebudayaan Dinasti Moghul adalah Makam Humayun di Delhi. Makam ini menyerupai masjid dengan keberadaan tiga buah kubah (dua kubah kecil dan satu kubah besar di tengah). Terdapat satu buah lengkungan (arch) besar di tengah, dua buah lengkungan sedang di sisi kanan dan kiri, serta beberapa lengkungan kecil pada bagian bawah. Makam ini mempunyai halaman yang sangat luas di depannya dipadu dengan sebuah kolam yang menjadikannya tampak semakin indah (Sektiadi. Disampaikan dalam matakuliah Arkeologi Asia Selatan Jurusan Arkeologi FIB UGM, 28 Mei 2008).
Tinggalan bersejarah dari Dinasti Suri adalah Makam Ser Shah Sur di Sasaram. Makam ini seperti halnya beberapa tempat peristirahatan terakhir di India berbentuk menyerupai masjid dengan keberadaan kubah baik yang besar maupu kecil di sekitarnya. Bangunan bersejarah ini terletak persis di pinggir sebuah sungai sehingga memperlihatkan pemandangan yang sangat elok. Makam tersebut terbuat dari bahan batuan andesit.
Pada masa Akbar yang paling terkenal dan menonjol adalah Jahangiri Mahal, Benteng Merah yang berada di Kota Agra. Benteng ini seperti namanya sudah pasti diketahui bahwa didominasi oleh warna merah bata. Arsitektural klasik khas India sangat kental pada bangunan ini. Bangunan klasik India kemungkinan hampir semua dihiasi dengan keberadaan kolam begitu juga di Benteng Merah. Pada bagian dalam dapat dijumpai tiang penyangga yang mirip dengan tumpang sari khas rumah joglo di Jawa.
Pada masa Shah Jahan Arsitektur Islam di Asia Selatan mencapai era keemasannya. Mayoritas bangunan terbuat dari bahan marmer. Pada bagian kubah berbentuk menyerupai bawang. Puncak kubah terdapat bentuk bunga teratai. Salah satu contoh peninggalan pada masa Shah Jahan adalah Shalimar Bagh di Lahore. Bangunan ini berbentuk gazebo dengan dikelilingi oleh kolam seperti halnya dengan material culture dari zaman Islam lainnya di Asia Selatan. Shalimar Bagh lebih tepat disebut sebagai kompleks taman. Bangunan monumental yang berasal dari masa pemerintahan Shah Jahan adalah Taj Mahal di Kota Agra. Sebuah kompleks makam yang dipersembahkan oleh Shah Jahan kepada istrinya sebaagai bentuk rasa cinta. Taj Mahal adalah salah satu dari 7 keajaiban dunia kategori warisan budaya.
Masa Aurangzib meninggalkan kekayaan budaya yang mendapat pengaruh Islam (Arab), yaitu keberadaan Bibi ka maqbara di Aurangabad. Kompleks ini sangat mirip dengan Taj Mahal. Apabila tidak cermat mengamati, maka orang akan mengiranya sebagai bangunan yang terletak di Kota Agra tersebut. Dilihat dari namanya, maka dapat diketahui juga bahwa Bibi ka maqbara merupakan sebuah kompleks makam.

Arsitektur Islam India yang bergaya provinsial adalah Hawa Mahall di Jaipur Rajashtan. Bangunan ini mirip dengan Colosseum di Kota Roma Italia. Hawa Mahall berbentuk seakan tersusun dari beberapa menara yang digabungkan. Bangunan ini berdiri menjulang dengan warna dominan coklat khas dari bangsa Mediteran. Pada setiap kolom hampir semua terdapat jendela kecuali pada bagian sisi kiri dan kanan bawah bangunan Hawa Mahall. [islamaktual/sm]

Din Syamsuddin : Bela Negara Tak Hanya Baris Berbaris dan Angkat Senjata


Terkait wacana program bela negara yang diumumkan oleh Menko Polhukam, Din Syamsuddin menilai bisa dilakukan dengan berbagai pendekatan. Seperti tidak menjual aset negara terhadap pihak luar juga termasuk bela negara.
“Bela negara tidak hanya sebatas baris berbaris atau angkat senjata. Itu bisa dilakukan dengan berbagai pendekatan dan pengejawantahan, sesuai dengan fungsi kita masing-masing,” ujar Din Syamsuddin saat ditanya wartawan di kantor MUI, Kamis (15/10) kemarin.
Ia beranggapan serangan yang terjadi sekarang lebih kepada serangan ekonomi dan politik. berharap program bela negara dapat mencegah individu yang berpotensi membocorkan rahasia negara. Sebab, tindakan yang menguntungkan pihak asing itu dapat meruntuhkan kedaulatan negara.
"Itu kan meruntuhkan kedaulatan negara, jangan memberi peluang asing terlalu banyak. Ini jangan-jangan pemerintah yang harus bela negara terlebih dahulu," pungkas Din.
Bela negara menurut mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah ini juga tak hanya dilakukan oleh masyarakat. Pemerintah juga harus melakukan bela negara. Menegakkan kembali trisakti Bung Karno menurut dia juga sebagai salah satu bentuk bela negara. [islamaktual]

Pasukan Iran Bantu Rezim Assad Serang Aleppo


Hizbullah dan Iran meluncurkan serangan ke Aleppo untuk membantu tentara rezim Suriah, Jumat (16/10) kemarin. Ini sebagai upaya memperluas serangan melawan Mujahidin anti Assad di Suriah Barat dengan dukungan dari serangan udara Rusia.
Aleppo, pusat komersial dan industri di dekat perbatasan Turki, adalah kota terbesar Suriah sebelum perang saudara empat tahun, yang tumbuh dari protes terhadap kekuasaan Assad. "Ini adalah pertempuran yang penting,"  kata sebuah sumber militer, Jumat (16/10) kemarin dikutip republika.co.id.
Serangan yang didukung oleh ratusan Hizbullah dan pasukan Iran ini menurut pejaat senior militer tersebut bertujuan untuk melemahkan pasukan Mujahidin anti Assad di bagian barat Suriah. Sebab daerah ini berbatasan langsung dengan titik dimana Assad tinggal.
Ini pertama kalinya Iran mengambil bagian pada skala lebih besar dalam konflik Suriah. Dimana ikut juga menurunkan tentaranya dalam pertempuran di lapangan.

Pada minggu terakhir media Iran melaporkan ada tiga perwira senior yang meninggal. Yakni Hossein Hamadeni, wakil komandan korps Pengawal Revolusi Iran yang tewas di dekat Aleppo seperti disebut kantor berita Iran Tasnim. Dua pejabat senior Hizbullah juga telah tewas di Suriah pada minggu terakhir, kata sumber keamanan Lebanon. [islamaktual]

WASPADA KANKER


Entah mengapa semakin banyak orang diidentifikasikan positif mengidap kanker. Walau sebelumnya tidak memiliki sejarah medis mengenai penyakit tersebut, kita tentu harus berhati-hati agar tidak terjangkit penyakit berbahaya ini. Berdasarkan penelitian dari Institut Kanker Nasional USA, 30% kasus kanker disebabkan rokok dan 30-50% kasus disebabkan makanan. Mungkin, hal inilah yang membuka mata kita. Pola hidup perkotaan yang semrawut dengan menu makanan tidak sehat (junk food) dan tingkat stres yang tinggi serta polusi udara, bisa saja memicu penyakit ini. Bila kita tidak waspada dari sekarang, kemungkinan beberapa dari kita merupakan calon pembawa kanker.
Kanker adalah  penyakit yang disebabkan pertumbuhan sel-sel jaringan tubuh yang tidak normal. Sel-sel kanker akan berkembang dengan cepat, tidak terkendali, dan akan terus membelah diri. Selanjutnya menyusup ke jaringan sekitarnya (invasive) dan terus menyebar melalui jaringan ikat, darah, dan menyerang organ-organ penting serta syaraf tulang belakang. Dalam keadaan normal, sel hanya akan membelah diri jika ada penggantian sel-sel yang mati dan rusak. Sebaliknya sel kanker akan membelah terus meskipun tubuh tidak memerlukannya, sehingga akan terjadi penumpukan sel baru dan sering disebut tumor ganas.
Penumpukan sel tersebut mendesak dan merusak jaringan normal, sehingga mengganggu organ yang ditempatinya. Kanker dapat terjadi di berbagai jaringan dalam berbagai organ di setiap tubuh, mulai dari kaki sampai kepala. Bila kanker terjadi di bagian permukaan tubuh, akan mudah diketahui dan diobati. Namun bila terjadi di dalam tubuh, kanker itu akan sulit diketahui dan kadang-kadang tidak memiliki gejala. Kalaupun timbul gejala, biasanya sudah stadium lanjut sehingga sulit diobati.
Perbedaan Tumor dan Kanker Tumor ada dua macam yaitu tumor jinak dan tumor ganas. Tumor jinak hanya tumbuh dan membesar, tidak terlalu berbahaya, dan tidak menyebar ke luar jaringan. Sedangkan tumor ganas tumbuh dengan cepat dan tidak terkendali serta merusak jaringan lainnya, inilah yang disebut Kanker.
Hal-hal yang perlu diketahui adalah:
  1. Tiap orang mempunyai sel kanker. Sel kanker ini tidak tampak dalam pemeriksaan standar sampai selsel ini berkembang biak hingga berjuta jumlahnya;
  2. Pada saat dokter memberitahu pasien, bahwa “tidak ada sel kanker lagi” setelah menjalani pengobatan, itu artinya pemeriksaan yang dilakukan sudah tidak dapat mendeteksi sel-sel kanker karena sel-sel tersebut sudah berada di bawah ukuran/jumlah yang dapat terdeteksi, bukan berarti sel-sel kanker tersebut sudah hilang;
  3. Sel kanker dapat tumbuh lebih cepat antara 6 sampai lebih dari 10 kali sel biasa;
  4. Pada saat kekebalan tubuh seseorang tinggi, sel-sel kanker akan dihancurkan dan dicegah sehingga tidak dapat bertambah banyak dan membentuk tumor;
  5. Pada saat seseorang menderita kanker, ini menunjukkan bahwa orang tersebut mengalami beberapa kekurangan nutrisi. Ini dapat terjadi karena faktor genetika, lingkungan, makanan dan cara hidup. Untuk menanggulangi kekurangan nutrisi dan memperkuat sistem kekebalan tubuh dapat ditempuh dengan mengubah diet (cara makan) dan menambahkan asupan suplemen;
  6. Kemoterapi, meracuni sel kanker yang bertumbuh cepat, tetapi pada saat yang sama juga menghancurkan pertumbuhan sel sehat dalam tulang sumsum, gastrointestinal tracts (saluran pencernaan), dan dapat menyebabkan kerusakan pada organ-organ lain, seperti hati, ginjal, jantung, paruparu dll;
  7. Radiasi, bersamaan dengan fungsinya yang menghancurkan sel kanker, juga menyebabkan luka bakar, meninggalkan bekas luka, dan merusak sel, jaringan tissu, dan organ yang sehat;
  8. Perawatan dini dengan kemoterapi dan radiasi dapat mengurangi ukuran tumor. Namun penerapan kemoterapi dan radiasi yang berkepanjangan tidak akan menghasilkan pengurangan tumor lebih lanjut;
  9. Pada saat tubuh menanggung beban racun yang berlebihan dari kemoterapi dan radiasi, sistem kekebalan tubuh akan terancam atau hancur, karena itulah seseorang akan mengalami berbagai macam infeksi dan komplikasi. Kemoterapi dan radiasi dapat menyebabkan sel kanker bermutasi dan menjadi tahan dan sulit untuk dihancurkan. Operasi juga dapat menyebabkan sel kanker menyebar ke tempat-tempat lainnya;
  10. Cara efektif untuk melawan kanker adalah dengan membuatnya kelaparan, yaitu dengan cara tidak memberikan makanan yang dibutuhkan dalam sel untuk dapat berkembang biak.

Setelah tahu seluk beluk kanker, maka ada beberapa hal yang bisa kita jalankan agar terhindar dari bahaya kanker, yaitu di antaranya, makan buah dan sayur lebih banyak dari biasanya. [islamaktual/sm/dr.tjaturprijambodo]

Visit Us


Top