Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Al-Quran mengisahkan cerita dua putera Nabi Adam as, Qobil dan Habil, dalam surah Al-Maidah 27- 32. Inti kisah, ketika dua bersaudara itu menginjak dewasa, Alloh Swt mensyariatkan nikah. Qobil akan dipasangkan dengan Labuda, wanita saudara kembar Habil. Sedangkan Habil akan dipasangkan dengan Iqlima, wanita saudara kembar Qobil. Qobil menolak ketentuan itu. Keduanya lantas disuruh berqurban. Siapa yang qurbannya diterima maka dia berhak menentukan siapa yang akan dijadikan isteri. Qurban Qobil ditolak. Qobil marah dan berniat membunuh Habil untuk mewujudkan keinginannya. Meskipun sudah dinasehati, Qobil tetap pada niat buruknya. Habil dibunuh.
Dari kisah tersebut kita menjadi tahu bahwa Qobil adalah manusia pertama yang berbuat dholim (melakukan pembunuhan atas manusia lain) dan Habil adalah manusia pertama yang menjadi korban kedholiman (dibunuh oleh manusia lain). Namun, ada aneka hikmah lain yang perlu kita waspadai dari sosok Qobil. Dari secuil kisah Qur’an di atas, kita dapat mengenal sosok dholiman sejati pada diri Qobil. Hal itu dapat ditilik dari beberapa perangai sbb.:
Melawan Syariat
Mula kisah dua insan putera Adam as ini yakni ketika mereka beranjak dewasa dan sudah memiliki hasrat untuk memiliki pasangan hidup. Kemudian Alloh Swt. mewahyukan kepada Adam as berupa tuntunan nikah bagi mereka. Qobil dan Habil setuju dengan perintah nikah itu. Secara lebih detail, Alloh Swt. mensyariatkan bahwa pernikahan itu dilakukan secara bersilang. Qobil dengan wanita saudara kembar Habil dan Habil dengan wanita saudara kembar Qobil. Aturan nikah silang tersebut ditolak oleh Qobil. Qobil tidak mau menikah dengan saudara kembar Habil tetapi ingin menikah dengan saudara kembarnya.
Mengandalkan Logika daripada Tuntunan
Dalam beberapa kisah imaginer dideskripsikan Qobil menolak nikah sebagaimana tuntunan Alloh Swt. karena calon istrinya tidak secantik calon istri Habil. Kekuatan logikanya dikedepankan dan mengalahkan tuntunan.
Tidak ikhlas Menjalankan Syariat
Penolakan Qobil menjadikan Adam as gundah. Sebagai solusi, kemudian Alloh Swt. memerintahkan agar kedua puteranya itu berkurban dengan mempersembahkan harta mereka untuk Alloh Swt. dalam qurban tersebut ada ketentuan bahwa barang siapa yang qurbannya diterima Alloh Swt. maka dialah yang berhak memilih wanita yang akan dinikahi. Adam as juga menasihatkan bahwa qurban itu harus dilaksanakan dengan ikhlas. Qobil dan Habil bersepakat, mereka menerima. Hal yang berbeda terjadi pada saat mereka melakukan qurban. Qobil mempersembahkan hartanya yang terjelek. Dia tidak ingin harta yang dicari dan dikumpulkannya dengan susah payah diberikan begitu saja secara cuma-cuma. Kekuatan logikanya dikedepankan. Adapun Habil mempersembahkan hartanya yang terbaik dan yang paling dia sukai. Dia berkeyakinan bahwa Allah hanya menerima korban dari orang-orang yang bertakwa (QS. Al-Maidah 27) yang menyerahkan dengan tulus ikhlas dari hati yang suci dan niat yang murni. Benarlah, persembahan Habil yang akhirnya diterima oleh Alloh Swt.
Dusta (ucapan dan perbuatan tidak sama)
Syariat qurban yang menunjukkan bahwa Habillah yang diterima. Sebagaimana kesepakatan, maka Habil berhak memilih pasangan hidup dan dia mengikuti tuntunan awal nikah. Pudarlah harapan Qobil. Namun Qobil tetap tidak puas dengan keputusan itu tetapi sudah tidak ada jalan untuk protes. Ia menyerah dan melampiaskannya dengan rasa kesal dan marah. Bahkan Qobil menaruh dendam terhadap Habil untuk dibunuh. Inilah, janji palsu ala Qobil. Tidak konsisten, tidak sportif.
Khianat
Berdasarkan hasil kurban, maka nikah silang menjadi ketetapan. Namun sebelum syariat itu dilaksanakan, konon Nabi Adam as mendapat perintah bersyafar. Sebelum pergi, Adam mengamanahkan rumahtangga dan keluarga kepada Qabil. Ia berpesan kepadanya agar menjaga baik-baik ibu dan saudara-saudaranya selama ketiadaannya. Qabil menerima amanat ayahnya dengan kesanggupan akan berusaha sekuat tenaga menyelenggarakan amanat ayahnya dengan sebaik-baiknya. Namun dalam hati, Qobil berkata bahwa ia telah diberi kesempatan yang baik untuk melaksanakan niat jahatnya dan melepaskan rasa dendamnya dan dengkinya terhadap Habil saudaranya. Benarlah, Qobil pun membunuh Habil. Qobil berkhianat atas amanat Adam as.
Melawan Orangtua
Qobil menolak perintah Adam untuk nikah silang, untuk berkurban dengan baik, untuk menjaga keluarga merupakan bukti melawan orangtua.
Menuruti Hawa Nafsu dan Ajakan Setan
Dorongan hasrat jiwa adalah sikap ambisi dan tamak. Siapa yang tunduk di bawah kendali syahwatnya maka akalnya bertekuk lutut dikalahkan nafsunya sehingga tersesat jalan hidupnya meskipun ia mengira jalan itu baik. Itulah Qobil.
Tidak Menerima Nasihat
Mengetahui niat dan perangai buruk Qobil, Habil tidak tinggal diam. Dengan tulus, lembut, dan cinta Habil menasehati Qobil tetapi Qobil menolak semua nasihat itu.
Penuh Rasa Iri, Dengki, dan Dendam
Qabil iri terhadap Habil. Nasibnya yang harus nikah dengan gadis jelek, qurban yang tidak diterima, dan merasa lebih pantas daripada Habil. Semua itu menjadikan Qobil dengki dan dendam ke Habil.
Tidak Mau Berpikir/Merenungi Akibat
Dalam nasihatnya kepada Qobil, Habil sudah mengingatkan bahwa jika Qobil melaksanakan niat buruknya maka ia akan menjadi penghuni neraka dan menjadi orang yang merugi. Namun tidaklah ketulusan, kasih sayang, kelembutan, dan kecintaan Habil dalam nasihatnya itu mampu mengobati kedengkian dan memadamkan gejolak api di hati Qobil. Tidaklah juga rasa takut kepada Alloh Swt, dan menjaga hak-hak kedua orang tua merubah hati orang yang pertama kali berbuat dosa di muka bumi ini.
Berbuat Jahat
Qobil benar-benar melaksanakan niat buruknya. Dia membunuh Habil. Membunuh adalah termasuk dosa besar. Itu adalah kejahatan berat dan keluar jauh dari sendi-sendi kemanusiaan yang hanya memperturutkan hawa nafsu.
Bohong
Beberapa hari setelah pulang dari shafar Adam as tidak melihat Habil. Sang ayah merasa khawatir sesuatu telah menimpa anaknya. Adam as pun bertanya kepada Qabil, ”Di mana saudaramu, Habil?” Qobil menjawab dengan cueknya, ”Aku bukanlahlah wakil dia. Bukan penjaga dia dan bukan juga perawat dia.” Jawaban yang bukan hanya bohong tapi juga licik. Jawaban itu sama halnya mempertanyakan kapabiltas Adam as sebagai ayah atas anak-anaknya. “Itu tugas ayah, bukan aku. Kok ayah nanya ke aku?”, begitu kira-kira isi otak Qobil.
Tidak Menyesal
Jawaban Qobil atas tanya Adam as tetang ketidakadaan Habil menunjukkan bahwa Qobil tiada sesal atas aksi bunuh ke Habil. Laku ini cermin tiada hasrat untuk taubat.
Tidak Bertanggung Jawab
Adam as akhirnya mengetahui bahwa Habil telah dibunuh oleh Qobil. Takut akan kemaharahan Adam as setelah tahu Habil dibunuh olehnya, Qobil melarikan diri. Sebuah laku ciri khas sang sosok pengecut. Bukannya berani mempertanggungjawabkan tindak buruknya, malah cuci tangan.

Benar, Qobil adalah dholiman 100%. Bukan sekedar sosok yang tertolak qurbannya dan pembunuh manusia, akan tetapi juga pelaku keburukan lainnya. [islamaktual/bambangedip.]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top