Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Pria berjanggut panjang dengan helm berwarna merah menyolek jamaah asal Pakistan yang hendak melewati pagar pembatas antara Bab Hijrah dan Bab Syamiyah di areal King Abdullah, Masjidil Haram, Rabu (2/9). Saat itu, saya dan teman-teman dari Media Center Haji (MCH) sedang menjajal akses dari bangunan baru ke bangunan lama Masjidil Haram.
Dari janggutnya, saya tidak menyangka dia orang Indonesia. Apalagi, dia berbicara bahasa urdu dengan orang-orang Pakistan itu. Saya mengetahui dia orang Indonesia setelah mengamati wajah melayu. Juga, ketika dia menyapa kami. "Nama saya Sudirman. Ingat saja Jenderal Sudirman," kata dia sembari tertawa, seperti dikutip republika.co.id.
Sudirman yang memiliki kemampuan berbahasa Indonesia, Arab, Inggris, Turki, dan Urdu, ini mengaku ditempatkan di Bab Umrah untuk memandu jamaah ke areal mataf. "Ini bukan daerah aman, masih ada pekerjaan," kata dia.
Saya pun penasaran apakah dia ditempatkan di wilayah itu karena kemampuan berbahasanya. Namun, dia menampik itu. Biasanya, Sudirman bekerja di bagian keselamatan pekerja (safety worker). Perusahaan yang bertanggung jawab terhadap perluasan Masjidil Haram mengerahkan ratusan petugas untuk membantu jamaah.  
Lalu, pria asal Sukabumi asal Jawa Barat ini bercerita perasaan senangkarena jamaah asal Indonesia sudah mulai masuk ke Makkah sejak Ahad, 30 Agustus 2015. "Sebelumnya saya terus bertanya-tanya, mana ini jamaah Indonesia kok belum masuk. Makanya saya senang pas Minggu mulai ada jamaah Indonesia," kata dia.
Selama berbicara dengan kami, dia banyak mengembangkan senyum dan memamerkan deretan giginya yang rapi. Dia juga berulang kali mengucapkan syukur dapat bekerja di Masjidil Haram. Mantan pekerja Pertamina di Balongan itu mendapat kesempatan bekerja di Masjidil Haram sekitar 1,5 tahun lalu.
Sudirman mengatakan tidak ada kebahagian yang dapat disandingkan dengan bekerja di Baitullah. Masjidil Haram memungkinkan dia bekerja sekaligus beribadah. Bahkan, dia dapat melaksanakan ibadah haji tahun lalu. "Masya Allah, ini seperti mimpi jadi kenyataan. Saya sudah 1,5 tahun di sini," kata dia.
Selepas berbicara dengan Sudirman, saya dan teman-teman MCH melangkah masuk ke jalur penghubung bangunan baru dan lama Masjidil Haram. Di jalur penghubung, seseorang berwajah melayu menyapa kami. “Halo, Indonesia,” kata dia.
Sayangnya, saya tidak sempat berbincang panjang dengan dia. Sebab, dia harus segera ke areal pembangunan. Dia hanya sempat menyatakan bahwa kami akan sering bertemu pekerja asal Indonesia di Masjidil Haram. “Banyak sekali, ada dari Lombok, Sumatra, Jawa, Sulawesi. Ada semua,” kata dia.
Namun, baru beberapa langkah, saya sudah menjumpai lagi wajah Indonesia. Namanya Asep Yunus (45 tahun). Pria asal Cirebon, Jawa Barat, itu langsung menyapa begitu melihat kami. Seperti halnya Sudirman, Yunus juga banyak menebar senyuman. “Selalu senang bisa bertemu dengan orang Indonesia di sini,” ujar dia.
Yunus juga tidak henti-hentinya mengucapkan syukur dapat bekerja di rumah Allah sekaligus membantu jamaah asal Indonesia. Sebelum berangkat ke Makkah satu tahun lalu, dia bekerja sebagai sopir angkutan kota (angkot) di Cirebon.
Dia berhenti bekerja sebagai sopir ketika ada tawaran untuk menjadi tenaga kerja di Indonesia (TKI). Di Makkah, dia bekerja dalam dua shift. Pada shift pagi, dia akan bekerja mulai pukul 06.00 sampai 17.30 waktu Arab Saudi. “Itu termasuk istirahat zuhur dan ashar. Banyak istirahtanya,” kata dia.
Sudirman, Yunus, dan wajah-wajah Indonesia yang tinggal di Makkah juga sangat membantu memberi panduan mengenai kompleks Masjidil Haram yang sangat luas. Jamaah haji asal Indonesia dapat bertanya pada mereka tanpa kendala bahasa.
Saya pun teringat pada malam pertama jamaah haji asal Indonesia tiba di Makkah. Kala itu, teman-teman MCH mengantar kelompok kecil jamaah asal Medan ke area mataf. Seorang di antara jamaah itu menggunakan kursi roda sehingga mereka berhara bisa melakukan tawaf, yaitu mengelilingi ka’bah, di lantai dua atau lantai tiga.
Area tawaf untuk pengguna kursi roda itu memang cukup dekat dengan ka’bah sehingga jarak putaran tidak terlalu jauh dan melelahkan. Juga, area itu masih cukup lengang. Karena bingung jalur ke tempat mataf di lantai dua, seorang pekerja asal Indonesia menghampiri kami dan bertanya ingin ke mana. Dia pun memberi petunjuk sekaligus menjelaskan area tawaf di lantai dua sedang ditutup. Tapi, kami bisa naik lift untuk ke area mataf di lantai 3.

Keberadaan wajah Indonesia sekaligus membuat saya tenang. Tanah suci yang berjarak ribuan kilometer dari rumah pun serasa menjadi ‘tanah air’. Apalagi, jamaah Indonesia semakin mudah ditemui di masjid terbesar di dunia itu. [islamaktual]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top