Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Humbleness (tawadhu')
Tawadhu' adalah antithesis dari keangkuhan (kibr). Sedangkan keangkuhan adalah salah satu karakter yang paling terancam di neraka. Rasulullah mengancam: "tidak masuk surga barangsiapa yang di hatinya ada keangkuhan sebesar atom".
Tawadhu' esensinya adalah merendahkan hati tanpa menilai orang lain, bahkan makhluk lain sekalipun, kurang dari kita. Kenapa demikian? Karena apapun kelebihan yang ada pada kita itu juga sekaligus pertanda adanya kekurangan-kekurangan pada kita. Sebab kita memang tersadarkan akan ketidak sempurnaan kita, bahkan di saat kita merasakan adanya kelebihan sekalipun.
Ada sebuah pepatah yang pernah dahulu dihafalkan oleh seluruh santri di pesantren: "jangan sekali-sekali kamu sesuatu yang kamu pandang kecil (enteng). Karena sesungguhnya pada segala sesuatu itu ada kelebihan". Anjing adalah anjing. Tapi Allah melebihkan daya ciumnya. Kucing adalah kucing. Tapi Allah berikan kelebihan dalam penglihatan. Seorang yang buta tidak melihat. Tapi dia memiliki rasa yang lebih. Demikian seterusnya.
Rendah hati itu sesungguhnya memiliki dua cabang yang terpisahkan. Pertama adalah mengakui kekurangan dan kelemahan. Dan yang kedua menghargai bahkan mensyukuri kelebihan orang lain.
Orang yang sombong adalah orang yang akan selalu merasa sempurna. Merasa bahwa dia tidak pernah ada kekurangan dan kesalahan. Bahkan lebih berbahaya ketika tahu dirinya salah tapi mencari cara untuk nampak benar.
Orang yang sombong juga selalu menutupi kelebihan orang lain. Bahkan yang terjadi adalah meremehkan kelebihan yang Allah berikan kepada orang. Yang paling berbahaya adalah ketika kelebihan orang lain (berusaha) dibalik dan dipahami secara negatif.
Untuk itu, marilah kita semua belajar rendah hati, walaupun tidak perlu rendah diri. Rendah hati itu mulia. Tapi rendah diri itu kehinaan.
Semua manusia punya kelebihan dan juga kekurangan. Itu adalah sunnatullah dalam ciptaanNya. Dan karenanya kemauan mengakui kekurangan (kesalahan) merupakan bagian dari "kemuliaan". Sebaliknya mengingkari kekurangan atau kesalahan adalah arogansi yang berbahaya. Maka dalam Islam langkah taubat yang pertama adalah al-i'tirah atau pengakuan.
Sayangnya manusia seringkali berusaha menjadi apapun untuk dijadikan justifikasi pembenaran atas kesalahan yang dilakukannya. Celakanya, ketika diingatkan justru yang terjadi adalah sikap sensitif dan amarah.
Tentu di balik dari kekurangan kita itu terdapat kelebihan-kelebihan pada orang lain. Maka rendah hati juga adalah kesadaran mengakui bahkan menghargai kelebihan orang lain.
Sayang juga karena seringkali ego dan arogansilah yang menjadikan kita tertutup hati untuk mengakui kelebihan-kelebihan orang lain. Bahkan keangkuhan pula yang menjadikan kita kadang mencari cara agar kelebihan orang lain tertutupi.
Sungguh dalam dunia yang dipenuhi oleh berbagai intrik kepentingan, termasuk politik, sikap tawadhu' semakin hilang. Seringkali nafsu kekuasaan menjadikan seseorang yang awalnya idealis menjadi seperti kehilangan rasionalitasnya di saat egonya tersentuh. Sensitif dan cepat tersinggung, menyalahkan atau mencari kesalahan orang lain demi menyelamatkan wajah.

Oleh karenanya, sunnah Rasul untuk tawadhu' perlu kembali dibangun. Sehingga sunnah yang terlupakan (the forgotten sunnah) ini dapat kita hidupkan kembali. Semoga! [islamaktual/imamshamsiali]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top