Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Al-Amin (Trustworthy)
Kejujuran itu tanda iman. "Tak ada iman pada seseorang yang tidak jujur", titah baginda Rasulullah SAW.
Dalam dunia yang penuh kompetisi ini manusia cenderung membenarkan segala cara untuk memenangkan kepentingan masing-masing. Tak peduli lagi apakah cara itu benar (haq) atau salah (batil). Yang penting bagaimana bisa mencapai kepentingannya.
Dalam situasi demikianlah, kejujuran kemudian menjadi semakin menipis. Manusia rakus untuk berkuasa maka maka segala cara, termasuk manipulasi rakyat, akan dilakukan. Manusia rakus untuk kaya, korupsi merajalela. Bukan karena mereka miskin. Tapi memang kejujuran dan hati nurani mengalami mati suri.
Kita diingatkan oleh kisah Musa di Madian, daerah tempat tinggal nabi Syuaeb. Ketika Musa memperlihatkan kejujuran, bahkan dalam menolong mereka yang termarjinalkan, putri nabi Syuaeb jatuh hati. Salah satu alasannya adalah karena kejujuran Musa AS.
Di mana letak kejujuran beliau? Kejujuran itu ada pada kejujuran hati untuk membantu putri Syuaeb mengambil air dari sungai. Bukan untuk dipuji. Bukan pula untuk kepentingan tertentu. Tapi membantu karena wanita itu dalam dunia yang male dominant termarjinalkan.
Maka sang putripun mengusulkan kepada ayahnya untuk melamar Musa AS menjadi menantunya dengan mengatakan: "sungguh sebaik-baik orang yang engkau pekerjakan adalah yang kuat dan jujur". Dan yang dia maksud adalah Musa AS.
Mungkin agak berbeda dari banyak orang masa kini. Seringkali bahkan kebaikan-kebaikan yang kita lakukan penuh dengan ketidak jujuran. Seringkali dilandasi oleh berbagai kepentingan sesaat. Perhatikan betapa baiknya para politisi kita di saat kampanye. Tapi kebaikan itu terhenti di saat telah menang, apalagi kalah dalam pemilihan.
Bagi seorang Muslim kejujuran dalam segala sesuatu mutlak sifatnya, selama iman masih di dada, kenujuran harus ada. Jujur di saat menang atau sukses. Tapi juga tetap jujur di saat berada dalam situasi yang kurang menguntungkan.
Sejak kecilnya Rasulullah SAW telah dijuluki sebagai "al-amin" atau yang dipercaya. Gelar yang menjadi karakter dan kepribadian Rasul ini menjadi "trademark" kerisalahan beliau. Beliau memiliki amanah sehingga calon isterinya ketika itu, Khadijah RA, jatuh hati. Dan banyak lagi contoh dalam kehidupan nyata beliau.
Umat Islam saat ini mengalami banyak krisis. Tapi salah satu krisis yang besar adalah krisis amanah (kejujuran). Menyedihkan misalnya ketika kita melihat daftar negara-negara terkorup di dunia banyak di antaranya di urutan atas adalah negara-negara dengan penduduk Muslim mayoritas.
Krisis kejujuran bahkan menimpa sebagian aktifis dan mereka yang merasa memperjuangkan agama ini. Beberapa kali saya menemukan berita atau gambar yang dimanipulasi dengan tujuan (seolah) mendukung perjuangan Islam.
Mungkin contoh terdekat adalah tulisan saya baru-baru ini tentang acara Dewan Gereja New York dan gubernur Jakarta. Betapa entengnya sebagian aktifis itu mempoles, menambah bahkan merubah tulisan saya untuk mendukung misi mereka atas nama perjuangan Islam.
Sikap seperti ini sungguh paradox dengan etika Islam. Bahwa dalam bersikap, khususnya atas nama Islam dan perjuangan Islam, etika Islam mutlak dijunjung tinggi. Memperjuangkan Islam dengan menginjak-injak etika Islam justeru tidak akan menguntungkan Islam dan perjuangan. Sebaliknya akan merugikan dan merusak Islam dan perjuangannya.
Kejujuran itu tidak mengenal Islam atau bukan Islam. Kita diwajibkan jujur kepada semua manusia apapun latar belakangnya. Karena jujur adalah ketauladanan Rasul yang bersifat universal.

Maka being honest atau trustworthy itu adalah sunnah terpenting Rasulullah. Sayangnya ini pula salah satu sunnah yang sering terabaikan (forgotten) saat ini. [islamaktual/imamshamsiali]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top