Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Komunikasi bijak
Dalam kehidupan manusia komunikasi menjadi bagian terpenting dan menentukan dalam hidupnya. Komunikasi bisa menyebabkan perang. Tapi dengan komunikasi pula perdamaian dapat diciptakan.
Di awal S. Ar-Rahman disampaikan empat pilar kehidupan manusia. Selain rahmah (kasih sayang) Allah yang menentukan segalanya, Al-quran sebagai petunjuk hidup yang bermakna, sadar diri sebagai manusia, juga disebutkan bahwa "al-bayaan" atau komunikasi juga menentukan apakah hidup manusia itu akan baik atau buruk.
Rasulullah SAW sendiri adalah ahli komunikasi yang ulung. Beliau dengan bahasa sederhana dan singkat mampu meyakinkan lawan bicaranya, walau tidak harus menerima semua yang beliau sampaikan. Menerima atau menolak itu terkait dengan petunjuk Allah yang bersifat mutlak.
Beliau sendiri mengajarkan untuk selalu berkomunikasi secara wajar. Dalam bahasa haditsnya: khatibunnas qadra uquulihim. Berkomunikasilah kepada semua orang sesuai kadar kemampuan memahami. Qadra uquulihim di sini bisa bermaksud beberapa hal, antara lain bahasa yang dipahami, isinya jelas dan sederhana, dan yang terpenting atraktif dan tidak negatif.
Dari sekian makna "qadra uquulihim" itu adalah menyampaikan komunikasi dengan sikap bijak dan santun. Seruan Al-quran sangat jelas dalam hal ini: ajaklah ke jalan Tuhanmu dengan bijak (bil hikmah) dan nasehat yang baik (mau'ifzah hasanah).
Komunikasi yang bijak itu selalu mengedepankan sisi-sisi positif dalam segala hal. Sebagai contoh, ketika anda didatangi seorang Kristen untuk belajar Islam maka cara terbaik mengkomunikasikan Islam kepada mereka dengan tidak menyalahkan mereka terdahulu akan keyakinan mereka.
Sebaliknya justeru mengapresiasi mereka bahwa mereka telah mengimani dan mencintai Isa AS. Penekanannya adalah bahwa kita umat Islam tidak kalah dari mereka dalam keimanan san kecintaan kepada Yesus. Yang berbeda secara mendasar kemudian adalah ketika teman-teman Kristiani ada yang mengimaninya sebagai tuhan atau inkarnasi tuhan, atau sebagai anak tuhan.
Poin tentang kesalahan dengan menjadikan Melabelkan ketuhanan kepada Isa itu menjadi poin terakhir. Kenapa terakhir? Karena jika diawali dengan itu maka komunikasi selanjutnya tidak akan lagi menarik. Selain itu, sebagai poin terakhir itu yang aman lebih teringat.
Tidak kalah pentingnya tentunya adalah bahwa walaupun menyampaikan kesalahan yang ada pada mereka, jangan sampai memakai komunikasi "buldozer". Komunikasi yang kasar dan merusak. Bahasa orang beriman itu adalah bahasa peradaban dan selalu santun. Rasulullah SAW sungguh sangat sopan dan santun dalam setiap kata yang meluncur dari mulut beliau.
Kesimpulannya adalah bahwa komunikasi bijak, santun dan mengendepankan hal-hal positif, itu merupakan mutiara ketauladanan dari Rasulullah SAW. Sayangnya ketauladanan ini adalah satu dari sekian ketauladanan (sunnah) yang terlupakan (the forgotten).
Semoga kita bisa belajar berkomunikasi dengan lebih bijak. Sehingga dakwah benar-benar dakwah (mengajak, mengundang). Bukan sebaliknya justeru dengan bahasa yang kasar dan negatif, dakwah menjadi "at-tord" atau pengusiran. Semoga tidak! [islamaktual/imamshamsiali]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top