Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Sunnah itu merupakan interpretasi dari bagian kedua syahadat kita. Jika bagian pertama adalah tauhid, maka bagian kedua mencakup secara keseluruhan urgensi "sunnah" dalam kehidupan umat. Artinya ketidak pedulian kepada rasul merupakan juga ketidak pedulian kepada syahadat itu sendiri. Maka mengingkari eksistensi sunnah merupakan pengingkaran kepada syahadah dan keimanan.
Dilemanya kemudian adalah ketika sunnah dipahami secara parsial dan sepotong-sepotong. Pada ghalibnya umat memahami sunnah sebagai "ketauladanan" dalam hal-hal ritual keagamaan. Sebagian pula memahaminya sebagai "ketauladanan" pada sisi kehidupan lahir rasulullah SAW. Begitu intens umat ini menauladani rasul dalam urusan ibadah ritual sehingga seringkali terjadi perselisihan (tanaazu') yang membawa kepada perpecahan.
Sementara sisi-sisi lain dari "ketauladanan" (sunnah) seringkali diabaikan atau dilupakan (forgotten). Salah satu ketauladanan yang utama dan menjadi kebutuhan mendesak umat masa kini adalah "karakter" atau ketauladanan dalam praktek-praktek sosial rasulullah SAW. Ketauladanan atau sunnah pada sisi kehidupan rasulullah SAW seperti ini lebih dikenal dengan "al-akhlaqul karimah" rasulullah SAW.
Ketika kita berbicara tentang akhlaqul karimah maka kita berbicara tentang hubungan "antar-makhluk" (social dealings). Dengan demikian, sunnah yang paling sering terabaikan atau terlupakan dalam kehidupan umat masa kini adalah sunnah-sunnah yang berkaitan dengan urusan antar makhluk (social dealings), yang lazimnya dikena dalam agama dengan istilah "mu'amalat".
Al-akhlaqul karimah dan umat
Sejujurnya dengan merujuk kepada situasi umat masa kini, sunnah Al-akhlaqul karimah ini menjadi lebih krusial. Umat sedang teruji tidak saja pada tataran akidah dan ritualnya. Tapi yang terparah adalah prilaku sosialnya. Dan ini pulalah oleh sebagian dipergunakan sebagai alat "black campaign" terhadap Islam.
Perhatikan ketika umat sedang diuji dalam menghadapi isu-isu yang berkembang atau tepatnya dikembangkan untuk menguji sikap adil dan rasionalitas dalam berpikir. Kasus pembakaran Al-quran misalnya telah memicu amarah dan sikap yang tidak perlu dari umat ini. Ada yang membakar gedung, membunuh biarawati, bahkan membunuh beberapa staf PBB yang tiada bersalah itu.
Reaksi di luar batas merupakan indikasi kelemahan sikap dan karakter. Pada segala sesuatu ada "batas-batas" (huduud) yang harus dijaga. Kegagalan menjaga batas-batas sekaligus menandakan lemahnya iman.
Di saat Islam dipersepsikan secara sistimatis sebagai agama kekerasan, agama yang tidak bisa bersahabat, agama yang kaku, agama yang mengedepankan permusuhan, maka sunnah (ketauladanan) rasul dalam bersikap dan berprilaku menjadi sangat krusial. Hanya dengan mengedepankan sunnah Al-akhlaqul karimah itu peperangan persepsi dapat dihadapi secara bijak oleh pemeluk agama ini.
Beberapa ketauladanan Al-akhlaqul karimah yang sering terabaikan oleh umat ini, antara lain:
Al-izaah az-zatiyah (self dignity)
Iman itu adalah kunci kemuliaan. Merasa beriman tapi tidak merasa mulia berarti sebuah pengakuan palsu. Manusia itu dunianya ada di hatinya. Ketika iman telah memenuhi hatinya maka selebihnya tidak lagi memiliki kebesaran apapun di atas dirinya.
Bilal disiksa secara fisik oleh musuhnya tapi hatinya merdeka dan mulia dengan "Al-Ahad". Kekuarga Yasir disiksa di padang pasir oleh musuh-musuh Islam. Tapi hari mereka mulia dengan laa ilaaha illa Allah. Demikian para pejuang yang dipenjara berkata: kamu boleh memenjarakan jasad ini tapi kamu tidak akan pernah merampas kemerdekaan dan kemuliaan dalam hati ini.
"Walillahil izzatu waliRasulihi walilmu'minin". Bahwa memang kemiaan itu adalah milik Allah, RasulNya dan orang-orang yang beriman.
Umat jangan terlupakan dengan ketauladanan "kejiwaan" yang selalu mulia. Bukan karena sekedar dimuliakan oleh manusia. Tapi yang maha penting karena dimuliakan oleh Pemilik langit dan bumi.
Akibat minimnya ketauladanan "self dignity" ini menjadikan umat mengalami penyakit "self inferiority complex" (rasa minder atau rendah diri). Umat seringkali merasa kalah sebelum dikalahkan oleh siapa-siapa. Bahkan seringkali silau dengan orang lain, walaupun capaian orang lain itu belum tentu yang terbaik.
Al-istiqrarul al-qalbi (unshakeable)
Iman itu bagaikan pohon yang sehat, tumbuh subur dan kokoh. Akarnya menghunjam ke dalam tanah, tidak akan tergoyahkan oleh derasnya angin yang bertiup. Namun ranting dan dahangnya tinggi menggapai ketinggian langit. Dan memberikan buah-buah segar setiap saat kepada makhluk sekeliling.
Jiwa yang mudah goyah, terbawa arus pergerakan angin suasana alam sekitar pertanda kosong dari iman yang sesungguhnya. Kehadiran iman dalam hati akan menjadi "al-urwah al-wutsqa" bagi pemiliknya. Dia akan menjadi pegangan yang kokoh sehingga tidak mudah terhanyut dan terjatuh dalam pergerakan arus gelombang kehidupannya.
Umat saat ini sedang berada dalam arus pergerakan gelombang kehidupan yang dahsyat. Minimnya "pegangan yang kuat" (al-urwatul wutsqa) itu menjadikan umat ini begitu mudah terbawa arus pergerakan keadaan tersebut. Mudah terbawa arus amarah dan emosi di satu sisi. Tapi juga mudah terbawa arus "zona nyaman" di sisi lain. Marah karena ada yang membuat gambar kartun Nabi Muhammad saw misalnya. Tapi lupa akan kemungkaran yang semakin menggunung karena sudah berada dalam dunia Islam yang nyaman.
Al-ihtimam (focus)
Manusia hidup dalam dunia yang penuh "distractions" (gangguan). Kemajuan teknologi, khususnya di bidang telekomunikasi menjadikan hidup menusia mengalami degradasi fokus. Dalam satu majlis seringkali manusia terpecah kepada berbagai perhatiannya.
Perhatikan di saat anda berbicara dengan anak remaja, bahkan pasangan (suami-isteri). Atau sekedar berbicara dengan teman atau sedang dalam pertemuan di kantor. Tidak jarang teman bicara atau pertemuan anda itu juga sekaligus memainkan HPnya. Mungkin sedang mencari info atau memang sedang merespon teman lainnya di sosial media.
Bagi seorang Muslim iman itu adalah fokus. Fokus kepada visi hidup yang satu: "li ibaadatillah wahdaH" (untuk mengabdi kepada Allah Yang Maha Tunggal). Fokus dalam menjalani hidup menuju kepada kemenangan. Yaitu meraih ridho dan rahmatNya. Bahwa hidup secara iman itu tidak akan terpecah-pecah alias orientasi. Kehidupan yang hanya membawa kebingungan (confusion).
Ketauladanan rasul dalam bersikap fokus dalam menghadapi semua masalah dunia juga berarti tidak mudah bereaksi tanpa orientasi dan tujuan yang jelas, termasuk pertimbangan "manfaat-mudhorat" dari setiap pilihan yang diambilnya.

Umat saat ini kehilangan ketauladanan fokus ini. Sehingga terkadang mudah terbawa arus, reaktif dan tanpa pertimbangan matang. Bahkan seringkali merespon berbagai peristiwa dengan tujuan yang tidak jelas. Perhatikan cara-cara membangun kebersamaan yang umumnya dibangun di atas dasar emosi. Tapi jarang kemudian ada langkah-langkah sistimatis dalam membangun kebersamaan yang "result oriented". Setelah berkumpul puluhan bahkan ratusan ribu di lapangan, orasi dengan retorika yang hebat, seolah telah mencapai kemenangannya. Atau saya menyebutnya sebagai kehebatan umat ini kumpul-kumpul (ijtima') tapi gagal membangun kesatuan (jama'ah). [islamaktual/imamshamsiali]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top