Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Ia terperanjat. Bahkan amat terperanjat. Lehernya serasa tercekat.Tak ada kata-kata. Ia trenyuh. dadanya terasa sesak. Tak tahan, ia tak sanggup lagi menahan tangis, yang akhirnya membasahi pipi dan jenggotnya.  Benar-benar ia, Amirul Mukminin Umar ibn Khatthab radhiyallahu ‘anhu, tak habis pikir dengan apa yang didengarnya. Bagaimana mungkin Gubernurnya ini, Sa’id bin Amir al-Jumahiy radhiyallahu ‘anhu, bisa demikian gambaran keadaannya.
Semuanya bermula ketika utusan dari Himsh (Homs) datang menghadap Amirul Mukminin Umar ibn Khatthab, menyampaikan beberapa informasi terkait daerahnya. Sang Khalifah pun meminta agar mencatat nama-nama penduduk Himsh yang fakir, untuk dipenuhi kebutuhan mereka oleh negara.
Mereka pun kemudian mencatat nama-nama yang diminta Khalifah tersebut. Ada banyak deretan nama yang terdaftar. Hanya saja, Khalifah tertuju pada satu nama.
“Sa’id bin Amir siapa ini?” tanya Khalifah.
“Gubernur kami,” jawab mereka ringkas.
“Gubernur kalian (termasuk) juga fakir?” tanya Khalifah lebih detail.
“Benar. Bahkan Wallahi, entah sudah berapa lama, tungku api dapurnya tak menyala,” jawab mereka.
Jawaban yang disertai sumpah inilah, yang akhirnya memecah tangis Umar r.a.
Hanya saja, kisahnya tak berhenti disini. Meski akhirnya Umar radhiyallahu ‘anhu mengirim uang seribu dinar dalam kantung kain kecil, sembari menitip salam buat Gubernur Sa’id bin Amir radhiyallahu ‘anhu.
***
Ia terperanjat. Bahkan amat terperanjat. Sesaat setelah para utusan memberikan kantung berisi uang tadi, yang dititipkan Amirul Mukminin Umar bin Khatthab kepadanya.
“Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un,” kaget Gubernur Sa’id sembari menjauhkan kantung uang itu darinya setelah melihat isinya, seakan-akan isinya adalah ular berbisa yang amat mematikan.
Dari dalam, istrinya tergesa-gesa keluar.
“Ada apa wahai Sa’id? Apakah Amirul Mukminin wafat?” istrinya mencari tahu.
“Bahkan (masalahnya) lebih besar lagi,” tukas sang suami.
“Apakah muslim (Himsh) dalam bahaya?” kembali sang istri mencari kejelasan.
“Lebih besar lagi,” jawab suaminya.
“Apakah yang lebih besar itu?” istrinya penasaran.
“Dunia telah memasuki diriku untuk merusak akhiratku, dan fitnah telah masuk ke dalam rumahku,” jawabnya kembali.
“Bebaskan dirimu darinya (kalau begitu keadaannya),” sang istri belum tahu perihal uang pemberian Amirul Mukminin itu.
“Kamu bisa membantuku untuk itu?” sang suami balik bertanya.
“Ya…” jawab istrinya mantap.
Akhirnya Gubernur Sa’id mengambil dinar-dinar itu, membaginya ke dalam beberapa kantung kecil, untuk diberikan kepada beberapa muslim fakir. Potret pemimpin yang kepentingan rakyatnya benar-benar di atas segalanya. Tak ada kepentingan dan tendensi apa-apa, itu murni dari dalam hatinya, yang dipenuhi oleh cahaya iman.
Dan bukti akan hal itu menjadi semakin jelas, ketika diminta bersikap transparan, atas empat “pelanggaran” yang selama ini menjadi tanda tanya besar kebanyakan rakyatnya, sesaat ketika Khalifah Umar bin Khatthab berkunjung ke Himsh.
“Menurut kalian, bagaimana kinerja Gubernur kalian?” Khalifah Umar memulai dialog.
Khalifah Umar menyimak benar setiap ucapan dan keluhan masyarakat Himsh. Selanjutnya, Sang Khalifah mengumpulkan mereka bersama Gubernur Sa’id dalam satu sidang akbar.
“Apa yang kalian keluhkan dari Gubernur kalian?” Khalifah Umar memulai pertanyaannya.
“Gubernur tak keluar mengunjungi kami kecuali jika hari telah siang,” jawab mereka mantap.
“Apa jawabanmu tentang hal itu wahai Gubernur Sa’id?” Khalifah Umar menoleh kepadanya.
Gubernur terdiam sesaat. Ia paham betul, jawabannya bukan konsumsi publik. Namun meski begitu, ini permintaan khalifah.
Wallahi, sungguh aku tak ingin mengungkapkan hal ini, namun (mau bagaimana lagi), jika memang semestinya menuntut jawaban. Istriku tak punya pembantu. Itulah setiap pagi aku membuat adonan, kutunggu sebentar hingga mengembang, kemudian kubuat menjadi roti. Nanti setelah itu, aku berwudhu dan keluar menemui manusia.” jawaban yang apa adanya, tak ada yang ditambah-tambah atau dikurangi.
“Apalagi keluhan kalian?” tanya khalifah selanjutnya.
“Gubernur tak menerima tamu di malam hari,” jawab masyarakat Himsh.
“Tentang hal ini, apa tanggapanmu wahai Gubernur Sa’id?” tanya khalifah.
Wallahi. Sungguh ini pun aku tak senang kuungkapkan di hadapan khalayak. Aku telah menjadikan jatah siangku untuk mereka (rakyat Himsh), dan malam harinya untuk Allah azza wa Jalla.” Lagi-lagi, jawaban dari hati seorang hamba, yang jujur dalam muamalahnya dengan Rabbnya.
“Apalagi keluhan kalian?” kali ketiga Khalifah Umar bertanya pada rakyat Himsh.
“Dalam sebulan, ada saja satu hari yang ia tak keluar menemui kami,” jawab mereka.
“Dan ini, apalagi wahai Gubernur Sa’id?” Kali ketiga khalifah bertanya pada gubernurnya.
“Aku tak ada pembantu wahai Amirul Mukminin. Dan aku tak punya baju, kecuali yang melekat saat ini. Dalam sebulan, aku mencucinya hanya sekali. Setelah baju kering di sore hari, aku pun lalu keluar menemui mereka.” Perlahan semuanya menjadi jelas.
“Apalagi?” Ini kali terakhir Khlaifah Umar bertanya.
“Gubernur sering pingsan, hingga tak tahu lagi siapa yang duduk di majelisnya,” jawab mereka.
“Kalau ini apa wahai Gubernur Sa’id?” tanya khalifah terakhir kalinya.
“Aku telah menyaksikan eksekusi mati sahabat Khubaib ibn ‘Adiy. Aku masih musyrik ketika itu. Dalam kondisi badan yang terpotong ia ditanya, “Kamu ingin Muhammad menggantikanmu sekarang?” Namun ia malah berkata dengan mantap, Wallahi, aku tidak akan merasa tenang bersama istri dan anakku, sementara Muhammad tertusuk duri…” Dan Wallahi, setiap aku teringat peristiwa itu, dan keadaanku yang tidak menolongnya, seakan-akan aku menyangka bahwa Allah takkan mengampuni kesalahanku. Itulah, sehingga aku jatuh pingsan.”
Semuanya tersingkap sudah. Teka-teki yang membuat penasaran banyak rakyat Himsh, akhirnya terjawab juga.
Seketika itu Khalifah Umar bin Khatthab memuji Allah.
“Segala puji hanya bagi Allah, yang tidak menyimpangkan dugaanku terhadapnya.”
Ridha Allah SwT bagimu wahai Gubernur Sa’id. Betapa engkau telah mengajari kami, bahwa bukan sebatas kerja dan pelayanan yang menjadi kewajiban seorang pemimpin. Bahkan jauh ke atas sana, pemimpin sekaligus membutuhkan asupan “nutrisi”, sebagai suluh yang menerangi jiwa, yang membuatnya tegar melawan godaan, sekaligus mengantarnya menuju ridha Rabbnya.
Bahwa hakikinya pemimpin itu, apapun amanah kerjanya, orientasinya berpusat pada pengabdian. Pengabdian kepada Allah, dan pengabdian kepada siapa pun di bawahnya.
Bahwa sejatinya pemimpin itu, adalah yang hubungan baiknya kepada rakyat dan bawahannya, sebaik hubungannya dengan Tuhannya Tabaraka wa Ta’ala.

Jika bisa disebut itu Pemimpin Rabbany, maka Gubernur Sa’id adalah satu teladan terbaik bagi negeri kita hari ini. Wallahu waliyyu al-taufiq. [islamaktual/tabligh]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top