Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Salah satu ujud ketauhidan manusia adalah cinta pada Allah SwT (“tauhid cinta”). Karenanya, manusia perlu dididik untuk mengaktualisasikan “tauhid cinta”. Cinta kepada Allah itu harus murni dan tulus. Allah tidak diduakan. Bercinta dengan Allah tidak boleh dibarengi dengan perselingkuhan teologis.
Tauhid cinta harus dibuktikan dengan kesediaan dan ketulusan berkurban. Salah satu pendidikan tauhid cinta ini melalui Ibadah Qurban.
Ibadah Qurban merupakan salah satu jejak Nabi Ibrahim as. Nabi Ibrahim as diperintahkan oleh Allah “menyembelih” anak kandung yang sangat dicintainya, Ismail as.
Mengapa yang dikurbankan itu adalah yang dicintainya? Karena, manusia seringkali terjebak pada cinta dunia, cinta harta, cinta anak, cinta wanita, dan cinta kekuasaan, sementara lupa adanya cinta abadi, yaitu cinta ilahi.
Selain itu, qurban (yang berarti pendekatan diri) juga merupakan tolok ukur cinta seorang hamba kepada Tuhannya. Jika panjang jarak dan luas diukur dengan meter, kilometer, atau mil, berat diukur dengan kilo, kuintal, dan ton, kadar emas diukur dengan karat, maka kadar cinta kepada Allah diukur dengan keikhlasan hamba mengurbankan “Ismail” yang dimiliki dan sekaligus dicintainya.
Singkatnya, jangan berharap meraih cinta sejati atau cinta ilahi, jika tidak ada pengurbanan yang ikhlas sepenuh hati! Pengurbanan sangat perlu untuk membuktikan adanya cinta.
Kadar cinta Ibrahim kepada Allah yang luar biasa tulus itu terbukti membuahkan cita-cita yang indah. Ismail tidak jadi disembelih, tetapi diganti oleh Allah dengan domba yang besar.
Hal ini juga memberi pelajaran bahwa manusia, seperti Ismail, yang dicita-citakan ayahnya untuk meneruskan perjuangannya, tidak layak dikurbankan. Terlalu mahal manusia untuk dijadikan kurban. Biarlah hewan-hewan saja yang dikurbankan, agar manusia tidak lagi berperilaku seperti hewan kurban.
Jadi, pengurbanan Ibrahim menunjukkan bahwa manusia harus dihormati, dihargai, dicerdaskan, diberdayakan, dan dicerahkan masa depannya. Bukan disikapi dengan kekerasan, penindasan, pelecehan, apalagi dijadikan sebagai kurban.
Jadi, kurban sejatinya adalah humanisasi, penyelamatan manusia agar tidak dikurbankan atas nama pembangunan, atas nama kepentingan ideologi tertentu, dan sebagainya.
Demikian pula dalam ibadah hai, jamaah haji juga belajar mengaktualisasikan tauhid cinta. Ini terlihat dalam episode Mina dalam menjalankan ibadah haji. Setelah jamaah haji itu meraih ‘arafah insaniyyah dan ‘arafah ilahiyyah, jamaah haji perlu dididik untuk mengaktualisasikan “tauhid cinta”.
Karena itu, demi tauhid cintanya itu, jamaah haji harus siap berjuang dan berkurban di Mina dengan melempar jumrah. Mina berarti cinta dan cita-cita. Nabi Ibrahim as diperintahkan oleh Allah SwT “menyembelih” anak kandung yang sangat dicintainya, Ismail as sebagaimana diaktualisasikan dalam ibadah Qurban.
Karena itulah, hakikat Idul Adha dengan anjuran menyembelih hewan bukanlah terletak pada darah yang dialirkan dan daging yang dimakan atau dibagikan, melainkan pada ketulusan cinta dan takwa hamba kepada Allah. Allah berfirman:
22_37.png
Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi takwa dari (lubuk hati)mu lah yang dapat mencapainya.” (QS. al-Hajj [22]:37).
Dengan demikian, qurban sejatinya merupakan aktualisasi tauhid cinta. Ibadah qurban merupakan ujian kehidupan sekaligus tolok ukur cinta hamba yang harus dimodali ketulusan hati, kebersyukuran, dan kesabaran.
Dengan tauhid cinta Ilahi sejati, kita diharuskan mampu mengorbankan egoisitas. Karena itu, tidak mungkin mencintai Allah, apabila lebih mencintai egoisitas dan individualitas, baik berupa cinta anak, cinta harta, cinta tahta, dan sebagainya.

Sebaliknya, apabila kita mampu mencintai Allah melebihi cinta kita kepada yang lain, niscaya kita juga akan dapat mencintai dan menyayangi sesama. Artinya, dengan mengurbankan nafsu kebinatangan dan egoisitas, kita akan dapat meraih cinta Allah; dan dengan cinta Allah itu kita akan dapat meraih cita-cita luhur dan mulia dalam hidup ini. Itulah esensi aktualisasi tauhid cinta! [islamaktual/sm/muhbibabdulwahab]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top