Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Sangat mungkin di antara kita baru merasa terhenyak setelah mendengar pertanyaan seperti dalam judul tulisan di atas. Orang baru berpikir ulang setelah mendengar pertanyaan tersebut. Mengapa hal semacam itu terjadi? Sebab, rata-rata kita ini mungkin kurang peka mendalami pertanyaan-pertanyaan tentang realitas hidup ini, terutama hal-hal yang tergolong pertanyaan yang bersifat “dalam”. Tekanan hidup yang cenderung menuntut sikap pragmatis ini yang menyebabkan menurunnya hal-hal yang bersifat “dalam” (mendasar, hakiki) tersebut.
Sesungguhnya kalau kita mau menyempatkan sedikit, apalagi banyak-banyak, melakukan renungan dibalik proses kelahiran kita di alam dunia yang fana ini, tentu kita akan menemukan betapa besar tanda-tanda kekuasaan Allah SwT, Tuhan kita. Tanda-tanda kekuasaann-Nya yang begitu besar akan mengingatkan betapa kecil dan betapa lemah posisi dan keadaan kita. Anda masih merasa kurang percaya terhadap pernyataan tersebut? Cobalah ikuti dengan seksama uraian berikut ini.
Allah SwT dalam al-Qur’an berfirman dan firman ini turun pada masa awal kenabian Nabi Muhammad saw, yaitu bahwa manusia (al-insaan) diciptakan Allah SwT dari “alaq” Allah SwT berfirman (QS. al-’Alaq [96]:1-2): iqra’ bi-’smi rabbika-’lladzii khalaqa khalaqa-’l- insaana min ‘alaqin = Bacalah (wahai Muhammad) dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang (Dia) telah menciptakan, yaitu (Dia) telah menciptakan manusia dari ‘alaq. Cobalah kita renungkan! Apa yang disebut ‘alaq disini? Kitab Al-Qur’an dan Terjemahnya terbitan Departemen (sekarang diubah menjadi Kementerian) Agama Republik Indonesia menerjemahkan kata “alaq” ini dengan: segumpal darah. Sementara itu, menurut Dr. Muhammad Ali Akbar dalam bukunya yang berjudul Human Development as Revealed in The Holy Quran and Hadith (The Creation of Man Between Medicine and The Quran) yang kemudian telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Penciptaan Manusia Kaitan Ayat-Ayat Al-Qur’an dan Hadits dengan Ilmu Kedokteran (2001), dikatakan bahwa kata “alaq” terjemahan harfiahnya adalah “sesuatu yang menempel dan melekat”, yaitu zigot (embrio manusia paling awal) yang menempel dan melekat di dinding rahim seorang wanita calon ibu. Kata “alaq” yang diterjemahkan secara harfiah inilah yang lebih mudah dipahami dalam ilmu keturunan dan ilmu kedokteran modern.
Marilah kita sekarang menelusuri lebih mendalam tentang ‘alaq ini. Untuk menjelaskan hal tersebut kita pakai buku karangan Dr. Muhammad Ali Akbar di atas. Seperti telah dimaklumi bersama, bahwa secara alamiah adanya manusia dapat lahir ke dunia ini disebabkan adanya pertemuan antara sel benih dari pihak laki-laki (ayah) yang disebut spermatozoa atau mani dan sel benih dari pihak perempuan (ibu) yang disebut ovum atau sel telur. Bentuk spermatozoa meliputi bagian kepala (mengandung benih genetis atau sifat keturunan dari pihak ayah) yang berbentuk bulat agak lonjong, bagian tengah (mengandung persediaan energi yang disebut mitokondria sebagai sumber kekuatan untuk berenang dengan cepat), dan bagian ekor (yang memungkinkan spermatozoa mampu melakukan perjalanan dengan berenang mulai dari mulut rahim (serviks) sampai ke tuba falopi). Besarnya bagian kepala dari spermatozoa tidak lebih dari 6 (enam) mikron (0,6 mm) atau 6 (enam) kali 1/1.000 (seperseribu) milimeter. Untuk melihat secara jelas seekor spermatozoa ini diperlukan mikroskop berkekuatan tinggi. Selanjutnya, ovum atau sel telur tampak seperti bulatan bagaikan bulan purnama yang dikelilingi oleh mahkota yang bersinar (korona radiata). Mahkota bersifat ini dapat dikatakan sebagai dinding pelindung ovum yang tidak begitu mudah ditembus oleh bagian kepala dari spermatozoa yang membentur-benturkan diri terhadap dinding pelindung ovum tersebut. Besarnya ovum ini kurang lebih120 (seratus dua puluh) mikron (0,120 mm) atau 20 (dua puluh) kali lipat besarnya bagian kepala spermatozoa suatu sel yang terbesar dalam tubuh manusia umumnya.
Apa yang terjadi dalam proses pertemuan antara spermatozoa dan ovum tersebut? Dikatakan dalam buku di atas bahwa setiap pria (suami) yang bersenggama dengan wanita (istri), maka ketika dia ejakulasi (mengeluarkan benih laki-laki/mani) ternyata yang dikeluarkan tersebut mengandung tidak kurang dari 200-300 juta sel/spermatozoa yang kalau dilihat secara mata telanjang banyaknya cairan spermatozoa tersebut tidak lebih dari satu sendok teh. Sungguh luar biasa kenyataan tersebut! Mari kita ikuti terus kejadian luar biasa ini. Seperti telah dibuktikan dalam ilmu keturunan dan ilmu kedokteran, 200-300 juta sel spermatozoa di atas harus menempuh jarak dalam saluran telur (tuba falopi) yang panjangnya + 12 cm. Sebab, pada ujung saluran telur itulah untuk setiap bulan wanita (istri) mematangkan 1 (satu) telur saja yang siap dibuahi. Ketika spermatozoa harus berenang di saluran telur sepanjang 12 cm tersebut, kecepatan berenangnya adalah 2-3 mm/menit. Jadi waktu perjalanan yang ditempuh oleh spermatozoa yang berhasil masuk ke saluran telur adalah - 40 menit (12 cm/120 mm:3 x 1 menit = 40 menit). Namun jarak ini masih harus ditambah dengan jarak antara mulut rahim (serviks) ke mulut saluran telur yang tidak kurang dari 7,6 cm. Itu berarti perjalanan spermatozoa memerlukan waktu tambahan lagi tidak kurang dari 25 menit (7,5 cm/75 mm:3x1 menit=25 menit). Oleh karena itu, secara teoritis seekor spermatozoa harus berenang mulai dari mulut rahim (serviks) sampai dengan ujung tuba falopi tempat sel telur (ovum) tidak kurang memakan waktu 65 menit (1 jam lebih 5 menit). Sungguhpun gambarannya seperti itu, namun untuk berjuang bertemu dengan sel telur tersebut tidaklah mudah. Pertama, ada mulut rahim. Paling tidak 50 juta sel spermatozoa mati sebelum mencapai mulut rahim. Di mulut rahim sendiri terdapat sekresi kelenjar pelumpuh spermatozoa yang kurang sehat dan tidak gesit. Akibatnya lebih dari 50 juta sel yang mati karenanya. Kedua, spermatozoa yang tersisa harus berjuang keras menghadapi sekresi asam yang terdapat dalam ruang rahim si calon ibu. Di situ berjuta-juta spermatozoa tidak berhasil bertahan hidup. Ketiga, ketika kelompok-kelompok spermatozoa yang masih bertahan sedang memasuki saluran telur untuk menuju ujungnya (tuba falopi) dengan berbagai penghambat yang ada. Oleh karena itu perjuangan berat tersebut memberikan akibat, bahwa dari 200-300 juta sel spermatozoa selepas ejakulasi, yang berhasil bertahan hidup dan mengitari sel telur (ovum) untuk berjuang keras menembus dinding sel telur tingal 400 sel spermatozoa saja. Yang lainnya mati dalam perjalanan dan perjuangan.
Selanjutnya, 400 sel spermatozoa yang tertinggal masih harus berjuang pada ronde terakhir. Ketika sel-sel spermatozoa tersebut berhasil mendekati, bahkan mengerubuti sel telur (ovum), terdapat kejadian yang luar biasa pada sel telur ini, yaitu ia berputar pelan-pelan dengan gerak putar yang berlawanan dengan gerak putar jarum jam. Gerak putar ini seperti gerak putar bumi terhadap matahari, gerak putar elektron mengelilingi inti atom, dan gerak putar orang-orang Muslim yang sedang melakukan thawaf (mengelilingi bangunan Kakbah di Mekah). Karena adanya gerak putar ini dan ditambah lagi daya tahan dinding sel telur yang melindungi sel telur tersebut, maka diantara 400 sel spermatozoa yang berhasil menembus dinding sel telur dan bagian kepala spermatozoa tersebut masuk ke dalam sel telur hanyalah 1 (satu) spermatozoa saja. Setelah itu, bekas dinding sel telur yang jebol segera tertutup kembali dan terbentuk dinding tebal yang tidak dapat ditembus lagi. Setelah bagian kepala spermatozoa berhasil masuk ke dalam sel telur, maka sifat dari benih laki0laki mulai aktif dan mulai terjadi apa yang disebut “pembelahan sel” menurut deret ukur (1 menjadi 2, 2 menjadi 4, 4 menjadi 8, 8 menjadi 16, 16 menjadi 32, dan seterusnya). Sambil terjadi pembelahan sel tersebut, sel yang telah terbuahi tersebut didorong oleh rambut-rambut halus yang ada dalam saluran telur menuju ke rahim. Sel yang telah terbuahi tersebut menjadi semacam bola (blastula). Blastula inilah yang kemudian tiba di ruang rahim dan melekat yang dalam bahasa Al-Qur’an disebut “alaq” di atas. Allahu Akbar!
Dengan mengikuti secara seksama dari sebagian proses terjadinya ‘alaq di atas, kita akan menyadari bahwa, pertama, ternyata tidak begitu mudah terjadinya ‘alaq dalam rahim seorang calon ibu. Sebanyak ratusan juta sel spermatozoa yang harus mati dalam perjalanan dan perjuangan untuk mendekati dan masuk ke dalam sel telur calon seorang ibu. Hanya satu yang berhasil! Kedua, seluruh proses seleksi terhadap sekian ratus juta sel spermatozoa memungkinkan ditemukannya sel spermatozoa yang terbaik, terkuat, dan teruji, agar nanti kalau menjadi jabang bayi akan menjadi manusia yang baik, kuat, teruji juga sebagai modal untuk menghadapi perjuangan hidup lebih lanjut. Ketiga, konsekuensi dari dua butir tersebut, maka pada hakikatnya kelahiran manusia di alam dunia yang fana ini adalah mulia, sangat berharga, dan dikehendaki oleh Allah SwT yang antara lain, untuk menunjukkan kemahabesaran Allah SwT. Oleh karena itu, sangatlah bertentangan dengan hakikat kelahiran manusia yang sebegitu mulia, berharga, dan penuh keridlaan Allah SwT kalau sampai ada kecenderungan suka kekerasan seperti dewasa ini. Misalnya dengan begitu gampangnya orang membunuh orang lain, cenderung menggugurkan kandungan (aborsi) karena sekadar menutup aib, membunuh bayi yang dilakukan oleh ibunya sendiri dengan cara mencekik, membuang di selokan atau tumpukan sampah atau dibuang ke sungai, memperkosa untuk memuaskan hawa nafsu seksualitas, pelacuran yang dijadikan salah satu unsur komoditas hiburan, perkawinan dari kelamin sejenis (homoseksualisme dan lesbianisme), dan sebagainya. Inilah satu sisi kenyataan bertentangan dengan keharusan luhur dari kelahiran manusia di alam dunia ini.
Hal kedua yang juga bertentangan dengan keharusan luhur dari kelahiran manusia di atas adalah seperti yang disitir al-Qur’an (QS. Yaasin [36]:77) seperti berikut: awalam yara-’l-insaana annaa khalaqnaahu min nuthfatin fa idzaa huwa khashiimun mubiinun = Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami telah menciptakan manusia itu dari nuthfah, maka (lalu) tiba-tiba manusia tersebut menjadi penantang (Tuhan) yang nyata. Kata nuthfah di sini mengandung pengertian nuthfatun amsyaajun (air mani yang telah tercampur), yaitu antara spermatozoa dan ovum (sel telur).
Tidak jarang setelah seseorang lahir ke alam dunia ini, jangankan berterima kasih kepada kedua orangtuanya dan bersyukur kepada Tuhan, malah sebaliknya, yaitu tidak hormat kepada orangtua (suka membangkang, tidak menjaga nama baik orangtua, suka menyia-nyiakan arahan yang baik dari orangtua) dan membangkang serta melawan terhadap Tuhan, seperti suka melanggar larangan Allah SwT, tidak disiplin dalam beribadah, bahkan tidak jarang meremehkan Allah SwT ketika sedang menghadapi segala nikmat yang dianugerahkan-Nya. Manusia-manusia seperti ini jelas tidak dikehendaki Allah SwT dan sama sekali tidak sejalan dengan isi pesan dalam al-Qur’an. Bagi seorang manusia yang sungguh-sungguh beriman kepada Allah SwT, justru proses kelahiran manusia di alam dunia ini menjadi fokus perenungannya. Dengan cara seperti itu, orang yang beriman tersebut akan senantiasa menghargai kehidupan dan sekaligus makin bertambah-tambah kekagumannya terhadap kemahabesaran kekuasaan Allah SwT.

Bagaimana dengan anda? Wallahu a’lam bishshawaab. [islamaktual/sm/m.damami]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top