Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Profesor Ahmad Syafii Ma’arif pernah menyatakan dalam jurnal ilmiah Prisma beberapa puluh tahun lalu, bahwa umat Islam berhenti berpikir selama ratusan tahun. Tahun 2009, pemikir dan Ketua PP Muhammadiyah periode 2000-2005 itu, masih juga bertanya, “mengapa kemudian umat Islam berhenti berpikir selama ratusan tahun?” Cendikiawan muslim ini seolah tak pernah berhenti gelisah tentang perkembangan dunia keilmuan dan pemikiran kaum muslim, yang dipandangnya masih tertinggal. Dia bahkan menawarkan jalan gerakan ilmu.
Dalam semangat kesyukuran, sebenarnya umat Islam Indonesia saat ini jauh lebih berkembang dalam ranah keilmuan dan pemikiran. Kini bahkan lahir genre pemikiran yang disebut liberal di sebagian kalangan muslim, yang banyak menimbulkan kontroversi sekaligus stigma dalam arus pemikiran kontemporer. Dunia pendidikan Islam pun jauh lebih maju, sehingga pendidikan Islam yang memadukan muatan agama dan ilmu pengetahuan umum sudah menjadi paradigma umum di kalangan umat Islam.
Padahal dulu, ketika pendiri Muhammadiyah, Kyai Haji Ahmad Dahlan menggagas pendidikan Islam modern dengan sistem klasikal model baru, justru memperoleh penentangan keras dan dituding sebagai meniru Barat. Barat sang penjajah dan kafir. Pembaruan Ahmad Dahlan bahkan oleh Charles Kutrzmen dikategorisasikan sebagai mewakili genre kaum revivalis Islam liberal, karena pemikiran dan gerakannya berbeda dari arus utama yang masih dikungkung oleh tradisionalitas dan konservativisme yang jumud.
Kini kaum muslim dan umat manusia sejagad hidup dalam dunia modern tahap lanjut yang sangat dinamis. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta pemikiran semakin pesat, yang melahirkan banyak inovasi yang spektakuler. Dunia posmodern menjadi corak kehidupan masyarakat di abad ke-21 ini. Dalam kehidupan yang serba maju di era baru ini maka menjadi keniscayaan bagi umat Islam untuk hadir secara proaktif dalam karya-karya pembaruan yang lebih unggul. Unggul bukan hanya dalam mengimbangi tetapi lebih jauh mampu menghadirkan apa yang disebut Tariq Ramadan sebagai al-badil al-tsaqafy, suatu peradaban alternatif.
Agenda strategis pendidikan kaum muslimin yang masih belum tuntas dan memerlukan pembaruan terus menerus ialah dalam usaha mencerdaskan umat secara cemerlang untuk mengejar defisit peradaban akibat berhenti berpikir selama ratusan tahun sebagaimana tesis Buya Syafii. Kita masih tertinggal dalam bernalar kritis dan mengembangkan iptek. Sebagai umat Muslim sesungguhnya agak malu misalnya, pada setiap tahun harus berselisih dalam menetapkan awal Ramadhan, Syawwal, dan Dzulhijjah. Hal itu karena sebagian kita terkungkung oleh pemahaman kaku atas teks hadits yang sesungguhnya dapat ditafsir ulang. Padahal urusan yang diperselisihkan itu justru berkaitan dengan fenomena alam tentang kehadiran bulan baru sebagai sunatullah yang eksak dan absolut, bukan semata ikhtilaf ubudiyah belaka.

Bandingkan dengan kepastian kalender Miladiyah yang setiap kehadiran tanggal baru atau bulan barunya tidak lagi diperselisihkan. Sementara umat Islam harus menyicil melihat bulan baru setiap jelang Ramadhan, Syawwal, dan Dzulhijjah tiba, yang kenyataannya juga selalu sulit dilihat. Ini persoalan penggunaan nalar keilmuan yang objektif dan fundamental. Yang memerlukan pemahaman baru sekaligus menjadi strategi umat dalam percaturan peradaban. Ketika peristiwa alam yang eksak dan absolut di alam raya kita pahami dengan nalar verbal yang terbatas. Atau dengan menggunakan disket lama yang penuh ketidak pastian, maka umat Islam menjadi tampak tertinggal ratusan tahun hanya untuk urusan menentukan awal bulan baru. Belum termasuk untuk urusan-urusan lain yang berkaitan dengan rancang-bangun peradaban Islam ke depan di tengah peradaban-peradaban lain yang telah maju ratusan tahun. Disinilah pentingnya strategi pendidikan nalar Islam yang berkemajuan, bukan yang berkejumudan. [islamaktual/almanar/haedarnashir]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top