Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Siapa yang membaca data dan fakta tentang dampak buruk peredaran dan penyalahgunaan narkoba di Indonesia, pasti akan menyimpulkan bahwa Indonesia sedang darurat narkoba. Dalam pernyataannya pada pembukaan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Badan Narkotika Nasional (BNN) awal bula Februari lalu di Jakarta, Presiden Joko Widodo menegaskan bahwa situasinya sudah sangat darurat.
Menurut data yang dipaparkan oleh Jokowi, dalam setahun sebanyak 18 ribu orang tewas akibat narkoba. Itu berarti dalam sehari ada 50 orang korban yang meninggal. Data BNN menunjukkan, saat ini ada 4,2 juta pengguna narkoba dan diprediksi tahun 2015 ini bisa mencapai angka 4,5 juta jiwa. Sepanjang tahun 2010-2014 ada sebanyak 134.117 kasus narkoba.
Menurut Kepala Bagian Humas BNN, Slamet Pribadi dalam wawancaranya dengan Harian Nasional, bila mengacu kepada penelitian tahun 2014, kerugian akibat narkoba mencapai Rp 63,1 triliun, meliputi kerugian sosial Rp 6,9 triliun dan pribadi Rp 56,1 triliun. Dan untuk rehabilitasi korban narkoba, pada tahun 2014 pemerintah telah menghabiskan anggaran Rp 50 triliun lebih.
Bahaya narkoba sungguh mengerikan. Ia beredar dan memakan korban bukan saja di kalangan orang dewasa, pelajar, mahasiswa, dosen, tetapi juga di kalangan anak-anak sekolah dasar. Ia masuk ke segala lini profesi dan jabatan, mulai dari pembantu rumah tangga sampai pejabat negara. Ironisnya, bisnis narkoba bisa dilakukan dan dikendalikan dari dalam penjara.
Telah banyak pihak melihat dampak buruk narkoba terhadap kesehatan, kejiwaan, kepribadian, keluarga, masyarakat, dan negara. Maka tulisan ini mencoba memaparkan dampak buruk narkoba terhadap konsep maqashid syari’ah dalam ajaran agama Islam.
Para ulama telah mengkaji, berdasarkan sumber hukum Islam yakni al-Qur’an dan Sunnah, bahwa syariat Islam diturunkan untuk kemaslahatan dan menolak kemudharatan bagi kehidupan manusia. Maksud dan tujuan syariat diturunkan untuk kebaikan manusia itu, terangkum dalam istilah maqashidusy syari’ah. Atau juga dikenal dengan istilah dharuriyyatul khams, yaitu lima kebutuhan penting yang harus dijaga oleh setiap manusia (Muslim).
Islam diturunkan oleh Allah Ta’ala berupa aturan perintah, larangan, dan penjelasan-penjelasan tentang itu dengan lima maksud. Pertama, Hifzhul Addin, untuk menjaga agama. Untuk itulah rasul diutus dan kitab suci panduan diturunkan. Manusia harus beriman (bertauhid) kepada Allah dan ibadah harus ditegakkan. Karena manusia dicipta untuk menjalankan agama dengan beribadah kepada Allah Ta’ala (lihat QS. adz-Dzariyat [51]:56).
Sebab itu, syariat mengharamkan kesyirikan dalam peribadatan dan mengecam keluar dari keyakinan Islam (murtad). Bahkan Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang mengganti agamanya, maka bunuhlah dia” (HR. Bukhari). Dengan ibadah shalat dan dzikir, agama ditegakkan dan puncak kemuliaannya adalah jihad.
Kedua, Hifzhul An Nafsi yaitu menjaga jiwa. Agama tidak mungkin terjaga jika jiwa yang menjaga agama itu binasa. Maka setiap perbuatan yang menghilangkan nyawa orang lain (pembunuhan) sangat diharamkan dalam Islam. Sampai Allah menegakkan hujjah bagi pelaku pembunuhan dengan sengaja tanpa alasan yang dibenarkan menurut ketentuan syariat dengan kewajiban dibunuh pula (qishash) (lihat QS. al-Baqarah [2]:178).
Tidak adil perilaku sosial yang mencabut kehidupan orang lain dibalas dengan membiarkan pelaku tetap hidup. Oleh sebab itu, dalam penegakan hukum qishash ada jaminan kehidupan bagi orang lain meskipun pelaku pembunuhan harus dikorbankan sebagai pelajaran. Allah Ta’ala berfirman, “Dan dalam qishash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa” (QS. al-Baqarah [2]:179).
Ketiga, Hifzhul Al ‘Aqli yaitu menjaga akal. Sebab itu segala bentuk perbuatan, makanan dan minuman yang menyebabkan rusaknya akal (kesadaran) diharamkan dalam Islam, seperti minuman khamr dan perjudian (QS. al-Maidah [5]:90). Akal adalah sarana manusia untuk berilmu dan dengannya dapat memahami ketentuan syariat. Dengan memfungsikan akal sesuai dengan tuntunan wahyu, maka manusia bisa mengenal Allah, ciptaan-Nya, dan hukum-hukum yang telah diturunkan-Nya.
Keempat, Hifzhun An Nasli atau menjaga keturunan (nasab). Manusia bukanlah binatang yang memiliki kebebasan dalam pergaulan. Hubungan antara manusia diatur oleh Allah melalui syariat karena mengandung banyak maslahat. Untuk itulah pernikahan dianjurkan dan perzinahan dilarang (QS. al-Isra’ [17]:32). Sebab zina akan menyebabkan nasab menjadi kabur (tidak jelas). Sedangkan pernikahan menjadikan status seseorang menjadi jelas dalam hubungan keluarga dan kemasyarakatan.
Kelima, yaitu Hifzhun Al mali maksudnya menjaga harta. Dengan keberadaan harta maka manusia bisa menjalani dan memenuhi kebutuhan hidupnya dengan baik. Bahkan dengan harta, manusia bisa beribadah kepada Allah dengan membantu antar sesama melalui infak dan sedekah. Tanpa adanya aturan kepemilikan harta yang jelas tentu akan terjadi kerusakan melalui tindakan pencurian dan perampokan.
Sebab itu manusia dilarang memakan harta sesamanya dengan cara yang batil, kecuali berdasarkan aturan yang jelas seperti melalui jual beli, utang piutang, izin atas pemiliknya, yang sumanya berdasarkan suka sama suka (lihat QS. an-Nisa’ [4]:29). Syariat juga melarang harta berada di tangan anak-anak yang akan menyebabkan harta tersebut tidak terjaga dengan baik (lihat QS. an-Nisa’ [4]:5).
Itulah lima persoalan penting yang harus dijaga (dharutiyyatul khams) dalam relasi kehidupan manusia yang diatur dengan jelas dan tegas dalam Islam. Semua itu demi kemaslahatan hidup manusia di bumi. Namun, disinilah bahayanya narkoba yang sangat luar biasa berperan merusak dan menghalangi tercapainya maqashid syariah itu.
Apapun merek dan jenis narkoba, berupa cairan atau benda padat, yang diminum, ditelan, atau dihisap, bahayanya sama yaitu memberi efek merusak terhadap pemakainya, bahkan kehidupan di bumi. Ia telah menjauhkan pelakunya dari ketaatan dalam menjalankan syariat agama (ad din). Narkoba telah terbukti menghilangkan banyak jiwa (an nafs), merusak akal (al ‘aqli), keturunan (an nasli), dan harta ( al mali) pelakunya.

Kelima maqashid syari’ah itu tidak akan terjaga dan tercapai apabila seseorang Muslim terlibat dalam penyalahgunaan narkoba. Artinya, narkoba tidak saja membunuh manusia, tetapi juga merusak agama dan tatanan kehidupan manusia ( al fasad). Sebab itu, langkah Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang mendukung hukuman mati bagi pelaku pengedar atau bandar narkoba adalah tepat! Wallahu A’lam. [islamaktual/tabligh/lidusyardi]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top