Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Kala Mu’adz bin Jabal diutus Rasulullah saw menjadi qadi di Yaman, beliau mengajukan pertanyaan. Ada tiga pertanyaan, dimana pertanyaan kedua dan ketiga bergantung pada jawaban Mu’adz. Pertama, dengan apa hukum akan diputuskan? Mu’adz menjawab tegas, “dengan al-Qur’an”. Kedua, bagaimana jika tidak ada di dalam al-Qur’an? “Maka dengan Sunah”, kata Mu’adz. Ketiga, jika di Sunah pun tidak ditemukan? Mu’adz menyatakan, “aku akan berijtihad dengan akalku”.
Kisah yang terekam dalam hadits di atas sangatlah terkenal. Walaupun status keabsahannya tidak begitu kuat. Namun, kenyataan di lapangan, para sahabat memraktikkan kerangka pemikiran tersebut. Kisah ini paling tidak menjadi titik tolak berkembangnya pemikiran dalam khazanah Islam. Keragaman ini yang pada banyak buku sejarah menjadi warna kecendikiaan ulama Islam.
Seperti yang jamak diketahui, perbedaan pemikiran mulai terjadi sepeninggal Rasulullah saw. Pada masa kenabian, Muhammad saw menjadi mata air pemikiran. Ia menjadi rujukan tiap pertanyaan. Ini didasarkan pada fungsi utama Rasulullah saw sebagai penyampai risalah. Mau tidak mau tugasnya adalah sebagai pemberi solusi. tentu saja, hal tersebut dibekali dengan wahyu sebagai sumbernya. Beliau tidak menyatakan suatu pemikiran melainkan berdasarkan wahyu. Sebagaimana hal tersebut tertera pada QS. al-Najm ayat 3-4. Sepeninggal Muhammad saw, tiada lagi rujukan tempat bertanya secara langsung. Namun , sebelum dipanggil, Rasulullah saw telah mengajarkan kerangka berpikir umat Islam. Ajaran ini paling tidak sebagai jalan membaca dua wasiatnya: al-Qur’an dan Sunah Rasul. Kerangka berpikir tersebut mulai digunakan secara luas oleh para sahabat usai Nabi saw wafat. Lebih-lebih ketika mulai muncul permasalahan yang tidak pernah dijumpai pada saat Rasulullah saw masih hidup.
Kekayaan pemikiran Islam semakin tumbuh berkembang seiring dengan luasnya wilayah Islam pada saat itu. Selain Mekkah dan Madinah, banyak di antara sahabat Rasulullah saw yang tersebar di beberapa wilayah. Faktor utama adalah karena semakin luasnya kekuasaan Islam. Sebagai murid langsung Muhammad saw, sahabat mengerti dan memahami warisan utama sang Nabi. Oleh karenanya, dengan jalan pikiran yang pernah ditunjukkan Sang Guru para sahabat tidak mengalami shock culture. Kebudayaan baru di beberapa wilayah baru Islam dihadapi dengan runutan pikir yang cermat. Akulturasi budaya bukanlah hal mudah untuk diadaptasi. Untuk itu, sahabat melakukan proses pemikiran yang sistematis. Hanya saja, karena wilayah Islam kontur budayanya tidak sama satu sama lain, lahirlah ragam pandangan antara satu dengan yang lain. Namun, jalan pikiran mereka masih menapak-tilasi Rasulullah Saw.
Kekayaan pemikiran ini kemudian diambil dan dicerna oleh generasi berikutnya. Kita lebih mengenalnya dengan tabiin. Mereka adalah orang-orang yang mengambil dan mempelajari ilmu dari para sahabat. Secara geografis bisa kita sebutkan beberapa cakupan wilayah lahirnya berbagai arus pemikiran Islam: Mekkah, Madinah, Kufah, Basra, Syam atau Damaskus, dan Mesir.
Dari beberapa wilayah tersebut, mantan Mufti Mesir; Nashr Farid Muhammad Washil menyatakan bahwa arus pemikiran Islam terwakili menjadi dua wilayah: Madinah dan Kufah. Wilayah Madinah misalnya, menjadi basis pemikiran dari beberapa sahabat seperti Abdullah bin Umar, Zaid bin Tsabit, dan lain sebagainya. Dari mereka, beberapa tabiin belajar dan menguasai ilmu sesuai dengan alur dan metode yang dimiliki. Tabiin ini kemudian masyhur dengan sebutan Tujuh Fukaha: Sa’id bin al-Musayib, ‘Urwah bin Zubair, Qasim bin Muhammad, Abu Bakar bin Abdurrahman bin al-Harits, Abdullah bin Abdullah bin ‘Uqbah bin Mas’ud, Sulaiman bin Yasar, dan Kharijah bin Zaid bin Tsabit. Sementara di Kufah menjadi rumah pemikiran dari beberapa sahabat seperti Umar, Abdullah bin Mas’ud, Ali bin Abi Thalib. Kemudian dari mereka, beberapa tabiin pun belajar dan meneladani jalan pikiran yang mereka mabil. Mereka yang belajar ini terkenal kemudian dengan julukan Sang Enam Fukaha: ‘Alqamah al-Nakha’i, Syuraih bin al-Harits al-Qadzi, Harits bin al-A’war, Aswad bin Yazid al-Nakha’i, Masruq bin al-Ajda’ al-Hamdani, dan ‘Ubaid bin Amr al-Salmani.
Pada taraf ini pemikiran Islam terus mengalir menjadi arus yang deras. Dari banyak buku tarikh dua wilayah tersebut masyhur dikenal dengan Ahlul Hadits dan Ahlu al-Ra’yi. Karakteristik Ahlul Hadits adalah berpegang pada zahir nas, banyak mengacu pada Sunah, serta sedikit bergantung pada akal kecuali benar-benar darurat. Mengapa demikian? Hal ini karena banyak dijumpai hadits di Madinah sehingga memudahkan mereka mendapatkan sumber dalam memutuskan sesuatu. Di samping pula pengaruh metode sahabat kepada tabiin di Madinah. Sedangkan Ahlu al-Ra’yi adalah mereka yang mengedepankan pembahasan terhadap -meminjam istilah Quraish Shihab- motif hukum (‘illatu’l ahkam), serta kritis dalam menerima khabar ahad.
Selain itu, perbedaan dua arus pemikiran tadi pada dasarnya bermuara pada satu titik yang justru menyatukan. Bahwa sejatinya, ulama Madinah atau Ahlul Hadits, walaupun terkesan literal (tekstualis), mereka tetap tidak melepas akal sebagai alat pacu pemikiran. Hanya bagi mereka, karena masih banyak hadits yang bisa dijadikan rujukan, mereka mendahulukan Hadits lebih dahulu -setelah al-Qur’an tentunya. Sementara Ahlul Al-Ra’yi, walau terlihat seperti lebih kontekstualis, namun sejatinya mereka tidak melewatkan nas-nas syar’i. Hanya saja, karena lalu lintas hadits di Kufah tidak sepadat Madinah, maka mereka mengedepankan opsi akal sebagai alat pacu. Disinilah sebetulnya titik satunya, ulama dua wilayah tersebut pada dasarnya memiliki hierarki pemikiran seperti  Sang Rasul saw ajarkan. Awal mulanya adalah al-Qur’an, berikutnya adalah Sunnah (Hadits), dan selanjutnya adalah akal.
Inilah gambaran jejak pemikiran yang dimiliki para intelektualis Islam. Ulama yang mengedepankan kualitas hasil pemikiran daripada sekedar ‘menyimpulkan’ pemikiran. Seperti itu pulalah barangkali pesan para Imam Madzhab Empat. Abu Hanifah sempat berpesan agar jangan mengambil pendapat tanpa tahu darimana pendapat itu disimpulkan. Demikian pula Malik bin Anas, ia pernah menyatakan agar senantiasa meneliti pendapat-pendapat yang pernah ia keluarkan. Apabila sesuai dengan nas maka diambil, jika tidak maka jangan. Seperti itu pula Syafi’i berpesan, “apabila ada hadits yang shahih, maka itulah madzhabku”. Ahmad bin Hanbal pun turut mengutarakan, bahwa jangan sampai ada yang taklid kepadanya, atau kepada Syafi’i, malik, dan yang lain. Ia berpesan agar mengambil kesimpulan dari sumber yang mereka ambil. [islamaktual/almanar/fauzanmuhamamdi]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top