Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Allah senantiasa mencurahkan nikmat-Nya kepada kita dengan bermacam-macam nikmat yang tidak dapat dihitung banyaknya. Jauh lebih banyak nikmat yang telah kita terima dibandingkan kesadaran dan kesanggupan kita untuk bersyukur (QS. Ibrahim [14]:34). Apabila kita mencoba untuk menelaah lebih dalam nikmat yang besar itu, maka ‘barangsiapa yang mensyukuri nikmat yang ada, maka Allah akan menambah nikmat baginya’. Kita sering panik ketika memikirkan sesuatu yang belum kita miliki. Padahal, kita seharusnya lebih mengutamakan bahwa kita harus mensyukuri apa yang telah kita nikmati. Sebab rasa syukur itulah yang akan mencukupkan dan akan mengundang nikmat-nikmat berikutnya.
Ada lima cara mensyukuri nikmat yang perlu kita pahami; pertama, kita yakini bahwa semua nikmat hanya milik Allah. Tiada pembagi nilmat selain Dia. Allah-lah yang menciptakan manusia, kemudian memberinya rezeki, kemudian mematikannya, kemudian menghidupkannya kembali. Kedua, ucapan Alhamdulillahirabbil’alamiin. Pujian bagi Allah dalam segala situasi karena apa yang kita nikmati sesungguhnya karena sifat kasih sayang-Nya yang dianugerahkan kepada kita. Ucapan alhamdulillah yang muncul dari pikiran yang sehat dan sempurna pasti akan menimbulkan rasa syukur atas segala nikmat yang diterimanya. Ditambah ucapan Subhanallah akan menimbulkan rasa takjub yang mengartikan kebesaran Allah serta kesucian-Nya dari segala sifat-sifat kekurangan. Walaupun seluruh kata-kata kita kerahkan untuk memuji-Nya, pastilah tidak sebanding dengan keagungan, kebesaran, dan limpahan nikmat yang telah Allah limpahkan kepada kita. Ketiga, berterima kasih kepada orang yang menjadi jalan nikmat. Nabi saw bersabda: “Orang yang tidak berterima kasih kepada manusia, berarti ia tidak bersyukur kepada Allah” (HR. Tirmidzi).
Keempat, menjadikan setiap kenikmatan itu menjadi jalan pendekatan diri kita kepada Allah. Orang yang bersyukur karena memiliki kekayaan, maka ia gunakan hartanya itu di jalan Allah SwT. Kelima, nikmat umur yang telah kita jalani, yaitu sepantasnyalah kita sering-sering mengevaluasi dan menghisab diri sendiri sebelum dihisab di hari akhirat. Oleh karena itu, sudah sepatutnya pula kita memperbaiki diri, bertobat dan melakukan perubahan dari hal-hal yang merugikan kepada yang menguntungkan, antara lain: (a) tidak membiarkan diri dengan kekosongan jiwa karena minimnya ilmu, maka tentu kita harus lebih giat menuntut ilmu; (b) Lebih menyadari akan arti dan tujuan hidup kita, darimana dan mau kemana. Allah berfirman, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku” (QS. adz-Dzariyat [51]:56); (c) Bila perbuatan maksiat dan durhaka masih doyan, maka bersegeralah menuju taqwa yang sebenar-benarnya; dan (d) beribadah yang hanya sekedar agar gugur kewajiban kepada ibadah yang benar, lebih ikhlas, khusyu’, dan istiqomah. Rasulullah saw bersabda, “Ambillah kesempatan lima sebelum lima: mudamu sebelum tua, sehatmu sebelum sakit, kayamu sebelum miskin, hidupmu sebelum mati, dan waktu senggangmu sebelum sibuk.” (HR. al-Hakim dan al-Baihaqi).
Nabi saw bersabda: “Ada dua nikmat yang mayoritas manusia terperdaya karenanya, yaitu kesehatan dan kesempatan.” (HR. Bukhari).

Kesempatan dari sisa umur yang kita miliki hanya untuk beribadah dan meningkatkan kualitas ketaatan kepada Allah SwT. Dengan harapan lebih menggairahkan khidmat kita di arena jihad dakwah ilallah untuk menuju masyarakat Islami yang berkemajuan. [islamaktual/tabligh/roismahfud]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top