Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Masih segar dalam ingatan kita tentang kecerobohan pemerintah dalam memblokir 22 situs Islam. Dikatakan kepada masyarakat awam bahwa usulan pemblokiran situs ke Kominfo datang dari BNPT. Lucunya, BNPT cuci tangan dan salahkan Kominfo yang blokir situs-situs tersebut (jpnn.com, 5/4/15). Tapi jangan lupa satu hal, kalangan Syi’ah di Indonesia patut kita curigai. Bila pembaca membuka blog syiahali.wordpress.com, disitu terpampang seruan “Mendukung Kominfo dan BNPT Memblokir Situs Radikal Anti Syi’ah”.
Dari berbagai situsnya, Syi’ah berusaha membangun “citra palsu” sebagai ahlu bait, dekat dengan kultur NU dan mengklaim bagian dari Islam. Bahkan tak segan mengutip pernyataan tokoh-tokoh beken seperti Said Aqil Siradj, KH. Hasyim Muzadi, Quraish Shihab, Dr Machasin, Ahmad Syafii Ma’arif, Azyumardi Azra, hingga Buya Hamka. Tujuan dari itu semua adalah ingin memberitahukan kepada khalayak umum bahwa Syi’ah bukan aliran sesat seperti yang difatwakan oleh MUI Jatim.
Mengacu pada judul artikel ini, yang akan diulas lebih lanjut adalah Buya Hamka. Dimana pernyataan maupun pandangan beliau dipajang di beberapa situs dan terkadang digambarkan memihak Syi’ah. Mungkinkah Buya Hamka seperti demikian? Artikel ini menggunakan pendekatan kepustakaan dengan merujuk langsung ke buku-buk Buya Hamka dan dilengkapi dengan buku-buku yang relevan.
Syi’ah dan Sempalannya
Di era modern, Iran dikenal negeri mayoritas penganut Syi’ah. Iran mengadopsi Syi’ah sejak dinasti Shafawi berkuasa (1502 M). Kepercayaan tentang imam yang ghaib, mengatur dunia dan agama di suatu tempat yang rahasia menjadi kepercayaan yang merata dan mendalam di sana. Jika Asy-Syahrastani dalam al-Milal wa al-Nihal, membagi Syi’ah ke dalam 5 kelompok besar, yaitu Kisaniyah, Zaidiyah, Imamiyah, Syi’ah Ghulat dan Isma’iliyah. Maka Hamka membagi Syi’ah menjadi 4 kelompok besar, yaitu Kisaniyah, Isma’iliyah, Itsna ‘Asyariyah dan Zaidiyah (Hamka, Pelajaran Agama Islam, 1989, hal 237).
Zaman sekarang Syi’ah Kisaniyah sudah tidak ada lagi. Sedangkan Ismailiyah di era modern diteruskan oleh Aga Khan. Masih menurut Hamka, hanya Syi’ah Zaidiyah yang agak dekat dengan Sunni. Mereka tidak begitu meyakini Imam ghaib yang amat dinanti-nanti kedatangannya oleh Syi’ah Itsna ‘Asyariyah. Itsna ‘Asyariyah punya doktrin yaitu tidak sah menjadi Syi’ah kalau tidak percaya Imam ghaib datang kembali (Hamka, hal 238).
Di dalam buku Pelajaran Agama Islam, Hamka punya argumen yang menarik. Saking getolnya menunggu Imam yang ghaib, muncul sempalan-sempalan di tengah Syi’ah Itsna ‘Asyariyah, mulai dari Syaikhiyah, Babiyah hingga Bahaiyah. Baik Babiyah maupun Bahaiyah sama-sama mengadopsi doktrin “Allah menjelma dalam dirinya” (Hamka, hal 241-242).
Dinasti Penyokong Syi’ah
Di dalam lembaran sejarah peradaban Islam tercatat salah satu sebab masih bertahannya aliran Syi’ah karena disokong kekuatan politik. Kekuatan politik yang dimaksud disini yaitu Dinasti Syafawiyah dan Fatimiyah. Syafawi ini menurut Hamka berasal dari Tarekat sufi yang didirikan Syeikh Haidar. Dia membuat lambang baru untuk pengikut Tarekatnya, yaitu sorban merah mempunyai 12 jambul, sebagai lambang 12 Imam yang diagungkan di dalam Syi’ah Itsna ‘Asyariyah. Haidar punya putera bernama Ismail. Ismail ini, oleh Hamka ditetapkan sebagai pendiri Dinasti Syafawiyah.
Ismail ditetapkan sebagai Raja besar dari negeri Iran dan pembela ajaran Syi’ah di usia 15 tahun. Syi’ah diadopsi menjadi madzhab resmi dan diperintahkannya kepada khatib-khatib Jumat supaya memaki-maki Khalifah yang tiga: Abu Bakar, Umar dan Utsman. Ismail meski fanatik Syi’ah, dia sering gagal menaklukkan Sultan Salim. Dia terpaksa mengikat perdamaian dan tidak berani memerangi Turki Utsmani, sampai Sultan Salim wafat (Hamka, Sejarah Umat Islam, hal 439-441).
Cinta Husain, tapi Bukan Syi’ah
Sewaktu Hamka berkunjung ke Najaf dan Karbala (Oktober 1950), penunjuk jalan menanyakan datang dari mana dan mazhab apa. Lalu Hamka menjawab dirinya dari Indonesia dan bermadzhab Syafi’i. Muzawwir, sang penunjuk jalan tadi mengatakan, “Madzhab Syafi’i adalah madzhab yang paling dekat dengan Syi’ah dan paling cinta kepada Husain”. “Maaf, saya tidak bermadzhab Syi’ah, tetapi saya mencintai Husain!” jawab Hamka. (Kata Pengantar Buya Hamka di buku “Al-Husain bin Ali: Pahlawan besar dan Kehidupan Islam pada Zamannya”, karya M. Al-Hamid al-Husaini, 1978, hal xi).
Pendirian Hamka terhadap Syi’ah maupun isu Revolusi Islam, ditegaskan lagi dalam artikelnya di Harian KOMPAS (1980), “Saya tetap seorang Sunni yang tak perlu berpegang pada pendapat orang Syi’ah dan ajaran-ajaran Ayatullah”. Beliau menasehati kepada 4 pemuda yang berencana ke Indonesia dan mengajarkan Revolusi Islam Syi’ah. “Boleh datang sebagai tamu, tetapi ingat, kami adalah Bangsa merdeka dan tidak menganut Syi’ah” kata Hamka (Buku Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syi’ah di Indonesia, 2013, hal 139).
Hasyasyin (Assassin)
Kisah kelompok Hasyasyin atau yang di Barat dikenal dengan Assassin sempat muncul kembali di film Prince of Persia: The Sands of Time (2010). Di dalam film tersebut, kelompok Assassin berpakaian serba hitam, ahli bergerilya dan mempraktekkan sihir. Michael Bradley memasukkan Assassin ke dalam daftar 21 Secret Society perusak dunia bersama Freemansory, Illuminati, Templar Knight, Opus Dei, Triad dan lain-lain. Lebih lanjut Bradley menulis, Assassin sebagai kelompok rahasia sekaligus para penghisap ganja. Mereka berusaha merebut tahta kepemimpinan Islam dengan cara-cara kekerasan (Michael Bradley, 2008).
Buya Hamka menulis, Assassin yang dikendalikan Hasan Sabah ini tidak mau mengakui segala macam kekuasaan termasuk menentang khalifah di Baghdad. Pengikut setianya direkrut dari orang-orang melarat dan didoktrinkan kepada mereka perasaan anti-kekuasaan. Dan dijanjikan kepada mereka bahwa Imam yang ghaib itu sudah dekat datangnya untuk membawa keadilan sejati. Pengikut Hasan Sabah harus taat atas perintah, orang-orang yang diperintahkannya dibunuh mesti mati. Baik di jalan raya maupun di istananya sendiri dengan tidak diketahui siapa pembunuhnya. (Hamka, Sejarah Umat Islam, hal 423-424)
Kesimpulan
Bukan hanya soal Syi’ah nama besar Buya Hamka dicatut. Dalam isu pluralisme agama, pendapat Hamka di dalam Tafsir al-Azhar pun dimanipulasi sedemikian rupa dan disimpulkan keliru oleh pemuja proyek liberalisme (baca tulisan Dr Adian Husaini, “Hamka dan Pluralisme Agama”, Uhamka Press, 2008, hal 313-318).
Selain Syi’ah dan paham pluralisme agama, nama besar seorang Buya Hamka dicatut juga oleh pengikut Tarekat Qadiriyah wa Naqshabandiyah (TQN) di Suryalaya. Dikatakan Buya Hamka telah dibaiat oleh Abah Anom. Namun anehnya tidak ada bukti kuat, yang ada hanya foto Hamka bersama Abah Anom saja. Salah seorang putra Buya Hamka, ustadz Afif Hamka membantah keras bahwa seseorang yang bergelar Buya (khususnya yang berlaku di tanah Minang) tidak bakalan ikutan tarekat-tarekat sufi (lihat artikel “Buya Hamka Dibaiat Abah Anom?”, islampos.com, 3 desember 2014).

Sebelum mengakhiri tulisan ini, perlu pembaca catat bahwa pendirian Buya Hamka terhadap Syi’ah sudah jelas. Tidak ada pandangan atau pernyataan beliau yangmembenarkan ajaran-ajaran Syi’ah. Buktinya beliau pernah menyentil ciri khas Syi’ah, “Yang hormat berlebih-lebihan, sampai mengatakan keturunan Hasan dan Husain itu tidak pernah berdosa, dan kalau berbuat berdosa segera diampuni Allah adalah ajaran kaum Syi’ah yang berlebih-lebihan.” (baca Panji Masyarakat edisi 15 Februari 1975). Wallahu a’lam bishowwab. [islamaktual/tabligh/fadhahmadarifan]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top