Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Pada masa Utsman ibn Affan, al-Qur’an telah dibukukan menjadi satu kitab yang dinamakan “Mushaf”. Pembukuan tersebut dilakukan karena adanya perbedaan bacaan yang ditemukan di daerah-daerah di sekitar jazirah Arabiyyah, sehingga menimbulkan kekhawatiran akan munculnya perpecahan di kalangan umat Islam. Maka perlu diupayakan penyatuan bacaan agar umat Islam di masa yang akan datang tidak tercerai-berai.
Alhamdulillah, usaha dan perjuangan Khalifah Utsman berhasil dengan baik dan dapat mengatasi kekhawatiran tersebut. Waktu terus berlalu, dan para ulama tetap menaruh perhatian terhadap Mushaf, baik yang lama maupun yang baru. Maka lahirlah kitab-kitab yang membahasnya, antara lain:
  1. Ikhtilaf masahif asy-Syam wa al-Hijaz wa al-Iraq, susunan Ibnu ‘Amir (118 H.)
  2. Ikhtilaf masahifi ahli al-Madinah wa ahli al-Kufah wa ahli al-Basrah, susunan al-Kisa’iy (189 H.)
  3. Ikhtilaf ahli al-Kufah wa al-Basrah wa asy-Syam fi al-masahif, susunan al-Farra’      (207 H.)
  4. Ikhtilaf al-masahif, susunan Khalaf Ibnu Hisyam (229 H.)
  5. Ikhtilaf al-masahif wa jami’ al-Qira’at, susunan al-Mada’iniy (231 H.)
  6. Ikhtilaf al-masahif, susunan Abi Hatim Sahal ibn Muhammad as-Sijistaniy (248 H.)
  7. Al-Masahif wa al-Hija’, susunan Muhammad ibn Isa al-Asbahaniy (235 H.)
  8. Al-Masahif, susunan Abi ‘Abdillah ibn Abi Dawud as-Sijistaniy (316 H.)
  9. Al-Masahif, susunan Ibnu al-Ansariy (327 H.)
  10. Al-Masahif, susunan Ibnu Asytah al-Asbahaniy (360 H.)
Al-ibyariy mengatakan bahwa penampilan kitab-kitab tersebut, setelah diteliti dengan cermat, memberikan isyarat bahwa Mushaf al-Imam tidak menghapus semua mushaf secara tuntas, sebab mushaf-mushaf lainnya tetap eksis sekalipun berbeda dengan Mushaf Utsmaniy.
Kitab yang pertama kali membahas mushaf, adalah kitab susunan Ibnu Amir yang wafat pada tahun 118 H, delapan puluh tiga tahun sesudah terbunuhnya Utsman (35 H).
Adapaun yang sampai kepada kita diantara kitab-kitab itu ialah, Kitab al-Masahif, susunan Abu Bakar as-Sijistaniy, kitab tersebut dapat menghimpun hampir semua pendapat ulama sbelumnya, karena masa hidup Abu Bakar lebih akhir daripada masa hidup mereka. Namun demikian, sesudah Abu Bakar pun banyak kitab yang membahas perbedaan mushaf (Ibrahim al-Ibyariy, 1965 : 100).
Keberanian ulama salaf menyusun kitab tentang perbedaan mushaf, sebenarnya sangat riskan, sebab akan menghidupkan kembali perbedaan pendapat yang telah dihapus oleh empat khalifah (ABu Bakr, Umar, Utsman dan Aliy).
Usaha pertama telah diselesaikan oleh Abu Bakr dan Umar, usaha kedua telah diselesaikan oleh Utsman dan seterusnya ditetapkan oleh Aliy. Sebagian besar sahabat ikut serta memberikan kontribusi dalam penghapusan perbedaan bacaan tersebut, sekalipun diantara mereka ada yang memiliki mushaf pribadi, seperti Ubay.
Kebijaksanaan Utsman dalam hal ini sangat berperan, dia tidak tergesa-gesa bertindak sebelum khawatir akan terjadinya pertentangan. Ia tidak mau melaksanakan kehendaknya sebelum merasa tenang jiwanya, ia belum merasa tenang, sebelum dimusyawarahkan dan dibantu orang banyak. Sesudah itu barulah ia menetapkan sikapnya yang mantap dan meyakinkan, kemudian memerintahkan kepada daerah-daerah supaya berpegang pada Mushaf al-Imam dan membakar mushaf lainnya. Tujuan tindakan ini adalah untuk menutup jalan pertentangan, sebagaimana terjadi sebelumnya. Jika Utsman tidak mempunyai tujuan kebaikan, niscaya tidak mungkin dapat lahir suatu keputusan yang meyakinkan. Mungkin kita masih ingat tindakan Marwan ketika membakar mushaf yang disimpan Hafsah yang menjadi salah satu sumber Mushaf Utsman. Tujuan pembakaran itu adalah agar manusia tidak kembali ke belakang, sehingga timbul diantara mereka pertentangan mengenai al-Kitab, sekalipun Allah telah menegaskan dalam firman-Nya:
15_9.png
Sesungguhnya, Kami-lah yang menurunkan al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami pula-lah yang memeliharanya” (QS. al-Hijr [15] : 9).
Satu abad kemudian, setelah kaum muslimin hanya berpegang pada satu mushaf, yaitu Mushaf Utsmaniy, muncullah karya Ibnu Amir yang membahas perbedaan mushaf Syam, Hijaz, dan Iraq.

Dalam tarikh al-ur’an, al-Ibyariy menjelaskan bahwa karya Ibnu Amir yang membahas perbedaan mushaf itu hanyalah membangkitkan khilafiyah yang seharusnya tidak perlu terjadi. Membangkitkan khilafiyah seperti itu buknalah merupakan suatu ijtihad, melainkan hanya merupakan studi yang sia-sia yang tidak menggunakan metode ilmiah yang benar. Mempelajari perbedaan pendapat mengenai mushaf sesudah itu adalah suatu upaya yang sia-sia. Ia dengan tegas menyatakan : Seandainya saya memilikinya niscaya saya musnahkan buku itu sebagaimana dilakukan oleh Utsman dan pembelanya, Aliy ibn Abi Thalib terhadap mushaf-mushaf selain Mushaf Utsman (Ibrahim al-Ibyariy, 1965 : 102). [islamaktual/sm/sa’adabdul wahid)

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top