Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Banyak yang mengira saat kita kembali kepada Al Quran dan Sunnah, maka sim salabim akan ada kesatuan pemahaman dan tidak akan muncul keragaman pendapat. Semudah itukah? Dalam Al Quran Allah swt. berfirman "Fa in tanaaza'tum fii syai'in farudduuhu ilallah wa rasuulih", jika kamu berselisih mengenai sesuatu maka kembalikanlah kepada petunjuk Allah dan Rasulnya. Saat nabi masih hidup, orang bisa langsung bertanya kepada Rasulullah. Namun saat nabi wafat, kita tidak dapat lagi langsung bertanya kepada beliau, maka dari itu Rasulullah bersabda, "Aku tinggalkan kepada kalian dua pusaka yang kalau kalian berpegang teguh kepadanya kalian tak akan tersesat, yaitu kitab Allah dan sunnah Rasulullah (dalam versi syiah kitab Allah dan ahli baitku)."
Dua dalil di atas adalah landasan keharusan mengembalikan suatu permasalahan dalam timbangan Al Quran dan sunnah. Namun sekali lagi yang ingin penulis tanyakan adalah, apakah kembali kepada Al Quran dan sunnah menjadi jaminan tidak akan ada lagi perbedaan pendapat dan akan terjadi keseragaman pemikiran?
Mari kita ambil contoh dalam kasus penentuan waktu-waktu ibadah yaitu awal Ramadhan, awal syawwal dan awal zulhijjah. Ada satu masalah yang sampai saat ini belum menemukan titik temu, yakni metode penentuan waktu-waktu ibadah. Ada 3 metode yakni hisab, rukyat dan imkanur rukyat. Pertanyaannya adalah yang mana yang sesuai dengan Al Quran dan sunnah dan yang mana yang tidak?
Adapun dalil-dalil yang berkaitan dengan hal tersebut sebagai berikut:
"Dialah yang menjadikan matahari bersinar, dan bulan bercahaya dan menentukan bagi keduanya tempat beredar (orbit) untuk mengetahui bilangan tahun dan hisab (perhitungan waktu)." (QS. Yunus [10]:5)
"Sang surya dan rembulan beredar menurut hisab (perhitungan)". (QS. ar-Rahman [55]:5)
"Maka barang siapa yang menyaksikan bulan, maka berpuasalah" (QS. al-Baqarah [2]:185)
"Berpuasalah kamu karena melihat hilal dan berbukalah kamu karena melihatnya" (Al Hadits)
"Apabila kamu melihat hilal maka berpuasalah, dan apabila kamu melihatnya maka berbukalah" (Al Hadits)
"Janganlah kamu berpuasa sehingga kamu melihat hial dan jangan kamu berbuka sehingga kamu melihatnya, apabila mendung maka genapkanlah bilangan menjadi sempurna 30 hari." (Al Hadits)
Ada 3 dalil Al Quran dan 3 hadits yang penulis paparkan di atas, ada yang menerangkan mengenai hisab dan ada yang menerangkan mengenai rukyat. Adanya dalil Al Quran dan hadits di atas menegaskan bahwa baik yang berpendapat hisab lebih kuat, atau rukyat lebih kuat dua-duanya sama-sama kembali kepada Al Quran dan sunnah. Yang tidak kembali kepada Al Quran dan sunnah itu yang hanya merujuk kitab kuning, namun dalam kitab kuning tersebut sama sekali tidak disebutkan dalil alquran dan sunnahnya.
Ironisnya adalah ada umat Islam yang menuduh umat Islam lainnya taqlid atau fanatik terhadap keputusan organisasi, dan tidak kembali kepada Al Quran dan sunnah hanya karena berbeda pendapat.
Berikut tuduhannya: "Dakwah ilallah tandanya adalah mengajak orang dengan mendakwahi Al-Quran dan As-Sunnah.Sehingga ketika dikritik ia segera merujuk pada Al-Quran dan As-Sunnah. Ia bukan bela mati-matian kelompoknya, namun yang ia bela adalah Al-Quran dan hadits Nabi."
Penuduh seolah-olah tidak tahu, atau memang tidak mau tahu bahwa keputusan organisasi yang dituduh tersebut, landasannya adalah Al Quran dan sunnah juga, maka taat keputusan organisasi bukan berarti tidak kembali kepada al Quran dan sunnah, justru kembali kepada Al Quran dan sunnah.Penuduh berusaha melancarkan propaganda bahwa yang berbeda pendapat dengan dia berarti bertentangan dengan Al Quran dan sunnah. Sementara yang setuju dengan pendapat si penuduh berarti sesuai dengan Al Quran dan sunnah.
Penuduh tidak peduli kalau yang dituduhnya pun punya seabrek dalil Al Quran dan hadits serta qaul ulama, pokoknya selama berbeda pemahaman dengan si penuduh, dalil-dalil Al Quran dan Sunnah yang dipakai tertuduh dianggap salah.Penuduh menyebar propagandanya lewat fb, namun saat ada yang berkomentar kontra langsung diblokir. Penuduh bilang kalau si tertuduh anti kritik dan membela mati-matian, padahal dirinya sendiri membela mati-matian dirinya sendiri dengan cara memblokir setiap yang kontra. Pihak yang pro penuduh malah menyuruh orang yang mencoba adu argumen dengan penuduh untuk datang tabayyun ke tempat si penuduh, meskipun si penuduh sendiri tidak menyampaikan langsung kritikannya ke Majelis Tarjih yang masih satu provinsi dengan di penuduh, namun hanya update status saja via facebook.
Mari kembali ke topik awal, ternyata kembali kepada Al Quran dan sunnah, tidak menjamin hilangnya keragaman pendapat menjadi hanya satu pendapat. Mengapa? Jawabannya adalah, karena kalaupun kembali kepada sumber yang sama, namun metode pengambilan hukumnya bisa berbeda. Metode pengambilan hukum ini disebut istidlal atau istinbath. Sama-sama kembali kepada Al Quran dan sunnah, sama-sama mempunyai dalil, kalau istidlal dan istinbathnya berbeda, ya produk hukumnya juga akan berbeda.
Dalam tarikh Ath Thabari, diceritakan suatu hari Ali bin Abi Thalib didatangi oleh kaum khawarij, Ali dikritik oleh khawarij karena dianggap menyelesaikan suatu perkara dengan hukum buatan manusia, bukan hukum Allah. Melihat hal itu Ali lalu meletakkan sebuah mushaf Al Quran di depan orang khawarij tersebut. Kemudian Ali berkata "Hei Al Quran, bicaralah!" Melihat kelakuan Ali ini orang khawarij bingung, "Hei Ali, kamu gila ya? Mana mungkin Al Quran bisa berbicara sendiri?". Mendengar hal tersebut Ali lalu berujar, "Wa inna haadzal quraan, khattun mastuurun baina daffatayini laa yanthiq, innamaa yatakallamu bihii ar rijaal" (Sesungguhnya Al Quran ini hanyalah tulisan yang diapit dua sampul, tak dapat berbicara, yang berbicara adalah pembacanya).
Ali mengeluarkan bantahan telak kepada kaum khawarij, yang menganggap seolah-olah Al Quran itu bisa bicara sendiri. Maksudnya kaum khawarij meyakini bahwa tafsiran mereka adalah mutlak. Padahal Al Quran tidak bisa bicara sendiri, melainkan penafsirlah yang membuat Al Quran itu bicara. Masalahnya terkadang antara satu penafsir dengan penafsir lain mempunyai hasil bacaan yang berbeda. Kata Abdullah Darraz, Al Quran ini ibarat intan, kemilaunya bisa dilihat dari berbagai sisi. Inilah kenapa jargon kembali kepada Al Quran dan sunnah sekali lagi tidak akan membuat pendapat menjadi seragam, namun tetap dimungkinkan adanya ikhtilaf.
Keragaman dalam metode istidlal dan istinbath ini menimbulkan satu pertanyaan lagi, metode manakah yang paling benar dalam memahami Al Quran dan sunnah? Ada banyak metode yang ditelurkan oleh ulama-ulama dalam memahami Al Quran dan sunnah. Menanggapi banyaknya metode tersebut, tetap ada beberapa pihak yang tetap menginginkan bahwa Islam itu hanya satu macam saja yang benar, selainnya salah. Pihak ini kemudian merumuskan sebuah metode yang mereka sebut dengan "manhaj salaf".
Menurut mereka masa salaf adalah masa paling dekat dengan Rasul, sehingga kemurnian Islam masih terjaga dan bebas dari distorsi-distorsi yang terjadi setelahnya. Maka dari itu, manhaj salaf adalah manhaj terbaik di zaman dimana banyak manhaj yang sudah terdistorsi dan tidak otentik. Pertanyaannya kemudian apakah dengan memilih manhaj salaf maka tercipta satu pemahaman yang seragam? Sayangnya ternyata lagi-lagi ada keragaman dalam manhaj salaf sendiri. Maka terciptalah corak-corak yang berbeda-beda, ada salafi jihadi, ada salafi sururi, ada salafi harakiy, ada salafi yamani dll.
Masing-masing dari salafi ini mengaku kembali kepada alquran dan sunnah dan mengikuti manhaj salaf. Yang lebih miris sesama manhaj salaf ini tak jarang saling mentahdzir terhadap sesamanya. Salafi yamani menuduh salafi jihadi khawarij, salafi jihadi menuduh salafi yamani murjiah. Radio rodja dituduh oleh ISIS murjiah, ISIS dituduh radio rodja sebagai khawarij. Jadi apakah manhaj salaf bisa menyatukan seluruh pendapat umat Islam? Ternyata tidak, malah perpecahan di kalangan pengikut manhaj salaf ini tak kalah sengit.
Lagipula jika kita ingin kembali meneladani masa salaf, kita harus faham bahwa di masa salaf itu banyak terjadi keragaman dan perbedaan pendapat. Misalnya dalam kasus pembagian ghanimah, ada pertengkaran antara Umar bin Khattab dan Bilal bin Rabah. Perseteruan antara Umar dan Bilal ini sangat menegangkan, walau akhirnya pendapat Umar yang diterima. Umar hidup di masa salaf, Bilal juga hidup di masa salaf, sekarang mana yang kita ikuti? Umar atau bilal?. Manhaj salaf memandang seolah-olah di masa salaf pendapat itu seragam semua, padahal di masa salaf dialektika wacana terjadi dengan sangat dinamis melebihi masa setelah dibakukannya empat mazhab fiqih.
Pada akhirnya, kita harus menerima kenyataan, bahwa perbedaan dan keragaman adalah sebuah keniscayaan, namun persatuan dan perpecahan adalah sebuah pilihan. Perbedaan dan keragaman pendapat tidak dapat dihilangkan dengan jargon kembali kepada Al Quran dan sunnah atau dengan manhaj salaf. Hal ini karena sumber otoritatif dalam Islam adalah teks, sementara teks tidak dapat berbicara sendiri, yang membuat teks berbicara adalah pembaca teks. Pembaca teks terkadang mempunyai metode, perspektif dan pendekatan yang berbeda terhadap teks. Inilah yang menyebabkan produk pemikiran yang berbeda walau sumbernya sama.
Hal ini diibaratkan dengan sinar matahari yang melewati prisma dan menjadi cahaya pelangi. Al Quran dan sunnah adalah sinar matahari, prisma adalah penafsir dan metode memahami Al Quran dan sunnah, dan warna pelangi adalah hasil ijtihad yang beragam dan berbeda satu sama lain. Walaupun ada 7 warna, namun pelangi hakikatnya hanya satu, dan 7 warna ini justru yang membuat pelangi itu indah. Coba bayangkan kalau pelangi hanya satu warna? Begitupun Islam walau banyak firqoh, mazhab, ormas, manhaj dll. Hakikatnya Islam cuma satu, namun keragaman itulah yang membuat Islam menjadi indah.

Persatuan dan perpecahan adalah pilihan, namun ingat persatuan bukanlah penyatuan. Persatuan adalah unsur yang berbeda-beda, namun diikat menjadi satu. Sementara penyatuan adalah memaksakan semua orang agar mempunyai satu pendapat. Persatuan adalah baik dan realistis, sementara penyatuan adalah tidak baik dan tidak realistis. (Kecuali penyatuan kalender hijriyah, penulis mendukung gagasan ini). Jika kita melihat keragaman pandangan sebagai khazanah keilmuan yang sangat berharga, maka persatuan akan tercapai. Namun jika kita melihat keragaman pandangan sebagai sesuatu yang harus dienyahkan, maka selamat menikmati perpecahan. Terserah kita mau memilih yang mana. [islamaktual/fb/robbyrodliyyakarman]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top