Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Di Yogyakarta, sebuah spanduk mencolok dengan latar belakang sekelompok massa muslim hadir di ruang publik. “Warga Bantul Merindukan Khilafah”, begitu bunyi spanduk berwarna hijau dan bertuliskan warna putih itu. Spanduk itu muncul bersamaan dengan rangkaian Muktamar Khilafah di 31 kota di Indonesia tahun 2013 yang lalu, yang diselenggarakan oleh sebuah organisasi Islam militan.
Agak mencengangkan memang. Bagaimana mungkin masyarakat Bantul yang berlatar belakang kultur Ngayogyakarta Hadiningrat dan menyatu dalam semangat keindonesiaan yang kental menyokong bentuk negara lain di luar NKRI. Spanduk tersebut tentu tidak menggambarkan aspirasi warga Bantul, tetapi lebih merupakan klaim opini publik dari kelompok yang bersangkutan.
Sementara itu, di tempat lain muncul spanduk berlatarbelakang bendera merah putih. Tulisannya tegas, “Nusantara Menolak Khilafah”. Dalam sebuah media online terdapat suatu tulisan, “Nahdlatul Ulama Tegas Menolak Gerakan HTI & FPI”. Suatu publikasi yang menunjukkan pandangan sebaliknya dari spanduk yang pertama. Fenomena tersebut menunjukkan betapa genre perjuangan Islam di Nusantara tercinta ini sangat majemuk.
Memang tak mudah menata pandangan dan orientasi gerakan Islam baik di negeri ini maupun di ranah global. Iklim demokrasi menjadi arena paling absah untuk mekarnya segala paham ideologi di negeri manapun saat ini. Hal itu terkait dengan kecenderungan sosiologis, yang oleh Esposito dikatakan, “satu Islam banyak warna”. Realitas keragaman itu sungguh sulit dibendung, meski bagi kepentingan perjuangan Islam sendiri cukup melelahkan dan sering kontraproduktif.
William Shepard memetakan keragaman orientasi teologis dan sosiologis gerakan Islam. Pertama, orientasi tradisionalis (traditionalist orientations). Paham ini reaktif terhadap modernisme dan pemikiran barat. Kelompok ini lebih loyal pada praktik-praktik tradisi dan konsensus-konsensus Islam masa lampau, kendati di belakang hari melahirkan neo-tradisionalis yang lebih maju. Termasuk dalam kelompok tradisionalis, ialah berbagai kelompok yang pandangan keagamaannya bersifat konservatif.
Kedua, orientasi Islamis (Islamism orientasions). Pandangan Islamis terbagi ke dalam dua corak yakni berorientasi modernis dan radikalis, keduanya menerima klaim Islam sebagai ajaran yang total, baik privat maupun publik. Namun pada kalangan modernis kendati Islam merupakan pandangan hidup yang total dengan kembali pada al-Qur’an dan as-Sunnah, tetapi dalam pelaksanaannya dan menghadapi perkembangan zaman memerlukan reinterpretasi. Pemikiran dari Barat dapat diterima kaum modernis tetapi diletakkan dalam kerangka Islam (islamic frameworks). Sementara kalangan Islam radikal lebih mengambil posisi puritan dan menjadikan Islam sebagai ideologi politik untuk membangun tatanan Islam (islamic order) dalam masyarakat, disertai langkah-langkah yang keras.
Ketiga, orientasi sekularis (secularist orientations). Pandangan sekular menolak klaim Islam sebagai pandangan hidup yang total (total way of life) dengan argumentasi bahwa banyak ranah kehidupan publik yang dibangun bukan hanya oleh syariat Islam tetapi berdasarkan inisiatif dan nalar manusia. Kalangan sekular memandang Islam sebagaimana agama dalam orientasi Barat, yang menempatkannya pada aspek ritual dan pribadi. Dalam pandangan pakar lain, kelompok ketiga ini sering disebut sebagai Islam Liberal.
Kemajemukan paham Islam tersebut tidak jarang saling bertentangan secara tajam. Keragaman pandangan tersebut ketika berbenturan satu sama lain terutama dalam posisi antarpaham yang ekstrem melahirkan apa yang oleh Tariq Ali disebut “the clash of fundamentalism”, konflik keras antarkaum muslim yang berkepala batu. Jika benturan keras seperti itu terus terjadi, maka perbedaan bukan lagi menjadi “hikmah” tetapi menebar masalah. Perjuangan Islam tidak lagi kohesif, solid, dan terfokus. Sebaliknya gerak Islam menjadi sentrifugal, sarat kontradiksi, dan menghabiskan energi. Lebih dari itu, pergerakan Islam sering kehilangan daya pijak yang membumi di negeri muslim berada.

Kita tidak tahu sampai kapan perjuangan Islam mengukir kejayaan menghadirkan peradaban altenatif (al-badil al-tsaqafy) sebagaimana kegelisahan seorang Tariq Ramadan. Demikian pula, bagaimana mungkin gerakan-gerakan Islam dan dunia muslim saat ini mampu menghadirkan kembali era keemasan Islam ratusan tahun silam, ketika paham dan format perjuangan Islam masih sarat kontradiksi dan banyak diselimuti oleh mimpi-mimpi milenari yang penuh mimpi utopis. Padahal, sejarah Islam harus digoreskan membumi oleh umat muslim sendiri. [islamaktual/al-manar/haedarnashir]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top