Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Bhinneka atau istilah lainnya berbeda, sudah akrab di telinga terutama sejak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Tapi jarang sekali dibahas mengenai asal-usul istilah tersebut. Islam pun mengenal bhinneka. Tapi kadang dimanfaatkan untuk para penganut pluralisme untuk membenarkan pemikirannya. Padahal pluralisme dan plural mempunyai makna yang berbeda. Agama Islam sangat menghargai kemajemukan. Namun tidak membenarkan jika semua keyakinan di dunia ini memiliki tujuan yang sama.
Bhinneka Tunggal Ika
Sejak ditemukannya Prasasti Yupa di Kutai, Kalimantan Timur, bangsa Indonesia sudah lepas dari masa pra sejarah. Agama Hindu dan Budha pun berangsur-angsur mulai membumi di Nusantara. Jika ditinjau dari sistem kepercayaan, pada perkembangan agama Hindu serta Budha yang dijalankan oleh para penganutnya di Indonesia ternyata berbeda atau tidak mengikuti pola yang telah pakem perkembangannya di negara asal dua keyakinan tersebut yaitu India.
Sebuah sistem kepercayaan pasti sedikit banyak mengalami proses sinkretis. Pada kasus ini, baik agama Hindu maupun Budha juga terkena dampak sinkretisme atau sering disebut dengan nama peleburan, terlebih khusus setelah abad X Masehi. Tidak sedikit para pemuka agama Hindu dan Budha yang memperdalam ilmu di India serta di Nusantara sendiri, dalam hal ini di Kerajaan Sriwijaya. Setelah beberapa tahun, rupanya para ahli agama yang telah mengkaji ajaran Hindu ataupun Budha tersebut menarik sebuah kesimpulan, bahwasanya kedua keyakinan yang pertama ada di Indonesia ini sesungguhnya mengarah pada cita-cita serta tujuan yang sama.
Pemahaman seperti itu ternyata tidak berhenti begitu saja. Mereka pada akhirnya menyatakan bahwa semua agama baik Hindu maupun Budha dengan berbagai aliran seperti Mahayana dan Tantrayana akan bermuara atau bersatu pada titik yang sama yaitu mencapai suatu kesatuan serta kelepasan dengan Yang Adi Kodrati. Para pendeta tersebut di kemudian hari melakukan pertemuan yang lebih intensif guna mematangkan pandangan baru dalam hal beragama. Karena pemahaman yang sama itulah, maka pada abad XIII-XIV, mulai muncul secara tegas sebuah konsepsi bernama Siwa-Budha.
Siwa dalam mitologi agama Hindu dikenal sebagai dewa perusak. Dalam konteks konsepsi ini, baik Siwa ataupun Budha senantiasa dipandang sebagai satu unsur yang tidak mempunyai perbedaan yaitu Yang Adi Kodrati. Siwa tercatat sebagai dewa tertinggi dalam agama Hindu, tidak lain juga sebagai sosok Budha yang merupakan tingkatan dari tujuan akhir agama pemegang kitab Tripitaka tersebut. Maka tidak heran jika di dalam kompleks Candi Prambanan, candi terbesar adalah Candi Siwa dan di Candi Borobudur stupa di bagian puncak merupakan simbol arupadatu yaitu menandakan tidak ada lagi keinginan terhadap kesenangan dunia.
Contoh heritage yang merupakan perwujudan konsepsi Siwa-Budha adalah Candi Kalasan yang terletak di Sleman. Pada bagian kemuncak candi terdapat stupa. Sebagaimana diketahui bahwa bangun ruang berventilasi belah ketupat ini selalu identik dengan dogma Budha. Sedangkan pada bagian relung candi terdapat arca Dewi Tara yang merupakan panteon dalam agama Hindu. Dalam satu candi ada dua agama yang menjadikannya sebagai tempat pemujaan.
Konsepsi Siwa-Budha kemudian digodok lebih intensif. Sehingga gagasan tersebut di masa berikutnya mendasari munculnya sebuah ungkapan Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa yang tertulis dalam Kitab Sutasoma atau disebut juga dengan nama Purudasanta yang dikarang oleh Mpu Tantular ketika Majapahit masih berkuasa di Trowulan, Jawa Timur. Kalimat tersebut bukanlah tanpa makna. Ungkapan ini telah menunjukkan bahwa meskipun ada keragaman tetapi pada hakikatnya memiliki tujuan akhir yang sama, tidak ada yang berbeda ataupun mendua.
Kalimat tersebut masih bertahan hingga sekarang. Motto inilah yang di kemudian hari diangkat menjadi bagian dari lambang negara Republik Indonesia, Garuda Pancasila. Dalam konteks tersebut, ungkpan itu sering diartikan: meskipun masyarakat Indonesia berasal dari berbagai suku, ras, agama, dan golongan tertentu, namun semua adalah bangsa yang satu dan tidak bisa terpecah-pecah dalam mencapai tujuan negara yaitu adil, makmur, dan sejahtera (Tanusudibyo, 2006:33). Ungkapan tersebut sejatinya bertujuan untuk mempersatukan perbedaan yang ada di negara kepulauan ini serta menanamkan rasa nasionalisme mendalam dalam pribadi tiap warga negara, bukan mencari benang merah dari sejumlah ajaran agama di bumi pertiwi.
Keragaman Dalam Islam
Di Mesir terdapat benda cagar budaya yang bernama Masjid Amr ibn Ash. Letak tempat ibadah ini berdekatan dengan Gereja Gantung (Kanisat al-Mu’allaqah). Hal ini bukanlah sebuah kebetulan semata, namun merupakan taktik dan strategi yang dimiliki oleh Gubernur Amr ibn Ash. Pada masa kepemimpinan Khalifah Umar ibn Khattab, Islam telah sampai hingga ke Mesir. Negeri Piramida ditaklukkan karena wilayah tersebut sangat strategis serta tanahnya subur (Karim, 2012:85). Pemimpin penaklukan tersebut adalah Amr ibn Ash yang pada akhirnya diangkat menjadi gubernur untuk wilayah Mesir. Pada saat pasukan Islam sukses berkuasa di Alexandria yang ketika itu merupakan pusat dari pemerintahan Romawi, Umar ibn Khattab bermimpi bahwa ibukota Mesir harus dipindah guna target kejayaan ke depan. Ilham yang didapatkan oleh Khalifah Umar ibn Khattab adalah pusat pemerintahan Mesir sebaiknya berdekatan dengan Pulau Raudhah, yang diidentikkan dengan lokasi antara rumah Nabi Muhammad dengan mimbar Masjid Nabawi, Madinah. Lokasi di sebelah timur Pulau Raudhah yang merupakan daratan di tengah Sungai Nil tersebut sering dikenal dengan nama Fustat.
Di daerah Fustat juga telah lama berdiri peninggalan masa Romawi yang masih digunakan dan merupakan sentra dari pemeluk Kristen Koptik. Peninggalan tersebut salah satunya adalah Gereja Gantung seperti yang telah disebutkan di awal tulisan ini. Pemindahan pusat pemerintahan Islam di Mesir dari Alexandria ke Fustat selain faktor Pulau Raudhah juga dikarenakan keberadaan Gereja Gantung. Gubernur Amr ibn Ash ingin pemeluk Kristen Koptik tetap dilindungi oleh kekuatan Islam yang ketika itu berkuasa dan sang amir berkeinginan supaya agama Islam tidak dicap sebagai penjajah karena telah sukses dalam penaklukan Mesir. Gambaran kerukunan dan kedamaian antarpemeluk agama tercermin dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Fustat ketika itu. Kebijakan Amr ibn Ash dalam hal saling menghargai antarumat beragama tersebut masih diadopsi hingga saat ini dengan perumusan Undang-Undang Toleransi yang isinya terkait perlindungan kaum minoritas di Republik Arab Mesir (Berger, 2004:345).

Begitulah contoh Islam memandang kebhinnekaan. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika murni bertujuan untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air tanpa melihat latar belakang perbedaan. Bukan untuk menganggap sama semua agama. Karena din yang paling benar hanyalah Islam. Hal ini sesuai dengan al-Maidah ayat 3 yang artinya: “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku. dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu.” [islamaktual/almanar/shubhimahmashony]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top