Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Berdirinya Bank Muamalat Indonesia yang diprakarsai oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI), ICMI (Ikatan Cendikiawan Muslim se-Indonesia), dan pemerintah, tahun 1991 -yang mulai beroperasi tahun 1992, menjadi cikal bakal keberadaan perbankan syariah di Indonesia. Dimana, awal berdirinya tidak ada landasan hukum khusus yang menjadi panduan operasional. Sehingga landasan hukumnya untuk sementara, mengacu pada Undang-undang No. 7 tahun 1992 tentang Perbankan.
Kemudian tahun 1998, keluarlah Undang-undang no. 10 tahun 1998 tentang Perubahan atas Undang-undang no. 7 tahun 1992 tentang Perbankan. Keberadaan UU Perbankan no. 10 , baru mengakomodir keberadaan perbankan syariah, sekaligus tata cara operasionalnya. Dan pada tahun 2008, lahirlah Undang-undang no. 21 tentang Perbankan Syariah.
Menurut data terakhir Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per-November 2013, untuk BUS (Bank Umum Syariah) ada 11 dengan jumlah kantor 1942, UUS (Unit Usaha Syariah) 23 dengan jumlah kantor 554, BPRS (Bank Pembiayaan Rakyat Syariah) 160 dengan jumlah kantor 399. Jika dibandingkan dengan jumlah bank dan kantor perbankan konvensional. Dimana bank konvensional yang terdiri dari Bank Persero 4 bank dengan jumlah kantor 6287, BUSN Devisa 36 bank dengan jumlah kantor 1965, BUSN Non Devisa 30 bank dengan jumlah kantor 1563, BPD 26 unit dengan jumlah kantor 2021, Bank campuran 14 unit dengan jumlah kantor 270, Bank asing 10 bank dengan jumlah kantor 197, BPR (Bank Perkreditan Rakyat) 1637 bank dengan jumlah kantor 4669. Dan jumlah keseluruhan menjadi 1757 unit dengan jumlah kantor 22.972 (OJK:2013, 59).
Begitu juga dengan jumlah aset antara bank syariah dengan bank konvensional, dimana jumlah aset bank syariah yang terdiri dari Bank Umum Syariah (BUS) sebesar Rp. 174.056 triliun. Unit Usaha Syariah (UUS) sebesar Rp. 59.074 triliun, dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) sebesar Rp. 5.683 triliun, kesemuanya berjumlah Rp. 238.813 triliun. Sedangkan aset bank konvensional, yang terdiri dari bank umum konvensional sebesar Rp. 4.817.751 triliun, bank perkreditan rakyat sebesar Rp. 75.017 triliun, dan kesemuanya berjumlah Rp. 4.892.768 triliun (OJK:2013, 32).
Dilihat dari jumlah bank, bank konvensional lebih besar dibandingkan dengan bank syariah dengan persentase bank syariah sebesar 10% dan bank konvensional sebesar 90%. Adapun dari jumlah kantor, kantor bank konvensional lebih banyak dibandingkan dengan bank syariah, dengan persentase sebesar 11% bank syariah dan 89% bank konvensional. Sedangkan dari jumlah aset, aset bank konvensional lebih besar dibandingkan dengan aset bank syariah, dengan persentase 5% bank syariah dan 95% bank konvensional.
Sekilas Perbandingan
Selama kurun waktu 22 tahun -dari tahun 1992 beroperasi hingga 2013 jumlah bank syariah masih sangat kecil, baik dari sisi jumlah bank, jumlah kantor, dan jumlah aset. Padahal jika dibandingkan bank syariah memiliki kualitas yang lebih baik -mulai dari proses me-mitigasi resiko hingga menjaga stabilitas keuangan di Indonesia.
Hal ini didasarkan dari hasil penelitian Siti Rokhaniyah, yang mencoba membandingkan tingkat stabilitas keuangan bank syariah dengan bank konvensional, menghasilkan penelitian bahwa bank syariah lebih stabil dibandingkan dengan bank konvensional (Journal Review of Islamic Economic, Finance and Banking:2013,91-101).
Selain itu, dari hasil penelitian Desertasi mahasiswa Program Doktoral Islamic Economics and Finance (IEF), Universitas Trisakti, Hendy Herijanto, dengan membandingkan antara NPF (Non Performance Financing) bank syariah dan NPL (Non Performance Loan) bank konvensional, menunjukkan bahwa tingkat NPF bank syariah lebih rendah atau lebih baik, dibandingkan dengan tingkat NPL pada bank konvensional (Hendy Herijanto:2013,401).
Selain itu, mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim. Hal tersebut seperti yang diungkap dari hasil penelitian Center for Religious and Cross-cultural Studies Universitas Gadjah Mada (CRCS-UGM), bahwa umat Islam di Indonesia berjumlah 207,2 juta jiwa atau 87,18% berdasarkan sensus penduduk tahun 2000 dan 2010 (Agus Indyanto:2013,25).
Dengan demikian, seharusnya keberadaan perbankan syariah maju lebih pesat apabila dibandingkan dengan bank konvensional. Jika dilihat dari NPF/NPL, data tersebut jelas membuktikan bahwa bank syariah lebih unggul; dilihat dari sisi stabilitas keuangan, menunjukkan perbankan syariah lebih unggul; begitu juga dengan pangsa pasar perbankan syariah yang terdiri dari mayoritas umat muslim, menunjukkan potensi pangsa pasar yang sangat besar. Namun demikian, mengapa ketiga hal tersebut malah berbanding terbalik dengan fakta yang ada, bahwa perbankan syariah masih cukup tertinggal apabila dibandingkan dengan perbankan konvensional.
Marketing by Triple Helix
Dengan demikian, harus ada pengembangan manajemen dan pemasaran yang inovatif oleh pelaku perbankan syariah di Indonesia; dan juga dakwah yang komprehensif oleh kalangan ulama, aktivis ekonomi Islam dan cendikiawan muslim. Sehingga potensi pangsa pasar umat muslim yang sangat besar, akan berimplikasi pada peningkatan pangsa pasar perbankan syariah di Indonesia.
Sinergitas antara ketiga hal tersebut, akan melahirkan transfer of knowledge dan sharing of knowledge, yang kemudian membentuk Triple Helix -sebuah kerjasama antara pelau perbankan syariah dengan kalangan pemerintah, aktivis ekonomi syariah atau cendikiawan muslim. Setidaknya ada empat hal yang dapat dilakukan oleh ketiga unsur tersebut untuk memasarkan jasa perbankan syariah kepada masyarakat muslim.
Pertama, meningkatkan pemasaran bank syariah dengan metode Islamic Marketing, yaitu bentuk pemasaran dengan menggunakan nilai-nilai ke-Islaman. Dimana Islamic Marketing lebih menekankan pada pembentukan karakter individu si marketer itu sendiri. Artinya, seorang pemasar harus memiliki religiusitas yang tinggi kala melakukan pemasaran. Sehingga, adanya religiusitas akan mampu menggaet pangsa pasar muslim, baik yang rasionalis ataupun apatis.
Kedua, perbankan syariah harus menerapkan Total Quality Management (TQM) dalam kegiatan operasionalnya. Karena penerapan TQM, akan membuat perbankan syariah sadar diri, bagian atau divisi mana yang memiliki kelemahan dan kelebihan -kelemahan harus diperbaiki dan kelebihan harus semakin ditingkatkan dmi perbaikan kualitas perusahaan.
Ketiga, sinergitas dakwah transformatif oleh pelaku perbankan syariah, kaum cendikiawan atau akademisi kampus, dan aktivis ekonomi syariah. Dimana dakwah transformatif merupakan suatu model dakwah yang tidak hanya mengandalkan dakwah verbal (lisan) untuk memberikan materi-materi agama kepada masyarakat, tetapi mampu mentransformasikan dan menginternalisasikan pesan-pesan keagamaan dalam kehidupan sehari-hari, dengan cara melakukan pendampingan. Artinya, dakwah tentang perbankan syariah yang disampaikan oleh ketiga elemen di atas kepada masyarakat, harus mampu mengubah dan menyadarkan masyarakat muslim, sehingga mereka mau menyimpan ataupun meminta pembiayaan di bank syariah, atau bahkan langsung mendampingi masyarakat untuk bertransaksi di bank syariah.
Keempat, meyakinkan pemerintah agar pemerintah mau menyimpan sebagian dana, baik dana BUMN, BUMD ataupun dana-dana lainnya di bank syariah. Karena dana pemerintah tersebut, akan menjadi dana segar bagi bank syariah, sehingga bank syariah mampu menyalurkan dananya lebih besar lagi kepada masyarakat.

Jika keempat hal tersebut mampu direalisasikan, rentabilitas bank syariah akan meningkat signifikan, yang pada akhirnya akan meningkatkan market share perbankan syariah di Indonesia. [islamaktual/tabligh/hamlisyaifullah]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top