Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Ikhlas? Kata yang satu ini sering dengan mudah keluar dari lisan dan tulisan, dalam ceramah dan tausyiyah ke-Islaman. Beragam retorika dan keindahan kata-kata akan dengan mudah keluar dari seseorang, apakah itu mubaligh, ustadz, kiai, dan siapapun yang menyuarakan pesan luhur agama. Pun, ketika seseorang sedang ditimpa musibah atau hal yang tidak menyenangkan, selalu diberi pesan tentang keikhlasan. Bahwa dalam perjuangan dan juga hidup ini haruslah: ikhlas, ikhlas, dan ikhlas!
Sederet ayat al-Qur’an dan Hadits Nabi pun dilantunkan dan dikumandangkan tentang pentingnya ikhlas. Niat yang ikhlas. Allah berfirman: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus” (QS. al-Bayyinah : 5). Hadits Nabi yang termasyhur pun disyiarkan dengan tekanan suara yang nyaring: “Sesungguhnya setiap amal itu tergantung dari niatnya. Barangsiapa (niat) hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya (benar-benar) kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa hijrahnya untuk dunia yang dia ingin meraihnya atau untuk wanita yang dia ingin menikahinya, maka (nilai) hijrahnya kepada apa yang dia berhijrah karenanya.” (HR. Bukhari & Muslim dari Umar ibn Khaththab ra). Sejumlah ayat al-Qur’an, Hadits Nabi, dan pandangan ulama dapat didaftar tentang betapa pentingnya niat yang ikhlas dalam hidup dan perjuangan Islam.
Namun, semudah itukah mengamalkan atau mempraktikkan niat ikhlas? Apakah kita dapat konsisten mewujudkan atau mengaktualisasikan niat, sehingga kata sejalan dengan tindakan. Bukan sekadar dalil agama dan retorika nan indah. Disinilah masalahnya. Dalam praktik di dunia nyata sering terjadi bahwa ikhlas itu mudah dikatakan tetapi tidak gampang dilaksanakan. Lian dengan nyaring menyuarakan pentingnya niat ikhlas, tetapi dalam praktik hidup sering diwarnai seribu satu kepentingan dari yang batin atau sekadar isyarat hingga yang lahir dan tampak vulgar. Kepentingan politik, dukungan suara umat, jabatan, materi, dan matematika yang penuh kalkulasi duniawi lainnya. Jadilah niat ikhlas bercampur aduk dengan beragam motif, interest, dan tujuan yang tidak sejalan dengan suara niat ikhlas yang autentik.
Niat ikhlas itu niat yang tulus, yang bening sebagaimana akar katanya khalasha. Niat yang tidak tercampur baur oleh yang kotor-kotor, apalagi oleh tindakan menghalalkan segala cara dan penuh kepentingan duniawi yang berlawanan dengan kebenaran. Termasuk tidak tergoda oleh kepentingan posisi jabatan dan alfabeta kepentingan diri yang menyeruak secara tersembunyi dan terang-terangan. Tidak terkotori oleh riya’ dan segala hal yang membelokkan niat dan tujuan yang bersih. Persis sebagaimana uswah hasanah Nabi yang menolak mentah-mentah ketika ditawari kedudukan, kekuasaan, perlindungan istimewa, dan hak-hak spesial asalkan meninggalkan misi dakwah Islam. Nabi adalah teladan terbaik yang kata-katanya sejalan dengan lakunya, lisannya konsisten dengan tindakannya.
Menurut Imam al-Ghazali, ikhlas adalah sesuatu yang murni dan tidak tercampur aduk dengan yang kotor-kotor. Dalam amaliah, kata al-Ghazali, terdapat sejumlah contoh niat dan perbuatan ikhlas yang masih tercampur oleh hal-hal yang bersifat kepentingan, antara lain sebagai berikut. Berpuasa dengan tujuan meraih manfaatnya. Berhaji sekadar meraih keuntungannya. Bershalat-lail untuk meraih tujuan duniawi. Berilmu untuk mencari pangkat dan kedudukan. Dekat dengan orang alim untuk meraih kepentingan tertentu. Menjenguk orang sakit agar ketika sakit dirinya juga dijenguk. Demikian berbagai contoh bagaimana niat ikhlas tercampur oleh hal-hal yang bersifat kepentingan duniawi khas kaum sufi.

Mungkin tidak perlu ekstrem atau ghulul, karena manusia memiliki kepentingan duniawi dan harus di dunia yang nyata. Namun setidak-tidaknya ada bingkai, batas, dan patokan yang konsisten dalam mewujudkan niat ikhlas. Setidak-tidaknya tidak terjebak pada sifat-sifat nifaq, lain di kata lain pula dalam tindakan, lain di lisan beda pula dalam perbuatan. Tidak jarang Tuhan itu menguji di tempat kita berada. Jika setiap kali anda bicara tentang ikhlas, ikhlas dan ikhlas, maka pada saat yang sama akan dihadapkan pada berbagai ujian dari yang besar hingga yang kecil-kecil dan sederhana apakah benar-benar ikhlas secara autentik atau sekadar retorika keindahan lisan. Orang lain pun akan menjadi saksi, apakah ikhlas yang sering disuarakan itu benar-benar diamalkan dalam perbuatan dan tindakan. Keikhlasan itu malah tidak harus sering dikatakan dan ditampak-tampakkan, yang palinh penting dipraktikkan dan diamalkan. Allah mengingatkan: Katakanlah : “Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu melahirkannya, pasti Allah mengetahui.” Allah mengetahui apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. ali-Imran : 29). [islamaktual/sm/a.nuha]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top