Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Kotagede, sebuah kota kecil yang terletak 6 kilometer sebelah selatan Yogyakarta. Disanalah H.M. Rasjidi dilahirkan. Ia dilahirkan pada Kamis, 20 Mei 1915 bertepatan dengan 4 Rajab 1333 Hijriyah. Rasjidi adalah anak kedua dari lima bersaudara dari ayah yang bernama Atmosudigdo.
Nama asli Rasjidi sebenarnya Saridi, namun Ahmad Surkati yang “sangat Arab” sering salah sebut; inginnya memanggil “Saridi” tetapi malah menyebut “Rasjidi”. Meski sudah dicoba untuk melafalkan yang benar, tapi sang Syaikh Surkati tetap sukar menyebut nama Jawa itu. Sementara itu, yang bersangkutan tidak keberatan dipanggil “Rasjidi” oleh gurunya, bahkan dia lebih sreg dengan sebutan itu. Maka dia pun mengubah namanya menjadi “Rasjidi”, sebuah nama yang memiliki makna yang lebih baik ketimbang nama aslinya. Pemberian nama itu mungkin kenang-kenangan terakhir buat Saridi dari Syeikh Surkati dan sekolahnya. Pengukuhan nama barunya itu dilakukan setelah dia selesai menunaikan rukun islam yang kelima, yaitu naik haji bagi orang yang mampu secara fisik dan materi, kemudian melengkapi namanya menjadi Mohammad Rasjidi.
Kedua orangtua Rasjidi adalah keluarga abangan (Islam yang kurang taat syariah). Setiap Jum’at Kliwon atau Selasa Kliwon, ia sering disuruh ibunya menaruh bunga dan membakar kemenyan di pojok rumah, di dekat pintu dan di dalam kamar. Kotagede memang kental dengan nuansa adat Jawa yang penuh dengan mistik dan takhayul.
Namun, kepercayaan-kepercayaan itu lambat laun hilang dengan datangnya gerakan Muhammadiyah. Di kemudian hari, Rasjidi banyak membahas dan menulis mengenai mistisisme dan sinkretisme menurut pandangan Islam.
Rasjidi di Sekolah Muhammadiyah
Ketika memasuki usia sekolah, Rasjidi dimasukkan ayahnya ke sekolah ongko loro (setingkat sekolah dasar sampai kelas lima). Kemudian ia pindah ke sekolah Muhammadiyah. Ketertarikannya kepada sekolah Muhammadiyah adalah karena di sekolah ini, disamping diajarkan pelajaran umum juga diajarkan pelajaran-pelajaran agama, cara-cara melakukan shalat, serta membaca al-Qur’an. Selain itu, anak-anak di sekolah Muhammadiyah juga sering melakukan shalat berjamaah di langgar yang letaknya tak jauh dari rumah Saridi, sehingga menimbulkan ketertarikan padanya.
Selesai dari sekolah Kotagede, Rasjidi melanjutkan studinya ke Kweekschool Muhammadiyah (Sekolah Pendidikan Guru model Belanda) yang terletak di Jalan Ngabean Yogyakarta. Di sekoah ini Rasjidi belajar ilmu bumi (geografi), aljabar, sejarah, dan ilmu umum lainnya. Untuk pelajaran agama Islam, para siswa mendapat pendidikan intensif dari para guru ahli yang terdiri dari R.H. Hadjid, H. Siradj Dahlan, R.H. Handa, dan seorang guru yang memberikan pelajaran bahasa Arab bernama Ali Qudsi.
Perjalanan Intelektual
Kehausannya akan ilmu membuat Rasjidi pergi mengembara mencari ilmu. Ia berangkat ke Lawang, Malang, Jawa Timur untuk berguru kepada Syeikh Ahmad Surkati (pendiri Al-Irsyad), setelah sebelumnya meminta ijin melalui surat untuk belajar kepadanya. Ahmad Surkati dikenal sebagai ulama yang berpaham modern, sehingga Rasjidi tertarik untuk belajar dalam institusi pendidikannya.
Syeikh Ahmad Surkati melihat kecerdasan, kesabaran, dan ketekunan Rasjidi. Rasjidi sudah mampu membaca kitab-kitab yang cukup berat dan berbobot, seperti buku gramatika Bahasa Arab Alfiyah karya Ibnu Malik. Ia juga sudah menghafal buku logika Aristoteles yang berjudul Matan as-Sulaam. Dia bahkan sering diajak untuk berbincang-bincang dan diberi ilmu yang lebih intensif. Karena kemampuan yang di atas rata-rata itulah Rasjidi dipercaya oleh Syeikh Ahmad Surkati untuk menjadi asistennya dalam mata pelajaran gramatika Bahasa Arab.
Perjalanan intelektual Rasjidi tidak terhenti di negeri sendiri. Ia mengembara mencari ilmu ke Timur dan Barat. Ia memulainya ke Mesir. Disana ia mengecap ilmu-ilmu keislaman di Darul Ulum dan Universitas Kairo mesir, mengambil bidang filsafat dan agama. Setelah 7 tahun di Kairo, pada tahun 1938, ia kembali ke Kotagede dan menikah.
Rasjidi meneruskan kuliahnya di Universitas Sorborne Paris, Perancis sekitar tahun 1954. Walaupun ia belajar di negeri Barat, sedikit pun tidak terpengaruh oleh pemahaman orang-orang Barat terhadap Islam. Rasjidi benar-benar hanya belajar ilmu-ilmu mereka. Karena itu rasjidi kemudian dikenal sebagai seorang ilmuwan Islam yang sangat kritis terhadap pemikiran Barat, khususnya pemikiran mereka tentang islam.
Karakter inilah yang membedakan rasjidi dengan intelektual Islam lainnya yang juga mengenyam pendidikan di Barat. Sebagian para intelektual Islam yang pernah belajar di Barat banyak dipengaruhi oleh pola fikir intelektual Barat, sehingga pemahaman dan pemikiran mereka tentang Islam banyak yang tidak sesuai atau menyimpang dari ajaran Islam yang sebenarnya.
Selesai pendidikannya di Sorborne, ia juga pernah ditunjuk menjadi Associate Professor di Universitas McGill. Ia dipercayakan mengajar hukum Islam dan sejarah. Walau demikian, Rasjidi tidak terpengaruh dengan pemikiran-pemikiran orientalis tentang Islam. Bahkan, suatu waktu ia pernah berdebat dengan Joseph Schacht, orientalis internasional yang sangat disegani, mengenai hukum dan ajaran yang bertalian dengan Islam.
Rasjidi pernah mengkritisi pemikiran Harun Nasution. Menurutnya Harun bukan hanya kurang kritis terhadap pemikiran orientalis, tetapi malah mengikuti dan mengembangkannya di Indonesia. Rasjidi sangat mengharap bahwa lembaga pendidikan tinggi agama Islam di Indonesia seharusnya melahirkan sarjana-sarjana yang mahir dalam ilmu keislaman, bahsa Arab, al-Qur’an, Syariah, Tauhid, dan sebagainya; juga mengetahui ilmu-ilmu baru seperti Sosiologi, hukum, filsafat, dan lainnya. namun demikian, Rasjidi juga tetap menekankan pentingnya untuk tetap kritis pada setiap ilmu yang merupakan produk Barat atau orientalisme.
Sekembalinya ke Indonesia, ia aktif mengajar, menulis, dan mengkritisi pemikiran-pemikiran dan metodologi studi Islam gaya orientalis yang sering dihadapinya di Barat.
Kiprah Demi Bangsa
Rasjidi aktif dalam pergerakan. ia masuk partai politik. Yang pertama ia masuki adalah Partai Islam Indonesia (PII) yang dibentuk pada Kongres PII di Yogyakarta tahun 1940. Di PII, Rasjidi terpilih sebagai anggota nasional. Selain itu Rasjidi juga aktif menjadi anggota Muhammadiyah. Ketika Jepang masuk, menjadi salah seorang fungsionaris Masjumi.
Ketika Indonesia merdeka, dibentuklah Deprtemen Agama. Maka, dialah orang yang pertama kali duduk sebagai menteri Agama di usia 36 tahun, 3 Januari 1946. Kemudian dalam perkembangannya, Rasjidi diangkat menjadi Duta Besar Indonesia untuk Mesir dan Arab Saudi yang berkedudukan di Kairo. Kemudian pada tahun 1953 ia dipindahkan ke Teheran. Tiga belas bulan kemudian Rasjidi dipindahkan lagi ke Jakarta.

HM. rasjidi adalah tokoh fenomenal. Tradisi keilmuan Barat yang melingkupi kehidupan akademis Rasjidi tak lantas membuat mantan Menteri Agama RI ini mengamini doktrin pemikiran Barat. Ide yang menempatkan semua agama pada posisi dan fenomena yang sama dia sanggah dengan keras serta bernas, hasil dari pembacaannya yang kritis terhadap teks-teks Barat, dipadu oleh pengetahuan serta keyakinannya yang teguh terhadap ajaran Islam. [islamaktual/tabligh/bahrumsubagia]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top