Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Perbedaan adalah hal yang niscaya menjadi warna kehidupan. Al-Hujurat ayat 13 pun menunjukkan bahwa beda itu adalah fakta kemanusiaan. Sejarah lampau telah menunjukkan indahnya perbedaan dalam nuansa keislaman. Islam mengakomodir perbedaan tiap-tiap manusia dalam bingkai mutualisme yang apik. Barangkali muncul keheranan, bagaimana bisa berbeda tapi justru berjalan beriring. Fakta sejarah justru menunjukkan itu secara jelas. Sejak umat Islam ditinggal mangkat Rasulullah saw, perbedaan pandangan menjadi kajian pokok para khalifah. Namun pandangan yang berbeda ini tidak menjadi pemecah, justru menjadi kesempatan aktual untuk bermusyawarah dan berdiskusi. Kajian ilmiah justru menjadi bagian hidup, tidak hanya bagi individu sahabat, tapi juga dalam pemerintahan. Jauh pasca khulafaurrasyidin, kita mengenal tumbuh kembangnya mazhab empat yang masyhur dan bertahan sampai sekarang. Walau mazhab disini dibentuk oleh para pengikut, ia bermuara pada tokoh sentral sang imam. Kita mengenal akrab nama Abu Hanifah, Malik bin Anas, Muhammad Idris al-Syafi’i, dan terakhir Ahmad bin Hanbal.
Dari keempat Imam tersebut, Abu Hanifahlah yang tertua. Sejarah hidupnya berawal dari 80 hingga 148 H. Kehidupan sang Imam ini nyatanya tidaklah lepas dari nuansa perbedaan. Bagaimana tidak, ia banyak sekali berguru kepada para ulama yang tentu saja masing-masingnya memiliki pandangan sangat beragam. Banyak sudah rekam memori orang-orang yang pernah bersinggungan dengannya. Bercerita tentang bagaimana Abu Hanifah bersikap di kesehariannya. Beliau dikenal sebagai orang yang sangat lemah lembut. Sifat ini mengawal sikapnya dalam perbedaan. Pernah suatu ketika Abu Hanifah dihujat sebagai kafir dan zindik. Ia hanya menjawab, “Semoga Allah mengampunimu, Ia lebih mengetahui kekeliruan perkataanmu”. Metode berfikir yang dimiliki Imam Hanafi tentulah berbeda dengan metode yang lain. Imam Hanafi pernah memberikan pernyataan, “Inilah pendapat kami, namun kami tidak memaksakan pendapat tersebut kepada yang lain, maka siapa saja yang memiliki pandangan yang lebih baik dari pandangan kami sampaikanlah”. Pada kesempatan lain, sang Imam pernah menyatakan, “Sesuatu yang datang dari Rasulullah saw maka itu menjadi pegangan, dan sesuatu yang datang dari sahabat maka kami akan memilihnya, dan apabila datang dari selain tadi maka itu pandangan mereka dan ini pandangan kami”. Kalimat akhir inilah yang di kemudian hari, bahkan sekarang menjadi masyhur sebagai sikap tolerir terhadap keberbedaan. Itulah mengapa banyak penghormatan yang diberikan kepada Abu Hanifah sampai pada hari wafatnya.
Imam kedua dari keempat Imam mazhab adalah Malik ibn Anas yang hidup pada 93 sampai 179 H. Tatkala ditanya muridnya, Muhammad ibn Idris al-Syafi’i, apakah Imam Malik pernah bertemu dengan Abu Hanifah, ia menjawab pernah dan berkata, “saya bertemu seseorang yang apabila ia memberitahumu bahwa tongkat ini akan menjadi emas, maka ia akan menuturkan argumentasinya”. Pernyataan sang Imam ini menjadi titik penting bahwa berbedanya Imam Malik dengan Abu Hanifah tidak membuatnya enggan menghormati Imam Hanafi. Abu Hanifah pun pernah memberikan komentarnya mengenai Malik ibn Anas. Beliau berkata, “Tidaklah aku pernah menemui seseorang yang lebih cepat dari Malik ibn Anas dalam menjawab sesuatu dengan benar dan yang mampu mereview dengan sempurna”.
Murid Imam Malik, Muhammad ibn Idris al-Syafi’i lahir pada 150 H, merupakan sosok yang sangat akademik. Barangkali ungkapan yang cocok pada zaman sekarang adalah pernyataan, “jadilah ulama yang intelek dan intelektual yang ulama”. Syafi’i seperti dikenal sejarah, merupakan tokoh yang akomodatif terhadap dua arus besar pemikiran. Ia berguru pada Malik ibn Anas di Madinah dan juga merantau ilmu di Iraq, tempat berkembangnya pemikiran Abu Hanifah. Tidak berhenti di sana, Syafi’i pun merantau pula ke Mesir yang kemudian melahirkan hasil pandangannya yang baru. Kita mengenalnya kemudian dengan qaulu’l jadid. Walau memiliki beberapa pandangan yang berbeda dengan sang guru, tidak mengurangi respeknya kepada Malik ibn Anas. Imam Syafi’i pernah berujar, “Malik ibn Anas adalah guruku, darinya kami belajar, dan apabila menyebutkan ulama, maka Malik adalah sang bintang”. Dirinya memiliki prinsip yang sama dengan para imam yang lain dalam amanah keilmuan. Syafi’i berkata, “apabila kalian mendapati dalam bukuku sesuatu yang berbeda dari sunnah Rasulullah saw, maka ambillah sunnah Rasulullah saw dan tinggalkanlah pendapatku”. Kematian Imam Syafi’i pada 204 H banyak dikomentari dengan hilangnya ilmu. Bagi mereka yang berbeda atau yang sependapat semua menyatakan kehormatan mereka masing-masing.
Sebagaimana tiga Imam sebelumnya, Ahmad ibn Hanbal yang lahir pada 164 H menjadi contoh tepat bagi keragaman pengetahuan. Murid Syafi’i ini dikenal sebagai ahlil hadits pada masanya. Statusnya sebagai murid Syafi’i tidak membuatnya harus taklid kepadanya. Pun ketika berbeda pandangan rasa takzim tidak luntur darinya terhadap Imam Syafi’i. Ahmad ibn Hanbal sempat ditanya putranya seperti apakah Syafi’i itu. Imam Ahmad mengatakan bahwa Syafi’i itu seperti matahari dan sebagai bentuk afiat bagi manusia. Tidak putus sampai di sini, Syafi’i pun turut memberikan respeknya kepada Ahmad ibn Hambal. Sang guru pernah menyampaikan, bahwa ia tidak meninggalkan Baghdad orang yang lebih fakih, lebih zuhud, lebih wara’, dan lebih alim dari Ahmad ibn Hanbal.

Inilah warisan yang sejatinya lebih mahal dari emas. Perbedaan empat orang Imam yang cemerlang. Mereka memperlihatkan sisi kerahmatan dari beda pandang mereka masing-masing. Sejarah para Imam ini adalah kebhinnekaan umat Islam, suatu khazanah yang harus dijaga dan juga dipelihara. Mereka berbeda namun tidak menghujat satu sama lain. Tidak pula menjatuhkan lawan pikirnya. Lebih dari itu, mereka memberikan contoh bagaimana seharusnya menghormati perbedaan yang terjadi di antara mereka. Pada hakikatnya sikap mereka adalah sikap para sahabat Nabi saw. Untuk itulah umat Islam perlu meneladani dan mencontoh sikap mereka dalam perbedaan. Bahwa perbedaan adalah suatu yang niscaya. Berbeda bukan menjadi kelemahan, namun justru menjadi kekayaan intelektual. Tentu saja berbeda tidak hanya sekedar membedakan diri dengan mengatakan ‘yang penting beda’, tetapi berbeda yang dihasilkan dari olah pikir dan olah batin. Bahwa apa yang dikatakan orang lain bisa direvisi, pun demikian dengan perkataannya sendiri. Tidak ujub pada pendapat pribadi sehingga mati-matian membelanya dan menyalahkan sekenanya pandangan lain. [islamaktual/almanar/fauzanmuhammadi]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top