Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


oleh : KH. Mu’ammal Hamidy, Lc

Kemiskinan Adalah Bencana
Kemiskinan, sekalipun telah menjadi Sunnatullah, di samping kekayaan, sebagai penyeimbang, namun pada hakekatnya adalah bencana (musibah). Tak ubahnya penyakit, yang sangat membahayakan ketahanan hidup. Dan sekalipun penyakit itu dibuat oleh Allah, namun Allah SwT pula yang menyuruh manusia untuk berobat. Rasulullah saw bersabda:
Abu Darda’ meriwayatkan, katanya: Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit dan obat, dan setiap penyakit ada obatnya. Karena itu berobatlah kalian, tetapi jangan berobat dengan haram.” (HR. Abu Daud)
Seperti itulah kemiskinan. Sekalipun Allah sendiri yang membuat seseorang miskin, tetapi Dia pun yang menyuruh manusia mengatasinya. Kalau mungkin mengeliminirnya. Karena, kalau tidak, akan membahayakan kehidupan manusia itu sendiri, dalam arti luas, baik terhadap diri sendiri, masyarakat maupun negara. Sehingga banyak sekali ayat al-Qur’an yang menyerukan bekerja, dan bumi sebagai tempat serta lahan pekerjaan ini sangat berpotensi, misalnya di Surat al-Baqarah ayat 29 dikatakan:
baqarah_29.png
Artinya: “Dialah (Allah) yang menciptakan apa yang ada dalam bumi ini semuanya untuk kamu (manfaatkan) Kemudian Dia menuju langit dan menyempurnakannya menjadi tujuh langit, sedang Dia Maha Mengetahui atas segala sesuatu.” (QS. al-Baqarah [2]:29).
Dan di surat Hud justru lebih tegas:
hud_61.png
Artinya: “... Dia (Allah) yang menciptakan kalian dari bumi (tanah) dan menyuruh kalian untuk memakmurkannya. Maka minta ampunlah kamu kepada-Nya dan bertobatlah kepada-Nya, sesungguhnya Tuhanku sangat dekat lagi mengabulkan do’a” (QS. Hud [11]:61).
Memakmurkan bumi artinya mengeksplorasi potensi bumi dan akhirnya mengeksploitasinya. Dengan demikian, berarti bekerja mencari rezeki itu hukumnya wajib. Artinya, siapa yang berdiam diri, hanya menggantungkan takdir dan belas kasih orang lain, hukumnya haram. Atau dengan kata lain “rela hidup dengan kemiskinan itu haram”. Karena bahaya yang diakibatkan oleh kemiskinan itu kompleks, meliputi berbagai aspek dan sektor:
  1. Di sektor agama; bahwa kemiskinan bisa membawa pada kekufuran, bahkan bisa menghambat jihad fii sabilillah dan Dakwah Islamiyyah, yang notabene memerlukan dana besar.
  2. Di sektor harga diri; bahwa kemiskinan bisa membuat seseorang kehilangan harga diri. Karena kemiskinan, membuat orang tidak malu meminta-minta. Dan itu jelas menghancurkan harga diri.
  3. Di sektor keilmuan; bahwa kemiskinan bisa membuat otak tidak berfungsi. Karena kalau perut lapar sangat mempengaruhi pikiran.
  4. Di sektor rumah tangga; bahwa kemiskinan bisa membuat rumah tangga berantakan dan broken. Al-Qur’an menceritakan, bahwa di jaman jahiliyah banyak orangtua yang tega membunuh anak-anaknya lantaran tidak bisa menghidupinya dengan layak.
  5. Dalam negara; bahwa kemiskinan bisa membuat negara kacau, di sana sini banyak gejolak, timbul berbagai penyakit karena pemukiman yang kumuh, obat-obatan tidak tersedia dsb.
Mengentas Kemiskinan
Nabi Muhammad saw yang diutus Allah SwT ke tengah-tengah umat manusia ini, salah satu tugasnya adalah mengentas kemiskinan. Selanjutnya dilakukanlah kebijakan-kebijakan yang antara lain sebagai berikut:
  1. Seruan bekerja bagi yang ada kemampuan dan diharamkan memakan barang sedekah. Dalam hal ini beliau bersabda:
Abu Hurairah meriwayatkan, katanya: Rasulullah saw bersabda: Barang sedekah tidak halal bagi orang kaya dan bagi orang yng masih kuat bekerja. (HR. Lima Imam)
Abdullah bin Adi bin Khiyar menceritakan, bahwa ada dua orang menghadap Nabi saw dalam haji wada’ yang ketika itu beliau sedang membagi-bagi sedekah, lalu dua orang tersebut memintanya. Kata mereka: Lalu Nabi saw melihat-lihat badan kami dari atas sampai bawah, maka beliau mengetahui kami masih tampan dan tegap. Maka sabdanya: Jika kalian mau akan kami beri, tetapi (perlu diketahui) bahwa tidak ada bagian barang sedikit pun dari sedekah itu untuk orang kaya dan orang yang masih kuat lagi bisa bekerja” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Nasa’i).
  1. Seruan kerja ini tidak harus di tempat sendiri, bahkan bila perlu merantau ke daerah lain, misalnya ke luar negeri. Katanya: “Abu Hurairah meriwayatkan, bahwa Nabi saw bersabda: Merantaulah kalian (mencari rizki) maka, kamu akan sehat, dan berperanglah kamu, maka kamu akan diberi kecukupan” (HR. Ahmad)
  2. Pemberian modal oleh orang kaya, dengan sistem bagi hasil (mudharabah), atau mengerjakan tanah milik orang lain dengan sistem bagi hasil, sekaligus melarang para tuan tanah membiarkan tanahnya tidak berproduksi. Diriwayatkan yang artinya : “Dari Jabir bin Abdullah menyatakan: Banyak orang di kalangan kami yang mempunyai kelebihan tanah, yang mereka sewakan kepada orang lain dengan bagi hasil per sepertiga dan per seperempat. Lalu Nabi saw bersabda: Barangsiapa yang mempunyai kelebihan tanah maka hendaklah ditanami, atau menyerhkan kepada saudaranya untuk menanaminya. Jika dia menolak maka tahanlah dia.” (HR. Ibn Majah).
Dalam riwayat lain dikatakan yang artinya : “Rafi’ bin Usaid bin Zhuhair, meriwayatkan dari ayahnya Usaid bin Zhuhair, bahwa satu saat dia menemui kaumnya Bani Harisah, serayamengatakan: Wahai Bani Harisah kalian menghadapi bahaya. Mereka bertanya: Bahaya apa? Jawab Usaid: rasulullah saw melarang kita menyewakan tanah. Lalu kami bertanya: Bagaimana kalau kami sewakan dengan sedikit biji-bijian (hasil bumi)? Beliau menjawab : Tidak boleh. Kami bertanya lagi: Bagaimana kalau kami sewakan dengan buah tin? Beliau menjawab: Tidak boleh. Kami bertanya lagi: Bagaimana kalau kami sewakan dalam bentuk penyiraman di musim semi? Beliau tetap menjawab: Tidak boleh, seraya bersabda: Tanamilah sendiri atau berikanlah kepada saudaramu.” (HR. Nasa’i)
  1. Menjadikan para pekerja/buruh sebagai mitra, sebagaimana diisyaratkan oleh al-Qur’an Surat Zuhruf ayat 32, yang selanjutnya dijabarkan oleh Nabi saw dengan memberi bantuan pekerja yang kurang mampu. Rasulullah bersabda yang artinya: “Abu Dzar meriwayatkan dari Nabi saw, beliau bersabda kepadaku: Barangsiapa yang oleh Allah diberi seorang pembantu di bawah kekuasaannya, maka berilah dia makan seperti apa yang dia makan, dan berilah pakaian seperti apa yang dia pakai dan janganlah dia diberi pekerjaan di luar kemampuannya, dan jika (terpaksa) memberi pekerjaan yang berat, maka bantulah dia.” (HR. Bukhari dan Muslim)
  2. Menjadikan hasil kerja sendiri itu sebagai hasil yang terbaik. Katanya yang artinya: “Miqdam meriwayatkan dari Nabi saw, beliau bersabda: Tidaklah seorangpun makan makanan yang terbaik, selain makan dari hasil kerja tangannya sendiri, dan sesungguhnya nabiyullah Daud makan dari hasil kerja tangannya sendiri.” (HR. Bukhari)
  3. Membantu orang-orang yang memang sudah tidak mampu usaha (QS. al-Ma’un dll).
  4. Berdoa agar tidak menjadi miskin:
Sesungguhnya Nabi saw biasa berdoa: Allahumma inni a’udzubika minal kufri wal faqri wa ‘adzabil qubri (Ya Allah, sungguh aku mohon perlindungan kepada-Mu dari kufur dan menjadi miskin serta azab kubur).

Demikian sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad (19487) dari Abi Bakrah ra. Doa ini, sebagaimana dituturkan rawi dalam riwayat Abu Daud, sering beliau baca di akhir shalat. [islamaktual/sm]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top