Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Bagi setiap Muslim sejati, hidup itu memiliki makna, tidak sekadar hidup. Demikian pula dalam berperilaku, tidak asal bertindak. Semuanya ada muara dari setiap perbuatan. Jika berbuat baik, maka perbuatan baik itu akan kembali pada diri sendiri, selain memberi manfaat kepada orang lain. Sebaliknya jika berbuat buruk, apalagi yang menimbulkan kerugian bagi orang lain, maka perbuatan buruk itu akan kembali pada diri sendiri. Ibarat pepatah, menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri. Sebaik-baiknya perbuatan buruk dikemas akhirnya meluap pula. Sebaliknya perbuatan baik akan melahirkan keharuman.
Jangan merasa senang dan bangga ketika berbuat sesuatu yang merugikan orang lain, karena semua akan kembali pada diri sendiri. Allah dengan tegas mengingatkan: “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam masjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai.” (QS. al-Isra’ [17] : 7).
Karena itu pada setiap tindakan apapun selalu ada hisab, perhitungan dan penghitungan. Jangan merasa ketika anda berbuat buruk atau jahat terhadap orang lain, semua akan berlalu begitu saja. Sebaliknya, jangan pernah merasa kecewa jika anda berbuat baik kepada orang, sementara orang membalasnya dengan keburukan misalnya, karena apapun akan terhisab dengan sendirinya. Hisab manusia boleh jadi bisa luput dan salah, tetapi hisab Allah baik di dunia lebih-lebih di akhirat, pasti terjadi dan mustahil meleset.
Soal perbuatan dan hisab, Allah menegaskan dalam al-Qur’an: “Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka. Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu.” (QS. al-Isra’ [17] : 13-14). Orang awam menyebutnya karma, yang dipengaruhi oleh alam pikiran Hindu. Pandangan Islam bicara soal hisab baik dan buruk. Bahwa setiap perbuatan pasti selalu ada hitungannya yang pasti di hadapan Tuhan. Tuhan pun tidak akan salah alamat dalam menghisab perbuatan makhluk-Nya. Disinilah letaknya pertaruhan hidup manusia di dunia.
Hidup di dunia ini terlalu mahal untuk menjadi pertaruhan yang tidak jelas, apalagi sekadar petualangan. Kiai Haji Ahmad Dahlan, menyampaikan pesan dalam pelajarannya yang pertama: “Kita manusia ini, hidup di dunia hanya sekali, untuk bertaruh. Sesudah mati, akan mendapat kebahagiaankah atau kesengsaraankah?” Lalu pendiri Muhammadiyah itu menukilkan kata-kata hikmah ulama klasik: “Manusia itu semuanya mati (mati perasaannya) kecuali para ulama, yaitu orang-orang yang berilmu. Dan ulama-ulama itu dalam kebingungan, kecuali mereka yang beramal. Dan mereka yang beramal pun semuanya dalam kekhawatiran kecuali mereka yang ikhlas atau bersih.” (K.R.H Hadjid, t.t : 7).
Karena itu, setiap Muslim, lebih-lebih pengikut Nabi Muhammad atau Muhammadiyah, bertindaklah lurus atau bersih agar pertaruhan hidup jelas bermakna dan membuah serba kebaikan, sehingga lulus hisab Allah di dunia dan akhirat. Apalah arti meraih sesuatu yang kelihatannya sukses secara duniawi, tetapi kehilangan makna dan kebaikan di akhirat. Apalah arti menoreh sukses untuk diri sendiri manakala merugikan orang lain dan lingkungan kehidupan. Raihlah segala sesuatu dengan niat yang bersih, jalan yang bersih, dan hasil yang sama bersihnya. Insya Allah berkah Allah turun dari langit dan bumi.

Memang tak mudah menempuh hidup bersih. Ambisi diri yang melampaui takaran. Godaan materi dan kekuasaan atau jabatan yang menggiurkan. Desakan hidup yang begitu banyak tekanan. Kepentingan-kepentingan sesaat yang beragam macam. Sikap diri yang tidak senang orang lain maju dan berkembang. Semuanya sering menjadi pemicu lahirnya tindakan-tindakan yang menabrak patokan benar-salah, baik-buruk, dan pantas-tidak pantas alias menghalalkan segala cara demi meraih tujuan. Boleh jadi sukses, tetapi kehilangan jalan bersih. Pada titik seperti itulah kesuksesan sering tidak disertai keberkahan, lalu yang terjadi ialah kehampaan makna yang hakiki. [islamaktual/sm/a.nuha]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top