Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Dalam islam terdapat institusi atau instrumen yang sangat khas dalam mengambil keputusan yaitu musyawarah. Kata musyawarah berasal dari kata syura (syara-yasyuru-syawra-syiyara); artinya mengambil madu dari sarangnya (istakhraja al-asala min al-nahl). Artinya, dari segi akar katanya saja, musyawarah itu pekerjaan berat tetapi mulia. Berat karena harus mengambil madu dari sarang lebah yang tidak mudah, bahkan jika tidak hati-hati akan tersengat gigitan lebahnya. Dikatakan mulia karena jika berhasil maka yang keluar adalah madu, yang tentu saja manis dan sangat bermanfaat bagi kesehatan manusia. Karena itu madu termasuk minuman yang mahal sebab diperoleh dari cara yang sulit dan nilainya tinggi.
Musyawarah merupakan perintah Allah dan juga sunnah Rasul dalam menyelesaikan dan memutuskan urusan. Wa-ama-rahum syura bainahum (QS. asy-Syura : 38) dan wa syawirhum fi al-amr (QS. Ali Imran : 159) demikian firman Allah SwT tentang keharusan bermusyawarah. Nabi ketika hendak perang Uhud dan Khandaq juga bermusyawarah, sehingga pendapat Nabi mengikuti kehendak umat. Karena itu musyawarah menjadi bentuk pengambilan keputusan yang kuat dalam khazanah dan tradisi Islam.
Ketika di belakang hari muncul demokrasi sebagai institusi modern, kalangan Muslim pun coba mensinergikan antara Islam dan demokrasi serta antara musyawarah dan demokrasi, kendati dalam sejumlah hal terdapat beberapa perbedaan asas, bahkan ada sebagian kecil kaum Muslimin yang menolak demokrasi. Bahwa dalam Islam hal-hal yang menyangkut masalah akidah, ibadah, dan akhlak atau mu’amalah yang sudah ditentukan memang harus diikuti demikian adanya, tidak ada musyawarah, kecuali dalam hal tertentu yang dibolehkan menyangkut caranya. Tidak semua pendapat orang banyak harus diikuti dan menentukan benar atau baiknya sesuatu (QS. al-An’am:6; al-Maidah:100). Tetapi secara mayoritas umat Muslim di dunia saat ini menerima prinsip demokrasi dan dipersandingkan atau diintegrasikan dengan sistem musyawarah dalam Islam.
Dalam musyawarah terdapat pesan luhur karena terkait dengan perintah Allah dan Sunnah Nabi. Karena siapa pun yang bermusyawarah dengan sebaik-baiknya tentu menjadi berharga dan berpahala karena melaksanakan ajaran Islam, sekaligus wujud dari ibadah. Namun dalam praktiknya musyawarah itu tidaklah mudah. Selain banyak orang yang terlibat dengan berbagai pikiran dan watak serta kepentingan yang majemuk, juga seringkali materi yang dimusyawarahkan termasuk musykil atau banyak mengandung bahan perdebatan. Justru karena itu diperlukan musyawarah, sebagai ikhtiar laksana mengeluarkan madu dari sarang lebah, yang tidak mudah tetapi utama.
Karena itu bermusyawarah tidak sekadar pekerjaan otak dan keterampilan, tetapi juga hati yang jernih. Bahkan harus ada akhlak dalam bermusyawarah dalam gerakan Islam seperti Muhammadiyah, harus dilandasi keikhlasan, kearifan, kedewasaan, saling memberi dan menerima, serta mengutamakan kebaikan dan kemaslahatan. Jangan memaksakan kehendak, mau menang sendiri, mutlak-mutlakan, dan menempuh segala cara yang tidak baik, tidak benar, dan tidak pantas. Dalam berdebat pun harus mengedepankan akhlak al-karimah, termasuk menjaga lisan atau hidh al-lisan, sehingga tidak mengeluarkan kata-kata yang buruk dan memancing kemarahan.
Karena itu hindari akhlak al-madhmumah atau perangai tercela dalam bermusyawarah. Menyebarkan isu bohong tentang sesuatu atau orang lain, bahkan menyebarluaskan fitnah. Menghasut massa untuk melakukan hal-hal yang tidak baik, tidak benar, dan tidak pantas seperti memfitnah orang, menjatuhkan orang, dan mendzalimi orang. Demi mengamankan diri atau kelompok sendiri kemudian melakukan hal-hal yang curang dan menghalalkan segala cara. Jika benar-benar ingin bermusyawarah dan berdemokrasi dengan sehat dan Islami, maka jauhi cara-cara Machiavelli: the end justifies the means. Tujuan menghalalkan cara. Demi kemenangan kemudian menghalalkan cara-cara curang dan kotor, yang mencederai jiwa musyawarah sekaligus jauh dari akhlak Islam.

Jika umat Islam, termasuk gerakan Islam seperti Muhammadiyah, mampu memberi teladan yang baik atau uswah hasanah dalam permusyawaratan apapun, maka umat yang lain dan masyarakat luas akan mencontoh, sekaligus memberikan penghormatan yang tinggi. Namun manakala sebaliknya, pihak lain akan mencibir, untuk apa membawa-bawa nama Islam apabila dalam permusyawaratan gerakan-gerakan Islam juga dipraktikkan segala cara demi mencapai kemenangan dan meraih tujuan. Gerakan-gerakan Islam bahkan akan kehilangan kepercayaan moral dalam kehidupan keumatan dan kebangsaan, karena tidak ada bedanya dalam bermusyawarah dan berdemokrasi. Manakala hal itu terjadi tentu suatu saat jika terdapat Pemilu dan Pilkada serta berbagai perhelatan politik yang curang, maka gerakan-gerakan dan tokoh-tokoh Islam akan kehilangan wibawa kalau melakukan kritik dan tausyiyah terhadap bangsa ini. Publik akan mengatakan, gajah di seberang lautan tampak, kotoran di pelupuk mata tak tampak. Akhirnya Islam dan kaum Muslim kehilangan martabat yang utama, karena kata dan ajaran tidak sejalan dengan tindakan dan kenyataan. [islamaktual/sm/a.nuha]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top