Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Ruangan itu bergetar dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an yang dibaca dalam sebuah pengajian. Meski sangat asing di telinga, namun nada itu mampu mengetuk hatiku. Al-Qur’an telah mengenalkanku pada Islam. Aku merasa nyaman berada dalam kedamaian.


Ada rasa canggung ketika seorang kawan mengajakku hadir dalam sebuah pengajian. Maklumlah, aku seorang non-muslim dan belum tahu soal Islam, apalagi berada di tengah-tengah orang membaca Al-Qur’an. Namun begitulah Allah menuntunku menemukan hidayah-Nya sampai aku menjadi seorang muslim.
Pengalaman pertama mendengarkan bacaan Al-Qur’an dalam sebuah pengajian, aku merasa mendapat pencerahan yang nyata. Kemudian menuntun rasa penasaran dan keinginanku untuk mencoba belajar membacanya.
Dari situlah, aku diam-diam mempelajari Islam. Selama lebih dari dua tahun aku mencari tahu tentang apa itu Islam dengan bertanya pada teman-teman. Ketertarikanku pada Islam semakin mendalam, ketika aku mengetahui ada tuntunan doa-doa yang dibaca dalam melakukan setiap aktivitas sehari-hari. Mulai dari masuk kamar mandi, ganti baju, keluar rumah, dan masih banyak doa lainnya. Itulah yang semakin membuka wawasanku tentang Islam dan tidak aku dapati pada agama yang kuyakini sebelumnya.
Sebelum mengenal tauhid, aku terlebih dahulu mengenal trinitas. Kejanggalan-kejanggalan kurasakan pada trinitas itu. Aku lebih meyakini bahwa Tuhan itu tunggal. Akhirnya aku menemukannya pada Islam, yakni tiada Tuhan selain Allah. Aku merasa tercerahkan, dan aku merasa hal-hal yang kabur menjadi jelas. Itulah kesederhanaan Islam. Aku merasa Islam adalah sebuah kejelasan dan mudah dimengerti.
Hikmah dari Pertentangan Keluarga
Tak lama setelah lulus kuliah, aku mantap mengucap kalimat syahadat di tahun 2000. Teman-teman kampusku berperan banyak menuntun perpindahanku menuju Islam. Ikrarku menjadi pengiman ajran yang disampaikan oleh Rasulullah Muhammad saw, kuucapkan di sebuah pondok pesantren yang berada tepat di depan kosku. Alhamdulillah, tanpa unsur paksaan aku akhirnya memeluk Islam dengan dituntun oleh seorang kyai dari pondok tersebut.
Cukup lama aku menyimpan keislamanku dari keluarga. Orangtua maupun keluarga besarku tak satupun yang tahu. Sekitar dua tahun berjalan, ibuku terperanjat memergokiku ketika shalat di kamar. Sejak itulah, aku mulai mendapati pertentangan. Bermula dari orangtuaku, merembet ke saudara-saudaraku, dan akhirnya seluruh keluarga besar tahu aku seorang Muslim.
Imbasnya, aku tidak dianggap lagi sebagai anggota keluarga. Setiap pertemuan-pertemuan keluarga, aku selalu disisihkan, tak diajak bicara, dan yang ada hanya pertentangan terhadap keputusanku meyakini Islam sebagai agama baruku. Kondisiku benar-benar nelangsa waktu itu, tapi aku mencoba untuk kuat menghadapinya.
Namun hikmahnya, ketika semua keluargaku sudah tahu, aku tak lagi sembunyi-sembunyi untuk melakukan shalat. Seiring berlalunya hari, dengan semangat melakukan ibadah setiap hari, perlahan sikap keluargaku mulai melunak. Mereka mulai menerima keberadaanku sebagai seorang muslim di rumah.
Rasa syukurku makin tak terkira, ketika ibuku mulai mengajakku berbicara dan membelaiku dengan nasihatnya. Terima kasih ya Allah atas keputusan-Mu untuk memilihku, menunjukkan jalan dan memberiku pelajaran melalui ujian ini. Sebagai rasa syukur, aku makin giat menjalankan ibadah, terutama merutinkan shalat.

Shalat merupakan tiang agamaku. Dengan shalat aku menjadi tenang. Dengan shalat aku menjadi pribadi lebih sabar dan tidak mudah emosi. Ajaran Islamlah yang membuatku yakin bahwa hidup kita sebagai manusia sudah diatur oleh Sang Kuasa. Hidup dalam kesulitan maupun kesenangan itu, semua pemberian Allah. Itulah yang membuatku menjadi pribadi lebih bijak. Sampai menghembuskan nafas terakhir, aku ingin tetap disini, tidak akan mengubah keyakinanku lagi. memeluk Islam sampai aku mati. Insya Allah! [islamaktual/alfalah/gunawanpatria]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top