Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Bangsa Indonesia harus menggerakkan keswadayaan nasional sehingga ketergantungan pada pihak luar termasuk terhadap mata uang asing lainnya dapat diurai. Sehingga dolar mau naik berapapun tidak ada masalah.
Pernyataan itu dilontarkan mantan Menteri Koperasi dan UKM era Kabinet Reformasi Pembangunan yang kini Ketua Umum Coop Indonesia Foundation, Adi Sasono.
“Kita kan tidak makan dolar. Harganya berapa terserah saja. Intinya kita harus membangun kemandirian,” kata Adi Sasono dilansir  hidayatullah.com  di Jakarta belum lama ini.
Adi Sasono menegaskan, Allah Ta’ala memberikan semua kepada kita untuk hidup cukup. Ada sumber pangan, sumber energi. Semua ada.
Menurutnya, bangsa Indonesia menjadi sakit kepala karena dolar naik, sebab dalam konsumsi kita ada komponen impor yang seharusnya tidak perlu.
“Kenapa kita harus makan yang komponen impor, kan gitu,” terangnya.
Karena itu, kata Adi, kita bisa melawan ketergantungan pada asing dengan membangun keswadayaan nasional. Kedua, kita harus membangun kemandirian.
Jangan sampai, lanjut Adi, untuk makan sehari-hari saja harus impor. Padahal sejak zaman Majapahit dulu kita nggak pernah impor. Bahkan, terangnya, kita bisa mandiri bahkan kita membangun armada dahsyat waktu itu dan jadi penguasa di Asia Tenggara. Begitu pula di masa kerajaan Sriwijaya pada abad ketujuh.
“Setelah merdeka, banyak orang pintar, kok malah bergantung impor. Dan kalau mata uang asing gonjang-gonjing kita ikut terkena. Jadi harusnya dasar ekonomi kita meningkatkan ekonomi domestik yang membuat posisi perdagangan internasional hanya ujungnya saja,” ujarnya.
Dia menegaskan jangan kehidupan kita tergantung atau terpengaruh sekali oleh barang-barang impor. Itu artinya kita harus membangun sumber daya manusia kita.
“Kita harus membangun SDM yang mampu dan ternyata anak-anak kita pinter-pinter. Dengan pokok-pokok itu kita bisa mengurai ketergantungan kita pada mata uang asing,” katanya.
Dia menambahkan, fluktuasi nilai dolar atau mata uang asing itu akan selalu terjadi berulang. Menurutnya, kita tidak usah terlalu risau dengan masalah ini yang penting kita melakukan tindakan agar kebutuhan sandang, pangan, papan, pendidikan, dan kesehatan, kita harus mampu sendiri. Artinya, dalam suatu unit kreatif kecil, kita bisa hidup dan bahkan bisa memakrokannya.

“Seperti Hidayatullah (Kampus Gunung Tembak) yang awalnya gersang bisa dibikin hijau. Ada danau buatan. Itu tidak dibantu oleh Amerika, kan. Hidayatullah bisa membuktikan masyarakat kita itu masyarakat yang perkasa, bukan masyarakat yang bergantung pada pihak luar,’ selorohnya. [islamaktual]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top